Proses hukum dimulai dengan pertemuan antara Akhtar, Giana, dan para pengacara mereka. Mereka sepakat mengurus perceraian tanpa memperpanjang konflik. Akhtar membawa dokumen yang telah disiapkan pengacara, sementara Giana datang bersama Amalia. Mereka duduk berhadapan di ruang konsultasi dengan suasana canggung.
Pengacara menjelaskan tahapan yang perlu mereka jalani, termasuk kesepakatan harta, dukungan kehamilan, dan tanggung jawab sebagai orang tua. Akhtar mengatakan ia ingin semuanya tertulis dengan jelas agar Giana tidak perlu mengandalkan janji lisan. Giana berkata ia juga ingin hak dan kewajibannya dipahami.
'Saya tidak ingin proses ini membuat Giana merasa tertekan,' kata Akhtar. 'Kami ingin membicarakan keputusan dengan tenang.'
Giana menatapnya. Ia tahu Akhtar sedang berusaha bersikap adil. Namun ia belum bisa melupakan perselingkuhan emosional dan pengakuan cinta kepada Kalina. Ia tidak ingin kembali sebagai pasangan hanya karena mereka memiliki anak.
Pengacara meminta mereka membahas rencana sementara. Mereka menyepakati bahwa Akhtar akan menanggung biaya pemeriksaan, persalinan, dan kebutuhan dasar bayi. Giana akan tinggal bersama Amalia selama masa kehamilan dan setelah melahirkan sampai merasa cukup pulih. Akhtar akan hadir dalam pemeriksaan jika Giana mengizinkan.
Giana meminta keputusan penting tentang kesehatan anak dibuat bersama. Akhtar setuju. Ia tidak meminta hak asuh penuh atau membatasi Giana. Ia hanya ingin diakui sebagai ayah dan diberi kesempatan hadir.
'Aku tidak akan menjauh dari anak kita,' ujarnya.
Giana mengangguk. 'Aku tidak ingin kamu menjauh. Aku hanya belum tahu bagaimana berhubungan denganmu setelah semuanya.'
Akhtar memahami. Mereka menyepakati bahwa komunikasi sementara akan dilakukan melalui pesan tertulis untuk urusan kehamilan dan kebutuhan bayi. Jika keadaan darurat, mereka dapat menghubungi langsung.
Setelah pertemuan, Giana meminta waktu berbicara dengan Akhtar di luar. Amalia dan pengacara menunggu di dalam.
'Kamu benar-benar yakin ingin berpisah?' tanya Giana.
Akhtar terdiam beberapa saat. 'Aku yakin kita tidak bisa terus berpura-pura. Aku tidak ingin memaksamu tinggal. Aku juga tidak ingin kamu bertahan karena merasa berutang setelah aku mengakui perasaanku kepada Kalina.'
Giana berkata ia masih merasa marah dan terluka, tetapi lebih tenang setelah mereka menyusun rencana untuk bayi. Ia tidak ingin menjadi musuh Akhtar.
'Kita bisa tetap menjadi orang tua yang bekerja sama,' katanya.
'Aku ingin itu.'
Di luar ruang konsultasi, Giana berkata ia merasa lega karena Akhtar tidak mengubah perpisahan menjadi pertengkaran. Akhtar menjawab ia tidak ingin mereka membenci satu sama lain. Giana berkata mungkin mereka tidak akan menjadi teman dekat, tetapi ia berharap bisa berkomunikasi dengan baik demi Aruna. Akhtar setuju.
Mereka menyepakati bahwa Giana akan memberi tahu Akhtar tentang perubahan jadwal medis, dan Akhtar akan mengirim dukungan tepat waktu. Mereka juga akan bertemu dengan mediator untuk membicarakan pengasuhan setelah kelahiran. Percakapan praktis itu memberi mereka rasa aman yang tidak mereka rasakan belakangan ini.
Mereka kembali ke ruang konsultasi. Sebelum penandatanganan, Akhtar membaca setiap paragraf dengan hati-hati dan bertanya kepada pengacara jika ada istilah yang tidak dipahami. Ia ingin memastikan kesepakatan itu tidak merugikan Giana atau membuatnya kehilangan hak. Giana juga meminta salinan untuk dibawa pulang dan dibaca bersama Amalia. Mereka tidak terburu-buru menandatangani dokumen akhir.
Setelah seluruh bagian dipahami, mereka menandatangani dokumen awal. Belum semua proses selesai, tetapi langkah pertama telah diambil. Akhtar merasa kehilangan, sementara Giana merasa takut sekaligus lega.
Di kantor, Kalina mulai bekerja penuh di divisi pengembangan bisnis. Ia bertemu tim baru, menghadiri rapat proyek, dan mulai membangun hubungan profesional dengan manajernya. Ia sengaja tidak mencari tahu proses perceraian Akhtar. Toni hanya memberi kabar jika ada perubahan yang memengaruhi pekerjaan.
Suatu hari, Akhtar dan Kalina bertemu di koridor. Mereka menyapa dengan sopan. Tidak ada pesan pribadi atau ajakan bertemu. Kalina merasa lebih nyaman karena batas mereka dijaga.
'Bagaimana proyek barumu?' tanya Akhtar dalam konteks kerja.
'Berjalan baik, Pak. Tim sudah menyelesaikan pemetaan awal.'
'Bagus. Semoga lancar.'
'Terima kasih.'
Mereka melanjutkan langkah ke arah masing-masing. Kalina merasa sedikit sedih, tetapi juga bangga pada dirinya sendiri karena tidak mencoba menghidupkan kembali kedekatan mereka.
Giana menjalani pemeriksaan rutin. Akhtar menemaninya setelah Giana mengirim jadwal. Mereka berbicara tentang kondisi bayi dan kebutuhan praktis. Amalia ikut, memastikan Giana nyaman. Akhtar mencatat instruksi dokter dan menyimpan catatan itu untuk jadwal pemeriksaan berikutnya.
Malam itu, Giana bertanya apakah Akhtar akan datang jika ia melahirkan lebih cepat dari perkiraan. Akhtar menjawab tentu. Giana berkata ia tidak ingin mereka kembali sebagai pasangan, tetapi ia ingin Akhtar hadir sebagai ayah.
'Aku akan datang,' katanya. 'Kapan pun kamu membutuhkan.'
Giana mengangguk. Ia mulai menerima bahwa hubungan mereka berubah bentuk. Cinta yang dulu mereka miliki mungkin telah berakhir, tetapi tanggung jawab sebagai orang tua akan tetap ada.
Akhtar bertanya apakah Giana ingin memilih sendiri pakaian bayi yang akan dibawa ke rumah sakit. Giana menjawab iya, lalu mengirim daftar sederhana. Akhtar membelinya tanpa menambahkan barang yang tidak diminta. Ia ingin memastikan bantuan yang diberikan sesuai dengan keinginan Giana.
Beberapa hari setelah pertemuan itu, Giana datang bersama Amalia untuk mengambil barang-barang yang masih tertinggal di rumah Akhtar. Ia sudah mengirim daftar lebih dahulu. Akhtar menyiapkan kotak kosong, tetapi tidak membongkar lemari sebelum Giana tiba.
Di kamar, Giana memilih pakaian, buku, dan beberapa benda kecil dari meja rias. Ia menemukan foto perjalanan awal pernikahan di antara barang-barang lain. Untuk sesaat ia berhenti, lalu memasukkan foto itu ke dalam amplop. Ia tidak ingin membuangnya dalam kemarahan, tetapi belum ingin memajangnya di tempat baru.
Akhtar menunggu di luar sampai ia meminta bantuan mengangkat kotak. Mereka membawanya turun tanpa mengubah kegiatan itu menjadi percakapan tentang kembali bersama. Ketika Giana memeriksa apakah ada barang yang tertinggal, Akhtar mengatakan ia dapat menghubungi lagi jika nanti teringat sesuatu.
Amalia menemani Giana ke mobil. Sebelum pergi, Giana menyerahkan kunci rumah yang selama ini dibawanya. Ia meminta agar komunikasi tentang pemeriksaan berikutnya tetap dikirim langsung kepadanya. Akhtar menerima kunci dan menyetujui permintaan itu. Setelah kendaraan mereka pergi, ia kembali ke kamar yang sebagian lemarinya kini kosong. Perpisahan itu tidak lagi hanya ada di map pengacara.