Sebelum sesi konseling dimulai, Giana meminta Akhtar datang lebih awal agar mereka bisa menyepakati apa yang ingin dibahas. Mereka menuliskan beberapa hal: perasaan masing-masing, pengasuhan bayi, biaya, tempat tinggal, dan batas komunikasi. Giana berkata ia tidak ingin sesi berubah menjadi saling menyalahkan. Akhtar menyetujui dan berjanji mendengarkan.
Konselor menanyakan apa yang membuat mereka berpikir perpisahan adalah pilihan. Giana berkata ia tidak bisa lagi mempercayai Akhtar sepenuhnya dan tidak ingin terus mencurigai setiap interaksinya. Akhtar berkata ia merasa hubungan mereka sudah lama kosong, dan kedekatannya dengan Kalina membuatnya sadar ia tidak lagi hadir sebagai suami.
Konselor menegaskan bahwa mereka tidak harus menyelesaikan semuanya pada satu pertemuan. Mereka bisa fokus membuat rencana yang aman bagi Giana dan bayi. Giana terlihat lega karena tidak dipaksa memutuskan segera.
Akhtar mengatakan ia ingin mengakhiri pernikahan tanpa menghina atau membuka aib Giana kepada publik. Giana berkata ia juga tidak ingin cerita Derian menjadi bahan gosip. Mereka sepakat menjaga informasi pribadi dan memberi tahu keluarga dekat secukupnya. Konselor mendukung batas itu selama tidak menghalangi kebutuhan hukum atau keselamatan.
Mereka kemudian membahas nama bayi dan rencana pemeriksaan, sesuatu yang terasa canggung tetapi perlu. Giana ingin keputusan nama dibuat bersama, meski mereka akan berpisah. Akhtar setuju. Mereka sepakat bahwa anak itu akan mengenal kedua orang tuanya dan tidak dijadikan pembawa pesan di antara mereka.
Konselor mengajak mereka membuat rencana sementara jika Giana mengalami keadaan darurat. Akhtar akan menjadi kontak pertama untuk kondisi kehamilan, sementara Amalia menjadi pendamping utama selama Giana tinggal di rumahnya. Giana setuju. Akhtar meminta nomor klinik dan dokter diperbarui di ponselnya. Mereka menguji rencana itu dengan mencatat semua nomor penting.
Pada akhir sesi, konselor bertanya apa yang mereka rasakan. Giana berkata lelah tetapi sedikit lega. Akhtar berkata ia masih sedih, namun merasa lebih jelas. Konselor mengingatkan bahwa kesedihan tidak berarti keputusan mereka salah. Mereka bisa tetap berduka atas pernikahan yang berakhir sambil membuat rencana untuk anak.
Pada sesi lanjutan beberapa hari kemudian, Akhtar dan Giana kembali membahas perpisahan dan kehamilan bersama konselor. Mereka duduk berjauhan pada awal sesi. Konselor meminta masing-masing menjelaskan apa yang mereka harapkan dari pertemuan.
Giana berkata ia tidak ingin dipaksa mempertahankan pernikahan. Ia ingin memastikan bayi mereka punya dukungan dan kedua orang tua tetap terlibat. Akhtar berkata ia setuju dan ingin membuat kesepakatan yang jelas.
Mereka membahas jadwal pemeriksaan, dukungan finansial, tempat tinggal, dan komunikasi setelah bayi lahir. Konselor meminta mereka tidak menggunakan anak sebagai alat untuk melukai satu sama lain. Akhtar dan Giana menyetujui.
Giana bertanya apakah Akhtar akan menuntut hak asuh penuh. Akhtar menjawab tidak. Ia ingin hadir sebagai ayah, tetapi tidak ingin memisahkan bayi dari ibunya. Giana terlihat lega.
'Aku mungkin belum bisa memaafkan kamu,' katanya.
'Aku mengerti.'
Akhtar juga berkata ia tidak berharap Giana memaafkan perasaannya kepada Kalina sekarang. Ia hanya ingin mereka jujur dan berhenti berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Konselor membantu mereka menyepakati bahwa untuk sementara Giana akan tinggal bersama Amalia. Akhtar akan membayar kebutuhan medis dan memberikan dukungan bulanan. Mereka akan bertemu untuk pemeriksaan dan membicarakan keputusan penting bersama. Setelah bayi lahir, mereka akan meninjau kembali jadwal pengasuhan berdasarkan kondisi anak.
Giana meminta agar Akhtar tidak membawa Kalina ke rumah atau memperkenalkannya sebagai pasangan sebelum perceraian selesai. Akhtar menyetujui. Ia berkata ia tidak akan memulai hubungan dengan Kalina selama proses hukum belum jelas.
Konselor bertanya apakah mereka ingin mencoba memperbaiki pernikahan. Giana menjawab ia belum tahu. Akhtar berkata ia merasa pernikahan mereka sudah berakhir, tetapi ia bersedia menjalani beberapa sesi lagi jika Giana membutuhkan penutupan.
Giana menangis. Ia berkata ia tidak ingin Akhtar tinggal karena rasa bersalah. Akhtar menjawab ia tidak akan berpura-pura menjadi suami jika hatinya sudah tidak mampu. Ia tetap akan hadir sebagai ayah.
Setelah sesi, mereka duduk di lobi. Giana berkata pembicaraan tadi melelahkan, tetapi ia merasa lebih jelas. Akhtar menawarkan mengantarnya ke rumah Amalia. Giana menerima.
Dalam perjalanan, Giana bertanya apakah Akhtar akan bahagia bersama Kalina suatu hari nanti. Akhtar menjawab ia tidak tahu. Ia tidak ingin menjadikan Kalina tujuan dari perceraian. Ia harus menyelesaikan semuanya terlebih dahulu dan memberi Kalina kebebasan memilih.
Giana berkata ia berharap Akhtar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Akhtar berjanji akan belajar. Mereka tiba di rumah Amalia dan berpisah dengan sopan.
Kalina di kantor baru mulai menangani proyek lintas cabang. Ia bertemu rekan-rekan barunya dan menerima penjelasan target. Ia menyukai tantangan itu. Toni hanya mengirim perubahan jadwal kantor, tanpa menjelaskan isi konsultasi pasangan itu. Kalina mengonfirmasi hal yang berkaitan dengan pekerjaannya dan tidak meminta keterangan pribadi.
Giana menghabiskan akhir pekan bersama Amalia dan Arisa. Ia berbicara dengan Arisa tentang rasa takut menjadi ibu sendirian. Arisa berkata ia tidak akan sendirian; keluarga akan membantu. Giana menangis dan berkata ia berharap pernikahannya bisa memberi bayi keluarga yang utuh.
Amalia berkata keluarga utuh tidak selalu berarti orang tua tinggal serumah. Yang penting anak tumbuh dengan kasih sayang, kejujuran, dan rasa aman. Giana merenungkan ucapan itu.
Akhtar datang untuk mengantar beberapa dokumen dan menanyakan kondisi Giana. Ia tidak masuk kamar atau duduk lama. Giana meminta bicara dengannya di teras.
'Aku sudah memikirkan sesi konseling,' kata Giana. 'Aku rasa kita sebaiknya berpisah. Aku tidak ingin terus hidup dengan curiga dan marah.'
Akhtar menunduk. Ia sedih, tetapi tidak terkejut. 'Kalau itu yang kamu inginkan, aku akan menghormatinya.'
Giana berkata ia ingin perceraian dilakukan setelah mereka memahami proses dan memastikan semua kebutuhan bayi tertulis. Akhtar menyetujui. Ia tidak akan mengajukan sesuatu diam-diam.
'Aku ingin kamu menjadi ayah yang hadir,' kata Giana. 'Bukan karena kasihan kepadaku.'
'Aku akan hadir karena anak kita.'
Giana mengangguk. Ia kemudian berkata bahwa ia marah kepada Kalina, tetapi ia juga tahu Akhtar yang lebih dulu membuka perasaan. Ia belum bisa memaafkan siapa pun, namun ia tidak ingin menghabiskan kehamilan dengan terus mengejar Kalina.
Akhtar berterima kasih karena Giana mau mengakhiri konflik. Ia berkata ia tidak akan menghubungi Kalina di luar urusan kerja, dan ia tidak akan mendatangi Kalina sampai perceraian selesai. Giana menerima itu.
Amalia mendengar keputusan mereka. Ia menangis, tetapi tidak menentang. Hadi berkata ia akan membantu proses hukum dan memastikan keputusan dibuat tanpa tekanan. Arisa memeluk Giana dan berjanji menemani pemeriksaan.
Sebelum pemeriksaan berikutnya, Giana membawa daftar nama yang disukainya. Ia belum mengetahui jenis kelamin bayi dan tidak ingin menentukan semuanya terlalu cepat. Akhtar membaca daftar itu bersamanya. Ketika Giana menunjuk Aruna, ia mengulangi nama tersebut pelan, lalu tersenyum.
'Kalau nanti putri, kita simpan pilihan ini,' katanya.
Giana mengangguk dan melingkari nama itu. Mereka belum memiliki jawaban untuk semua hal, tetapi pilihan kecil tersebut dibuat tanpa menjadikan bayi alasan untuk membatalkan perpisahan. Daftar itu disimpan di map pemeriksaan, terpisah dari berkas perceraian.