Kalina terbangun dengan perasaan berat setelah pertemuan keluarga. Ia mengirim pesan kepada Amalia melalui Toni, meminta kesempatan untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung. Amalia membalas bahwa ia bersedia bertemu, tetapi belum tahu apakah ia siap memaafkan.
Mereka bertemu di rumah Amalia beberapa hari kemudian. Akhtar dan Giana tidak hadir. Hadi berada di rumah, tetapi memberi mereka ruang berbicara di teras.
Kalina menyampaikan bahwa ia menyesal telah membalas perasaan Akhtar saat tahu pria itu masih menikah. Ia juga meminta maaf karena menerima pelukan dan membuat Giana merasa dikhianati. Ia tidak meminta Amalia menerima dirinya atau memberi restu.
'Saya tidak datang untuk meminta Bapak dan Ibu menyetujui hubungan apa pun,' katanya. 'Saya hanya ingin mengakui kesalahan saya.'
Amalia mendengarkan dengan mata berkaca-kaca. Ia berkata Kalina seharusnya menjaga jarak sejak awal. Kalina menerima ucapan itu.
'Saya tahu. Saya terlambat melakukan hal yang benar.'
Amalia berkata ia kecewa karena Kalina pernah menjadi orang yang dipercaya Akhtar di kantor. Ia takut Kalina akan membawa putranya ke keputusan yang salah. Kalina menjawab ia tidak ingin menjadi alasan Akhtar berpisah, dan ia tidak akan menerima hubungan baru selama urusan perceraian belum selesai.
Amalia bertanya apakah Kalina masih mencintai Akhtar. Kalina menjawab iya, tetapi ia tidak ingin bertindak berdasarkan perasaan itu. Ia akan menjaga jarak dan membiarkan Akhtar menyelesaikan hidupnya sendiri.
Amalia menangis. Ia berkata ia tidak tahu apakah bisa mempercayai Kalina lagi, tetapi ia menghargai kejujurannya. Kalina mengucapkan terima kasih dan tidak meminta lebih.
Hadi bergabung setelah Amalia merasa cukup. Ia bertanya apakah Kalina akan tetap bekerja di Galindra. Kalina berkata ia sudah pindah divisi dan ingin fokus pada pekerjaannya. Hadi berkata ia berharap semua pihak menjaga profesionalisme.
Kalina mengangguk. Ia berjanji tidak akan menghubungi Akhtar di luar urusan kerja. Ia juga berkata jika Akhtar melanggar batas, ia akan meminta bantuan personalia.
Amalia berkata ia tidak ingin Kalina membenci Giana atas tamparan yang terjadi. Kalina menjawab ia tidak membenci Giana, meski ia terluka. Ia memahami Giana sedang marah, tetapi kekerasan itu tetap tidak benar.
Amalia terlihat lega mendengarnya. Ia berkata ia akan berbicara dengan Giana tentang kejadian tersebut dan meminta Giana meminta maaf jika siap. Kalina menjawab ia tidak menuntut permintaan maaf, tetapi berharap kejadian serupa tidak terulang.
Sebelum pergi, Kalina berpamitan dengan sopan. Amalia tidak memeluknya, tetapi ia mengantar sampai pintu. Kalina menyadari kepercayaan tidak akan pulih dalam satu pertemuan. Ia menerima itu.
Di rumah, Kayra bertanya bagaimana pertemuan berjalan. Kalina berkata Amalia belum memaafkannya, tetapi setidaknya ia sudah meminta maaf dengan jujur. Kayra mengatakan itu langkah penting.
Akhtar menerima kabar dari ibunya bahwa Kalina datang meminta maaf. Ia tidak menghubungi Kalina. Ia hanya berterima kasih kepada Amalia karena memberi kesempatan. Ia tahu Kalina sedang berusaha membangun hidupnya kembali tanpa bergantung pada dirinya.
Dua hari kemudian, Kayra menerima pesan dari Giana yang meminta kesempatan menyampaikan permintaan maaf. Kayra tidak langsung memberikan waktu atau tempat. Ia memperlihatkan pesan itu kepada Kalina dan bertanya bagaimana sahabatnya ingin menjawab.
Kalina memikirkan pintu apartemen yang terbuka, suara pertengkaran, dan pipinya yang terasa panas. Ia belum siap duduk berhadapan dengan Giana. Ia meminta Kayra menyampaikan bahwa ia hanya bersedia menerima penjelasan tertulis untuk saat ini. Ia tidak ingin kunjungan lain ke apartemen atau pertemuan mendadak di kantor.
Giana menerima jawaban tersebut. Malamnya, ia menulis surat di kamar yang disediakan Amalia. Beberapa kali ia menghapus kalimat yang diawali alasan tentang kehamilan, rasa cemburu, atau pengakuan Akhtar. Semua itu berkaitan dengan kemarahannya, tetapi tidak membuat tangannya bergerak tanpa keputusan sendiri.
Dalam surat yang akhirnya dikirim, ia menyatakan bahwa ia telah menampar dan mengancam Kalina. Ia tidak meminta Kalina memahami tindakan itu sebagai sesuatu yang pantas diterima. Ia juga tidak meminta pengampunan sebagai syarat agar dirinya berhenti mendatangi atau menghubungi Kalina.
'Aku akan menghormati permintaanmu untuk tidak datang lagi,' tulisnya. 'Jika ada hal praktis yang harus diselesaikan, aku akan meminta persetujuan lewat Kayra selama kamu mengizinkan. Aku bersedia mengganti biaya pemeriksaan akibat tamparan itu. Penggantian biaya bukan permintaan agar kamu menarik hak untuk mengambil tindakan yang kamu perlukan.'
Kalina membaca surat itu dua kali. Kayra duduk di kursi sebelah dan tidak menafsirkan diamnya sebagai tanda ia harus segera memaafkan.
'Gue ingin dia benar-benar melakukan yang ditulisnya,' kata Kalina.
'Lo boleh mengatakan itu.'
Kalina menyusun jawaban singkat. Ia mengakui telah menerima surat, menyampaikan rincian biaya klinik, dan menegaskan bahwa ia belum siap bertemu. Ia tidak menjanjikan hubungan baik atau pengampunan yang belum ia rasakan. Jika suatu saat ada acara keluarga yang mempertemukan mereka, ia ingin diberi tahu lebih dahulu agar dapat memilih hadir atau tidak.
Giana mengganti biaya yang disebutkan tanpa meminta pertemuan balasan. Ia tidak mengirim pesan tambahan untuk menanyakan mengapa Kalina belum menjawab lebih hangat. Ketika Amalia bertanya apakah ia merasa lega, ia mengatakan bahwa kelegaannya sendiri bukan tujuan utama surat tersebut.
'Aku harus memastikan dia tidak perlu takut aku datang lagi,' katanya.
Amalia mengangguk. Ia tidak menyampaikan kepada Kalina bahwa Giana telah menangis setelah menulis. Ia memahami bahwa permintaan maaf itu tidak boleh berubah menjadi tuntutan agar orang yang terluka merawat perasaan pelakunya.
Pada pertemuan dengan personalia setelah cuti, Kalina datang bersama Kayra atas kesepakatan sebelumnya. Ia menjelaskan kebutuhan yang berkaitan dengan pekerjaan: pemberitahuan sebelum ada tamu yang hendak menemuinya, jalur pelaporan melalui manajer baru, dan izin meninggalkan pertemuan pribadi yang membuatnya tidak nyaman. Ia tidak diminta membacakan surat Giana kepada seluruh kantor.
Toni membantu memastikan tugas sekretariat yang tersisa dialihkan. Kalina mulai di divisi baru dengan tanggal yang disesuaikan, tanpa harus kembali duduk di depan ruang CEO untuk menebus perasaan bersalah. Ia masih gugup ketika memasuki gedung, tetapi kini ia tahu siapa yang dapat dihubungi jika batas yang sudah dinyatakannya tidak dihormati.
Malamnya, ia menyimpan catatan klinik dan surat Giana dalam satu tempat. Setelah itu ia menelepon Bunda untuk mengatakan bahwa ia telah kembali bekerja. Ibunya menanyakan apakah ia ingin pulang akhir pekan. Kalina menjawab ingin. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, mereka dapat membicarakan jam kedatangan dan makanan yang hendak dimasak, tanpa harus menyelesaikan persoalan orang lain terlebih dahulu.