Setelah mendapat persetujuan Giana untuk menjelaskan keadaan mereka kepada keluarga dekat, Akhtar kembali berbicara dengan Amalia dan Hadi tentang kemungkinan berpisah. Ia juga mengakui bahwa ia mencintai Kalina dan pernah menyatakannya sebelum rumah tangganya selesai. Hadi terlihat kecewa, sementara Amalia menangis.
'Kenapa kalian membiarkan rahasia ini begitu lama?' tanya Hadi.
'Saya takut membuat semua orang terluka.'
'Tapi dengan menyembunyikan, kamu membuat luka lebih besar,' kata Amalia.
Akhtar menerima teguran itu. Ia menjelaskan bahwa ia tidak ingin menjadikan Kalina alasan perceraian. Ia dan Giana sudah lama renggang, dan perselingkuhan Giana dengan Derian memperjelas bahwa kepercayaan mereka telah hancur. Namun ia tidak ingin menutupi kesalahannya sendiri.
Hadi berkata keputusan berpisah harus diambil dengan tenang dan mempertimbangkan bayi. Akhtar menjawab ia akan bertanggung jawab penuh sebagai ayah. Amalia meminta ia memastikan Giana tidak merasa ditinggalkan selama kehamilan.
Akhtar dan Giana menyepakati pertemuan keluarga setelah berkonsultasi. Giana bersedia menjelaskan bagiannya sendiri, dan Akhtar ingin mengakui tindakannya tanpa menjadikan Kalina penyebab seluruh masalah. Ia meminta Kaizan menyampaikan undangan melalui Kayra, disertai penjelasan bahwa kehadiran Kalina sepenuhnya boleh ditolak.
Kalina membaca pesan itu bersama Kayra. Ia tidak ingin pekerjaannya dikaitkan dengan kesediaan menghadiri pembicaraan keluarga. Kaizan memastikan tidak ada urusan perusahaan yang harus ia jawab di sana. Setelah memikirkan kesempatan menjelaskan langsung kepada orang-orang yang mungkin mendengar cerita lain, Kalina memutuskan bersedia hadir. Ia meminta hak untuk mengakhiri pembicaraan dan pergi kapan saja. Kayra akan menunggu di dekat rumah dan dapat masuk mendampinginya jika ia meminta.
Pada hari yang disepakati, Kalina tiba di rumah Amalia bersama Kayra. Ia turun dari mobil dengan tangan dingin dan membawa tas kecil berisi catatan yang telah ia siapkan. Kayra bertanya sekali lagi apakah ia yakin ingin masuk. Kalina mengangguk. Ia ingin mendengar semua orang berbicara langsung, meski ia tahu pertemuan itu akan berat.
'Kalau kamu merasa nggak nyaman, kabari gue,' kata Kayra.
'Iya. Tunggu di sini saja.'
Kalina melangkah menuju pintu. Amalia menyambutnya dengan wajah yang sulit dibaca. Ia mempersilakan Kalina masuk dan meminta duduk di ruang tamu. Hadi berada di kursi dekat jendela. Arisa datang dari Bali setelah memastikan Andi dapat mengurus kedua anak mereka di Ubud. Rayyan, adik Akhtar yang sudah berusia dua puluh tahun, memilih tidak mengikuti percakapan pribadi itu. Giana duduk di sofa dengan satu tangan di perutnya. Akhtar berdiri sebentar sebelum akhirnya mengambil tempat duduk yang berjarak dari Kalina.
Suasana terasa tegang. Amalia menyuguhkan air, tetapi tak seorang pun langsung meminumnya. Giana menatap lantai. Akhtar memegang kedua tangannya sendiri, berusaha mengendalikan gugup.
Hadi membuka percakapan. Ia berkata tujuan mereka berkumpul bukan untuk mencari siapa yang paling bersalah, melainkan memahami apa yang terjadi dan memastikan keputusan berikutnya tidak merugikan anak yang akan lahir.
Akhtar mengangguk. Ia meminta izin untuk bicara lebih dahulu. Ia mengakui bahwa pernikahannya dengan Giana telah lama renggang dan ia gagal menghadapinya dengan jujur. Ia juga mengakui bahwa ia menyatakan cinta kepada Kalina sebelum menyelesaikan masalah rumah tangganya.
Amalia menutup mulut, matanya berkaca-kaca. 'Kenapa kamu membiarkan ini terjadi?'
Akhtar menunduk. 'Saya salah, Bu. Saya tidak menjaga batas sebagai suami dan atasan.'
Ia berkata perasaannya kepada Kalina nyata. Ia juga mengakui pernah mendesak jawaban dan menjanjikan kebahagiaan ketika masih menjadi suami Giana. Sekarang ia tidak akan meminta Kalina menunggu atau memilihnya. Ia juga tidak ingin perceraian dianggap sebagai jalan untuk langsung memulai hubungan baru. Ia dan Giana harus memutuskan masa depan mereka sendiri.
Giana mengangkat wajah. Ia mengatakan bahwa ia juga telah berselingkuh dengan Derian. Ia tidak ingin Akhtar menanggung semua kesalahan. Hubungan itu sudah berakhir, tetapi ia menyembunyikannya dan berharap kehamilan akan memperbaiki pernikahan mereka.
Arisa terkejut. Ia melihat Giana dengan sedih, lalu menunduk. Arisa tetap duduk dekat Giana, mendengarkan tanpa menyela.
Amalia menangis. Ia berkata ia menyayangi Giana dan Akhtar, tetapi sangat kecewa karena mereka menyimpan rahasia dan melukai satu sama lain. Ia bertanya apakah mereka masih ingin mencoba memperbaiki pernikahan.
Akhtar berkata ia belum yakin. Giana menjawab ia juga belum tahu. Mereka sepakat tidak ingin bertahan hanya karena takut pada penilaian keluarga atau karena bayi.
Amalia lalu memandang Kalina. 'Kamu tahu Akhtar sudah menikah. Kenapa kamu membalas perasaannya?'
Kalina menunduk. Ia berkata ia tidak punya pembelaan. Ia membalas perasaan Akhtar dan menerima pelukannya. Ia menyesal karena tidak cukup tegas sejak awal. Namun ia sudah meminta Akhtar menghentikan hubungan pribadi dan tidak datang ke pertemuan ini untuk meminta apa pun.
Amalia menangis lebih keras. Ia berkata Kalina ikut melukai Giana. Kalina menerima teguran itu dan meminta maaf kepada Giana. Ia tidak meminta Giana memaafkan sekarang.
Giana menatapnya. Wajahnya menunjukkan amarah sekaligus kelelahan. 'Aku belum bisa memaafkanmu.'
'Saya mengerti, Bu.'
Akhtar berkata Kalina tidak bertanggung jawab atas seluruh keretakan rumah tangga mereka. Ia sendiri yang mengambil keputusan untuk mengucapkan cinta. Hadi mengingatkan bahwa semua pihak harus mengakui bagian masing-masing tanpa saling melempar tanggung jawab.
Pertemuan berlangsung dalam suasana berat. Mereka sepakat belum membuat keputusan hukum hari itu. Akhtar dan Giana akan berkonsultasi bersama, sementara Kalina akan tetap bekerja di divisi baru dan menjaga jarak.
Sebelum pulang, Amalia meminta waktu sendiri. Kalina berdiri dan meminta izin keluar. Amalia tidak menahannya. Kayra menyambut Kalina di halaman dan memeluknya. Kalina menangis setelah duduk di mobil, merasa lega telah mengatakan kebenaran tetapi sedih melihat semua orang terluka.
Setelah Kalina pergi, keluarga tetap duduk di ruang tamu. Amalia mengusap air matanya. Ia berkata ia tidak pernah membayangkan Akhtar dan Giana akan sampai pada percakapan seperti ini. Hadi menggenggam tangannya dan mengingatkan bahwa anak-anak mereka sudah dewasa, dan keputusan akhir ada pada mereka.
Giana berkata ia merasa malu semua orang kini mengetahui perselingkuhannya. Arisa mendekat dan memegang tangannya. Ia berkata Giana tetap bagian dari keluarga, meskipun ia kecewa karena Giana menyembunyikan hal itu.
'Aku takut kalian membenciku,' kata Giana.
Amalia menjawab ia marah, tetapi tidak berhenti menyayangi Giana. Ia tidak ingin menutupi kesalahan, tetapi juga tidak ingin mengusirnya saat ia sedang hamil.
Akhtar meminta maaf kepada keluarganya karena membiarkan hubungan dengan Kalina tumbuh sebelum ia menyelesaikan masalah rumah tangga. Amalia berkata ia ingin putranya memahami bahwa cinta tidak membebaskan seseorang dari tanggung jawab. Akhtar mengangguk.
Hadi bertanya apakah Akhtar sudah benar-benar memutuskan berpisah. Akhtar berkata ia merasa perkawinan mereka telah berakhir, tetapi ia ingin menjalani mediasi dan membicarakan pengasuhan dengan baik. Giana berkata ia tidak ingin tinggal dalam rumah yang penuh kecurigaan.
'Aku juga tidak ingin kamu merasa terpaksa tinggal,' kata Akhtar.
Giana menahan air mata. Ia mengakui selama ini ia berharap kehamilan akan membuat Akhtar kembali dekat. Namun ia menyadari bayi tidak dapat memperbaiki luka yang sudah ada.
Arisa menyampaikan bahwa ia akan membantu Giana selama kehamilan jika dibutuhkan. Giana berterima kasih. Amalia berkata ia juga akan ada untuk cucunya, tetapi mereka perlu membuat batas yang sehat agar tidak memperkeruh hubungan.
Arisa mengatakan anak-anak tidak perlu mendengar rincian percakapan itu. Ia meminta keluarga menyampaikan perubahan dengan bahasa yang sesuai usia jika suatu hari mereka bertanya. Giana menyetujuinya.