sekolahku masih memakai sistem full day jadi setiap sabtunya kami di liburkan. di hari sabtu itu, biasanya rahmat datang menjemput ku lalu membawaku ke rumah orangtuanya.
dari semua keluarganya aku mulai tahu kalo rahmat itu, aslinya paling manja, paling bandel di antara kakak-kakaknya tapi dia juga jadi om paling di sayang sama semua keponakannya.
ada satu keponakannya yang masih berusia lima bulan dan aku paling dekat dengan anak itu, bahkan beberapa kali aku dan rahmat membawanya bepergian.
orang-orang yang melihat kami bertiga sering menyangka jika kami adalah pasangan muda yang menikah karena MBA dan anak yang bersamaku itu adalah hasil perzinaan kami.
awalnya terganggu tapi saking bosannya, aku kembali acuh begitu pun dengan rahmat. dengan kedekatan kami, rahmat tidak pusing lagi membuat konten setiap minggunya.
ketika kami bersama, rahmat selalu menyempatkan membuat vlog dan tahu apa yang menjengkelkan setelahnya?. setelah dia selesai merekam dia akan menggacuhkanku lalu sibuk dengan proses edittingnya.
kadang merasa jika aku hanya di jadikan bahan konten saja sama rahmat. aku tidak suka dengan rahmat yang seperti itu lalu kami bertengkar kecil. tahu kan kalo wanita itu mudah tapi moodnya yang runyam?.
moodku sering di permainkan rahmat. dengan mudah dia membuatku cemberut dan dengan cara mudah juga dia membuatku kembali tersenyum. buktinya saat ini.
kami sedang berada di teras rumahnya bersama yang lain. sedari tadi aku balik menggacuhkan rahmat bahkan pura-pura tidak melihat keberadaannya.
egh dia malah memaksaku untuk menggikuti langkahnya ke arah dapur. ku pikir dia bakal nyuruh aku cuci piring atau nemanin dia ngemil nyatanya, dia hanya menyuruhku duduk di kursi yang ada di dapur lalu dia beranjak entah kemana.
tidak lama setelah dia pergi, rahmat lalu kembali dan membawa gitar di tangannya setelah itu duduk tepat di sampingku. di peluknya benda itu lalu terdengarlah suara petikan gitar.
jujurnya aku tidak menggerti apa yang rahmat lakukan tapi saat dia melapalkan lirik lagu garis terdepan dari fiersa besari, aku tahu kalo rahmat sedang berusaha membujukku.
"Bila kau butuh telinga 'tuk mendengar
Bahu 'tuk bersandar, raga 'tuk berlindung
Pasti kau temukan aku di garis terdepan" ujar rahmat masih memetik senar gitar. selesai menggucapkan kalimat itu rahmat berhenti dari apa yang dia lakukan.
di tatapnya aku lama dan aku juga melakukan hal yang sama. aku tidak mengerti isi kepalaku tapi pipiku sudah memerah dan terasa hangat. apa lagi saat rahmat melapalkan kata maaf.
kata maaf mungkin sudah sering ku dengar tapi saat rahmat menggucapkan itu, di raihnya tanganku lalu di kecup lembut beberapa kali.
sumpah aku melting lalu buru-buru menarik tanganku dari genggaman rahmat. ku akui hubungan kami memang tidak semulus aspal baru tapi setiap momentnya sukses membuat jantungku berdebar kencang.
selain itu, rahmat itu orangnya gemers banget. kalo dia lagi main game, di sekitarnya kadang di lupain dan dia cueknya ternyata ngak ketolong kalo sedang main game.
ada kejadian dimana aku pernah menggangunya tapi nyatanya tidak berhasil sama sekali. di acuhkan berkali-kali, dan di suruh menunggu dia selesai dengan gamenya.
bosan di perlakukan seperti itu, aku malah dapat ide untuk memakaikan rahmat lipstik yang sama dengan yang ku pakai. ku oleskan lipstik sesuka hati, ku pikir dia akan marah dan menggelak, nyatanya tidak.
rahmat membiarkanku tapi matanya tetap terpokus pada layar gadget di tangannya. lipstik itu sampai di pipi bahkan di dagunya pun dia tidak peduli dan terus bermain.
rahmat tidak terusik dengan kegiatanku, bahkan memasukkannya di sosial media milikku, dia tetap menggumpati timnya yang mainnya tidak bagus.
aku jujurnya kecewa berat padahal aku berharap dia marah. aku semakin mendenggus keras saat rahmat menjerit tidak.
mata kami bertemu, tapi moodku sudah hancur. aku baru bergerak dengan niat pergi tapi tanganya lebih dulu meraih tanganku.
ditariknya aku dan dengan sekali tarikan, aku kembali duduk bahkan berada di atas pangkuan rahmat. belum reda keterkejutanku, rahmat lalu berkata
"udah?" tanya aneh
"apa?" jawabku galak dan melototkan mata padanya.
"sekarang giliranku kan?" katanya lagi tapi kini dengan senyum lebar yang terlihat menggerikan.
"agh?" tanyaku tidak menggerti.
tanpa suara rahmat merangku pundakku sedangkan tangan satunya menggarahkan wajahku ke pipinya.
jelas aku berontak tapi nyatanya tidak guna. bibir rahmat sudah mendarat mulus di pipiku. jika kanya di cium sekilas mungkin aku akan berpura-pura tidak terjadi tapi tidak.
rahmad dengan cara sedikit kasar menggusap-usapkan pipi bahkan dagunya yang ku pakaikan lipstik menular padaku entah seperti apa penampilanku saat ini yang jelas aku syok bukan main.
kejadian itu hanya satu dari sekian banyaknya pengalaman yang sudah ku lakukan dengan rahmat. sekarang ini tidak terasa hubungan kami bahkan sudah hampir setahun lamanya.
banyak hal yang sudah ku lewati dan banyak juga yang ku sesalkan. misalnya saja saat om hafiz sakit, aku baru tahu saat om Hafiz sudah di rumah sakit selama dua hari lebih.
aku sempat memarahi abi karena tidak memberitahuku tentang keadaan om hafiz, kabar itu pun ku tahu dari tante dewi yang mengatakan tidak sempat datang menjengguk om Hafiz.
pikiranku kalut lalu dengan dandanan semberaut, aku mendatanggi rumah sakit dengan teburu-buru. aku pikir abi hanya lupa memberitahu tentang om hafiz nyatanya tidak.
saat abi melihatku datang, abi menatapku seolah aku ini adalah orang asing. dengan tatapan dingin dan dengan nada datar abi malah berkata
"ngapaen kamu di sini?"
mendapati abi yang seperti itu aku seketika bungkam. tapi jujurnya aku marah mendengar perkataan abi, bahkan kemarahanku semakin besar saat melihat rina membantu om hafiz makan.
aku merasa berhak marah karena aku merasa jika om Hafiz juga bapakku tapi tahu apa yang di ucapkan abi saat kami bertengkar?. dengan mudahnya abi berkata
"memangnya kamu siapa?" tanyanya dengan wajah dingin.
aku hanya bisa menatap abi dengan napas berat sedangkan pikiranku sedang bekerja keras menyusun kalimat untuk menyangkal perkataan abi.
"kamu sudah bahagia dengan pilihanmu. kamu sudah bahagia sekarang, ini kan yang kamu inginkan selama ini?" tuduhnya padaku.
aku baru saja akan membantah tapi abi mengangkat tangan kanannya untuk mencegah. di hembuskannya nafas secara kuat lalu berkata.
"sekarang ini, kita hanya orang asing pernah berbagi rahasia bersama. sekarang pergi dan nikmati pilihanmu" katanya sedikit mendorong tubuhku tapi aku tidak bergeming.
aku masih berdiri di tempatku lalu menatap abi dengan rasa tidak percaya jika abi bisa menggusirku dengan kalimatnya yang menyakitkan.
kami terdiam di posisi kami masing-masing. abi masing memasang wajah datarnya, tatapanku tidak lepas dari abi. rasa tidak percaya, rasa kecewa pada diri sendiri kini tumbuh tapi otak memaksaku agar tetap tinggal lalu menemui om Hafiz.
kurasa abi menggalah padaku lalu bergerak pergi dari hadapanku. ku masuki kamar inap om hafiz lalu memeluk beliau erat. dalam pelukannya, aku menanggis sedih sembari melapalkan kata maaf berulang-ulang kali.
dengan mudah om hafiz menghentikan tangisku. dengan senyum samar beliau lalu membalas pelukanku dan berkata
"akhirnya anak gadis om datang. om rindu" ujarnya lembut lalu menggecup keningku lama.
*****(di ceritakan di P. O. V. ABI) *****
setelah pertengkaranku dengan abi, aku mulai sering uring-uringan. perdebatanku dengan abi ditutup dengan cara menyeleneh dan sedikit aksi kekerasan.
salah abi sendiri yang memaksaku pulang padahal sudah cukup malam dan aku inginnya mengginap lalu menjaga om Hafiz di rumah sakit.
abi terus mendesak bahkan memaksa, saking kesalnya menggamuklah aku. saat mulai menumpahkan semua yang ku pendam selama ini, tahu bagaimana menyelesaikan masalah?.
semua unek-unek ku tumpahkan tidak tersisa di saksikan om hafiz. jelas aku menanggis dan seperti biasanya abi melumat bibirku untuk menenangkan.
hal yang tidak pernah ku lupakan setelah abi bertindak sesukanya adalah menampar abi, tapi dengan santainya berkata
"bi, kalo habib merkosa lia sekarang, abi langsung nikahin kami ngak?" tanyanya bodoh.
"abi potong sampai habis dulu baru iya" jawab om hafiz tidak kalah santainya.
"ngak guna lagi dong" denggusnya kasar dan wajah suntuk.
sumpah, aku tidak tahu kalo otak abi semakin menggecil setelah ku jauhi dan bodohnya om hafiz bukannya menegur ucapan ngeleneh abi malah menanggapi.
kutendang pusat inti abi dengan cukup keras dan sukses membuat abi menggadu kesakitan bahkan sudah bersujut di lantai menahan sakit.
menyesalkah aku? jawabannya tidak. ku rasa tamparan memang tidak cukup untuk menyadarkan abi. seandainya masih ada siaran ulang, aku berniat memecahkan telur bergantung abi.
pertengkaran itu sudah terjadi beberapa hari yang lalu, sepulang sekolah akhirnya aku nyempatin jengguk om hafiz di banding jalan dengan rahmat.
awalnya rahmat ngerti kalo apa yang kulakukan ini, bentuk dari balas budiku pada om Hafiz jadi beberapa kali rahmat menemani tapi semakin sering aku pergi pertengkaran pun ngak bisa ku halau lagi.
seperti biasanya, hari sabtu adalah jadwal kami ke rumah rahmat. jika biasanya rahmat akan menjemputku sore, kini pagi-pagi sekali aku sudah di sana bahkan ikut sarapan dengan semua keluarga rahmat.
satu hal yang ku kagumi dari sosok ayah rahmat adalah, sesibuk apa pun beliau, beliau selalu menyempatkan diri untuk berkumpul bahkan menanyakan aktivitas setiap anak-anaknya.
mungkin kesannya terlalu kepo padahal anak-anaknya sudah besar dan sudah bisa menentukan pilihan mereka sendiri, nyatanya baik rahmat dan kakak-kakaknya dengan santai mengosipkan banyak hal di meja makan saat mereka bertemu.
semua hal di bahas di meja makan, menantu dari kakak rahmat yang pertama bahkan dengan santainya mengadukan kelakuan suaminya.
jika istri paling tidak ingin di madu, istri dari kakak pertama rahmat malah minta mertuanya cariin menantu baru, dengan alasan suaminya paling malas makan masakan si istri.
bukannya tersinggung kakak pertama rahmat malah menceritakan bagaimana rasa masakan si istri dan sukses membuat kami terbahak.
hampir tidak ada rahasia di antara mereka. awal bersama mereka, jujurnya ku syok bukan main karena, masalah junior (bagian vital laki-laki) berdarah saja di bahas secara terang-terangan.
aku tidak tahu teori atau mitos apa yang mengakatakan kalo di dalam keluarga hanya ada laki-laki semua, salah satunya pasti ada yang menggeluarkan darah dari pusat intinya.
tidak ingin percaya tapi sepertinya itu nyata karena kakak kedua rahmat di olok-olok karena pernah menggalami itu. ngeri sumpah sangat ngeri.
baru masuk di keluarga orang terus mendengar sebuah rahasia begitu membuatku terkejut bukan main, tapi setelah setahun lebih aku mulai terbiasa dengan semua itu.
seperti biasanya, rahmat akan membuat konten bersamaku, dan tema konten hari ini adalah, dia akan menggajariku menggendarai motor karena saking bosannya dia menggantar jemputku.
beberapa kali rahmat mengajarkan caranya dan menyuruhku menggibaratkan motor itu layaknya sepeda. motor yang kami gunakan adalah motor tua milik satpam rumah rahmat.
pas di ajarin secara teori rasanya mudah, tapi waktu praktek sebuah ingatan masa lalu tiba-tiba membuatku tidak konsentrasi. sebuah mayat berlumuran darah tergeletak di tenggah jalan yang pernah ku lihat dengan abi.
bukan soal mayat dan darahnya tapi saat itu roh yang baru saja meninggalkan tubuhnya berada di sana menanggis pilu yang membuatku tak bisa melupakan hal itu.
motor berhasil ku kendarai walaupun caranya tidak stabil, apa lagi saat aku harus menggoper giginya, aku seolah ingin mematahkan motor itu.
gas dan persenelan ku paksa bekerja bersamaan yang membuat rahmat kesal apa lagi saat kami akan berbelok dan aku semakin manarik gas.
semua terjadi begitu cepat. motor berhasil menabrak pohon tapi untungnya aku dan rahmat sempat melompat dari atas motor. bagian depan motor benar-benar rusak hingga membuat rahmat kesal bukan main.
dengan wajah suntuk rahmat mendorong motor untuk menuju rumahnya sedangkan aku memegang kamera rahmat dari belakang.
kami terus meninggalkan posisi kami sebelumnya. beberapa rumah warga telah kami lalu i. rahmat sempat mendumel tidak jelas tentang dia yang tidak enak hati pada pemilik motor.
jujurnya aku merasa bersalah juga tapi aku tidak tahu harus berbuat apa, dan mana mungkin aku mampu mengganti motor yang kurusak.
"mat" panggilku dengan nada merayu tapi yang di panggil hanya diam dan terus mendorong motor
"mat" panggilku sekali lagi dan rahmat masih diam saja.
"mat, kamu jelas tahu kalo aku ngak sengaja" renggekku manja. kini rahmat seolah acuh tak acuh padaku.
"rahmat" kataku merenggek tapi nada yang sengaja ku besarkan.
"apa?" bentak rahmat tanpa berniat berhenti sejenak lalu melihatku.
kini aku yang diam karena binggung harus berkata apa. aku masih mencoba merangkai kata sambil terus berjalan menuju rumah orang tua rahmat.
awalnya tidak ada masalah sampai seekor anjing berlari dari pekarangan tuannya dan mendekati kami. saat itulah aku bungkam tapi mempercepat langkahku.
"ranmat" kataku ingin memberi tahu tapi rahmat malah membentak dan menyuruhku diam.
hewan itu terus mendekati kami dan aku makin di buat panik. sekali lagi ku panggili rahmat tapi hasilnya sama. rahmat masih marah padaku.
tanpa kata atau peringatan lagi, aku sudah berlari mengejar langkah rahmat bahkan aku sudah melalui rahmat. rahmat yang melihatku berlari kencang awalnya acuh saja dan masih mendorong motor dengan santai.
"rahmat awas di belakangmu!" jeritku tapi terus berlari meninggalkan rahmat.
"guk guk guk" suara hewan itu di belakang sana.
aku tidak tahu apa yang rahmat lakukan di belakangku, yang jelas sebuah suara benda seolah terjatuh. bukannya berhenti dan berbalik, aku malah semakin kencang berlari dengan niat mencari pertolongan untuk rahmat.
nafasku sudah terputus-putus. aku sudah hampir sampai di gerbang rumah rahmat hingga sebuah sosok melesat lebih cepat bahkan memaluiku.
saat ku perhatikan dengan jelas, ternyata itu rahmat yang terbaring di teras rumahnya dengan nafas yang sama denganku.
aku lalu mendekati rahmat. kami berdua saling menatap dalam diam tapi tidak lama setelahnya, entah siapa yang lebih dulu yang tertawa tapi tawa itu menular.
sumpah ini adalah cara paling nyeleneh menurutku. kami mulai sering bertengkar tapi barusan adahal hal yang tanpa sengaja membuat kami berbaikan.
untungnya semua yang terjadi tadi sempat ku rekam dan setelah di posting rahmat, vidio rahmat akhirnya tranding topik. uang dari hasil yo*t*be itulah yang di pakai ganti motor milik pak satpam.