Kadang di saat-saat tertentu, aku merasa bisa melakukan semuanya sendiri, ternyata aku tetaplah seorang yang butuh orang lain untuk berbagi.
Sekarang ini, aku sudah berada di kosanku. Akhir libur sekolah sudah di depan mata tapi yang tidak pernah ku bayangkan adalah, aku diserang penyakit di jeda waktu yang mepet.
Sebenarnya rasa kurang nyaman sudah menyerang sebelum kami meninggalkan kota pinrang, tapi ku pikir hanya perasaanku saja karena sekarang musim hujan jadi tidak terlalu ku khiraukan.
Demam menyerangku ketika malam hari, anehnya pas paginya aku merasa baik-baik saja.
Dua hari telah berlalu, tapi hal itu masih terjadi padaku. sebuah ketakutan seketika datang apa lagi virus corona seakan seolah wabah yang sudah jelas mematikan.
Aku seolah menggisolasi diri di kamar kosan, ketakutanku belum hilang hingga sebuah benjolan tepat di pantatku merasa sangat menggangu.
Bokong dan mata itu jaraknya sangat jauh untuk melihat dengan mata langsung pun posisinya meantream dan gilanya aku melakukan itu. Pernah lihat kucing menjilati tubuh bagian belakangnya?.
kucing akan duduk miring lalu mengangkat kakinya satu ke atas lalu menggerakkan kepala agara mendekati b****g. posisiku sama seperti itu dengan sebuah cermin sebagai alat bantu.
Sebuah bisul sedang bersarang di bokongku dan rasanya itu sakitnya luar biasa kalo malam sudah datang. Posisiku sekarang ini serba salah dan aku juga di rundung kalut tidak jelas. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan.
Pernah berjerawat tepat diatas hidung?, rasanya mengganggu tapi bisul di b****g, mengganggunya sepuluh kali lipat. Kalo jerawat di tekan biar pecah, inginya aku juga melakukan hal yang sama pada bisul sialalala itu tapi baru di tekan juga udah nyut-nyutan, mau di biarkan malah terasa menyiksa.
Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa karena ini juga aib yang sangat memalukan, tidak minta tolong juga menderita. Kalo biasanya aku akan minta bantuan ke om hafiz, rahmat atau abi, aku malah mem black list mereka.
Ilmi mungkin bisa tapi big no, aku tidak mau. ilmi tipekal orang yang ketawa dulu baru membantu itu pun membantu tapi besok-besoknya dia akan mengolok-ngolokku tanpa ampun, dan terimah kasih aku tidak mau.
Cara yang ku dapatkan setelah berselancar di dunia maya adalah, membekamnya. Masalahnya, siapa yang bisa ku minta tolong untuk membekam, biarpun ada yang bisa, belum tentu aku mau karena bisulnya berada di area terlarang.
Beberapa kali aku menanggisi diri sendiri tapi tidak menggubah keadaan. Yang paling menyusahkan dengan bisul di b****g adalah, saat buang hajat.
setelah menggalami sendiri, Sekarang aku tahu jawaban kenapa di jamban duduk bisa jongok sedangkan di jamban jongkok tidak bisa duduk.
Kadang aku menertawakan diriku sendiri. Jika lelaki habis disunat mereka akan memakai sarung lalu menarik beberapa senti kedepan agar tidak menggenai pusaka mereka, sedangkan aku menariknya ke belakang agar sarungnya tidak kena bisul.
Siksaannya tiada tara bahkan untuk makan pun jika menyerah dengan posisi miring, aku akan tiarap. Aku menderita hampir tiga hari lamanya, dan tahu bagaimana aku mendapatkan bantuan?. Ibu kos datang menagih uang listrik.
Bukannya memberi apa yang ibu kos minta, aku malah menaggis tersedu-sedu untuk menceritakan apa yang ku alami. Mau tidak mau akhirnya ku perlihatkan lah si bisul nista itu ke ibu kos. Tiaraplah aku, dan ibu kos menyingkap sarung yang ku pakai.
Seperti yang ku bayangkan, ibu kos malah terbahak keras saat melihatnya langsung. Nah setelah sedikit bercerita barulah aku tahu kalo ada cara tradisional untuk bisul. Aku tidak tahu ini benar atau tipu muslihat tapi ibu kos berkata
“kenapa kamu ngak bilang dari kemarin-kemarin?. seandainya kamu bilang dari awal, ibu bisa nyariin orang untuk cegah bisulnya berkembang” katanya memperhatikan bisulku.
“malu bu” cicitku
“sekarang gimana, menderitakan? Eghh ngomong-ngomong bokongmu mulus yaa” katanya menyentuh bisulku lalu menekannya sedikit keras
“ibuuuu” jeritku dengan wajah semakin di benamkan ke dalam bantal. Sumpah antara pengen marah, malu dan pengengen ngusir ibu kos tapi pengen minta solusi juga.
Ibu kos kini tertawa terbahak melihat aku yang mulai menangis kembali. Bukannya merasa bersalah, beliau malah berkata
“ibu dulu juga pernah bisulan tapi ngak sampai ngembang gini”
“oh ya? Dimana bu?” tanyaku beruntun.
“di siku, mungkin sebelas dua belaslah sama yang kamu rasakan sekarang”
“mana ada, bisulan di siku masih bisa ngapaen pasti” tudingku setelah meredakan tangis.
“enak aja. kamu ngak tahu aja, ibu udah kayak robot kemana-mana, mana tangan kanan pula” keluhnya tapi setelah itu ibu kos tertawa, entah sedang menertawakan apa.
“teru cara nyembuhinnya gimana nih?” kataku sewot.
“Ya di bekam biar matanya keluar” katanya santai.
“tadi ibu bilang ada cara tradisionalnya. Itu gimana?”
“ini sih udah telat. Seandainya kamu bilang sebelum gede gini, kamu Cuma perlu nyari orang yang belum penah ketemu bapaknya sedari lahir”
Mendengar perkataan ibu kos, ku tatapi beliau dengan kerutan di kening berkerut jelas. Setelah mencari kebohongan di wajah beliau yang sialnya tidak ada, barulah aku berkata
“apa hubungannya coba?”
“ngak tahu” katanya santai.
“serius bu” kataku ketus.
“ighh ini nih, di seriusi malah di anggap bercanda, di becandain malah dianggap serius. Udah aghh urus diri sendiri kalo begitu”
Mendengar itu, kuraih kaki ibu kost lalu menunjukkan wajah memelas pada beliau. Entah mungkin memang beliau hanya mempermainkanku atau memang ngambek, beliau menggalihkan pandangan dariku.
“maaf bu, lia ngak ngerti sumpah. Jelasin lagi boleh?” kataku memelas dengan mata berkedip-kedip manja.
“cara ini tuh ampuh dan mudah. Orang yang tidak pernah lihat bapaknya cuman perlu meniatkan untuk menggobatimu lalu menyentuh langit-langit mulutnya sambil bacain shalawat untuk kamu, setelah itu jari yang di masuki ke mulut harus nyentuh bisulnya”
“aghhh” kataku syok.
“aisss emang kalo kamu ngak buktiin sendiri, kamu ngak bakal percaya. Ya udah sekarang kamu tunggu di sini” katanya lalu beranjak dari tempatnya
“mau kemana bu?” jeritku tanpa sadar.
“nyariin orang yang bisa bekam dan cariin kamu obatlah, mang kamu mau begini terus sampai tuh bisul sembuh sendiri” ujarnya ketus tapi ada bibirnya berkerut menyembunyikan senyumnya.
“tapi wanita kan bu?” tanyaku memastikan.
“ya iyalah” katanya melangkah dan benar-benar pergi dari kamarku.
Entah berapa lama beliau pergi yang jelas saat itu, aku sempat tertidur dan baru terbangun karena beliau masuk dengan seseorang yang tidak ku kenal. Malunya sekarang berkali lipat, aku bahkan tidak berani menatap orang yang tidak ku kenal itu.
Tanpa banyak bicara orang itu lalu mendekatkan menggolesi sesuatu ke bisulku lalu sebuah rasa aneh datang dan tidak lama setelahnya aku jejeritan tidak jelas saking sakitnya.
Benda yang ditancapkan ke bokongku hanya menghisap darah tapi yang kurasa malah seolah juga menyerap setengah nyawaku.
Selain rasa sakit yang menjadi-jadi, rasa panas dari benda itu juga seakan ingin mempertemukanku dengan malaikat pencabut nyawa. Aku seketika menyadari kesalahanku yang sering takkabur mengginginkan mati, nyawaku belum tercabut saja siksaannya bukan main.
Setelah beberapa menit menjerit tidak jelas, akhirnya aku merasakan sesuatu pecah. seolah jerawat yang meletus setelahnya ada cairan yang keluar, pandanganku seolah berputar dengan menetesnya cairan itu.
Sumpah, aku merasakan setiap cairan itu keluar dari dalam tubuhku. Dari kejadian ini, aku menarik dua kesimpulan. Pertama, aku tidak akan takkabur lagi menjadikan kematian sebagai jalan keluar dari masalaku, kedua aku akan menjaga kesehatanku lebih baik lagi.
Ogah banget bisulan lagi, bisulan adalah penyakit kurang elit yang pernah menimpahku. Penyesalan karena tidak menjaga kesehatan semakin kuat apa lagi setelah benda yang di tancapkan di bokongku di lepas, wanita yang tidak ku tahu itu memerasnya cukup kuat.
Jelas aku menjerit-jerit hingga dari ujung mataku terlihat orang mendekati kamar dan menggintipi kami. Entah karena Maluku sudah menggunung atau karena sakitnya tidak bisa ku tahan lagi, aku tidak sadarkan diri.
*******
kabar tentang aku yang bisulan akhirnya mau tidak mau timbul ke permukaan pada juga. kabar itu tersebar dengan cepat, nama baikku tercoreng sampai habis saat ini.
kalian tahu siapa yang paling senang karena aibku ke bongkar?, jelas itu santi. dia dengan terang-terangan menyindir bahkan meremehkanku di hadapan semua teman sekelasku.
hari pertama sekolah tidak bisa ku lewatkan begitu saja karena ulangan penaikan kelas sudah di depan mata. entah dosa apa yang ku perbuat sampai langsung dapat hukumannya.
ketika aku datang perdana ke sekolah, semua orang menatapku dengan bibir tersenyum lalu mereka mencuri pandang ke arah bokongku.
ku plototi mereka dengan sangar tapi bukannya menyesal, mereka malah terbahak juga melontarkan olok-olokan untukku.
olokan dari mereka yang tidak akrap denganku bisa ku anggap angin lalu, tapi tidak dengan sahabat-sahabat kutu kupretku jujurnya membuatku malu sekaligus geram.
salah kalo definisi sahabat adalah dia yg selalu ada untukmu, nyatanya mereka semua ikut terbahak mendengar olok-olokan orang lain padaku. tahu aku marah rahmat malah berkata
"tenang bisulmu tidak akan memudarkan rasa cintaku kok" ujarnya lalu mencolek daguku dan tidak lupa sebelah matanya di kedipkan menggoda.
jelas aku geram dan menyubiti rahmat tapi selain meringis sakit, rahmat malah memeluk kepalaku. ogh iya, aku lupa cerita kalo kebiasaan rahmat selama kami pacaran tuh yah meluk kepalaku.
Satu hal yang harus ku syukuri setelah di timpa segala musibah adalah, allah tidak pernah meninggalkan dan menggurangi nikmatnya padaku. buktinya sampai saat ini, aku masih di kelilinggi oleh semua orang baik.
Bairpun aku bodoh, selalu ada Rina dan Ilmi yang setia menggajari, jika aku sedih dan tidak tahu harus melakukan apa, ada ditto dan rahmat yang selalu meluangkan waktunya agar aku melupakan sedih sedangkan abi, abi selalu menyadarkanku jika selalu ada cara untuk mendapatkan kebahagian di tengah masalahku.
sama seperti saat ini, aku lenih takut tidak bisa menjawab ulangan matematika di banding virus corona yang sudah sampai di indonesia dan telah melenyapkan dua nyawa masyarakat indonesia.
sekarang ini, ilmi dan rina sedang menggajariku di kosan. saking tidak bisanya aku, ilmi sampai kesal lalu menyerah mengajariku sedangkan rina hanya tersenyum lembut sambil geleng-geleng melihat pertengkaranku dengan ilmi.
"dulunya juga aku jago matematika ya sebelum sin, cos tan, x, y dan pangkat dua menyerang" bantahku pada ilmi.
"alasan doang. kalo otak dangkal ya ngaku aja" katanya sewot.
"iya iya. apalah daku yang di kelilinggi manusia berprestasi seperti kalian" kataku menatap ilmi dan rina bergantian.
mendengar perkataanku, mereka berdua hanya menatap lalu ilmi diam begitu dengan rina. aku masih berenggut melihatku seperti itu, ilmi akhirnya berkata
"apanya sih yang susah dari matematika, pelajaran sejarah aja lo bisa!" ujarnya sewot.
"karena memperhitungkan masa depan lebih sulit di banding menggenang masa lalu" kataku acuh dan menggajak ilmi bercanda tapi sayangnya guyonanku tidak di sambut.
"bodoh agh" katanya gambek dan memasukkan buku yang tadi kami pelajari ke dalam tasnya.
"nih matematika sama kayak kamu, sama-sama pengen di menggerti" kataku lagi.
"apaan sih" katanya semakin kesal padaku.
ilmi lalu pergi di susul rina setelahnya. mereka akhirnya pergi dan lenyap dari pandanganku saat ini. ku telpon rahmat lalu mencurahkan kekalutanku. dalam pembicaraan kami, rahmat dengan santainya berkata
"aku ngak ada sama sekali nyentuh buku matematika biarpun besok ulangan tuh" katanya santai.
"kenapa?" tanyaku.
"belum muhrim jadi ngak boleh sentuh-sentuh" ujarnya lagi.
"ighh aku serius nih" kataku sok ngambek tapi bibir melengkum membentuk senyum.
ku akui rahmat dan abi berbeda. mereka punya karakter dan cara tersendiri menghiburku.
"mang kesulitannya di mana?" tanya rahmat lembut kali ini.
"banyak banget udah kayak masalah kepadatan penduduk di indonesia" kataku ikut ngelantur.
"wahhh ini harus di rapatkan antara ibu negara dan bapak negara kalo seperti itu" kelakarnya lagi
"egh maksudnya?" tanyaku tidak mengerti.
"harus suntik kb" kata rahmat.
"aisss ngak lucu tau ngak" ujarku.
"lia" panggilnya kali ini.
"pikiran kamu lagi kalut ya?" tebaknya dan sialnya itu benar.
"mmm" gumamku menjawab.
"matematika itu mudah karena bisa dengan banyak cara yang penting hasilnya sama. sama seperti kamu mau ngerti masalahnya dulu baru di selesaiin" jelas rahmat lagi.
"tau hidup sesusah ini, mending dulu pas balapan ma s****a lain, aku langsung ngalah aja tanpa berjuang" keluhku sambil menghembuskan nafas kuat dari mulut.
"udah ngak usah di pikirkan. ngak semua orang bisa matematika dan tidak semua orang harus bisa. kamu emang cocoknya jadi ibu anak-anak kita udah. kamu di rumah aja, biar aku yang cari nafkah di luar" katanya sok serius.
aku tidak menjawab kali ini. aku malah membekap bibirku kuat agar tidak menjerit. pipiku memanas, bibirku tidak bisa ku tahan untuk tidak tersenyum lebar.
"gila" semprotku lalu mematikan telpon sepihak.
tanpa sadar aku sudah seperti orang yang memenangkan milliaran rupiah. dulu aku sering tidak menggerti dengan mereka yang bucin, tapi setelah menggalaminya langsung, aku tahu kalo karma itu ada.
bucin akan datang pada waktu yang tepat.
ini pertama kalinya aku kembali dekat dengan lelaki bukan muhrimku. rahmat seolah datang dengan air melimpah di padang pasir.
rahmat itu unik. selama menggenal rahmat, aku tahu kalo rahmat itu bukan tipe penggekang apa lagi posesif. rahmat orangnya mudah bergaul dan fleksibel.
selama status pacar melekat padaku, rahmat selalu bertanya tentang suka tidak sukannya aku, nyaman atau tidak, dan yang paling penting adalah, rahmat selalu berkata "tapi kamu mau kan?"
kadang kalimat itu terdengar membosankan atau menjengkelkan tapi aku tahu kalo rahmat tidak ingin aku terpaksa bersamanya.
ogh iya, satu lagi yang paling ku suka dari rahmat adalah, rahmat itu bukan orang yang skinship yang menjurus kebagian tabu seperti yang sering kulakukan dengan abi.
jika abi bisa menjadi sosok teman, musuh, sahabat, dan kakak bagiku, rahmat malah layaknya om hafiz yang berjiwa seorang bapak yang paling menggerti anak perempuannya terbukti aku dengan pelan tapi pasti sedikit berubah menggikuti perkataan rahmat.
abi beberapa kali menegur karena perubahan sikapku, tapi sekarang ini, abi tidak bisa terlalu mudah mencampuri urusanku.
jujurnya aku dan abi sempat berdebat hal kecil saat kami di pinrang. aku tidak suka dengan abi yang menyuruhku tidak terlalu dekat dengan rahmat.
aku bukan tipe orang yang sekali di beri tahu lalu menggikuti. ku akui aku adalah orang yang keras kepala apalagi abi hanya menyuruh tanpa memberi alasan.
dengan wajah menahan amarah, aku lalu berkata "kamu pernah ngak sih mikir konsekuensi saat bohongin aku?"
dia diam kali itu, abi menatapku dengan intens tapi bibirnya tertutup rapat. ucapannya tercekat seolah ingin memuntahkan semua alasannya tapi tidak jadi. entah apa yang sedang di pendamnya kali ini.
perdebatan kami ditutup dengan aku yang pergi lebih dulu, tapi sebelum aku pergi, aku sempat berbalik dan berkata
"percuma kamu jagain aku dari semua laki-laki kalo kamu ngak pernah jaga diri kamu untuk semua wanita"
ya karena kalimatku itu, kami sempat menjadi canggung tapi hanya sesaat saja. sekarang ini, kami bersikap masih baik-baik saja padahal aku mulai membuat jarak dengan abi.