Jangan pernah menggukur dengan materi jika tidak ingin di rendahkan orang lain, jika kamu ingin di terima orang lain, maka terima dirimu sendiri.
Jadilah diri sendiri maka orang lain akan menerima semua karena kamu bangga dengan semua kekurangan yang kamu miliki.
Bagaimana pun bentuk tubuhmu, seberapa pun ukuran badanmu, seberapapun angka ditimbangan mu, bagaimana kondisi kulitmu, apapun warna kulit dan bentuk rambut mu, apapun bentuk matamu, mau pake kacamata atau tidak, kamu cantik dan akan selalu begitu.
Jangan jatuhkan kepercayaan dirimu dengan pikiranmu sendiri, kamu cantik terlebih dengan hati dan akhlak mu yang baik.
Hal itulah yang sekarang ku peraktekkan pada orangtua rahmat terlebih pada ibunya. otakkku memerintah untuk meyakini bahwa, untuk diterima orang lain, aku harus jujur.
Bukan tanpa alasan itu ku lakukan, beberapa hari lalu rahmat mempertemukan aku dan orangtuanya dan kemarin ibu rahmat menghubunggiku untuk bertemu secara pribadi.
Yang terbayangkan adalah, drama-drama korea dimana si miskin dan si kaya tidak bisa bersatu, orangtuanya dari yang kaya akan memintasi miskin untuk menjauh lalu memberikan kompensasi dengan jumlah yang banyak dan itu yang ku takutkan.
Bayangan-bayangan itu jujurnya membuatku ragu untuk datang tapi mau tidak mau kuhadapi juga. Di sinilah aku, di salah satu café yang menyediakan ruangan VVIP.
Tanganku sampai berkeringat dingin dan ucapanku sampai tergagap saat menyapa beliau tapi dengan santainya beliau memelukku seolah ingin menghilangkan kekhawatiranku.
Semuanya di mulai dengan basa-basi semata hingga sampailah kami di point inti yang kutakutkan.
awalnya beliau tetap diam, beliau lalu menggenggam tanganku seolah mengguatkan dan terus memaksaku untuk bercerita apa yang terjadi di hidupku juga keluargaku.
jujurnya aku malu, jujurnya aku tidak ingin tapi dengan bujuk rayu serta sebelum aku bercerita, beliau juga menceritakan kisah kelamnya sebelum menikah dengan suaminya sekarang.
air mata berderai. mengongat lalu menceritakan kisah itu seolah membuka luka lama dan menambahnya dengan potongan jeruk hingga semakin perih.
lambat laun aku mulai terbuka dan menggalirlah cerita. Semua masalah semua kejelekan serta aib keluarga ku tuturkan pada beliau. Beliau mendengar semua masa laluku, masalah orangtuaku, masalah tentang keuangan bahkan caraku bertahan hidup.
beliau mendengarkan dengan hikmat tanpa menyela apa pun yang aku ceritakan. pada wanita yang telah melahirkan rahmat, aku menjelaskan bagaimana perasaanku hancur tak tersisa saat semua masalah menghadang hidupku.
aku anak ke tiga dari tiga bersaudara tapi rasanya aku hanya anak tunggal. semua beban di serahkan dan sialnya kedua kakakku malah membentak saat aku menghubungginya.
ini siksaan yang tidak pernah ku bayangkan. hidupku bergantung dengan belas kasih om Hafiz dan entah sampai kapan itu bertahan.
ibunya rahmat akhirnya memeluk dan menenangkanku dengan cara layaknya seorang ibu yang menenangkan anak kandungnya sendiri. dalam pelukan itu, yang terbersik malah wajah mamaku.
sekuat apa pun aku berusaha melupakannya, berusaha membencinya dan menggutuk apa yang dia lakukan, nyatanya sukmaku merindukannya teramat sangat.
setelah merasa tenang, barulah kami menikmati makanan yang di sediakan. ibu rahmat lalu berkata,
“kamu serius sama rahmat?” tanyanya menggengam tanganku lembut.
“i..ya iya tante” jawabku gugup.
“sebagai seorang ibu, saya cuman tidak ingin rahmat memilih wanita yang salah apa lagi dengan status dan pekerjaan ayahnya yang kamu tahu sendiri kan bagaimana?”
“i.. iya, iya tante” jawabku lagi.
“jujurnya tante sudah menggecek semua yang kamu bilang pada kami saat itu” jelasnya tanpa ku pinta.
“yang .. mana tante?”
“tentang keluargamu, tentang kamu yang di selalu hidup dengan bantuan orangtua abi”
Aku seketika bungkam dan tidak menyangka jika mama rahmat ingin tahu kebenaran dari ucapanku.
“tante suka kamu yang jujur, selama bersama kamu juga rahmat menunjukkan perkembangan yang bagus kok.”
Aku masih diam saja tapi mataku menatap ibu rahmat intens.
“kami bukan orangtua yang kolot dan memaksakan agar pasangan anak-anak kami harus setara dengan kami, tante cuman tidak ingin jika kamu hanya memanfaatkan rahmat, setelah itu merusak rahmat” jelasnya lagi.
“tidak kok tante, insya allah tidak” elakku.
“insya allah tante percaya. Mungkin terlalu cepat menyetujui kamu masuk dalam keluarga kami, tapi tante ingin mempercayai rahmat kalo dia tidak salah menitipkan hatinya”
Aku memilih kembali diam bahkan menunduk semakin dalam saja.
“lia”
“ya” jawabku.
Wanita di hadapanku tidak langsung berbicara, dia memilih menatapku cukup lama setelah itu di genggamnya tanganku semakin erat.
Di peluknya aku sekali lagi bahkan di dalam pelukan itu, ibu rahmat sempat berbisik dan berkata
“ibu titip rahmat. Tolong jangan jauhkan rahmat dari keluarganya ya?” pintanya dengan menatap tepat di mataku.
Aku masih berpikir maksud dari perkataan ibu rahmat ini tapi sekali lagi dia berkata.
“jika ada yang salah dari ibu, saudara-saudara rahmat dan rahmat sendiri tolong bicarakan baik-baik. Jangan jauhi rahmat apa lagi pergi tanpa penjelasan bisa?” katanya masih menatap mataku intens dan ada ke seriusan serta ketegasan di sana.
Mau tidak mau aku hanya memilih mengganguk saja walaupun ada keraguan yang jelas dalam anggukanku.
Pertemuan kami tidak cukup lama tapi sukses membuatku terpaku lama di café ini. Ibu rahmat pergi lebih dulu bersama beberapa orang yang sudah sering kulihat tapi aku lupa jabatan mereka.
Setelahnya rahmat, ilmi dan ditto datang dan mereka malah menanyakan inti pertemuanku dengan ibu rahmat tapi aku memilih bungkam.
Aku tidak tahu apa yang om Hafiz, bunda kak Dika dan ibu rahmat lihat dariku lalu mempercayakan aku bersama anaknya.
Tidak tahu aku seharusnya senang atau sedih karena aku di percaya ibu rahmat untuk melanjutkan hubungan dengan anaknya sekarang ini.
Kebimbangan segera menerpaku, hatiku dan otak seketika berdebat panjang. Hatiku malah seolah berontak dan menggumpatiku sedari tadi.
ku tatapi rahmat lama. pikiranku berkelana jauh tanpa bisa ku cegat. aku tahu, aku itu patut di kasihani tapi aku hanya perlu memastikan seseorang yang datang padaku itu harus ku suguhi kopi atau hati.
******
Hari itu telah berlalu, sekarang tidak ada yang harus di tutupi atau dikhawatirkan karena kejujuranku sedari awal, aku mulai kembali menata otak dan hatiku.
Hubunganku dan rahmat pun tetap terjalin bahkan semakin lancar jaya saja setiap harinya. Seorang pendengki akan banyak membuang waktunya untuk hal-hal kecil yang tidak penting seperti santi. Aku tidak tahu kenapa ada spesies yang suka sekali mencari cela orang lain seperti santi.
Santi itu tipekal yang kalo lihat orang pake barang mahal, dia langsung nyari tahu belinya kredit atau cash, beneran punya orang itu atau cuman minjam.
Kalo tahu barangnya hasil minjem atau kreadit leganya luar biasa, paling jago ngomenin ini itu yang intinya nyinyirin orang, tapi saat orang itu pake barang sendiri dan belinya cash. langsung dah tuh, dicari lagi asal muasal dari mana dapet uangnya, halal atau haram dan terus saja sampai dia tidak menggurusi hidupnya sendiri.
Brand ternama baru saja menggeluarkan tipe gadget terbaru, nah teman-temanku yang berkelebihan jelas sudah menggunakannya itu hal yang wajar yang tidak wajar adalah, aku juga menggunakan merek dan tipe yang sama seperti teman-temanku.
awalnya tuh cuman gara-gara pas aku ke kantin dan make hp yang juga di cita-citakan santi, nah di sanalah sumber masalahnya.
Santi mulai mengorek-ngorek kehidupanku, tentang aku yang miskinlah, dulunya di bully waktu SMP lah dan bagaimana bencinya abi dulu padaku.
Aku tidak tahu dimana santi mendapatkan semua informasi tentang aku, yang jelas, nyinyiran santi mulai tidak menggenakkan di telingga. Benda itu, seperti biasanya ku dapatkan dari om Hafiz tapi gozip yang tersebar adalah, gadget itu ku dapat dari teman-temanku.
Katanya, aku diberikan gadget mahal itu karena mereka kasian melihat kondisi gadgetku yang jadul bahkan sudah bisa dikatakan hancur.
Hal itu masih bisa di terima tapi santi juga menuduh jika aku memoroti rahmat untuk gadget itu. Semua gosip tentangku dan rahmat tidak ku hiraukan.
hubunganku dengan rahmat sebenarnya masih abu-abu tapi bagi orang lain sudah terang benderang karena, rahmat sudah menggenalkanku ke seluruh keluarganya bahkan di beberapa ke sempatan, rahmat selalu membawaku ke acara keluargannya.
Karena kemajuan hubunganku dengan rahmat, santi makin sakit hati.
setiap bertemu santi, suasana hatiku tidak pernah baik. sayangnya kami sekelas dan jelas aku akan terus bertemu santi.
Di kelas itu rasanya benar-benar sudah seperti medan perang untukku dan santi. aku selalu menggeluk tidak nyaman, karena sindiran bahkan santi bahkan dia sudah berani bermain kekerasan saat aku melawan perkataanya.
Setan belum tentu menakutkan yang menakutkan sebenarnya adalah orang yang baik di depan tapi menusukmu dari belakang. (santi)
“jadi cewek tuh jangan kayak nanas, manis tapi gatal” kalimat sambutan itu seketika menabrak telinggaku.
Bukan aku yang menggucapkan itu tapi wanita yang baru saja berteriak saat aku baru tiba di ambang pintu. Siapa lagi kalo bukan santi, ternyata santi sudah duduk nyaman di bangkunya bersama pembelanya yang ada empat orang.
“ngakunya wanita baik-baik sedangkan wanita baik-baik tidak akan merebut milik orang lain” ujarnya lagi melontarkan serangan padaku.
Aku tuh tipe orang yang kalo lagi bad mood bakal memilih buat diam, soalnya kalo diajak ngomong atau mau ngomong itu bawaannya pengen ngegas mulu. Aku memilih diam dan menyandarkan kepalaku di meja.
Bagiku, lebih baik menjadi pendengar yang baik saja ditengah orang yang berpikir global tapi tindakannya local. Moodku benar-benar hancur hari ini, tadi pagi om Hafiz menelpon dan mengajakku untuk mendatanggi acara mama.
Iklas adalah hal paling gampang di ucapkan tapi paling sulit di lakukan. Aku sudah memutuskan tidak pergi tapi om hafiz terus mendesak hingga aku tidak punya kalimat untuk menolak lagi.
“jangan dengerin lia, kita itu harus bener di mata negara dan agama bukan mata orang sirik kayak dia” kata rahmat yang seketika datang dan duduk di sampingku tanpa ku sadari.
“ini semua tuh karena kamu ya” semprotku.
“iya maaf” katanya singkat padat dan jelas.
Aku kembali bungkam malah menyembunyikan wajahku di dalam lipatan tanganku dan terisak pelan di sana.
Kurasakan rahmat menggusap punggungku beberapa kali hingga tanpa sadar aku tertidur lelap. Tidak ada yang membangunkanku hingga suara adzan dzuhur terdengar.
Dengan pelan tapi pasti ku renggangkan tubuh dan kulihat malah guru matematika kami baru saja keluar dari kelas. Ku pandangi sekitar tapi ilmi malah menyodorkan sebotol air minum padaku.
Semua temanku bergerak untuk berganti pakaian karena pelajaran selanjutnya adalah olahraga. Ketika aku sudah selesai berbenah dan sudah tiba di lapangan, kulihat rahmat sedang bermain basket seorang diri.
Dilemparkannya bola basket dan untungnya kuterima dengan baik. Ku mainkan bola dan memasukkannya ke ring, selanjutnya aku malah saling berebut bola dan memasukkannya ke dalam ring. Di tengah kegiatan kami, rahmat malah berkata
“kamu kenapa lagi?” kata rahmat sambil memperhatikan aku yang memainkan bola basket.
“dibohongi satu orang lalu tidak percaya pada hampir semua orang. Itu aku” balasku rada tidak nyambung dengan pertanyaan rahmat.
Aku memilih diam dan tetap saling berebutan bola dengan rahmat. Aku diam dan memilih memendam karena tidak semua orang menggerti apa yang aku rasakan
“abi?” tebak rahmat.
“bukan” jawabku lalu kembali menggiring bola dan melemparkannya lagi ke ring tapi gagal.
“kalo kamu cari cowok yang ganteng aku maju, tapi kalo kamu cari cowok yang sholeh, kaya dan pintar aku langsung ngajak kamu ke penghulu, gimana?”
“PDnya selangit. Sadar dong” balasku ketus.
“punya pacar badannya kecil ternyata enak ya!” katanya menggukur tinggiku yang hanya sampai di ketiaknya saja.
“pacar kamu siapa?” kataku
“kamulah”
“kamu ngak perna yah nembak aku”
“mang kamu mau di tembak”
“ngak” jawabku
“ngak salah lagi maksudnya?” katanya dengan senyum makin lebar.
Aku tidak bersuara malah terus memantulkan bola dan menghadang rahmat merebut bola dariku.
“aku serius tau” kata rahmat lagi
“apa” kataku acuh.
“kalo kangen tinggal dipeluk. Kalo ngeselin tinggal di angkat dan dibanting”
“hehehe lucu” kataku dengan semangat lalu berkata “bisa biologi?” kataku lagi.
“bisa” jawabnya
“tau hormone dopamine lepas kalo apa?” ujarku.
“kalo kita lagi senang” jawabnya cepat.
“sayangnya pas sama kamu aku malah mau kesal mulu”
“ya udah nikah ma aku biar bisa ku bahagiakan dunia akhirat” balasnya.
Aku seketika layaknya orang merinding dan tidak lupa melemparkan bola basket pada rahmat. Melihatku seperti itu, bukannya marah rahmat mala tersenyum makin lebar dan berkata
“katanya ngak mau tapi pipinya memerah. Bohong banget sih kamu”
Aku inginnya memasang wajah cemberut tapi sayangnya aku tersenyum lebar. Menurutku, rahmat memang selalu punya cara untuk membuatku tersenyum kembali.
“senyummu seakan mengajak berumah tangga”
Kalimat itu tidak ku hiraukan karena aku sudah bergabung dengan teman-temanku yang lain lalu melakukan pelajaran olahraga. Seperti biasanya kami memulai dengan pemanasan lalu di lanjut dengan uji coba melakukan cakram.
Tidak terasa mata pelajaran olahraga sudah selesai. Diantara temanku, ada yang langsung memilih ke kelas dan ada juga yang langsung ke kantin.
Aku dan ilmi malah memilih ke kelas terlebih dahulu untuk berganti baju lalu melaksanakan sholat, nyatanya gagal hanya karena santi sudah menungguku.
Dengan wajah sinis santi menghadang langkahku lalu melontarkan beberapa kalimat sindiran tapi tetap tidak ku hiraukan.
Aku benci berdebat karena aku tahu, sekali aku membuka mulut, aku akan kehilangan kendali jadi aku tetap diam.
“kalau masih pacaran jangan terlalu bagaimana sekali, ada tuh orang yang sering sekamar nyatanya bukan tuh perempuan yang di lamar” katanya santai.
Aku masih tidak bersuara karena di dalam benakku berkata, jadilah wanita yang berkelas bukan wanita yang menyelesaikan semuanya dengan adu gulat.
Santi terus berkoar-koar sedangkan aku hanya bersidekap santai memperharikan dia menunjuk-nunjuki wajahku. Semua hinaan bahkan tuduhan sudah santi ucapkan tapi dengan santaintya aku berkata
“ngomongin diri sendiri mbak? Ngomong saja terus, putar balikkan kata terus toh saya tidak peduli”
“tidak usah sok baik, ntar malu sendiri kan kasian?” balasnya dengan wajah mencemoh.
“hidupmu kurang bahagia buat ngurusin orang lain?, gih piknik biar gak makin panic” kataku.
“nyisir dan nyinyir itu beda, tapi sama-sama butuh kaca” katanya lagi.
“mbok yo kalau ngomong otaknya di pake ya, jangan Cuma disimpen, biar apa? biar bisa dijual lagi untuk perawatan badan mahal, heh? kalo modal cantik doang, banci Thailand jauh lebih cantik”
Aku adu jotos tidak bisa tertahankan lagi, siapa lagi coba kalo bukan santi yang memulainya lebih dulu. Aku sempat meremas d**a santi dengan kuat sedangkan santi berhasil santi berhasil mencakar wajah dan menarik hijab hingga rambutku terlihat tapi aku tidak peduli itu.
Kami terus bergulat dan aku berhasil menindih santi lalu dengan puas memukulinya dari atas tapi santi tidak melepaskan rambutku hingga membuat gerakanku terbatas. Sorak-sorakan masih terdengar cukup nyaring tapi itu tidak terlalu lama.
Tubuhku di peluk seseorang dari belakang lalu orang itu memaksaku bersitatap dengannya. Orang itu memasang wajahnya sangat sangar, kemarahan jelas terpancar dari matanya.
Dia masih tidak bersuara, dia memilih bergerak memunggut hijabku yang tergeletak di lantai lalu memasang benda itu dengan paksa di kepalaku.