Hari itu telah berlalu, Aksi dramaku di mulai lagi. aku memilih menggurung diri di kamar hingga waktu tidak terasa pergi dan meninggalkan aku.
di dalam kamar kosanku, aku meluapkan semua rasa yang sudah ku pendam sedari tadi, semenjak tahu tentang kabar bahagia mama namun kabar buruk untukku.
di hadapan teman-temanku, aku berusaha seolah aku kuat tapi nyatanya saat sendiri, semuanya melebur jadi satu dan tidak lupa menggundang tanggis hebatku.
aku bodoh jika menggangap waktu akan berhenti saat aku bersedih. sebanyak apa pun aku meratap nyatanya tidak ada yang berubah dan kewajibanku sebagai anak sekolah terus menggejar.
"lia"panggil ilmi padaku.
"mmm" gumamku.
"jadi gimana?" tanyanya dengan tatapan intens.
"apanya?" tanyaku balik lalu ikut menatap di bola matanya sama seperti apa yang ilmi lakukan padaku.
"nikahan mamamu, kamu beneran tidak mau datang?" tanyanya dengan suara makin lirih di akhir kalimat.
"gue ngak di undang" balasku dengan wajah suntuk padahal hati serasa teriris-iris di dalam sana.
"terus tahu tanggal nikahnya gimana?"
"lewat f*******:"
"nyokap ngak nelpon pribadi ke lo?" tanya seakan tidak percaya.
"ngak, nomornya gue blok" jawabku ketus.
"sejak kapan?" desak ilmi masih dalam keterkejutan.
"semenjak gua udah ngak di anggaplah!" kataku sewot.
"iya tapi itu kapan?" tuntutnya lagi.
"mmm lupa gue, pokonya semenjak kami pindah dari rumah setelah itu, udah lost kontak aja gitu" kataku singkat.
"selama itu kalian ngak komunikasi, nyokap lo pernah coba hubungin lo ngak?"
"ngak ada" jawabku cepat karena faktanya seperti itu.
"maksudnya?"
"semenjak dia di pinrang, komunikasi kami hancur egh semakin bahagia dia, makin ngak berbentuk udah" kataku singkat lalu menurunkan pandangan untuk menatap makananku yang ku aduk-aduk tidak jelas.
"lo pernah coba telpon?"
"pernah"
"terus?"
"tu laki yang ngangkat telpon gue, padahal gue nelponnya jam 12 malam. lagi ngapaen coba mereka sampai jam segitu"
"hussst jangan soudzon gitu" tegur ilmi.
"mm"
"setelahnya nyokap lo nelpon balik?"
"ngak ada"
"terus?"
"besok-besoknya gua telpon lagi egh di tolak mulu, ya udah gue blok. bukan ngak mau baikan cuman sadar kalo gua cuman ganggu kebahagian dia."
"gue blok juga bukan karena benci tapi setiap gua mau kirim kabar ke dia, notipnya nyadarin gue kalo gua udah di lupakan"
"sini hp lo" kata ilmi dengan tangan menggadah di depan wajahku.
"..." aku memilih diam tapi tetap memberi yang di minta ilmi.
handphone pemberian om hafiz kini sudah di tangan ilmi, ilmi sempat terdiam cukup lama untuk membaca semua pesan yang sudah ku ketik tapi tidak pernah sampai ke tujuannya.
"lo selalu ngetik pesan ke nyokap tapi ngak ke kirim karena lo blok bego gimana mau nyampe" ejek ilmi padaku.
"sengaja"
"lo ngetik ke nyokap udah kayak diary ini, lo juga ngetiknya hampir tiap hari. gila panjang banget dah kayak novel" kata ilmi takjub melihat isi pesanku.
"mmm"
"gua buka ya"
"jangan, tar gue ngak bisa ngontrol diri tuk neror dia dengan masalah gue yang gak penting bagi dia"
"tapi dia nyokap lu lia, kapan kalian baekan coba kalo gini?" nasehatnya lagi.
"udahlah. aku rasanya sudah baik-baik saja sekarang ini" kataku penuh putus asa.
"gue tahu lu boong"
"mi, udah ya. katanya lo paling benci kalo liat gue nanggis, sedari tadi tuh gue nahan itu, bahas tentang dia sama aja ngehidupin harapan gue buat mati aja tau ngak"
"tapi gimana pun dia nyokap lo, lo masih butuh sosok dia di hidupmu"
"ya kau benar. tapi sesuai kata lo, gue yang butuh bukan dia"
"terus sekarang mau lu gimana?"
"gimana apanya?"
"kamu sendiri bilang, semua biaya hidup dan kosanmu di bayarin bokapnya abi. sekarang lo ma abi udahan, biaya hidup lo gimana?"
"ngak tahu"
"kalo bokapnya abi nonstop semua uang untuk lo, lo mau ngapaen"
"ku harap masih" kataku seketika merasa jalut setelah mendengar perkataan Ilmi.
"kalo ngak?"
"ngak tahu"
"lia"
"jangan mikir yang belum jelas deh, tar gua pikir lagi kalo emang udah kenyataan."
"terus lo maunya apa?"
"ngak tahu"
"mang lo masih ada muka tuk minta di biaya i ma bokapnya abi?"
"gue udah kehilangan akal, urat malu bahkan kepercayaan sama diri sendiri, makanya gue pikir mungkin mati lebih baik"
"segitu ngenesnya hidup lo" ejek ilmi.
"tau agh gua udah ngak mikir gitu-gituan sekarang ini"
"terus otak lo isinya apa?"
"cari calon suami yang kaya, mau nerima gue apa adanya, udah gitu doang"
"otak lo sesimple itu tapi seolah ngak ada masa depan or cita-citanya baget gitu."
"mau gimana lagi masalah hidup gua udah ribet, kalo mau tetap waras ya ngejalanin yang simple lah" bantahku.
"ighhh. lo sadar ngak sih, lo yang minta putus sama abi, tapi lo ma abi masih bisa bertingkah kalo kalian ngak ada masalah"
"ya gimana ya.. gue ngak busa benci dia"
"apa?"
"gue ma ngak bisa dendam ma mereka, toh apa yang gue lakuin bener. di tinggal ma mama kandung aja gue bisa apa lagi cuman relain abi yang belum jelas jadi imam gue"
"maksud lo?"
"aku ngak tahu, sebenarnya otak dan hati gue mau apa sekarang. aku cuman tidak bisa benci sama abi, ngak bisa bersikap tidak kenal dan seolah korban perasaan abi."
"perasaan lo ke abi gimana sih sebenarnya?"
"lo tahu kan kalo gua kenal abi udah lama banget, dia udah kayak kakak, teman, musuh, sahabat bahkan sekuruti bagi gue"
"iya gue tahu. awal-awal tahu lo, lo selalu ngekorin tu harder kemana-mana"
"enak aja, abi di katain abi herder, dia tuh bukan herder"
"tapi?"
"labrador"
"sama aja, sejenis yang bisa bilang guk guk kan"
"bukan gue yang ngomong logh. sstt mereka datang" kataku berbisik lalu melihat abi yang seenak udelnya duduk di sampingku lalu di susul rina duduk di samping Ilmi.
"kenapa?"
"abi nyari kamu, katanya kangen"
"abi yang mana?, kamu maksudnya?" kataku tersenyum lebar lalu menaik turunkan alis untuk menggoda abi.
jujurnya ku tahu maksud abi tapi entah kenapa setelah tahu jika cinta itu adalah permainan, aku malah suka mempermainkan abi dan rina juga.
"duanya" kata abi santai sembari meminum minumanku.
"iya bilang aku juga kangen" balasku santai dan melanjutkan makanku.
"jadi kamu mau ke rumah?" tanya acuh dan menggalihkan pembicaraan.
"mmm boleh deh" balasku.
"aku nanti nunggu kamu di parkiran kalo gitu" katanya lalu menggengam tanganku lembut, tepat dihadapan rina dan ilmi.
"sadar kita lagi di tempat umum" kataku menepis tangan abi.
"..." rina dan ilmi diam .
abi dan rina sempat beranjak pergi lalu kembali dengan minuman tangan mereka. setelah menunggu sambil bercerita sedikit denganku, makanan pesanan mereka datang.
kami makan dengan tenang, tapi di tengah-tengah kegiatan makan kami, tiba-tiba abi berkata
"sekarang udah bisa masak?" kata abi melihat wadah makananku.
"hehehe, belum dong ini di kasih rahmat" jawabku cenggesan tapi ada nada bangga di akhir kalimat.
"lagi?" katanya sembari menunjukkan wajah datar.
"mmm tiap hari rahmat ngasih aku makan dong, ngak kayak kamu yang cuman makan hati terus" sindirku.
"kenapa ngak belajar masak sih?" balasnya sewot.
"mana ada waktu, lagian perabotannya juga ngak ada" kataku menjelaskan.
"kan bisa minta aku beliin" katanya.
"beli prabotannya aja susah, masaknya apa lagi. kan ngak ada yang ngajarin"
"aku bisa" katanya seketika.
"kalo ada yang instan kenapa harus ribet sih?"
"kamu kok ngak berubah sih" kata abi gemas sembari menyubit pipiku gemas.
"aku bukan satria baja hitam ya jadi ngak bisa berubah" kataku menepid tangan abi lalu menggelus-elus pipi yang sakit setelah dicubit abi.
"kok bego" katanya ketus.
"lagian kalo masak, skincarenya sayang dong"
"jadi?" ujarnya makin sewot saja.
"mending temanan ma kuas dan powder dong di banding bumbu masakan"
"apa bagusnya coba?"
"egh jangan salah MUA guna banget sekarang ini" balasku sewot
"bisa dandan tapi ngak bisa masak kok bangga!"
"perempuan sebenarnya apa sih?, kamu cari istri atau babu?"
"istri tuh bisa mandiri, berdagang adalah salah satu sunnah rasul, jadi kalo kamu ngak bisa apa-apa, mau bertahan dengan apa?" kata abi lalu menoyor kepalaku.
"ighh kebiasaan banget sih KDRT ma aku, untung belum jadi suami kalo udah ku talak kau"
"jangan, aku nantinya susah dapat istri gila kayak kamu. kamu udah sempurna untuk aku kok" katanya berlalu begitu saja setelah menyelesaikan makannya yang hanya butuh waktu 5 menit.
abi sudah beranjak dari tempatnya tapi dia tidak lupa menggelus-ngelus kepalaku lembut lalu beranjak lagi.
"mau kemana?" tanya rina pada abi.
"sholat aku belum sholat" jawab abi singkat lalu pergi dan tidak lama setelahnya menghilang dari pandangan kami.
"suek banget tuh abi, abis ngombal-bambalin lo tapi ujung-ujungnya apa coba?" kata ilmi angkat bicara kali ini.
"ya gimana dong udah mendarah daging brengseknya dia" kataku acuh.
"dan sintingya lo biarin dia ngelakuin itu berulang-ulang ke lo?"
aku tidak menjawab malah mengerakkan kedua bahu acuh tak acuh dengan sikap abi.
"egh liat kelakuan abi aku ingat satu lagu deh" kata ilmi dengan wajah serius.
"apa?" tanyaku dan rina bersamaan
"dengar ya" ujarnya memerintah.
terlebih dahulu ilmi batuk untuk memperbaiki vita suaranya. dia bahkan memposisikan tangan kanannya di depan mulut seolah itu adalah mik, barulah dia berkata
"enaknya jadi b******n, mau apa saja tak ada yang larang" kata ilmi ternyata memplesetkan lagu bujangan dari roma irama.
"mau gombal yang mana saja tidak jadi beban pikiran" jedanya lalu di lanjut dengan "b******n oh b******n" ujarnya masih melantunkan lagu yang dia ubah sesuka hati.
ilmi menyanyi dengan serius tapi sukses membuatku dan rina tertawa terbahak melihat ekspresi ilmi yang sangat menghayati nyanyiannya.
******
Ada ngak sih, temen yang sebelum kenal kelihatan jutek, sombong dan pendiam?. giliran udah kenal lama ya ampun, bacotnya ga bisa di kondisikan, kalo ketawa nabokin orang, kalo bicara kadang kenceng dan malu-maluin?.
Dengan lantang kuteriakkan jika iya ada, aku sudah membuktikannya sendiri. Semenjak bertemu dan mengenal orang ini, aku sadar untuk jangan menilai orang dari luarnya saja apa lagi mukanya.
Setiap melihat orang baru yang terpikirkan adalah, orang itu judes, jarang senyum, ga pernah menyapa, sekalinya ditegur pertama kali dan bisa ngomong sama itu orang lebih dari sepuluh menit nah aslinya ternyata tuh orang asyik banget, tapi emang pada dasarnya dia ngak tahu memulai pembicaraan.
Siapa lagi coba sahabatku yang mulutnya nista selain Nurul Ilmi Daniati, tapi disapa ilmi. ilmi ini kelakuannya sebelas-dua belas dari jeng kelin. tau ngak wanita berambut sebahu berbedak tebal dan berblush on lingkaran kecil tepat di pipi?.
Pada tahun dua ribu dua belas wanita itu sangat tenar sebagi wanita yang paling menyebalkan nah Ilmi juga begitu. ilmi itu bacotnya suka ngak di filter asal nyaplak aja udah.
Hari ini hari minggu, dari kemarin Ilmi memaksaku menemaninya joging jadi pada hari minggu ini, kuluangkan waktu untuk menemaninya tapi bukannya kami berlari menggelilingi lapangan Ilmi malah lebih dulu mendatangi pedagang yang ada di pinggir jalan. Karena jengah aku berkata
“cewek itu emang aneh ya? Sukanya jajan, hobbynya makan, kebiasannya ngemil tapi cita-citanya pengen langsing” keluhku sambil menyindir Ilmi yang niatnya ngajakin bakar lemak tapi pas sampai TKP malah tidak berhenti mengunyah padahal masih pagi.
“santai aja kali, kalu di suruh diet mending temanin kelurahan buat surat tidak mampu yuk!!” ajaknya dengan semangat.
Bukannya menyahut aku hanya berdecih dan memanyunkan bibir sebagai respon karena perkataan Ilmi. Aku pikir protesannya sudah selesai tapi dia malah melanjutkan kalimatnya, Ilmi berkata
“lagian awali dengan sarapan karena kemarin gue coba dengan senyuman doang, jam sepuluh udah laper ngak ketolong” ujarnya menggelus-ngelus perut buncitnya dengan sayang.
“dasar gendut” hardikku kasar, tapi tahu tidak respon Ilmi apa?, dia malah berkata
“eghh ingat ya ada pasal tiga ratus tiga puluh lima yang bisa memenjarakan kamu karena perbuatan yang tidak menyenangkan” katanya
“kalo kamu gini mulu, aku ngak heran kalo hujannya awet tapi duit di dompet gak pernah awet” keluh Ilmi setelah membayar makanan kami.
Kami berdua sempat terdiam untuk menghabiskan makanan kami masing-masing. Semenjak berteman dengan Ilmi aku percaya bahwa cewek-cewek pas lagi kumpul bareng kalo ngak ngumpulin dosa ya kumpulin lemak. Ghibahnya jalan nguyahnya jalan terus.
selama kami bersama kami punya prinsip kalo sahabat sejati tidak menjelekkan satu sama lain tapi menjelekkan orang lain secara bersama-sama, edankan? Iya Ilmi otak dan mulutnya sama-sama busuk jadi wajar aku tertular. Ilmi berkata
“kalo dipikir-pikir apa salahnya jadi gemuk toh perbedaan orang kurus dan orang gemuk hanya pada makanannya kan?” Tanya Ilmi mencari pembelaan tapi aku sungguh tidak mengerti dengan maksud Ilmi jadi hanya diam.
“…” aku tak bersuara malah kini memperhatikan Ilmi intens sambil menunggu jawaban dari kebinggunganku. sekali lagi dia berkata
“yang kurus makan hati dan yang gemuk makan tempat iyakan? Sakit hati ma mengguras hati nah makan menyenangkan hati mending gue seneng-seneng biarpun bakal makan tempat juga” jelasnya diakhiri dengan cengiran kuda yang membuatku memutar mata karena tidak sependapat dengan Ilmi.
“sakarepmu ndok.. sakerapmu asal jangan gila” kataku menggukanan dialeg jawa.
ada satu hal lagi yang paling menjengkelkan dari Ilmi, Ilmi itu suka sekali membuang sampah sembarang jadi kutegur tapi tahu apa jawabannya?, dengan tidak bersalahnya Ilmi berkata
“nanti cleaning servisnya keenakan dong! Nanti dia gak kerja kalo semua orang nerapin kebersihan” jengah dengan perkataan dan pemikiran titin, aku malah berkata
“kenapa kamu ngak mati aja kan kasihan tukang gali kuburnya ada kerjaan?” kataku ketus.
“iya iya.. susah deh jalan ma kamu yang jiwa babunya on terus” dengusnya tidak senang saat aku menyuruhnya memungut lalu membuang sampah miliknya ke tong sampah yang dia sediakan.
“lagian katanya mau jongging malah ngajak makan. Matahari udah tinggi pula” kataku menatap langit yang mulai meninggi.
“gue mau curhat lia. Jogging ma alasan doang” katanya dengan nafas yang di buang secara kasar.
“masalah sama orangtua?” tebakku.
“bukan” jawabnya cepat.
“terus apa?” tanyaku memperhatikan wajahnya serius.
“ini tentang cowo. Lo kan bisa tuh naklukin abi sama rahmat gue minta tips dong” katanya sedikit memelas.
“aghh segede ini lo malah binggung karena cowok?” kataku mengejek.
“maksud lo?, lo ngejek body gua gitu” katanya sewot dan mimic wajah marah.
“bukan. Lo capek-capek belajar dari SD, SMP SMA belum lagi lo ikut kursus ini itu tapi pas kenal cinta kok g****k?” tanyaku dengan gelengan kepala mendramatis.
“tau deh yang g****k di pelajaran tapi jago di cinta sampai-sampai di kejar dua cowok keren di sekolahan” balasnya ikut menggelengkan kepala sepertiku.
“a***y lo” umpatku tertawa lepas.
Sumpah ya, Ilmi emang jago memainkan kata. Kalo ilmi dan Rina di sandingkan, kurasa mak lambe kayaknya kalah deh.
Kalimatnya sarkisnya bok dan aku jujurnya binggung mau balas dengan kalimat apa.
Kami lalu mendekati mobil Ilmi yang terparkir tidak jauh dari tempat kami makan. Ketika sudah duduk nyaman dalam mobil, barulah aku berkata
“mang lo kenapa?” tanyaku pada akhirnya.
“gue kemarin dekat ma cowok, teman doang tapi rasa pacar egh tapi tuh cowok malah udah punya cewek padahal kita lagi deket-deketnya. pas liat pacarnya gue malah sadar diri dan sakit hati” katanya sedih.
“sakit karena cinta ngak di tanggung BPJS dan jodoh belum tentu ditemuin walau pake bantuan TIMSAR” kataku melucu tapi nyatanya gagal.
“kok lo ngak asik sih?” kata Ilmi jengkel.
“ahahaha lagian lo dikibulin cowok mau aja. cowok itu seperti Bluetooth dia akan terhubung padamu saat kau dekat dan akan mencari perangkat lain saat kau jauh. move dong”
“ya elah ngomong ma gampang bener dah, lagian dari zamanya kartini sampai zamannya suger daddy yang dipelajari tuh menghafal bukan melupakan” balasnya sembari melajukan mobilnya meninggalkan alun-alun yang masih ramai dengan masyarakat yang sedang melakukan senam.
“alasan banget dah, bilang aja lu masih sayang kan ma dia?” tuduhku.
“ogah banget dah ma dia lagi” balas ilmi.
“terus lu masih ingat-ingat dia itu apa nyirombeng?” hardikku lagi.
“ngak aja, dari dia aku belajar kalo semanis apapun ucapan lelaki kalau dia ngak pernah punya tujuan yang jelas saat bersamamu ya lebih baik ditinggalkan. Semakin dewasa seseorang akan paham kalau ucapan tanpa tindakan adalah penipuan semata”
“duhhh super sekali anda” kataku.
“gue tuh maunya hidup sesimple-simple kayak lo tau ngak!” kata Ilmi dengan nada serius “lo Udahan ma abi terus langsung jadian ma Rahmat. Sumpah enak banget nasip lo”
“apa yang lo lihat tuh ngak gitu ya” elakku lalu menyandarkan diri di kursi yang ku tempati.
“apanya. Orang-orang tuh bicarain kalian, malah lo, abi, rahmat sama rina tuh kayak ngak ada masalah sama sekali. Gue tuh juga mau gitu, biarpun gue sakit hati tapi gue mau nunjukin kalo gue baik-baik aja di depan tuh cowok” katanya.
“aku sama abi sedari awal bukan pasangan kekasih, gue sama rahmat juga ngak jelas begitu pun sama hubungan rina ma abi” jelasku
“gimana maksudnya?”
“jodoh tuh ngak ada yang tahu. di bantu ma om-om yang suka ngendus itu juga belum tentu ketemu. aku bisa berharap dengan siapa jodohku tapi pemilik semesta yang menentukan. Selagi kami masih bisa berteman kenapa tidak. Toh kami tidak pernah saling berusaha membunuh satu sama lain, kenapa harus di jahui?”
“tapi gue masih rada-rada ngak iklas tau ngak?”
“iklasin aja. Toh dia belum jadi imammu. Aku malah sudah sampai di titik terlemahku” kataku ikut menggeluarkan keluh kesahku.
“mang lo kenapa lagi?” tanya ilmi dengan wajah sedikit binggung.
“gue mikir aja. Dulu gue sayangnya ngak ke tolong sama nyokap dan nyalahin bokap terus-menerus, egh setelah ada masalah keluarga malah kok kebalikannya?”
“maksud lo?”
“gue setelah ada masalah malah sadar kalo sejelek-jeleknya bokap, tuh orang masih bokap gue dan gue berdosa kalo ngak nolong dia pas lagi butuh-butuhnya” kataku menatap kedepan sambil menggingat-ingat bagaimana pertengkaranku dengan bapak.
“bukannya bokap lo udah meninggal ya?” katanya binggung
“siapa yang bilang?” tanyaku balik.
“abi.” Jawabnya singkat.
“belum, doi beli meninggal tapi lagi mendekam di penjara aja” kataku meluruskan.
“aghhh serius?” jeritnya tidak tertahan.
“mmm iya. Ditto malah udah pernah nganterin aku ketemu bokap di rutan”
“lo nggak lagi ngibulin gue kan?” tanya dengan mata memicing.
“ngak ada. Gue serius, Bokap masih di penjara cerai sama nyokap dan nyokap malah udah bahagia sekarang”
Ilmi seketika memilih bungkam tapi tetap menggemudikan mobil dengan baik.
“lo bayangin ngak sih, gimana stressnya bokap gue?. Dia harus sidang karena kasusnya dan di waktu bersamaan dia harus datang di sidang keputusan perceraian dengan pasangannya” kataku menerawang jauh.
Ilmi masih saja diam tapi dia sudah menepikan mobil karena kami sudah sampai di depan kosanku.
“sekarang bokap dan nyokap udah pisah dan gue malah binggung harus ngapaen setelah lulus sekolah” keluhku dengan genangan air mata
“lo pernah mikir untuk kuliah ngak?”
“ngak deh. Gue malah mikir gimana cara ngubah nasip dan berharap, semoga apa yang gue alami ngak ke jadian sama anak gue”
“lia” panggil ilmi lalu menggengam tanganku kuat.
“jangan pikirin tentang rasa sakit karena tuh cowok mi. mikirin masa depan lo aja, lo punya peluang tuk masa depan yang indah. Jadilah wanita yang sulit di dapatkan tapi lebih susah untuk di lepaskan” nasehatku pada ilmi.
“sekarang ini, perempuan harus strong. Wanita yang menggandung, wanita yang melahirkan. Baik tidaknya anakmu nanti, lo yang jadi patokannya. Gue udah jatuh di titik terlemah gue dan lo lihat gimana susahnya gue bangkit terus berusaha nyehatin otak setelah semuanya. Jangan biarkan anakmu ngalamin yang lebih parah dengan apa yang lo lihat ya?” kataku lagi.
“pikiran lo ngak kejahuan apa?” kata ilmi.
“ngak ada yang kejahuan kalo allah sudah nentuin lo cuman harus siap untuk menghadapi semuanya”