entah ini lebaran ke berapa bapak setelah di penjara. aku ingat jelas bagaimana pertama kali aku kesini dan bagaimana orang rutan mengingatku kala itu.
bukan kesalahan bapak hingga berada di tempat ini, tapi nyatanya lelaki yang menjebak bapak tak kunjung di temukan hingga saat ini.
ku pikir bapak akan menetap di penjara selama-lamanya nyatanya sebentar lagi masa tahanan bapak usai setelah hampir di tahan di tempat ini selama kurang lebih dua tahun.
aku baru saja selesai melakukan prosedur untuk masuk di rutan, setelah seminggu momen lebaran telah terlalui, aku baru datang menggunjungi bapak. tidak ada kata sambutan hangat bapak malah berkata
"ku pikir kau sudah lupa tentang bapakmu yang masih hidup ini" sindirnya.
"aku malah berharap bapak atau wanita mu itu mati saja"
"apa maksud kamu?" bentak bapak padaku.
"alicia. ini tentang alicia yang akhirnya hidupnya menjadi korban dari semuanya"
"maksud kamu?"
"bapak nikah tapi kenapa tidak secara hukum?. begonya lagi, maharnya banyak nyatanya ngak guna kan?" ujarku kesal.
"jadi bagaimana alicia sekarang?"
"bekas istrimu sudah menikah tapi suaminya baru tahu kalo alicia bukan anak kandung si wanita itu" ujarku santai
"agh kapan mamamu menikah lagi?"
opss aku lupa jika selama ini aku tidak menceritakan tentang revolisi wanita itu. mau tidak mau aku menceritakan semuanya dan bapak hanya mendengarkan dengan wajah kaget sedari tadi.
"panti asuhan mana?" tanya bapak saat ceritaku selesai.
"tidak tahu" jawabku jujur.
"kenapa tidak tahu. kamu bilang kalian ketemu dan mamamu bilang semuanya ke kamu"
"aku pulang sebelum alicia di bawa ke sana. mereka juga belum pasti menitipkan di mana saat bertemu denganku" jawabku lagi.
seketika bapak terdiam lama. bapak sepertinya sedang berpikir karena memijit keningnya kuat. setelah itu dia barulah angkat bicara dan berkata
"bagaimana denganmu?"
"tidak tahu"
"apa maksudmu?"
"aku cuman mau tamat sekolah, cari kerja, hidup mandiri dan mati dengan tenang"
"maksudmu?"
"aku kehilangan semangat juangku. aku cacat secara sosial karena berstatus sebagai anak mantan napi, wanita melahirkanku nikah lagi bahkan sedang menggandung anak pertamanya!"
"bapakmu ini memang bukan orang benar tapi bapak harap kau tidak mencari solusi yang akan menggundang masalah baru datang" ujar bapak serius.
"maksud bapak?" tanyaku binggung.
"di sana, jangan seperti wanita di belakangmu"
dengan pelan namun pasti akhirnya aku berbalik untuk mencari wanita yang bapak maksud. tidak lama setelah aku memperhatikan beberapa wanita akhirnya bapak kembali berkata
"dia berbaju hitam dan berjilbab merah" kata bapak mendeskripsikan wanita yang dia maksud lebih detail.
aku masih diam tapi benar akhirnya aku menemukan satu sosok seperti yang bapak maksud. setelah memperhatikan dia sesaat akhirnya aku kembali menatap bapak lalu berkata
"wanita yang mungkin seumur denganku tapi memangku anak kecil itu maksud bapak?" tanyaku sekaligus mengkonfirmasi tebakanku.
"iya itu" kata bapak sembari menggangguk beberapa kali.
"kenapa wanita itu?"
"umurnya mungkin benar sepertimu tapi faktanya, anak yang di pangkuannya adalah anaknya"
"masih kategori anak-anak dong kalo di ukur dari usia dewasa yang di tetapkan pemerintah" kataku
"ya bisa jadi" kata bapak ambigo.
"agh tapi sepertinya anaknya sebesar alicia jadi kemungkinan usianya lima atau enam tahun"
"mmm, bapak berharap kamu tidak seperti dia. dia masuk dengan kasus barang haram, barang buktinya juga hampir sama seperti mama tirimu" desah bapak di akhir kalimat.
"kenapa bapak sepertinya prihatin dengan dia" tanyaku heran.
"bapak pernah di sidang dengan dia. bapak prihatin mendengar pemgakuannya di depan hakim" ujar bapak dengan kepala yang di geleng-gelengkan pelan.
"kenapa?" ujarku semakin tidak menggerti.
"dia dari kurang mampu. ibunya hanya bercocok tanam dan dapat belas kasih dari orang-orang. kehidupan yang maksa dia mencari lajan pintas" kata bapak menjelaskan.
aku hanya kali ini sembari berpikir bagaimana kerasnya kehidupan wanita itu dan seberapa tegarnya dia untuk menghadapi kehidupannya.
"dan kamu tahu, anak yang di pangkunya itu adalah anak dari hasil pemerkosaan dari bapak tirinya"
aku semakin bungkam saja. Dalam hati aku seketika menggucap syukur karena allah masih menyadarkanku, memohon maaf pada allah karena merasa sangat jahat dengan jalan takdirku, nyatanya masih banyak orang yang kurang beruntung di banding aku, juga berharap allah tidak membuat berada di jalan yang salah di masa depan kelak.
bapak menggengam tanganku kuat lalu dengan wajah datar tapi mimik wajah serius, bapak berkata
"jadi, kamu akan jadi wanita yang seperti apa?. wanita yang tegar tapi menderita seperti mamamu lalu kebahagian datang agar dia melupakan masa pahit atau wanita tegar yang hanya bisa melewati masalah tapi lupa dengan masalah lain!" tanya bapak tanpa menggalihkan pandangannya dariku sedari tadi.
aku masih diam tapi pikirianku semakin berkelana saja. pertanyaan bapak seolah mengingatkanku dengan pertanyaan om Hafiz. om Hafiz juga pernah bertanya akan jadi seperti apa aku.
jika kebanyakan orang akan bertanya tentang cita-cita dan pekerjaan yang akan di kerjakan di masa depan, dua lelaki yang penting dalam hidupku malah bertanya tentang sikapku menghadapi semua masalah.
aku mengeleng sebagai jawaban. rasanya sangat takkabbur jika aku berkata aku akan menjadi wanita baik di masa depan. tidak ada yang tahu takdir.
kehidupan benar-benar seperti roling coster. saat diatas rasa deg degan yang menyelimuti sekalinya harus turun, isi tubuh rasanya ikut turun lalu akan terlepas semua.
setelah terdiam cukup lama, aku masih belum bisa melepaskan semua pikiranku. bapak yang akhirnya angkat bicara dan berkata
"di sini, bapak melihat banyak kasus yang berbeda-beda. semenderitanya orang di luar sana, tidak akan semenderita disini" kata bapak.
"kenapa? bukannya bapak di sini tahunya hanya makan tidur, di kurung lalu tidur lagi ya?"
terlebih dahulu bapak tersenyum hambar lalu berkata "jangan melanggar hukum cukup bapak saja. perbaiki sholatmu, bapak juga mendoakan agar allah melindungi kamu"
"mmn. pak kalo lia menikah setelah lulus sekolah bagaimana?" tanyaku mengganti topik pembicaraan kami.
"bapak setuju jika itu abi. abi dan omnya yang bernama anggara juga sudah menggurus semua"
"maksud bapak?"
"abi bilang, mau tidak mau kau harus menikah dengannya. setelah bapak keluar dari sini, kalian akan melakunan pernikahan" jelas bapak yang jelas membuatku syok bukan main.
"kenapa kesannya bapak menjualku sebagai bahan balas budi?" ujarku sarkis.
bapak tidak merespon tapi aku tahu bapak menatapku nanar karena tidak punya kalimat bantahan untuk kalimatku kali ini. beliau hanya memelukku seakan mengguatkan tapi ku rasa percuma.
aku pulang dengan pikiran gamang. aku tahu om Hafiz sangat menginginkan kami menikah sampai-sampai sudah memberikanku harta bergerak mau pun tidak bergerak padaku.
kenapa kesannya aku di desak untuk menikahi abi?. aku tidak tahu bagaimana isi pikiranku saat ini. mungkin jika nampak, di dalam sana sudah layaknya benang kusut yang entah di mana ujungnya.
aku mengutuk hidupku, aku menggutuk takdirku tapi nyatanya tidak ada juga jalan keluar untuk semuanya. di kamar kosan aku akhirnya hanya misu-misu tidak jelas.
pernah ngak sih kalian dalam fase ngak pengen ngapa-ngapen tapi di tuntut harus ini itu, mau dibiarin tapi kok beratin kepala, di biarin kok kesannya di kejar.
dilakuin malah bikin sakit hati, mau menikmati dan biarkan berlalu kok kayak mau pergi dan tidak mau terima?. aku sendiri tidak tahu apa yang mau ku lakukan sekarang ini!
*****
Angin segar baru saja menerpaku saat tubuhku keluar dari pintu utama rutan. sebuah nafas ku hembuskan dari mulut secara kasar, ku pikir aku sudah melewati satu masalah nyatanya masalah lain datang tanpa ku undang.
Di hadapanku kini berdiri seseorang yang sudah lama ku hindari. dia yang memintaku tidak menggangunya lalu kulakukan, nyatanya dia sendiri datang padaku untuk di ganggu.
sepertinya memang aku harus kembali ke bangku TK untuk menggerti arti semua kata dari ucapan orang di sekitarku. dengan senyuman khas miliknya, rahmat menghadang langkahku.
aku tidak menghiraukan rahmat tapi rahmat menggejar langkahku untuk menghadang. beberapa mata terpusat pada kami tapi aku tidak peduli.
saat aku sudah melangkah untuk menuju gerbang, rahmat akhirnya berhenti untuk menghadang sekaligus membujukku agar kami bisa membicarakannya baik-baik.
rahmat sudah bergerak pergi dengan sedikit berlari menuju arah yang berlawanan denganku. saat rahmat pergi, sialnya aku menggutuki dia.
katakan aku bodoh. tidak tahu kenapa, sedari tadi aku rasanya ingin menggusir rahmat juga tidak ingin melihat dia, nyatanya saat dia benar-benar pergi, ada perasaan kesal karena rahmat semudah itu menyerah untuk membujukku.
ku tinggalkan rahmat lalu terus pergi dari lokasiku sekarang. ku pikir rahmat tidak menggejar lagi karena menyerah, nyatanya dia kembali dengan sepeda motor yang di kendarainya.
untuk pergi dari rutan nyatanya tidak semudah yang ku bayangkan. tidak tahu kenapa hari ini serasa tidak ada angkutan umum yang bekerja.
aku berjalan untuk meninggalkan rutan hingga mendapati jalan raya. aku tetap fokus berjalan ke depan sedangkan rahmat terus membujuk agar aku naik ke atas motornya lalu kami pergi ke rumahnya untuk menyelesaikan masalah kami.
"lia udah dong marahnya. maaf ya sekarang naik yuk kita pulang" bujuknya lagi.
"udah pergi sana ngak ada yang manggil kamu" usirku pada rahmat.
"iya aku minta maaf okey sekarang naik yuk terus kita ke rumah" bujuknya lagi.
aku bungkam kali ini tidak ku hiraukan rahmat dan aku selalu menepis tangan rahmat yang menyentuh tanganku. aku tetap berjalan dan rahmat masih di atas motornya.
"kalo bosan tuh ngomong bukan ngilang" bentak rahmat kali ini.
"di otak gue tahunya yang nganggu itu harus hilang bukan melas" balasku tanpa menghiraukan peraturan kami yang harus make "aku-kamu bukan gue-lo" lagi.
"lia" bujuk rahmat dengan mata memohon dan suara suara lirih kali ini.
"lo kan yang minta gue ngak ganggu lo sekarang gue pergi tapi lo malah ngejar. mau lo apa sih?" kataku semakin kesal.
"ngak ada orang baik-baik aja saat kehilangan biarpun aku yang minta tapi aku cuma berpura-pura"
"okey. sekarang lo bisa pura-pura kalo kita ngak ada masalah dan kita bisa putus dengan cara baik-baik juga sekarang" bentakku sambil menepis tangan rahmat.
"kalo kita baik-baik ngapaen putus? bulhsit tuh kata putus secara baik-baik!" ujar rahmat marah.
"toh lo baik-baik aja tanpa gue. ada gue cuman nambah masalah hidup lo kan?. ya udah putus. gue juga ngak bisa jadi beban untuk orang lain"
"lo bilang ngak mau jadi beban untuk gue tapi lo masih nerima bantuan abi dan keluarganya. bulshit banget lo" kata rahmat dengan wajah dan tangan yang menggeras kali ini.
aku seketika merasa di tancapkan pedang beracun tetap di jantungku. aku terdiam bahkan berhenti untuk melihat wajah rahmat intens.
kami sempat saling bertatapan dengan waktu singkat tapi di waktu singkat itu, rahmat berhasil menarik lalu memaksaku naik di atas motor.
Motor melaju dengan pelan tapi pasti. aku tetap diam aku di sini tapi jiwa dan pikiranku benar-benar melayang ke negeri entah berantah.
tanpa ku sadari motor akhirnya berhenti dan baru ku sadari jika kami sudah berada di rumah orangtua rahmat. orang-orang menyambut kami begitu pun dengan orangtua rahmat.
setelah berama-tama, mereka pergi dan tinggallah aku dan ibunya rahmat di ruang keluarga karena hanya kami yang sedang tidak melaksanakan sholat. dengan ragu-ragu aku berkata
"bu, sepertinya aku" ada jeda dalam kalimatku karena aku sibuk merangkai kata. belum sempat kalimatku tersusun rapi, ibu rahmat berkata
"jujur saja lia. ibu lebih suka itu" ujarnya dengan tangan yang menggengam tanganku hangat.
"ibu tahu dan jelas lihat bagaimana sayangnya aku ke rahmat kan?" tanyaku hati-hati.
"iya" jawabnya singkat.
"ku rasa allah berkehendak lain. kali ini aku harus menggutamakan hal lain" kataku masih berhati-hati.
"apa itu?" tanya dengan mimik wajah penasaran.
"ibu ingat adik tiriku yang bernama alicia?"
ibu rahmat tidak langsung berujar. wanita dewasa di depanku terlebih dahulu berpikir keras lalu akhirnya berkata
"tidak, kenapa dengan dia?"
"alicia tidak punya akta lahir karena pernikahan orangtua kandungnya tidak tercatat secara sipil"
"kamu mau minta bantuan untuk buatin anak itu akta lahir?" tebak ibu rahmat kali ini. aku terlebih dahulu menggeleng lalu berkata
"bukan, anak itu butuh keluarga dan kasih sayang yang tulus" ujarku mulai meneteskan air mata.
"jelaskan pada ibu dengan jelas sekarang" ujar ibu tegas.
"lia, lia berencana mengadopsi alicia dan menggakuinya sebagai anak bu"
"jadi kamu butuh suami untuk melakukan itu?" tebak ibu rahmat tepat sasaran.
aku hanya mengganguk sebagai jawaban. sumpah aku tidak berharap agar ibu rahmat menikahkan aku dan rahmat segera tapi tatapan ibunya rahmat seolah syok bukan main.
"tapi rahmat kamu masih muda. kamu sudah mikir matang-matang?" ujar ibu rahmat dengan suara lirih kali ini.
"i, iya bu?"
"rahmat mau?"
"aku, aku tidak bilang dengan rahmat"
"kenapa?"
"aku tidak tahu rahmat sebenarnya serius sama aku atau tidak"
"kenapa bilang begitu?"
"mmm aku rasa rahmat hanya kasihan sama aku bu" ujarku semakin hati-hati.
"jadi kamu mau putus sama rahmat?"
aku bukannya menjawab malah memilih menggeleng lalu menunduk lama.
"jangan bikin semuanya rumit lia. bilang kamu maunya gimana?"
"aku cuman mau mastiin dulu, rahmat hanya kasihan atau cinta. setelah itu baru aku cerita ke dia"
"jadi maksud kamu cerita ke ibu itu apa?"
"lia mau apa pun akhirnya ibu bantu lia untuk meyakinkan rahmat"
"yakinin bagaimana maksud kamu?"
"kalo rahmat mau, tanyakan pada rahmat ke siapannya bantuin lia atau benar-benar mau miliki lia. kalo dia tidak mau tolong bantu rahmat kalo emang keputusannya yang terbaik"
"kamu sadar ngak sih bicara dengan siapa?. saya ini ibunya rahmat jelas saya tidak mau kamu menyakiti anak saya" bentak ibu rahmat kali ini.
"karena itu, lia mohon sama ibu. bantu rahmat menentukan pilihannya. kalo rahmat nikahin lia hanya karena kasihan lalu suatu hari dia akhirnya jatuh cinta sama wanita lain bagaimana? dia bukannya bahagia malah terbebani karena masih ada lia dihidupnya"
"kalo rahmat lepasin kamu?"ujarnya lagi.
"dia bakal punya masa yang lebih baik"
"gampang banget kamu ngomongnya" decih ibu kali ini.
"maaf bu, maaf karena lia egois" ujarku memelas.
"saya ngak mau janji dengan sesuatu yang saya tidak suka. tapi saya rasa kamu memang egois dan terlalu meninggikan dirimu. ada kamu atau tanpa kamu di hidup rahmat, dia jelas akan baik-baik saja" kata ibu lalu pergi begitu saja di hadapanku.