Selama pacaran dengan Rahmat, kami berdua lebih sering menghabiskan banyak waktu di kekediaman orangtua rumah rahmat. kadang aku merasa malu karena aku sudah seperti wanita yang sangat menggilai Rahmat dan tidak pernah mau terpisah jauh dengan Rahmat.
Pikiran itu awalanya sangat mengganguku, nyatanya sekarang ini semuanya baik-baik saja toh orangtua bahkan kakak ipar selalu menyambut kedatanganku dengan sangat baik dan itu yang membuatku semakin nyaaman bersama Rahmat.
Setelah pertengkaran lalu kami berbaikan, jujurnya ada rasa sedikit canggung tapi aku terus berusaha menghilangkan kecanggungan antara kami dan rahmat juga begitu. untuk mencairkan suasana, aku berkata
"Rahmat peluk dong!" Lataku dengan manja.
"Males" Jawab Rahmat sambil terus memainkan gamenya.
Mendengar itu, aku seketika memasang wajah cemberut tapi tiba-tiba Rahmat menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajahku. Di perlakukan seperti itu, refleks aku pun menutup mata.
Ku kira dia ingin menciumku. Aku sudah menanti bibirnya mendarat di bibir nyatanya, itu hanya khayalanku saja. Aku akhirnya membuka mata, dan yang terlihat adalah, ekpresi wajah Rahmat yang menatapku binggung.
"Kenapa kamu menutup mata?" Tanyanya heran. Karena malu sendiri, aku terlebih dulu pura-pura batuk lalu balik bertanya
"Ngapain dekat-dekat kayak gini?" tanyaku galak padahal au sedang mengumpati diriku sendiri.
"Aku cuma mau ngambil bulu matamu yang jatuh kok" Kata Rahmat, dia menunjukkan sehelai bulu padaku. "Katanya kalo ada bulu mata yang jatuh, itu petanda ada yang rindu" Tutur rahmat yang tanpa sadar membuatku memutar kedua mata karena muak mendengarnya.
"Mitos doang itu" Sanggah ku santai.
"Tapi tadi kok kamu nutup mata?"
"Aug aghhh!" decakku kesal lalu membelakangi Rahmat yang kembali sibuk dengan Gamenya.
"Jangan-jangan, kamu nutup mata karena nyangka aku akan nyium kamu ya?" Tebak Rahmat dengan senyum menggejek dan tidak lupa memainkan kedua alisnya untuk di naik turunkan.
Seketika aku mendorong Rahmat menjauh dariku dan segera berlari pergi. Tidak ku pedulikan seruannya yang meminta aku kembali untuk menyembunyikan rasa Malu.
Aku tahu mulut Rahmat itu lemes tapi Rahmat tidak akan berani melakukan apa yang di ucapkan. Beberapa hari kemudian, aku kembali mengetes Rahmat lalu bodohnya berkata
"Kok kamu ngak pernah nyium aku?" Ucapku menelan semua urat malu.
"Mau banget kamu di cium?" Tanyanya balik.
Mendapat respon Rahmat yang seperti itu, aku memilih diam saja padahal rasanya aku ingin sekali menenggalamkan wajahku. karena aku diam, Rahmat juga tidak bersuara tapi dengan cepat menggecupnya pipiku beberapa kali.
"Cuman di pipi?" Kataku sedikit tidak puas.
"Kamu maunya di bibir?" Tanya balik.
Aku kembali diam dan menunduk menunggu respon Rahmat. Ditanyai seperti itu, bukannya menjawab, aku malah menunduk sambil meremas-remas tanganku yang ada di pangkuan dan tetap menunggu respon rahmat.
"Nggak agh ngak enak, tar aku pengen lebih kamu ngak berani tanggung jawab" Katanya santai lalu sekali lagi Rahmat berkata
"Cipokan doang ngak enak, tapi kalo kamu mau biarin aku ngebobol kamu ayok deh" Pungkasnya penuh semangat.
"iiigh gila" Jeritku sembari melempar bantal sofa pada Rahmat.
"Ya udah diam" Putus Rahmat lalu kembali memainkan gamenya dengan serius.
Aku bukannya tanpa sebab menanyakan dan membicarakn itu pada Rahmat. Kata orang, jika seseorang jatuh cinta, dia tdk akan bisa menggalahkan Endorfin-oksitosin. Efek oksitosin mirip dengan efek endorfin yang menyebabkan bahagia berlebihan, kepercayaan yang dipengaruhi oleh oksitosin ini bersifat berlebihan.
Aku cuman ingin memastikan perasaan Rahmat sebenarnya padaku, apa Rahmat merasakan itu juga atau hanya aku yang menggalami itu.
Ku hembuskan nafas secara kasar lalu menyandarkan diri di sofa dengan perasaan ingin menyerah saja. Aku sudah melalukan segala percobaan ke Rahmat nyatanya setelahnya aku semakin binggung. Abi dan Rahmat nyatanya sama-sama sosok yang tidak pasti.
"Aku tahu kamu sebanarnya ngak suka kan ma aku, kamu cuman bersimpati dan nganggap aku sebagai saudara perempuan yang ngak kamu punya" ungkapku dengan lirih.
biarpun asyik dengan gamenya, ternyata Rahmat mendengar ucapanku. Rahmat seketika angkat bicara. Biarpun pandangannya fokus ke arah gadget dan memainkan gamenya, Rahmat kali ini berkata
"Lia dengar. Biarpun aku tahu bibirku brengksek, tapi sikapku tidak. Aku juga ingin malam pertamaku berkesan, aku juga tidak ingin salah memilih calon ibu untuk anak-anakku" Terang Rahmat dengan tenang tanpa melihatku.
Aku yang mendengar kalimat itu seketika menjadi bungkam dan menunduk menyesali sudah salah memandang Rahmat. Aku diam tapi tidak dengan Rahmat. sekali lagi Rahmat berkata
"Tanpa cinta aku bisa melakukannya, tanpa niat aku bisa memasukimu dengan paksa tapi ada karma yang tidak masuk dalam pernikahanku nanti?"
"Besok atau lusa, bagaimana jika anak perempuanku yang di perlakukan b***t dengan lelaki yang tidak mengerti tanggung jawab?" ujarnya gamang seolah bertanya entah pada siapa.
Aku masih diam, tatapan Rahmat masih terpusat ke arah gadgetnya. terlebih dahulu Rahmat terdiam lama hingga menggundang sepi di antara kami. Aku belum menemukan kalimat sanggahan hingga rahmat angkat bicara.
"Aku bisa saja melakukan dan masukin juniorku ke semua sangkar kalo aku mau tapi yang bakal menderita itu kamu. Kalian kaum wanita yang harkat dan martabatnya hancur karena kesenangan semata"
"Sekarang kamu ngerti?" tanya lalu menatapku intens. aku hanya diam dan mengganguk perlahan.
"Lagian lo sama Abi semesum apa sih sampai lo mau?" Kata Rahmat yang seketika membuatku kesal karena seolah di tuding yang tidak-tidak.
"Enakk aja, belum buka segel nig" jeritku marah.
"Masak" Tantang Rahmat dengan wajah tidak percaya yang menjengkelkan.
"iiggh" geramku lalu melempari Rahmat dengan bantal sofa tapi sialnya tidak kena.
"Terus maksdnya tadi apa?"
"Mastiin aja. kamu suka beneran sana aku atau simpati karena kasihn sama aku" ujarku malu-malu.
Di tatapinya aku intens lalu Rahmat bergerak menuju aku dan memelukku dengan erat. Rahmat tidak menjelaskan bagaimana perasaanya dan bodohnya aku bukannya semakin yakin malah bertambah ragu.
"Aku sudah gagal, sekarang kamu tahu bagaimana aku mandang lelaki, bagaimana kehidipan, keluarga dan ke miskinanku" kataku di sela-sela pelukanku bersama Rahmat.
"Lia." Panggil Rahmat tidak suka mendengar ucapanku.
"Aku tahu masa laluku kelam, masa depanku mungkin saja bisa jadi seperti itu atau sebaliknya tapi kamu tahu kan tingkat kesabaran dan rasional -nya otak ada batasnya" kataku.
Rahmat diam tapi pelukannya semakin terasa kali ini. merasa respon rahmat seperti itu, aku berkata
"Aku takut, aku takut menjadi sesuatu yang menyimpang nanti" Tuturku dengan nafas yang di hembuskan secara kasar.
"Maksud kamu?"
"Aku takut tidak percaya laki-laki dan menggubah karkter dan penampilanku jadi lelaki mungkin" kataku mencoba melawak nyatanya gagal.
"Bodoh, mana ada laki-laki yang lembek kayak kamu" Ejak rahmat lalu mencubit hidungku gemas.
"Ighhhh ngak bisa nafas bego" kesalku dan menepis tangan Rahmat di hidungku.
"Apa rencanamu?" Tanya Rahmat serius dan menatap mataku intens.
"Aku tidak tahu. kalo kamu benar suka, aku akan berusaha menitipkan hati padamu jika hanya simpati aku akan membatasi diri" Kataku jujur.
"Dulu kamu dan abi membicarakn ini?" Tanya rahmat malah menggalihkan pembicaraan.
"Tidak"
"Kenapa?"
"Aku dan Abi tumbuh bersama. Aku menggangap Abi sebagai teman, musuh, keluarga, sahabat bahkan pahlawanku sekaligus moster yang harus di basmi"
"Kenapa kesannya kamu tidak benci Abi biarpun dia selingkuh?"
"Kamu tahu kan, aku hidup atas belas kasih abi dan keluarganya. biarpun secara tidak langsung, aku sudah berhutang banyak pada Abi. Aku bukannya terlalu mudah maafin dia, cuman masih banyak kebaikannya Abi yang belum ku balas" Akuku lagi.
"Lia"
"Ya" jawabku membalas tatapan Rahmat intens
"Semua kesalahan bisa di maafkan selain perselingkuhan dan ku harap aku atau kamu tidak melakukannya" Kata Rahmat serius lalu sebuah benda padat tapi kenyal berlabu tepat di bibirku.
Aku menerimanya dengan iklas bahkan membuka mulut untuk membiarkan lidah Rahmat masuk dan menggabsen setiap deretan gigiku. kami berdua hanyut dengan apa yang kami lakukan hingga tidak sadar nyatanya ada mata lain yang mengawasi kami. sebuah suara menggangu dan tahu siapa pemilik suara itu?.
Itu suara Ibu Rahmat. Beliau lalu bertolak pinggang tapi tidak bertindak apa pun. jelas aku dan Rahmat seketika kalang kabut tapi beliau malah dengan santainya berkata
"Di meja makan itu banyak makanan kenapa masih mau makan anak gadis orang Rahmat" ujarnya lalu berlalu di hadapan kami berdua.
****
Rasanya baru kemarin kami memasuki sekolah lalu menggunakan pernak pernik ospek bersama teman-teman yang lainnya. Sepertinya baru kemarin aku bertemu ilmi, berkenalan secara singkat dan kami bersama sebagai teman sebangku.
Seperti baru saja terjadi pertengkaranku dengan Rina hingga namaku tercantum sebagai siswa bermasalah. Layaknya baru terjadi beberapa menit aku berpaling lalu semakin dekat dengan Rahmat dan berstatus sebagai kekasih juga menjadi calon menantu di keluarga Rahmat.
Kini aku berdiri di sini, berdiri menatap semua yang bisa tertangkap di intra penglihatanku. Mataku memang menatap ke depan tapi pikiranku melambung jauh pada kenangan dan apa saja yang telah terjadi di sekolah ini.
Bendera berkibar seakan sedang berdansa dengan angin, matahari bersinar seolah menyemanggati, awan pun berkumpul seperti menyaksikan betapa indahnya gerakan kain merah putih di atas sana. Tidak terasa kami sudah berstatus sebagai anak kelas tiga.
Beban serasa di jatuhkan pada bahu kami. Ujian tentu menjadi suatu yang bisa mendebarkan jantung lebih kencang dan kemampuan curang juga seseorang sangat di butuhkan. Dalam ujian seketika banyak murid menjadi peramal dadakna. Ujian UAS sudah di depan mata lalu ujian UN juga akan tiba.
Seperti biasanya, aku, Rina dan Ilmi sedang berkumpul. Temanku rasanya memang itu-itu saja. Kalo jalan tetap sama itu-itu saja, karena yang selalu ada ketika aku susah atau senang yang ada itu-itu juga.
Hari ini, awalnya kami berniat mengginap di rumah Rina, nyatanya rancana kami gagal hanya karena orangtua Ilmi tidak percaya padaku.
Aku belum pernah membohongi orangtua Ilmi sebenarnya tapi mengingat Bunda kak Dika pernah meminta Ilmi untuk memberitahu alamatku, lalu Ilmi tidak menjelaskan kebenaran Bunda kak Dika mencariku, Ayah Ilmi berpendapat jika aku itu gadis belia yang jago merayu anak bujang orang.
Disinilah kami, di kamar Ilmi yang cukup luas. Di kamar ilmi ini sudah seperti toko baju dan toko make up. Aku belum pernah ke rumah Rina tapi kata Ilmi, kamarnya tidak seberapa dari milik Rina. Aku tidak tahu itu benar atau tidak yang jelas, orang kaya mah bebas.
Niatnya saja yang belajar, nyatanya Ibu Ilmi menyediakan makanan dan minuman yang cukup banyak untuk kami. Ada wanita berkumpul lalu tersedia makan dan minum yang memanjakan lidah, maka jangan harap gosip bisa tertunda.
Entah siapa yang memulai terlebih dahulu hingga kami seketika membahas tentang gender yang kadang tidak adil.
"Gue ngak ngerti deh, kenapa laki-laki bebas melakukan semuanya sesuai hati mereka sedangkan wanita harus di batasi aturan" Keluh Ilmi setelah menjelaskan semuanya secara tersirat.
Ilmi sampai saat ini tidak pernah menyebutkan siapa lelaki itu dan bagaimana sebenarnya hubungan mereka. Ilmi hanya menceritakan jika dia merasa kacau karena perasaannya.
“Yapss gue tiba-tiba ingat dengan quotes yang bilang, senakal-nakalnya cowok, yang di cari di akhir adalah wanita yang beriman” Kata Rina dengan senyum miring di bibirnya.
“Menurut kalian, itu adil ngak sih?” Tanyaku melemparkan pertanyaan pada Ilmi dan Rina.
“Ngak adil” jawab Ilmi dan Rina serempak
“Gue juga mikirnya gitu. Di masyarakat itu, cewek di ukur dengan kesuburan maksudnya bisa ngelahirin anak, membesarkan dan mendidik anak baru di bilang sempurna, iyakan?” Tutur ku mencari pendapat mereka. Mereka tidak menjawab malah memilih mengganguk saja.
“Nah kalo cewek mandul, lakinya boleh nikah lagi dianggap wajar, tapi kalo cowoknya yang mandul, cewek ninggalin suaminya malah jadi aib seumur hidup” Ucap Rina gemas.
“Iya juga sih” Kata Ilmi kali ini.
“Cowok tuh emang egois suka seenaknya sendiri tapi heran deh, di agama malah dukung perempuan tunduk dan patuh sama suaminya. paling sialnya adalah, wanita yang merelakan suaminya nikah lagi, bakal di kasih payung emas di surga” pungkasku sedikit geli dengan ucapanku sendiri.
"Gue pernah tuh nemu kasus di Pinrang ceweknya poliandri. Eghh si cewek lagi bahagia-bahagianya duduk di pelaminan dengan suami kedua, malah di jemput sama suami pertama plush di kawal polisi pula" Terang Ilmi dengan mimik wajah serius.
"Serius logh? lo ngak ngarang kan?" Tanya Rina dengan wajah penasaran.
"Mana ada" ujar Ilmi sewot. "Cari gih ada tuh di tahun 2004. Sempat heboh tuh berita karena pengantin perempuannya di jemput polisi lengkap dengan pakaian pengantin tapi nggak pake sandal" Jawab Ilmi lagi.
Aku dan Rina tidak langsung percaya dan mencari dari perkataan Ilmi. setelah bertanya di mbah gegel yang ngak jelas gendernya itu, ternyata benar adanya. saat kami sibuk membaca artikel, Ilmi kembali berkata
"Yang kayak gini nih, bucin yang harus di basmi di muka bumi" Tunjuk Ilmi ke layar gadget Rina yang menjadi pusat perhatian kami bertiga.
"Lo belum nemuin pasangan yang tepat aja jadi ngak bucin" Balasku santai lalu kembali menggunyah hidangan yang di sediakan ibunya Ilmi.
"Gue lupa kalo lo juga bucin yang ngeyampingin akal di banding hati" Ejek Ilmi padaku.
"jangan terlalu ngehina bucin. lo sadar ngak sih kalo lo tuh lagi di fase nggak mau pacaran tapi jiwa iri dan dengki lo, bergejolak kalo liat orang pacaran!" Tudingku.
"Enak aja. Gue malah bersyukur dengan status jomblo gue sampai saat ini" Katanya dengan wajah sombong.
"Ogh yaaaa?" Tantangku dengan mimik wajah tidak percaya sekaligus menggejek Ilmi.
“Setiap jomblo adalah pemberani, mereka menjomblo tanpa pemeran pengganti. nah lo bucinnya di awal doang egh pas bosan malah ganti lagi" Ejek Ilmi sarkis.
“nggak apa-apa bucin asal ada subjeknya. Lah lo? Udah jomblo bucin ga ada subjek nya alias fall ini love with people cant have” balasku tidak mau kalah.
“Ngpaaen pacaran. Capek-capek jaga hati egh disia-siain. mending lo jaga lilin aja malah dapet duit cepat kaya kalo mati banyak yang urus.” Tutur ilmi semakin sewot.
“Janji di atas materai saja kadang bisa cerai apa lagi janji diatas seprai” Lanjut ilmi tidak kalah sarkisnya.
"Aku pengen jadi orang yang pas liat mantan posting kemesraan sama pacar barunya, dengan bangganya gue ngomong, Stobery mangga nanas ikan buntal, sorry ndak panas ja, sundala" Kata ilmi lagi masih penuh semangat.
“Lebih baik di tertawakan karena belum menikah dari pada tak bisa tertawa setelah menikah. gue bla bla bla dan bla lagi...” terang ilmi yang hanya ku respon dengan putaran mata saja tanpa membuka suara.
Melihat Ilmi yang seperti itu, aku dan Rina hanya memilih mendengarkan di banding berdebat lagi dengan Ilmi. di antara kami bertiga memang Ilmi yang sampai saat ini tidak punya pacar tapi selalu layaknya pakar dalam hubungan orang lain.
Tidak enaknya kalo punya pacar dan tidak di setujui oleh teman, kalimat pamungkas setiap curhat dengan Ilmi adalah udah putus aja, jomblo lebih bahagia. Yapsss emang mudah putus tapi kenangan adalah hal paling sulit di lupakan.
Ilmi itu tipe orang yang sedikit membosankan kalo udah punya kesempatan ngomong, buktinya sekarang. Dia dengan sombongnya malah berkata,
“Nemenin dari mol ga menjamin pasangan bisa setia. Pada akhirnya dia akan tertarik dengan seseorang yang lebih baik darimu. Dia juga akan mengingkari semua janji-janjinya dan pada akhirnya dia ngejadiin gue sebagai batu loncatan! Sorry ogah banget” Ucap Ilmi seakan sangat muak.
Aku dan Rina masih tidak menanggapi. Kami berdua pura-pura sibuk dengan kegiatan kami hingga Ilmi berhenti sendiri dengan kegiatan mengocehnya. Aku tidak tahu apa yang Rina perhatikan di gadget-nya, sedari tadi diam bahkan hanya menjadi penonton setia perdebatanku dengan Ilmi, tapi kali ini Rina berkata
“Kamu pernah nggak sih?! capek pura-pura bahagia, pura-pura seneng, ketawa haha hihi di depan teman atau orang lain, padahal itu kondisinya kamu sedang hancur banget. Pengen nanggis sejadi-jadinya, pengen teriak sepuasnya. Jujur aku capek banget kayak gitu. Pengen gitu ngomong ke mereka kalo akan lagi nggak baik-baik saja” Terang Rina memulai curahan hatinya.
“Pernah. Pada akhirnya kita akan tiba di umur di mana pura-pura ga tahu adalah jalan keluar yang paling masuk akal” jawabku.
"Gue masih iri sama lo Lia. Sehancur apa pun lo, kok masih banyak orang yang mau bantu lo berdiri" Desah Rina lalu berbaring telentang dengan mata menatap langit-langit kamar Ilmi.
"Gue nggak tahu kenapa tapi gue ingat kalimat Uminya Abi yang nempel banget di otak gue"
"Apa?" Kata Rina dan Ilmi secara bersamaan.
"Pertama, lo ngak perlu ngejar pencapaian orang lain. Masing- masing orang punya tolak ukur sukses. Bahagia kadang juga datang dari yang kelihatanya hal kecil, gak pernah lo gubris tapi itu yang bisa bikin lo bahagia." Ujarku, ada jeda sebelum aku berkata
"Kedua, yang jahat bukan isi kepala orang lain tapi sisi kepala lo sendiri yang milih untuk nerima dan membenarkan apa yang orang lain pikirkan tentang lo, ngebuat lo jadi nggak kenal sama diri lo sendiri." sekali lagi aku menarik nafas sebelum berkata
"Tiga, gagal sangat kelihatannya nakutin karena sejak kecil, tidak di tuntut buat sukses bukan di akal belajar dari proses. Jangan berusaha untuk jadi orang lain. Tugasmu adalah menerima dan menyayanggi dirumu sendri"
"Teruslah mempercantik hatimu hingga alis tidak perlu kau tebang dan bulu mata tidak perlu kau reboisasi karena bagaimana pun juga, hujan akan membuatnya longsor"
“Hidup itu hanya sekali. Lepaskan mereka yang menyakitimu. Sayangi mereka yang peduli padamu dan berjuanglah untuk mereka yang berarti bagimu” Nasehatku pada Rina dan di dengar khikmat oleh Ilmi.