Di sepertiga malam aku terbangun dan tidak lupa mengerjakan sholat. Setelah selesai, aku menyempatkan diri untuk melantunkan ayat-ayat suci.
Tengah asyik dengan kegiatanku, nyatanya aku baru tersadar jika Rina terbangun dan bukannya mengambil air wudhu, dia malah duduk di sampingku lalu berkata
"Lia pinjam paha lo dong. Gue mau lo ngaji tapi biarin gue baring di samping lo"
"Apaan sih?" Kataku tidak mengerti dan sedikit tidak nyaman dengan permintaan Rina.
"Dulu, Datuk selalu ngelakuin itu sama gue. Tadi gue mimpi Datuk, dan rasanya gue kangen dia"
"Aghh?"
"Gue lagi mens jadi ngak sholat. Abi bilang biarpun nggak beribadah tapi dengar orang ngaji dengan Khusu, pahalanya nular"
"Ooggh gitu" Ujarku mengangguk beberapa kali.
"Boleh?" tanya rina lagi.
"Lo boleh baring tapi nggak di paha gue, tar kaki gue kram lagi" Ujarku.
Rina tidak berkata apa-apa lagi. Dia malah bergerak menuju ranjang lalu menggambil bantal. Setelah itu dia kembali dan benar adanya dia berbaring tepat di sampingku.
Untung lantai kamar Ilmi di lapisi karpet tebal hingga Rina tidak merasakan dingin. Aku hanya diam memperhatikan apa yang di lakukan Rina, tapi Rina malah meraih tanganku untuk di letakkan di kepalanya. dengan acuhnya Rina malah berkata
"Sekarang ngaji tapi jangan lupa usap kepala gue ya?" Pintanya dengan mata terpejam dan posisi yang di rasa nyaman.
Mau tidak mau aku melakukannya. Ku mulai lagi melapalkan ayat suci, sambil menggusap kepala Rina. Saat aku sudah selesai dengan kegiatanku, Rina malah lebih dulu berkata
"Sekarang aku tahu kenapa Abi nggak bisa move on dari lo dan kenapa Abi suka manja-manja sama lo"
"Aghh?" Ujarku tidak mengerti kali ini.
"Abi selalu cerita kalo dia selalu sakit kepala setelah ngajarin kamu, tapi kamu juga yang ngobatin sakit kepalanya dengan cara seperti ini" Tutur Ilmi dengan senyuman lebar.
Aku tidak mengerti sebenarnya sejauh mana hubungan Rina dan Abi, sampai Abi bisa menceritakan banyak hal pada Rina. yang ku tahu membicarakan mantan pada pacar baru sama halnya membanding-bandingkan.
Sepertinya aku saja yang berpikiran terlalu jauh karena Rina sepertinya baik-baik saja. Saking penasarannya aku, dengan hubungan Rina dan Abi, mulutku bergerak dan berkata
"Sekarang hubungan lo sama Abi gimana?" Tanyaku dengan hati-hati.
"Gue nggak tahu, gue kayaknnya belum berhasil dapatin hatinya dia" Balas Rina lirih.
"Wajar sih!. Gue juga dulu gitu" Kataku dengan senyum malu-malu, menggingat bagaimana memalukannya aku dulu.
"Lo baru berhasil temanan sama Abi setelah berapa lama?" Tanya Rina dengan wajah pemasaran.
"Nggak tahu. Abi sedari dulu begitu, kesannya nerima tapi juga selalu dorong gue biar jauh dari dia" Kataku seketika meringgis saat ingat bagaimana Abi menjadi pahlawan sekaligus penjahat di hidupku.
"Maksud lo?"
"Namanya anak-anak, saat kami baikan akur banget, saat musuhan, ya udah kayak mau saling bunuh!" Kataku tertawa di akhir kalimat.
"Banyak banget berarti kisah yang udah kalian lalu in ya?" Tebak Rina kali ini.
"Banyak. Saking banyaknya, gue ngira Abi itu berpribadian ganda dulu"
"Hahaha iya. Abi juga cerita itu dan dia paling marah kalo kamu nganggap dia kayak gitu ya?"
"Mmm ya gitu deh" Kataku acuh padahal bibirku tersenyum.
"Gue takut, gue nggak bisa bertahan sampai saat itu" ujarnya dengan suara lirih.
"Maksud lo?"
"Keadaan gue, sekarang gue keluar masuk R.S lo tahu dong maksudya gimana?" Ujar Rina malah bertanya bukan menjawab tanyaku.
"Jangan putus asa. Kalo emang udah waktunnya tuh penyakit di angkat lo insya allah sehat lagi kok" Ucapk menyemangati.
"Apa sih yang buat Abi nggak bisa lupain lo sedangkan lo bisa dengan mudah lupain Abi" kata Rina dengan mimik wajah serius.
Mendengar perkataan rina, aku serasa tersenyum geli. Rina Bilang Abi nggak bisa lupain aku. Jelas dia ngak bisa lupa karena dia yang ingkar dari perjanjian kami. Aku maunya bilang jika itu karma untuk abi, nyatanya yang terucap adalah
"Terkadang kita selalu mau berkunjung ke masa lalu hanya untuk memastikan apakah kamu yang masih di nanti atau sudah di ganti” Kataku sok bijak dengan senyum lebar.
"Tapi peluang gue untuk masuk dalam hati dia tuh makin sulit karena kamu masih ada dalam sana" Ujar Rina lagi.
Sumpah sejujur-jujurnya Ilmi, kurasa Rina lebih jujur lagi dengan perasaannya. Apa dia lupa kalo kami pernah jadi saingan cinta dan orang yang dia tempati curhat adalah mantan saingannya, walau pun sekarang kami adalah sahabat.
Katakan aku munafik tapi aku sudah berusaha sekuat tenaga membunuh rasa sakit itu nyatanya tetap saja ada. Aku hanya mencoba berdamai, nyatanya damai itu memang lebih baik ku rasa.
Ku usap kepala Rina dengan lembut. aku membayangkan jika alicia yang sedang bertanya dengan polosnya tentang itu hingga bukannya marah atau menggumpati Rina. setelah menghembuskan nafas secara kasar aku berkata
"Tidak semua yang kamu inginkan bisa kamu miliki, tapi segala yang terbaik pasti allah beri"
"Semoga" ujarnya dengan mimik wajah putus asa.
"Aku ingat om Hafiz pernah berkata jika di zaman nabi, ada seorang nabi yang sangat di gilai wanita. Nabi itu bernama Yusuf"
"Terus?"
"Nabi yusuf sangat tampan hingga di perebutkan wanita dan salah satu dari wanita yang memperebutkan nabi Yusuf adalah Zulaikha"
"Apa yang terjadi?" Tanya Rina lagi.
"Ketika Zulaika mengejar cinta Yusuf, Yusuf menjahuinya. Tapi saat a mengejar cinta allah, maka allah datangkan Yusuf untuk Zulaikha" tuturku singkat padat dan jelas.
Rina seketika terdiam, tapi saat aku menarik tangan untuk menghentikan usapan di kepala Rina, Rina malah menariknya lalu menyuruhku jangan berhenti.
"Aku kadang kasian sama apa yang lo jalani tapi benar kata Abi. Abiselalu bilang kalo lo bukan tipe orang yang patut di kasihani" Kata Rina saat tanganku sudah kembali menggusap kepalanya.
"Maksudnya?" Tanyaku bingung sekaligus berpikir keras untuk mengenal karakter Rina ini.
Yang ku lihat Rina seolah tegar, selalu bersikap dewasa tapi nyatanya di hadapanku kini, Rina layaknya Alicia yang sangat manja dan sangat butuh kasih sayang.
"Lo kuat, lo tegar. Kisah sedih nggak buat lo terpuruk malah makin bangkit. Gue selalu mau itu, sayangnya cuman abi yang ngedukung bukan nyokap bokap"
"Gue nggak ngerti maksud lo. yang gue tahu lo dari keluarga kaya, selalu baik-baik saja dan semuanya ada. sekarang lo ngomong seolah tidak pernah ada kata baik dalam hidup lo, maksudnya apa?"
Setelah berkata itu, mengalirlah cerita rina yang tidak pernah ku tahu. Aku tahu Ilmi pasti terbangun karena mendengar Rina bercerita dan jelas suara tangisan Rina menggusik tidurnya tapi Ilmi hanya berpura-pura agar Rina tidak berhenti bercerita.
Dari Rina akhirnya aku sadar jika tidak semuanya bisa di pandang oleh mata dan tidak semua yang terjadi di depan mata adalah fakta. kekayaan tidak akan pernah cukup tanpa rasa syukur dan rasa syukur rasanya percuma kalau hanya seseorang merasakanmya.
Orangtua Rina nyatanya di butakan harta bahkan cara mendapat harta itu tidak bisa di katakan halal dan tidak bisa dikatakan haram juga.
Aku baru tahu jika Rina aslinya berasal dari pulau jawa jadi wajar kalo Abi dan Rina kadang nyambung dalam beberapa hal yang tidak kami menggerti.
Pembicaraan kami terhenti saat adzan subuh sudah terdengar. Aku dan Ilmi melaksanakan sholat dan setelah sholat subuh itu, barulah kami kembali terlelap.
Yang membuatku tidak nyaman saat berusaha tidur adalah, nyatanya Rina memelukku dari belakang. Jelas pikiranku berkelana bahkan buruknya aku berprasangka jika Rina ini ada kelainan. Dalam sunyi aku sempat mendengar berkata
"Gue iri sama lo Lia, gue mau seperti lo"
*****
Jujurnya aku kadang berpikir, sebenarnya tipe seperti apa ibu Rahmat itu, tapi setelah berbincang-bincang dengan kedua kakak ipar Rahmat, nyatanya ibu memang bukan tipe penggekang.
Ibu Rahmat orangnya itu pemain tenang, jadi dia akan menggamati kalo emang udah gawat banget baru bertindak. Dia melihat Rahmat baik-baik saja denganku, maka seperti biasanya dia hanya diam dan kembali baik padaku.
Semuanya kembali baik-baik saja, kurasa seperti itu. Hubunganku dan Rahmat kembali harmonis, begitu pun hubunganku dengan beliau.
Ibu Rahmat sadar jika zaman sudah berubah Sampai berpikir bahwa, menggekang seseorang bukanlah cara terbaik untuk menggarahkan tapi yang anehnya adalah, jika anaknya bertengkar dengan pasangan, di banding menasehati atau menyalahkan, dia akan membela menantu di banding anak kandungnya.
Istri dari kakak pertama Rahmat pernah bercerita bahwa awal pernikahannya tidak sebahagia sekarang. Saat sang istri menyerah dan ingin bercerai, boro-boro menghalangi, ibu malah yang menyodorkan pengacara terbaik untuk membantunya.
Aneh ngak sih?! Tapi bukan itu inti yang ingin ku sampaikan. melainkan saat ibu datang dengan membaca pengacara untuk membantu kakak ipar Rahmat, ibu malah dengan santainta berkata
"jika dia bukan lelaki terbaik kenapa sedari awal kau terima pinangannya?. jika anakku tidak bisa membahagiakanmu, sebenarnya batas kebahagian seperti apa yang kau cari?. bahagia itu di ciptakan lalu di syukuri bukan mengharap lebih dibanding milik orang lain"
"Dia bukan lelaki yang sempurna layaknya para nabi, tapi menafkahi kau secara lahir batin rasanya cukup untuk lelaki yang tahu tanggung jawabnya sebagai suami"
"Dia tidak selingkuh, bukan pemabuk, tukang pukul apa lagi penjudi. yang rugi adalah kau jika melepaskannya"
"Jika suatu hari anakmu jadi sesuatu yang buruk, itu semua salahmu karena memperlihatkan kehancuran yang sangat di dambakan para iblis dan jin. Kau juga yang membuatnya cemburu dengan keluarga yang utuh sedangkan kau dan ayah biologisnya tidak"
Yapss hanya kalimat itu yang ibu katakan hingga membuat istri dari kakak pertama Rahmat berpikir kembali. Membahas tentang dirinya sendiri katanya dia masih sanggup egois tapi menggenai anaknya dia luluh.
Ibu mana yang tega dan sanggup membayangkan anaknya iri dengan orang lain lalu menghancurkan hidupnya sebagai pelampiasan. Karena kata-kata ibu akhirnya mereka kembali rujuk dan Alhamdulillah sampai punya anak empat.
Itu kisah dari istri kakak pertama, lain lagi dari istri kakak kedua Rahmat. Dulu, kakak kedua Rahmat punya usaha sendiri yang hasilnya sangat banyak.
Meskipun resky tentang harta mereka berlimpa, nyatanya anak tak kunjung datang padahal mereka sudah menikah selama tiga tahun lebih. Istri dari kakak kedua menyerah karena malu sindiran-sindiran orang lain tapi Si suami selalu membujuk agar terus bersabar nyatanya itu hanya bertahan di tahun ketiga.
Masuk ketahun ke empat wanita itu mulai percaya perkataan seseorang yang dianggap pandai. Katanya, ada yang menghalanggi kandungan dan bla bla yang tidak ku menggerti.
Si Suami yang marah karena menggangap wanitanya musyrik. pertengkaran akhirnya terjadi dan tahu siapa yang di usir dari rumah?. si suami alias kakak kandung Rahmat yang kedua dan siapa yang menggusir? jelas itu ibu.
Bagaimana mereka rujuk?. ibu malah menjodoh-jodohkan si istri dengan lelaki lain sampai kakak kedua tahu dan menggamuk sejadi-jadinya.
Si Suami marah lalu terjadilah pergulatan di atas ranjang dan hasil dari pertengkaran itu, tidak disangka-sangka membuahkan hasil yang sudah di harapkan sedari dulu.
Seperti itu cerita kedua kakak ipar Rahmat, ibu sungguh seseorang yang sulit ku tebak. Ayah Rahmatjuga pernah bercerita ibu yang dulunya sangat sulit di tebak bahkan sampai sekarang pun begitu.
Kian hari, aku merasa seperti sudah jadi bagian dari keluarga Rahmat. kalo Rahmat menggantarkan aku pulang, berat sekali kakiku melangkah pergi sedangkan untuk datang, aku seolah melayang hingga bisa segera sampai.
Aku sebenarnya tidak terlalu akrap dengan kedua kakak Rahmat, tapi mereka tidak pernah menghindari atau menyudutkanku. Mungkin karena mereka berdua adalah orang yang pendiam sampai-sampai aku tidak tahu harus berbicara apa pada mereka.
Semenjak kami duduk di bangku kelas tiga, sedari awal Rahmat sudah menggikuti kelas tambahan. Biasanya kalo hari sabtu sore Rahmat menjemputku minggunya dia gunakan untuk dirinya sendiri, nyatanya sekarang tidak lagi.
Hari sabtu Rahmat masih belajar, minggu dia gunakan untuk bermain dengan teman kursusnya. Teman baru jelas menggubah aktivitas dan kebiasaan Rahmat.
Bukan teman baru juga sih sebenarnya. kebanyakan teman kursus Rahmat adalah kenalannya waktu SMP. Rahmat semakin semangat karena seolah reuni dengan mereka dan sebelumnya Rahmat memang selalu bilang jika teman SMP-nya lebih menarik di banding teman-temannya sekarang.
Marena kelakuan Rahmat yang sekarang, kami sering bertengkar, dan kalo muak mendengarku mengoceh, Rahmat akan sangat susah di hubungi jadi aktivitas Rahmat mengguranggi waktu untuk kami bersama. Awalnya aku masih bisa mengerti tapi semakin memasuki bulan keempat dan kelima aku mulai uring-uringan tidak jelas sedangkan rahmat tidak suka sikapku yang seperti itu.
"Mat, aku masih penting nggak sih buat kamu?"
"Penting kok" Ujarnya acuh sambil menggemudikan mobil untuk mengantarku pulang.
"Tapi kesannya kenapa kayak aku udah bukan formalitas untuk kamu?"
"Lia, aku lagi formalitasin pendidikan, demi apa demi kita juga kan nantinya?"
"Bulshit. meme komik bilang, fokus ujian tuh cuman alasan lain karena bosan dan udah nemu yang lain" Tudingku sarkis.
"Sekarang kamu udah percaya meme komik. pacar kamu aku atau meme komik itu kenapa lebih percaya sama hal yang nggak masuk akal itu?!"
"Pacarku memang kamu, tapi meme komik lebih bisa di percaya di banding kamu"
Seketika Rahmat menghentikan mobil karena kami sudah berada di depan kosan milikku. Kami baru saja pulang sekolah dan di saat seperti ini seharusnya adalah kesempatan untuk bersama Rahmat tapi nyatanya selalu ku lewatkan dengan pertengkaran.
Rahmat diam namun tangan dan ekspresi wajahnya seperti sedang menahan amarah. Aku yang tidak ingin menambah kemarahan Rahmat seketika beranjak turun tapi sebelum aku pergi dan masuk ke kosan, aku berbalik dan berkata
"segala kesalahan bisa di maafkan kecuali perselingkuhan kan? itu kata kamu. Tapi yang benar adalah segalanya bisa di jelaskan dengan meluangkan waktu bersama bukan dengan orang lain"
"Maksud kamu?" Kata Rahmat sedikit berteriak karena jarak kami memang cukup jauh.
"Sekarang kamu lebih milih bareng teman-temanmu di banding aku. Aku nggak boleh bareng Abi tapi kenapa kamu boleh dengan mantan pacar gagal move on mu itu?"
"Lia diam" bentak Rahmat lagi.
"Sekarang kamu pilih aku atau teman-temanmu. Aku cuman butuh jawaban untuk bersikap keputusannya sama kamu iya atau tidak kita lihat nanti" Putusku lalu pergi dari hadapan Rahmat.
Itu hari terakhir Rahmat mengantarku pulang karena setelahnya, aku yang menghindar. Biarpun Rahmat datang aku memilih acuh bahkan tidak menggangap Rahmat ada.