Rahmat mulai sulit di hubungi tapi dia masih aktif di sosial media. Jujurnya aku tidak mengerti dengan sikap Rahmat yang seperti itu, tapi kebingungan ku tidak bertahan lama.
Dari banyaknya story Rahmat, ada story yang ngucapin selamat ultah untuk seorang wanita yang bisa ku tebak jika wanita itu salah satu teman kursusnya Rahmat.
Awalnya aku masih positif thingking, tapi saking penasarannya ku jelajahi akun sosial si wanita dan baru ku tahu kalo wanita itu mantannya Rahmat waktu SMP dan sialnya si wanita masih nyimpan kenangan mereka dengan baik.
Aku masih rasional dong menanggapinya karena memang setiap orang punya masa lalu dan saat Rahmat ngucapin juga biasa-biasa aja, begitu juga saat aku nanya secara langsung. Rahmat jujur kok kalo itu mantan pacarnya.
Sakit nggak sih?. Sumpah Aku nggak tahu lagi. mungkin karena udah pernah rasain sakit yang lebih sakit di banding itu jadi aku masih bisa mencoba bersabar.
Sabar, sabar dan terus sabar, itu yang kulakukan sekarang. Semenjak kejadian itu, aku mulai aktif bermain sosial media tapi menggunakan akun palsu.
Saking jengah nya aku, aku melakukan hal yang sama. Aku tidak lagi nelpon atau nge chat Rahmat, nggak ke rumah Rahmat lagi padahal kakak iparnya ngundang untuk acara syukuran sekaligus ultah keponakan Rahmat.
Dan tahu respon Rahmat gimana? dia santai-santai aja. Kesannya tuh kayak, kita pacaran pas ketemu pas nggak ketemu tuh udah kita yang nggak pernah ada status gitu!.
Awal-awal pacaran tuh, Rahmat penuh dengan kejutan. Tanpa bilang biasanya dia udah ada aja di depan kosanku untuk bawa makanan atau pagi-pagi sebelum aku bangun dia udah nangkring di depan kosan untuk ngajak aku jogging.
awalnya aku berpikir kalo Rahmat bakal ngelakuin itu dan jemput aku secara paksa untuk dibawa kerumahnya, nyatanya tidak. story Rahmat malah nunjukin kalo acara keluarganya itu di hadiri oleh teman-teman SMP sekaligus si wanita itu.
Rahmat pernah mengajak aku pergi dengan mereka sekali tapi ujung-ujungnya, aku dan rahmat bertengkar. Setelah kejadian itu, Rahmat tidak pernah lagi mengajak aku jalan atau ikut gabung dengan teman SMP-nya. Katanya aku kurang asyik dan tidak tahu yang namanya bersenang-senang.
Di dikata i seperti itu, aku kesal dan lalu menjauh dari Rahmat. Aku yang menjauh malah memberi peluang besar untuk Rahmat dan teman-temannya semakin senang. teman-teman SMP Rahmat serba berkecukupan. bukannya minder karena status sosialku tapi entah kenapa, aku kurang suka saja dengan sikap dan penampilan mereka.
Setiap aku mulai negur Rahmat, Rahmat ikut menegurku. Rahmat selalu bilang kalo aku perlu ikut dan gabung dengan teman SMP-nya biar bisa tahu serunya berteman dengan mereka bukan ngejelekin mereka di depan Rahmat padahal kami cuman pernah bertemu sekali.
nggak ada kata sepakat akhirnya antara kami dan pertengkaran kami terus berlanjut dan hubungan kami terombang-ambing karena memang kami mulai sibuk dengan kegiatan kami masing-masing.
Rahmat masih sering mencoba berbicara baik-baik denganku, tapi dasarnya aku saja yang batu. Aku tuh orangnya mudah memaafkan tapi sekali orang nggak mau dengar nasehatku aku mulai acuh dan masa bodoh sampai benci dengan orang itu.
Aku tidak tahu, sikapku sekarang disebabkan rasa cemburu karena perhatian Rahmat terbagi untuk teman-temannya atau sekedar kecewa karena Rahnat lebih memilih temannya di banding aku.
Aku tahu pria memang tidak bisa di kekang tapi setiap Rahmat berkumpul dengan temannya, selalu ada cewek itu. Awalnya doang aku sering menanggis dan uring-uringan tidak jelas tapi sekarang aku malah acuh sajah
Rahmat mulai berani berbohong padaku dan kebohongannya selalu ketahuan olehku. Entah aku tahunya dari kakak iparnya ibu, atau hasil stalkinganku di akun sosial wanita itu pokoknya pelan namun pasti perasaanku terkikis tanpa bisa ku cegah.
Aku tidak tahu Rahmat pernah coba berbaikan denganku atau tidak, yang jelas setiap malam sabtu akan ada mobil angkutan umum menuju Pinrang yang menjemputku.
Hal ini sudah ku lakukan beberapa bulan lalu. Aku ke Pinrang bukan untuk menemui wanita yang melahirkanku tapi menggunjungi Alicia di panti asuhan.
Tante Dewi tahu kalo aku beberapa kali mendatangi panti asuhan tapi tante Dewi tidak lagi menunjukkan responnya. Beliau tidak mendukung atau menentang malah terkesan membiarkan saja dan tanpa sengaja kami bahkan bertemu di panti asuhan itu.
Pertengkaranku dengan Tante Dewi di akhir pertemuan tetap saja berbekas untukku. Biar pun aku sudah minta maaf dan Tante Dewi memaafkan, nyatanya rasa canggung itu tidak bisa ku hilangkan.
Aku ingat jelas pertemuanku dengan Alicia di panti asuhan untuk pertama kali. Jelas itu adalah hal yang mengharu biru untukku dan Alicia.
FLASHBACK ON
Di dalam mesjid panti, akhirnya aku bertemu dengan Alicia. Alicia kini sudah menggunakan hijab, entah siapa yang memberikan hijab itu yang jelas Alicia semakin cantik saja.
"Cica suka di sini?" Tanyaku pada Alicia yang ada di pangkuanku sambil melihat beberapa anak yang sedang menghapalkan qur'an.
Alicia tidak menjawab malah menatapku nanar dengan pandangan kosong. Aku tidak tahu maksud Alicia tapi aku tahu jika Alicia masih sama seperti dulu.
Sedari dulu, alicia tidak mudah bergaul dengan orang baru. mungkin tanpa alicia sadari, tubuhnya mulai menunjukkan jika dia punya trauma.
"Cica mau ikut Lila pulang?" Tanyaku lagi.
Alicia tidak menjawab tapi dia memelukku cukup erat. dari bahasa tubuhnya aku tahu jika itu artinya iya. sedari tadi aku mencoba berkomunikasi dengan Alicia nyatanya Alicia malah memilih diam saja.
Interaksiku hanya berjalan satu arah, hingga seseorang yang ku tahu sebagai salah satu tim pengajar di pesantrent itu mendekatiku dan mengajakku berbincang. Wanita bertudung panjang di depanku berkata
"Adek apanya Alicia?" Tanyanya hati-hati.
"Saya kakak Tirinya Bu" Jawabku jujur.
"Oghh Seibu atau sebapak?" Tanyanya lagi.
"Sebapak"
"Tapi.." ada jeda di kalimatnya. Setelah cukup lama diam, dia berkata "Seingat saya Alicia datang tidak dengan tanda penggenal sama sekali"
"Iya bu, bapak dan ibu kandungnya Alicia menikah siri"
"Ogggh" Ujarnya lalu mengganguk-angguk beberapa kali.
"Bu" kataku kali ini.
"Bagaimana perkembangan Alicia di sini?"
Wanita itu akhirnya kembali diam. Terlebih dahulu beliau menatap Alicia juga aku cukup lama setelah itu wanita tersebut akhirnya berkata
"Alicia tidak pernah berbicara. Dia juga tidak mau bergabung dengan teman-temannya" Mendengar itu, ku tatapi alicia lalu berkata
"Alicia kenapa nggak ngomong sama ibu guru dan teman-teman?" Tanyaku lembut.
Alicia lagi-lagi tidak menjawab dia bahkan memelukku untuk menyembunyikan wajahnya. setiap ku paksa Alicia malah mengangis keras dalam pelukanku.
Melihat respon Alicia seperti itu, aku hanya bisa mendengus sedangkan ibu itu mencoba menyentuh tubuh Alicia. Aku tahu wanita itu berniat baik tapi Alicia malah menepisnya kasar.
"Terakhir saya dengar Alicia berbicara itu saat dia di bawa ke sini. Alicia menanggis keras sambil manggil-manggil Mumu"
Ya itu panggilan alicia untuk wanita yang melahirkanku sedangkan Lila panggilan untukku. SELAIN tidak percaya dengan orang baru, alicia juga menggalami sedikit keterlambatan berbicara memang.
"Wanita yang membawa alicia sering menjengguk alicia bu?" Tanyaku sembari menenangkan Alicia.
"Tidak terlalu dek"
"Tapi uang untuk Alicia bagaimana?"
"Alhamdulillah rutin dek" Jawabnya lagi.
"Cica mau ikut Lila kan?" Tanyaku saat Alicia mulai tenang.
Seperti sebelumnya Alicia cuman mengganguk saja. Kutatapi Alicia secara intens lalu berkata
"Cica untuk sementara tinggal di sini, ya. Nanti Lila jemput. Lila harus sekolah dulu. Kalo sekolah Lila udah selesai kita pulang ya ke rumah Bibi, nanti Bibi masakin kita makanan yang enak. Nanti om Pipi juga beli in kita es krim yang banyak ya?" Bujukku.
Alicia tersenyum kali ini. Alicia memang tidak bisa berbicara tapi aku yakin Alicia menggerti apa yang ku ucapkan.
"Tapi Cica harus janji dulu sama Lila"
"Apa?" ujar Alicia tanpa suara. Melihat respon Alicia seperti itu, ku kecup kening Alicia lama. setelah itu aku baru berkata
"Cica harus punya teman dulu, harus mau kenal dulu sama ibu guru" kataku menatap wanita di hadapanku.
Alicia melakukan hal yang sama. Alicia memperhatikan sekitar lalu menatapi wanita di depan kami cukup lama. Bukannya berani, Alicia kembali masuk dalam pelukanku dan menyembunyikan wajahnya. Dalam pelukan kami, sekali lagi aku berkata
"nanti kita tinggalnya sama Bibi. kalo Cica nggak mau ngomong nanti bibi nggak tahu Cica mau makan apa"
"harus?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Iya. Bibi kan nggak suka kalo Cica ngompol. kalo Cica ngompol emangnya Cica mau bobo sendiri?" Alicia kembali menggeleng sebagai jawaban
"Cica harus janji sama Lila kalo Cica mau ngomong. kalo Cica udah ngomong, bisa membaca dan ngaji, ibu guru telpon Lila, terus Lila datang sama Bibi. Cica mau?"
Alicia masih menjawab dengan gerakan tubuh bukan dengan gerakan bibir dan suara yang bisa ku dengar.
"Cica bilang mau dulu dong"
"Mau" ujarnya sangat lirih
"Tadi Cica bilang apa?"
"Mau" ujarnya dengan suara lebih keras di banding sebelumnya.
seperti itu Alicia. Alica yang malang. Ogh ya aku lupa menjelaskan kalo Bibi adalah panggilan untuk Abi sedangkan Om Pipi adalah sebutan Om Hafiz.
FLASHBACK OFF
Entah sedah berapa lama aku tidak mendatangi Alicia, banyak hal yang membuatku harus bersabar nahan rindu untuk Alicia. Salah satu yang menghambat kunjunganku adalah ulangan tengah semester.
Aku harus belajar ini dan itu, mengahafal a sampai z bahkan mengerti dari nilai a dan y dalam rumus matematika. Otakku terasa sangat-sangat penuh saat ini.
Hubunganku dengan Abi baik-baik saja tapi tidak dengan Rahmat. Dia mah super sibuk sedangkan aku penggangguran yang bebas. saking bebasnya aku lupa kalo punya hubungan dengan laki-laki itu.
aku menghindar, dia sibuk. ketemu pun di kantin tapi aku tetap acuh. Rahmat sempat di rawat di rumah sakit karena kelelahan dengan aktivitasnya. Saat tahu itu, aku datang ingin menjenguk tapi berhubung di ruang inap ada teman-teman SMP-nya dan wanita itu juga datang, aku memutuskan pulang begitu saja.
Setelah kejadian itu, aku sadar kalo Rahmat menghapus fotoku di sosial media miliknya tanpa sisa. mungkin itu bentuk kekecewaan Rahmat karena menyangka aku tidak datang juga tidak peduli lagi dengan dia.
itu pikiran positifku nyatanya setan kecil juga membisikkan bahwa, dia menghapus kenangan kami karena pacar barunya tidak suka dan cemburu melihat fotoku terpampang di sana.
Sampai saat ini, aku masih kecewa karena Rahmat memilih teman-temannya di banding aku. aku tahu Rahmat pernah menyinggungkubahkan menyindir secara terang-terangan tapi aku tetap acuh, hingga suatu hari, aku terbangun karena mimpi buruk tentang Rahmat.
Sialnya saat itu aku sedang menstruasi jadi tidak bisa sholat. Ku telpon Rahmat berkali-kali dan untungnya Rahmat merespon dengan cepat.
"Kamu di mana?" Tanyaku langsung tanpa salam.
"Kamu siapa?" Ujarnya datar.
kutatapi layar telpon dan ternyata benar aku memang menelpon Rahmat dan suara itu jelas milik Rahmat. Ku acuhkan nada sinisnya dan berkata
"Kamu di mana?" Tanya dengan sedikit membentak.
"Apa'an sih baru nelpon udah mau ngajak berantem kamu kenapa sih?" Kata Rahmat ikut membentak.
"Bilang sekarang ada di mana kok susah bener sih" Kataku sewot.
"Mau kamu apa?. Aku lagi nggak pengen berdebat sama kamu"
"Rahmat aku cuman nanya kamu di mana? tinggal jawab apa susahnya sih?" Kataku semakin kehilangan kesabaran.
"Di rumah si a (mantan pacar Rahmat)" bentaknya dengan suara sangat keras.
"Jam segini?. Kamu sadar nggak sih sekarang jam berapa? kamu cuman berdua? kamu udah nggak ada otak ya?" Cercaku.
"Kau yang tidak ada otak datang sesukanya. Saat aku nyerah sama kamu kenapa baru nelpon bedabah" Bentak sekaligus umpat Rahmat padaku dengan napas terputus-putus.
"Okey aku yang salah. Rahmat sayang sekarang pulang ya. Udah malam banget sekarang kamu pulang ya. Ibu dan Ayah pasti khawatir sama kamu" Bujukku lembut.
"Sayangmu tai anjing kau bulshit Lia kau bulshit"
"Okey. iya aku emang hina, aku memang salah tapi sekarang kamu pulang ya. A aku rumah kamu okey" Bujukku lagi.
"Kalo gue ngak mau?" Tantangnya
"Ya udah gue terima lamaran bokapnya Abi. Abi lebih nurut di banding lo" Jeritku keras.
"Berhenti banding-bandingin gue sama Abi" teriaknya lebih keras lagi dari seberang sana.
"Okey besok kita bicarain. Sekarang lo pulang. Lo harus foto sama ibu biar gue percaya kalo lo di rumah" Kataku.
Tak ada balasan di seberang sana. Aku tidak tahu Rahmat mendengarku atau tidak. Ku tatapi layar gadget nyatanya telpon masih tersambung.
"Rahmat kau dengar aku tidak?!"
"Tidak. aku tidak mau pulang"
"Jadi kau di mana?" Tanya kembali marah.
"Di depan kosanmu" Ujarnya santai
"Ngapaen kamu di situ?" Kataku sambil mengintipi Rahmat dari jendela kamarku dan nyata Rahmat benar-benar ada di depan kosanku.
"Aku mabok Lia" Katanya lalu berjongkok di depan pagar sambil mengadahkan pandangan ke arahku.
"Ada orang mabok ngaku?"
"Aku rindu" Ujarnya lagi
"Rindu apa"
"Kamu" Jawabnya singkat padat dan jelas.
Aku bego atau bagaimana. Benar kata Ilmi kalo aku bucin akar tiga pangkat tujuh kali dua. Dengan mudahnya aku marah ke Rahmat tapi aku lebih mudah merona karena gombalan Rahmat.
"Pulang Rahmat" Ujarku lembut.
"Iya tunggu" katanya malah duduk bersila di bawah sana.
"Kamu kenapa si?"
"Aku mabok lia" Ujarnya lagi lalu memegang kepala.
"Kalo mabok kok tahu kalo lagi mabok?"
"Karna cintamu lebih memabukkan"
"Kalo gitu aku tidak percaya kalo kamu lagi mabuk"
"Lia" Panggil Rahmat masih dengan posisi duduk bersila tapi tatapannya mengarah padaku.
"Mmm" Jawabku.
"Jangan Marah"
"Yang bikin aku marah tuh kamu juga kali"
"Miss you Lia"
"Bulshit"
"Jangan hiks jangan putus ya" Ujarnya lalu terisak layaknya anak kecil.
Aku hanya sedikit mengganga melihat Rahmat bahkan mendengar Rahmat merancau dengan sesuatu yang tidak jelas tapi dari sekian banyak kalimat yang dia bilang, aku hanya tahu saat dia bilang
"Jangan sama Abi lagi. Aku lebih baik" Kalimat itu bahkan Rahmat ucapkan berulang-ulang kali.
Rahmat masih tidak jelas di sana, tapi dari atas aku bisa lihat kalo sebuah mobil akhirnya datang menjemput dan membawa Rahmat.
Telpon sudah terputus dan sopir pribadi ayah Rahmat juga sudah menggabariku jika mereka sudah tiba dengan selamat. Biarpun sudah merasa tenang karena Rahmat sudah pulang, nyatanya aku belum bisa memejamkan mata.
Aku menghubungi Abi dan nyatanya Abi juga menjawab telponku di dering ke tiga. Katanya Abi baru saja menggerjakan sholat malam bersama om Hafiz.
lihatlah sekarang, yang satunya harus di ingatkan sedangkan satunya sudah taat dan punya pembimbing yang rajin menggingatkan. Terkadang tanpa sadar aku membandingkan rahmat dan abi.
Seandainya rahmat tidak keras kepala dan lebih rajin menggerjakan sholat malam seperti Abi, kuyakin dia sudah layak menjadi imam untukku.
Kami sempat berbincang sesuatu yang tidak jelas tapi anehnya aku bahagia dan tertawa. Di perbincangan kami, Om Hafiz memintaku datang mengunjungginya dan mengatakan jika beliau rindu padaku.
permintaan om Hafiz tidak langsung ku iyakan, karena aku sudah berjanji akan menjauh dari Abi dan membiarkan Rina masuk dalam kehidupan Abi dan om hafiz.
Ku akui memang sampai sekarang hubungan Abi dan Rina seolah berada di tempat yang sama. Abi masih memperhatikan kebutuhan bulanan ku bahkan kadang membatalkan janji dengan Rina demi aku.
Itu yang membuatku datang canggung pada Rina. Aku tahu Rina layak untuk kesal padaku, tapi aku juga merasa Rina tidak layak untuk membatasi hubunganku dengan Abi. Mau tidak mau akhirnya ku iyakan saat mengingat status rina adalah gebetan Abi.
aku jujurnya juga sangat rindu om Hafiz dan ingin bercerita banyak nyatanya janjiku ke rina memang sulit untuk ku tepati. Telpon berakhir dan tahu apa yang ku lakukan?.
Aku menjelajahi sosial media dan tahu apa yang ku temukan?. Sekarang aku tahu kenapa aku tidak suka dengan teman-teman Rahmat. Sekarang aku yakin jika tadi Rahmat memang sedang mabuk.
Di sosial media sedang memberitakan tentang anak SMA yang sedang berpesta barang haram di salah satu rumah mewah. Mereka yang tertangkap ada lima orang. dan salah satunya adalah wanita berstatus mantan pacar Rahmat
Inikah mimpi buruk yang ku khawatirkan tadi. Aku tidak tahu itu adalah mimpi buruk atau petunjuk sebenarnya. Seandainya saja aku terlambat menelpon dan Rahmat tidak menemuiku, mungkin saja rahmat sudah menjadi salah satu orang yang tertangkap di sana.