Pukul sepuluh lebih akhirnya aku tiba di kediaman orangtua Rahmat. Hari ini hari minggu, di luar rumah itu sudah ada beberapa lelaki berseragam dan beberapa pekerja rumah lainnya. Mereka sepertinya sudah selesai dengan pekerjaa mereka dan sekarang sedang merapikan alat kerja.
Ku ambili salah satu gunting rumput yang tergeletak di tanah. Sepertinya benda itu memang baru saja di pakai oleh tukang kebun. Aku masuk membawa benda itu untuk mencari Rahmat.
Pucuk di cinta bulan pun tiba. Ku dapati Rahmat baru keluar dari ruang makan tapi bukannya datang dengan damai, aku malah menarik Rahmat menuju kolam renang dan dengan keras aku mendorong rahmat lalu rahmat terjatuh dalam air.
"Brukksss" suara tubuh rahmat terhempas menabrak air.
"Lia apa-apan ini?" Teriak Rahmat dengan suara sangat keras karena tidak terima dengan apa yang ku lakukan.
Teriakan Rahmat sukses mengundang rasa tanya dari yang lain hingga mereka semua berkumpul dan menyaksikan bagaimana dengan kurang ajarnya aku bertolak pinggang sambil menatap Rahmat dengan tatapan ingin membunuh.
"Berani kau keluar dari kolam ku sunat kau pake gunting rumput" Ancamku menunjukkan apa yang ku pegang.
Semua keluarga Rahmat sudah berkumpul tidak terkecuali dengan para pekerja Rahmat. ku lihat semuanya hanya diam bahkan mereka tidak ada yang berniat melerai kami.
Wajah jelas menunjukkan penuh tanya tapi dia memilih tetap diam di tempatnya, biarpun begitu Rahmat menatapku dengan tatapan marah dan jelas itu menakutkan tapi tidak menciutkan nyali dan amarahku.
"Kau belum jadi istriku. Jangan sok ngatur dan apa hak mu di keluarga ini ha" Bentak Rahmat.
"Tidak ada. Aku juga sudah tidak rela jadi istri orang tidak benar seperti kau" Bentakku balik.
"Apa maksudmu?" Jeritnya marah.
"Aku tidak tahu, apa yang kau lakukan di luar sana tapi aku nggak pernah nyangka kalo lo bisa bertindak nggak pake otak"
"Kau sebenarnya marah karena apa?" Tanya Rahmattanpa menurunkan intonasi suaranya.
"Teman-temanmu. Teman-temanmu yang kau banggakan akhirnya ketangkap karena obat terlarang dan aku .... aku yakin kau juga bakal di tarik sama mereka" Kataku dengan isak tangis yang tidak bisa ku pendam.
Rahmat seketika diam tapi ibu Rahmat sudah tidak sadarkan diri. Kakak dan istrinya sudah bergerak untuk menahan beliau. Karena ucapanku, seketika suasana menjadi kacau, Rahmat juga ikut panik melihat itu.
"Kau jangan asal tuduh" Elak Rahmat dengan wajah marah.
"Kalo berteman sama yang alim akan ikut alim tapi kau berteman dengan sampah. Siapa yang tidak curiga kalo kau juga sudah jadi busuk"
"Lia" Jerit Rahmat menghentikan ucapanku.
"Aku kecewa Rahmat. Aku cuman kecewa apa salahnya kalo aku marah" Kataku terisak kali ini.
Suasana rumah sudah riuh tidak jelas. Ku lihat ayah Rahmat hanya bisa terduduk menatapi Rahmat dengan pandangan kosong. Ku ambil sesuatu dalam tas lalu melemparkannya tepat pada Rahmat. Untungnya Rahmat menangkapnya lebih dulu sebelum benda itu jatuh ke air kolam renang.
"Apa ini?"
"Baru tawas" Jawabku acuh.
"Iya tapi untuk apa Lia?" Geram Rahmat.
"Larutkan terus kau minum"
"Agh kau gila"
"Kata bapak kalo kau minum itu, kau tidak akan terdeksi sebagai pemakai. Anggap ini caraku nolong kamu dan tanda perpisahan kita. KITA PUTUS" Kataku lalu membuang gunting rumput lalu pergi dari kekediaman Rahmat dengan angkutan umum.
Aku tidak tahu apa yang terjadi di keluarga Rahmat setelahnya yang jelas aku mematikan gadegku lalu ke rumah Om Hafiz. Aku tidak pergi sendiri, nyatanya Rina sudah menungguku di persimpangan jalan dan kami akan bersama-sama ke rumah Om Hafiz dengan alasan jika Rina yang menggantarku datang.
Setibanya di sana, aku baru tahu jika Om Hafiz dan Abi memperkerjakan sepasang suami istri di rumah mereka. Sepasang suami istri cukup baik dan ramah menurutku tapi hanya menurutku.
Aku sudah kapok menilai orang lain dari covernya saja. Dulu aku menyangka Rina adalah orang yang serba berkecukupan, nyatanya dia adalah orang yang haus kasih sayang.
Ku pikir Rahmat adalah orang baik nyatanya sekarang apa?. Pikiranku tetap melayang pada Rahmat biarpun sudah ku tepis berkali-kali nyatanya aku masih memikirkan nasip lelaki itu dan keluarganya.
Setelah makan siang dan mereka melaksanakan sholat dzhur, kami akhirnya duduk di teras rumah di temani minuman dan cemilan. Entah sudah berapa kali aku kedapatan melamun hingga Om Hafiz berkata
"Kamu kenapa lagi?" Ujarnya lembut lalu menggelus kepalaku lembut.
"Puyeng Om. Probmatika hidup itu ribet" Ujarku dengan mengembuskan nafas secara kasar.
"Sok-sokan ngomong problematika, ngerti ngak" Ejek Abi lalu menyodorkan buah jeruk yang sudah di kupas padaku.
"Ngak. aku juga ngak mau jeruk, maunya apel bukan mau jeruk" Tolakku dan bodohnya Abi malah menyodorkan apa yang ku tolak pada Rina.
Wajah Rinasedikit di paksakan tersenyum kali ini, tapi tetap menerima buah itu dari tangan Abi. Aku tahu bukan jeruk mandarinnya yang bermasalan tapi mendapat barang yang ku tolak yang jelas tidak nyaman jadi Rina.
Abi benar-benar menggupaskan kulit apel, memotongnya jadi kecil-kecil baru di sodorkan ke padaku. Karena pikiranku yang runyem aku sedikit melupakan Rina.
Setelah menggunyah beberapa apel aku bergerak lalu menuju kamar Abi untuk mengambil gitar. Abi mencegah? jawabanya tidak.
Aku kembali duduk di tempatku lalu memeluk gitar itu. Ku mainkan dengan asal hingga Om Hafiz yang mungkin jengah mendengar petikan asalku berkata
"Ada masalah apa lagi?. Kan urusan Alicia udah beres"
"Bukan Alicia, Om tapi ini tentang Rahmat"
"Pacar kamu itu?" Tebak Om Hafiz.
"Mantan Om" Dengusku kasar.
"Kapan putusnya?" Tanya Abi semangat bahkan Abi terbahak melihatku berwajah suntuk.
"Tadi. Pas ke sini ke rumah Rahmat dulu untuk putus"
"Bagus deh kalo gitu"
"Bagus apa'an. Kalo aku jomblo nikahnya ma siapa Abi dongdong" Kataku lalu melempari Abi dengan kulit jeruk
"Sama akulah" Katanya cepat dan ada nada bangga di ucapannya.
"Habib rencana poligami dengan perkutut patah?. boleh deh!" kata om Hafiz menengahi perdebatanku dengan Abi.
"enak aja. Abi tuh apan sih. Dikit-dikit potong perkutut kayak Abi berani aja di potong lagi" balas Abi tidak terima.
Aku hanya tersenyum melihat perdebatan Abi dan Om Hafiz, sedangkan Rina hanya mamaksakan dirinya tersenyum. Untuk mencairkan suasana, aku berkata
"Rin, dulu aku belajar gitarnya dari Om Hafiz tapi berhubung pacarmu nggak kalah jagonya gih belajarnya ma Abi aja tuh"
"Kamu mau belajar main gitar?" Tanya Abi pada Rina.
Rina tidak menjawab malah menunduk malu-malu lalu menarik rambutnya ke belakang telingga. Setelah melihat tingkah Rina, aku kembali melanjutkan pembicaraanku dengan Om Hafiz sedangkan Rina dan Abi sedang berbicara dengan cara berbisik.
Ada rasa nyeri di d**a, aku tidak tahu ini karena sadar kalo sekarang aku jomblo atau aku sebenarnya masih punya perasaaan sama Abi yang jelas, aku pura-pura acuh lalu memainkan nada-nada nostalgia. Aku dan Om Hafiz bernyanyi di temani perikan sinar gitar juga semilir angin sejuk.
Setelah memainkan satu lagu, mataku terus terpusat pada rumah tua usang dan bersejarah samping rumah om Hafiz. Kata Om Hafiz rumah itu sekarang sudah punya pemilik yang baru dan akan direnovasi nantinya.
Aku baru tahu kalo biarpun namanya di lelang, harganya masih lumayan banyak, jadi kata om Hafiz, pihak bank hanya mengambil senilai uang yang di pinjamkan, sedangkan lebihnya akan di berikan pada pemilik.
Yang aku tidak tahu adalah, nyatanya uang itu sudah sampai ke wanita yang melahirkanku lalu uang di gunakan untuk memasukkan Alicia ke panti juga untuk biaya hidup Alicia di sana.
Itu kata Tante Dewi dan informasi itu berasal dari wanita yang melahirkanku. Katanya begitu kalo faktanya, aku belum tahu.
*****
karena tidak ada yang pasti kau dan aku hanya sepasang ragu-ragu yang mencoba saling percaya
*Anonim*
Ku akui setelah putus dengan Rahmat dan menutup akses untuk agar kami berkomunikasi rasanya ada yang beda. Dulu saat masih berstatus kekasih Rahmat, Setiap hari diwarnai percakapan dah makan belum? Jangan malem-malem tidurnya, hati-hati ya! Kangennn, solat jangan lupa!.
Untuk orang lain memang mungkin kesannya receh tapi kami berdua tidak pernah bosan melakukan itu. Sekarang aku tahu jawabannya, ternyata hal itu menyenangkan karena dilakukan dengan orang yang disayangi.
Setiap hari kami bertemu tapi rasanya selalu ada hal yang menarik untuk di bicarakan saat tidur entah itu tentang hubungan kami, guyonan yang tidak masuk akal, aturan yang tidak boleh langgar selama pacaran bahkan masa depan.
Mungkin terlalu jauh untuk membahas masa depan tapi tidak ada yang tidak menyenangkan jika membayangkan sesuatu dengan orang yang di sayangi tapi itu dulu. Sekarang aku tidak tahu haruskah aku menyesal atau menyusukuri Rahmat pernah membuatku bahagia.
FLASHBACK ON
"Tidur lia. Bumi akan baik-baik saja tanpa kamu perlu begadang"
"Kamu tidur juga tapi ya?"
"Iya" Jawabnya dengan nada lembut di seberang sana
"Kalo ada moster yang keluar pas aku tidur gimana?" Tanyaku bodoh.
"Kalo ada moster yang keluar dari bawah tempat tidurmu dia akan terpanah dengan kecantikanmu, jadi jangan takut tidurlah" Gombalnya dan sukses membuatku serasa melayang saat itu juga.
"Tapi temanin" Kataku tetap menatap layar gadget yang ku saling berhadapan denganku seolah benda pipi itu adalah sosok lelaki yang ku damba, dan Rahmat juga melakukan hal yang sama.
"Lia" Panggilnya dari seberang sana.
"Ya" Jawabku dengan senyum lebar.
"Kamu tahu ngak, kenapa zombie nyerangnya rame-rame?"
"Nggak, emang kenapa?" Ucapku malah balik bertanya.
"Karena kalo nyerangnya sendiri namanya zomblo"
"Iya, kamu juga bakal jadi zomblo kan tanpa aku?"
"Siapa bilang!" Tuturnya dengan wajah sombong.
"Kamu punya selingkuhan?" Tuding ku dengan wajah cemberut.
"Jangankan selingkuh, punya kamu aja hampir tiap hari ngajak tawuran gimana kalau banyak, mungkin udah bisa ngebuat tim untuk demo kali ya?" Katanya dengan tawa lepas yang menjadi favoritku akhir-akhir ini.
Mendengar itu, mau tidak mau aku juga ikut tertawa dengannya. Ku tatapi wajah Rahmat di seberang sana dan sepertinya Rahmat juga melakukan hal yang sama.
Kecanggihan teknologi membuat khayalanku semakin nampak nyata dan impian punya keluarga bahagia bersama Rahmat rasanya adalah sesuatu yang ku cita-citakan saat itu. Aku sempat terdiam lama sebelum berkata
"Gimana kalo akhirnya kita ga berjodoh?" Tanyaku sambil berpanggku dagu menatap Rahmat dengan serius
"Aku akan tetap bersyukur" Balas Rahmat juga menatap tepat dibola mataku.
"Kenapa?" Tanyaku dengan kerutan didahi dan bibir manyun.
Sumpah aku bukan ingin sok imut tapi memulai sesuatu tanpa tujuan pasti dan tak mendapatkan hasil yang memuaskan adalah hal paling sia-sia menurutku, dan aku enggan hidupku melakukan hal itu.
"Karena aku telah mengenalmu, pernah bagian kecil dari kehidupanmu, jadi pelukan yang menghangatkanmu, dan sesuatu yang menjadi alasanmu tersenyum malu-malu seperti sekarang ini" Terang Rahmat dengan wajah sok meyakinkan.
Mendengar kalimat itu, aku hanya mengangguk pelan tapi jujurnya aku kecewa dan sedikit takut jika memang kami tidak berjodoh. Memulai hubungan adalah pilihan tapi takdir dan jodoh sudah di atur, walaupun tahu itu, nyatanya aku berharap kalo pilihanku memang yang terbaik.
Membangun hubungan itu sulit, menjalaninya dengan sejuta ekspresi, mempertahankannya adalah hal yang tersulit tapi tidak pernah sebanding dengan mengikhlaskannya dengan orang lain. Aku cuman tidak ingin menyesal sudah melewati waktuku sia-sia.
Capek-capek menjalin hubungan, bertengkar, bertahan saling percaya lagi eghh nyatanya kami hanya akan jadi orang asing yang pernah saling berbagi rahasia. Aku masih diam dan berpikir hingga Rahmat berkata
"Saat liat kamu sekarang, aku rasanya bisa ceritain ke semesta alasan tuhan menciptakan kebahagiaan" Gombal Rahmat padaku.
Kalimatnya hanya sesingkat itu, nyatanya kalimat itu menepis semua ragu ku. Senyumku semakin lebar dan harapanku semakin besar.
Kupikir pembahasan mengenai kami jodoh atau bukan sudah terlupakan oleh Rahmat nyatanya tidak. Sebelum kami mengakhiri vidio call malam ini, Rahmat berkata
"Entah kau jodohku atau bukan tetapi kamu adalah orang yang aku perjuangkan sekarang. Tetaplah berdua jangan mendua karena bertiga itu sakit dan sendirian itu sepi" Ujar Rahmat dengan tatapan serius lalu mematikan sambungan video call sepihak.
Aku tidak bisa mengkategorikan Rahmat itu romantis atau konyol karena setiap bersama dia, semua pembahasan menjadi sangat menarik. Aku tidak pernah ada niat menyamakan atau membandingkan Abi dan Rahmat, nyatanya kedua sosok ini sangat berbeda menurutku.
Abi adalah orang yang tidak komunikatif tapi pendengar yang baik dan pengambil keputusan yang baik sedangkan Rahmat adalah orangnya yang asyik diajak berdebat dan mencari solusi bersama-sama. Rahmat tidak pernah menggunakan ke pintarannya dalam mengatasi aku
Rahmat selalu menanyakan pendapatku mengenai sesuatu yang kami akan kerjakan dan apa yang ingin kami lakukan. Dalam menentukan sesuatu, Rahmat selalu menanyakan keinginan, perasaan, pandangan dan kenyamanan ku sedangkan abi, mungkin karena saking tahunya aku atau saking mudahnya aku di tebak, dia yang memutuskan semuanya.
Dalam bertengkar, abi selalu jago menyogok ku dengan makanan, sedangkan Rahmat sangat mahir dengan rayuan yang jelas tidak pernah bisa Abi lakukan, contohnya saja saat itu. Hanya karena aku PMS dan uring-uringan, Rahmat menjadi ikut kesal dan berkata
"Kamu kenapa sih dari tadi uring-uringan mulu?" Ujar Rahmat dengan menahan geram.
"PMS Rahmat bisa jangan tanya lagi nggak" balasku tidak kalah geramnya dengan rahmat.
"Isstt lembek banget sih" Ejeknya dengan wajah suntuk.
"Eghh ini sakit nah" Jelasku tidak terima perkataan Rahmat.
"Cewek lain PMS tapi aku baru nemu yang serewel kamu pas lagi PMS" Katanya lagi.
"nggak semua cewek tabah pas PMS dan ngak semua cowok kuat pas di sunat?" kataku sedikit membentak.
"Apa hubungannya Lia dongdong" Ejek Rahmat padaku wajah yang semakin terlihat menjengkelkan menurutku.
"Cewek aja tabah pas PMS tiap bulan cowok tabah nggak disunat tiap bulan?" Tantangku pada Rahmat sedangkan Rahmat malah nyenggir lebar lalu mengatur langkahnya untuk mundur perlahan untuk sedikit menjauh.
"Izinkan aku menghalalkan mu Lia" Rayu Rahmat sekaligus mengalihkan pembicaraan.
"Maaf deng, saya bukan babi" Balasku acuh. wajah datar lalu meninggalkan Rahmat yang terbahak di belakang sana.
"Masya allah, saya muslim mbak emang nggak makan babi" Balas Rahmat dengan ekspresi wajah yang di buat-buat.
"Gini nih, punya pacar yang otaknya ikut geser. Emang nggak ada benar-benarnya aghh" Ujarku kesal.
"Kemarin aku baru pengen kembali kejalan yang bener eh sampai di sana jalannya belum jadi" Balasnya santai bahkan di wajahnya sudah terpasang senyum lebar yang membuatku ingin marah, tapi bibirku malah ikut tersenyum lebar.
FLASHBACK OFF
Yaps katakan hubunganku dengan Rahmat sedikit absurt tapi aku nyaman dengan itu semua. Perasaan bahagia kini mulai pudar sudah. Aku tidak tahu kenapa Rahmat bisa melakukan itu, mungkinkah selama kami bersama hanya aku yang berbahagia sendiri, atau mungkin saja Rahmat belum move on dari mantan pacarnya .
Aku tidak tahu, dan ku rasa, aku tidak mau tahu lagi. Rahmat sudah dengan pilihannya, sialnya pilihan itu membuatnya harus merasakan dinginnya jeruji besi. Nama Rahmat kembali tenar di sekolah tapi nyatanya ketenaran kali ini bernilai buruk.
Seperti perkiraanku, teman-teman Rahmat juga menarik agar Rahmat ikut di introgasi oleh pihak berwajib. Aku tidak tahu hasilnya seperti apa, aku bukannya tidak peduli tapi hanya berpura-pura tidak mendengar sembar siur tentang kasus Rahmat dan teman-temannya.
Malam ini, entah sudah malam keberapa aku tidak mendengar suara dan menatap wajah Rahmat. Nyatanya biarpun aku berpura-pura lupa, nama Rahmat dan kenangan kami semalam setahun lebih ini membuatku rindu.