Matahari sedang malu-malu menunjukkan sinarnya pagi ini. Suasana langit sedang mendung, ada tetesan air yang jatuh dari langit bahkan udara dingin menusuk kulit.
Seperti biasanya, pukul enam lewat beberapa menit aku sudah memasuki gerbang sekolah tapi baru beberapa langkah berada di dalam sekolah, dari belakang sana, terdengar suara yang sangat familiar menyebut namaku.
Ku tolehkan kepala ke belakang dan nyatanya benar, suara itu sangat familiar untukku. Sesosok laki-laki itu akhirnya bergerak bahkan sedikit berlari untuk mendekat.
Ku tatapi dia dengan intens untuk menyakinkan diri jika apa yang ku liat itu adalah kenyataan bukan khayalan semata. Rasanya jika di hitung, hampir seminggu lelaki ini tidak lagi bersamaku.
Tatapanku rasanya tidak ingin lepas darinya tapi ku paksakan juga. Yang Ku lihat, dia masih sosok yang sama seperti dalam ingatanku, nyatanya biarpun terlihat sedikit kurus, dia masih tampan.
"Haii lia," Sapanya dengan canggung saat dia menemuiku di gerbang sekolah.
Dihadapanku sedang berdiri sosok yang sangat ku kenali. Aku tak menjawab malah memilih celinggak-celingguk seolah mencari sesuatu, setelah melakukan itu, aku malah acuh dan tetap berjalan memasuki sekolah.
"Lia" panggil lelaki itu lagi sambil mencoba menghalang langkahku.
"Siapa saya?" Tanyaku dengan kening yang di kerutkan dalam seolah sedang berpikir keras.
"Kamu makin jahat ya Lia?" Ujarnya dengan senyum tipis yang dipaksakan.
"Maaf siapa ya?" Ujarku lagi lalu mencoba melangkah pergi nyatanya lelaki dihadapanku malah berhasil menghadangku.
"Lia please, kamu ngak rindu aku ya?" Tanyanya yang sukses membuatku berpikir keras dan kalimat itu juga sukses membuatku berhenti lalu saling berhadapan dengannya.
"Kamu tahu nggak, kenapa buaya bisa kalah sama cicak?" Tanyaku pada sosok lelaki di hadapanku.
"Tidak, kenapa?" Jawabnya dengan kepala yang di garuk padahal ku yakin kepalanya tidak gatal.
"Cicak bisa hidup tanpa buntut, buaya bisa apa tanpa buntut?"
"Buaya nggak bisa berenang, kan buntut buaya berfungsi untuk bantu buaya berenang di air" jawabnya yakin.
"Makanya gue bilang, cicak lebih jago dari buaya. Cicak masih bisa kok manjat tanpa ekor"
"Beda spesieslah" Balasnya sewot.
"Sama. Mereka sama-sama hewan melata kok" Jawabku ketus sambil kembali melangkahkan kaki.
"Lo bisa bedain kera ma manusia nggak sih Lia?" Ujarnya malah balik bertanya padaku.
"Bisa kok, nih rajanya di depanku dan ngeganggu gue sedari tadi" Balasku dengan wajah datar.
"Lia, aku mau ngomong serius tentang hubungan kita bukan tentang hewan!"
"Kalo gue cuman mau ngomong soal hewan ke lo emangnya kenapa?." Tantangku yang membuat lelaki itu diam tapi dia menyempatkan diri menghembuskan nafas secara kasar dari mulutnya.
"Lia please" Katanya dengan wajah sedikit memelas.
"Kok aku baru sadar ya, kalo ternyata aku penyayang binatang. Buktinya kamu yang kaya guk guk aja pernah jadi mantan"
"Lia, hubungan itu di jalanin berdua, putus juga harus dengan kesepakatan berdua" Katanya mencoba memegang tanganku tapi ku tepis dengan kasar.
"Kita pacaran juga sepihak kok. Nggak ada salahnya pas putus aku juga ngelakuin yang sama"
"Tapi ini beda lia" Ujarnya lagi menggikuti langkahku menuju kelas.
"Kamu tahu, Sujowo Tejo pernah berkata bau sampah kulit udang bagiku lebih enak ketimbang bau orang yang sok bermoral padahal b******n dan kurasa itu benar"
"Kamu nggak berhak ngehakimin aku tanpa bukti Lia" Katanya dengan sabar yang kian menipis.
"Aku nggak hakimin kamu, toh firasat ku benar dan kamu selalu meragukan itu" Tuturku kesal.
"Iya aku salah saat itu tapi kamu nggak bisa gini dong. Kamu harus ngasih aku kesempatan untuk nentuin kamu bisa maafin aku atau nggak"
"apa'an sih?. Nggak ada yang perlu di maafkan dan kamu nggak salah. Kamu benar dengan pandagan kamu sendiri, aku juga gitu"
"Lia, maafin aku please" Bujuknya dengan tangan yang menggengam tanganku tapi ku tepis dengan cepat.
"Kamu cuman mau maaf dari aku kan? Ya udah aku udah maafin kamu" Ujarku terus melangkah.
Mendengar kalimatku, lelaki itu bukannya berpuas hati malah kian menuntut dan menghadang langkahku. Saat aku melangkah kekanan, dia melakukannya hal yang sama, jika aku ke kiri dia pun melakukannya juga.
Banyak mata yang mengawasi kami karena sekolah mulai rame tapi Rahmat tidak peduli. Dia masih menuntut dan memaksaku untuk menatap wajahnya lalu membahas tentang hubungan kami yang ku putuskan sepihak.
"Lia kita masih bisa seperti kemarin kan. Kita masih bisa jadi pasangan yang selalu baik-baik saja?" Tanyanya memastikan.
"Aku udah maafin kamu tapi bukan rumah untukmu kembali pulang, ternyata melepas dan mengikhlaskanmu adalah proses dari penyembuhan" Ujarku mencoba memasuki kelas tapi rahmat malah menarik tanganku untuk menuju tempat yang sedikit jauh dari keramaian.
"Kamu berubah Lia" Katanya lagi dengan pandangan intens padaku.
"Bukan berubah, aku aslinya mah memang gini" Balasku acuh.
"Aku serius Lia"Katanya meyakinkan tapi bukannya aku percaya, rasa kecewa itu malah datang dan membuatku ragu.
"Kamu terlalu b*****t untuk diseriusin" Ujarku. "Kalau liat kamu ada rasa b*****t-bangsatnya gimana gitu" Lanjutku lagi.
"Lia, kamu cuman perlu kasih aku kesempatan untuk jelasin semuanya sama kamu. Kamu nggak bisa ngambil keputusan sepihak tanpa tahu kenyataanya kayak gini dong" Katanya mulai sewot.
"Kita sudah selesai Rahmat, nggak ada yang harus di jelasin sekarang"
"Nggak. Aku ... Nggak setuju untuk putus" Tuturnya tegas seolah tidak ingin di bantah.
"Apa yang bisa ku percaya sekarang. Kamu udah bohongin aku berulang kali dan bohongmu ketahuan. Setiap kamu bohong aku cuman pura-pura percaya tapi nyatanya apa?" Ujarku dengan tawa yang di buat-buat.
"Aku menyesal nggak dengerin kamu Lia" Tutur Rahmat dengan nada lesu.
Ya, lelaki yang sedang berdebat denganku memang adalah Rahmat. Aku tidak tahu kenapa dia bisa bebas sedangkan semua temannya masih berada dalam pengawasan pihak berwajib.
Setelah mendengarkan kalimat penyesalan Rahmat, aku bukannya memafkannya tanpa mengiyakan atau menolak. yang terjadi malah aku melangkah pergi. rasanya percuma, aku bukan marah karena kebohongan Rahmat tapi aku menyesal karena Rahmat menyia-nyiakan masa depannya yang cemerlang sebenarnya.
Bukan aku yang seharusnya ditempati Rahmat minta maaf dan menyesal karena orang yang paling kecewa di balik semua ini pastilah orangtuanya. Jujurnya memang berat dan tubuhku malah seolah sangat ingin memeluk Rahmat erat.
Inginnya aku melenyapkan rasa rindu ini dengan memeluk Rahmat erat lalu kami membicarakan tentang kejadian sebelum dan apa yang dia alami selama di introgasi hingga membuat berat badannya menurun nyatanya egoku menentang.
"Lia kenapa kamu nggak bisa ngasih aku kesempatan lagi?"
"sesuatu yang dicoba untuk diulang tidak akan sama saat kita belum pernah menjalani, sensasinya akan beda. Sama saat kamu menonton film sampai ending kemudian kamu mengulangnya kembali maka film itu tidak akan menarik lagi " kataku dengan mata berkaca- kaca.
"Lia komitmen kita adalah, memaafkan segalanya kecuali perselingkuhan. Aku tidak selingkuh, aku masih punya hak untuk kamu maafkan" Desaknya dengan gaya bossy.
Aku seketika menghentikan langkah lalu berbalik untuk menatap Rahmat dengan pikiran tidak menentu. Rahmat masih di sana, masih berdiri dengan penuh harap padaku.
Egoku ingin jika kami mengakhiri semuanya dan melepaskan Rahmat, nyatanya hati dan pikiranku bersekongkol untuk memberi Rahmat kesempatan sekali lagi. Setelah cukup lama saling menatap dalam diam, aku akhirnya berkata
"kasih aku waktu untuk berpikir"
Hanya kalimat itu yang ku ucapkan nyatanya itu sukses membuat Rahmat tersenyum cerah kembali. aku bodoh? Mungkin. Jadi harus bagaimanakah kisah ku dengan Rahmat?. Harus ku akhiri kah atau ku lanjutkan lagi?.
*****
Sekali pembohong sampai mati dan membusuk pun kau sepertinya akan tetap menjadi pembohong.
*Andee Rosalia*
Rasanya baru kemarin aku putus dengan abi lalu berstatus sebagai kekasih dan menjadi calon menantu di keluarga rahmat tapi sekarang semuanya semakin abu-abu layaknya warna seragam kami.
Kini aku berdiri di sini, berdiri menatap semua yang bisa tertangkap di intra penglihatanku. Mataku menatap seluruh isi kelas, aktivitas yang kami lakukan saat jam kosong. Saat ini kami sibuk dengan kegiatan kami masing-masing.
Ada yang sedang bercerita entah apa, menonton drama korea sambil jejeritan jika pemainnya tampan dan terlihat romantis, ilmi sedang melakukan live di akun sosmednya, beberapa temanku sedang konser dadakan di kursi khusus guru, ada yang tidur bahkan ada yang sedang berdandan.
Ditengah kesenangan kami, ujian tentu menjadi suatu yang bisa mendebarkan jantung lebih kencang. Debaran kali ini melebihi debaran saat merasa jatuh cinta. Ujian UAS sudah berlalu dan kami sedang menghadapi ujian nasional.
Jangan tanya bagaiman kertas jawabanku, karena 70 % hasil lotre, 20 % dari nyontek dan 10% ingatan dari mata pelajaran yang masih bisa ku terima seperti sejarah, sosiologi dan ekonomi.
Sekarang ini, Aku, Ilmi, rahmat dan dito sedang berkumpul di kantin sekolah walaupun ujian sudah terlewati menunggu hasilnya ternyata lebih mendebarkan lagi. Aku tidak terlalu yakin jika jawabanku benar tapi ku rasa Ilmi lebih tidak yakin lagi dengan apa yang dia kerjakan hingga berkata
“Pengen balik lagi ke zaman di mana bisa siap-siap sekolah sambil nonton spongebob, sarapan dan rambut diiketin ibu” Keluhnya dengan lesuh.
“Gitu aja lemas. Lulus ngak lulus juga lo bakal jadi ibu rumah tangga santai keles” Ujar Rahmat sambil menjitak kepala ilmi.
“Jangan pegang-gepang gue Mamat, tangan lo penuh covid” Hardik Ilmi kesal.
“Nama gue Rahmat, bukan Mamat, Tukiyem” balas Rahmat yang jelas memancing amarah Ilmi.
Ilmi dan Rahmat jarang akur sebenarnya, saat mereka bertemu ada saja yang mereka perdebatkan. Karena ejekan Rahmat tadi, layaknya api yang di siram bensin, maka kobarannya makin membesar. Mereka sering saling membalas ejekan nama lalu menyebar ke hal lainnya.
Jika kesal, Ilmi memang memanggil Rahmat dengan panggilan Musibah atau Mamat. Ejekan itu tergantung mood Ilmi saja saat berhadapan dengan Rahmat. Jika mereka baik-baik saja, Ilmi akan memanggil Rahmat tapi kalo marah, kalian tentu bisa menebaknya kan?. Rahmat suka memanggil Ilmi dengan Mimin dan Ilmi jelas benci panggilan itu.
Itu mereka, sedangkan aku malah senang memanggil mereka berdua dengan panggilan mami (ma untuk Rahmat dan mi untuk Ilmi). Opss aku hampir lupa, mereka itu saling membenci tapi kalo udah aku panggil dengan Ma-mi mereka seketika kompak untuk memarahiku.
Mereka berdua sering meributkan hal yang tidak jelas, tapi aku tidak pernah protes apa lagi Ditto. Di antara kami berempat, Ditto-lah yang paling tenang, tapi sekali Ditto bicara, wisssst kami semua kena. Ditto kalo sudah ngomong, Ibaratnya tuh kami sedang di bunuh oleh pendekar tanpa bayangan. Sumpah bukan lebay tapi itu faktanya, dia udah ngalahin Emak Lambe Turah menurutku.
Bakat Ditto yang terpendam adalah tukang bully. Ditto jago buat nama atau olok-olokan untuk orang lain, dan lebih jagonya, dia bisa buat kamu sepemahaman dengan pikirannya dengan sekejab mata. Aku sebenarnya sampai saat ini masih kadang binggung dengan karakter Ditto.
Ditto di mataku sudah seperti bunglon yang pandai menguasai diri dan berubah warna.
Saat kami diam dia akan membuat keributan, saat kami dalam suasana tidak baik, Ditto akan bertengkar dengan Rahmat, menceritakan sesuatu yang membuat kami riuh untuk becanda mau pun bertengkar satu sama lain, tapi pada akhirnya dia juga yang menenangkan kami lalu memberi kami motivasi untuk saling berdamai.
Ditto itu seperti motivator sekaligus profokator, Rahmat mandor eskkapator sedangkan Ilmi kalkulatornya. Jika mereka bertiga malah berdebat dengan kepandaian mereka, Aku cuman bisa geleng-geleng kepala.
Ngomong-ngomong tentang teman-temanku, mereka sepertinya sudah menentukan masa depan mereka masing. Ilmi suka nonton drama atau film yang bertemakan kejahatan dan hukum hingga bercita-cita ingin menjadi ahli beda atau polisi. Cita-cita Ilmi itu kadang di jadikan Rahmat sebagai olok-olokan tapi dengan santainya Ilmi berkata
“silahkan tertawa akan mimpiki karena suatu hari aku akan menertawakan saldo tabunganmu” Hanya sepenggal kalimat itu dan sukses membungkam Rahmat. Lain Ilmi lain lagi Rahmat dan Ditto.
Ditto ahli dalam bidang fisika dan kimia, katanya dia ingin jadi orang kesehatan yang kerjanya di lab, entah itu bidang farmasi, biologi, sedangkan Rahmat malah memilih jadi pengusaha lalu meneruskan usaha orangtuanya saja atau jadi calon dewan seperti ayahnya saja.
Pemikiran Rahmat seperti itu yang membuatku mempertahankan Rahmat menjadi kandidat untuk menolongku dan Alicia. Jujurnya sampai saat ini aku belum pernah memberi tahu Rahmat tentang rencanaku tapi ada keyakinan dalam diri kalo Rahmat mau dan akan menolongku.
Opsss sepertinya aku lupa menceritakan kalo aku dan Rahmat akhirnya berbaikan tapi tidak berstatus sebagai kekasih lagi. Kami berbaikan dan memulainya dari awal, aku berusaha membangun kepercayaanku lagi sedangkan Rahmat berusaha menjadi lebih baik lagi katanya.
Sekarang ini Rahmat terasa lebih baik setelah musibah kemarin. Rahmat benar-benar memilah temannya dan semakin giat untuk belajar, orangtua Rahmat juga semakin mengawasi juga menasehati sedangkan kedua kakak Rahmat memberi arahan sekaligus mengajak Rahmat untuk mendekatkan diri pada perintah allah.
Ketika kami asyik dengan makanan kami masing-masing, Rina dan Abi datang dengan wajah lelah mereka. Walaupun tugas mereka sebagai ketua dan wakil ketua OSIS akan berakhir nyatanya pekerjaan mereka seolah semakin berat saja.
“Kamu kenapa?” Tanyaku pada Rina yang baru saja duduk tapi langsung mendaratkan kepala di lipatan tangannya.
“Aku pengen nangis tapi lupa nadanya” keluh Rina dengan wajah nelangsa yang sukses membuat kami terbahak.
“Kenapa emang?” Tanyaku.
“Proposal acara dan ngumpulin dana kali ini ribet” jelas Abi yang mewakili Rina.
“Oghh untuk acara perpisahan?” Tanyaku lagi.
“Mmm” Gumam Rina menjawab tanyaku sambil menikmati pesanannya yang baru tiba.
“Mang masalahnya di mana? Bukannya minggu lalu udah kelar ya?” Tanya Rahmat secara beruntun
“Awalnya tapi Kapsek ngak setuju, terpaksa deh mulai dari awal” Keluh Rina dengan wajah murung.
“Mang rencananya mau gimana?” Tanya Ilmi kali ini.
“Anak-anak mau kalo acaranya yang nggak formal malah berkesan party, egh kapsek malah pengennya di adain pengajian aja”
“Pengajian kayak ada yang meninggal aja” Ujar Ilmi sarkis.
“Tahun lalu senior perpisahannya bagus kok. Keren banget malah pas mereka post ke sosmed” Kata Rahmat lagi.
“Nah karena tahun lalu senior ngelakuin itu makanya kapsek ngak suka”
“Kenapa?”
“Ya karena behind the scene perpisahan itu berujung ricuh dan adu pukul katanya”
“Oghh jadi?” Tanya Ilmi.
“Acara masih bisa di revisi tapi yang jadi masalah adalah, Bunda Niar ngamuk!” Ujar Rina terlihat semakin sedih.
“Urusan apa sama Bunda Niar?” Tanya Rahmat.
“Kita udah kontak Bunda Niar biar bantuin kita, beliau udah kosongin jadwalnya sampai hari H egh batal” Jawab Rina.
“Agh terus?” Ujar Rahmat dengan wajah binggung.
“Jangan tanya please” Kata Rina dengan mata berkaca-kaca dan setelahnya Rina menganggis dalam pelukan Abi.
Melihat itu aku bukannya ikut sedih dengan masalah Rina, aku malah jadi kesal pada Abi. Beberapa minggu lalu kami sudah sepakat untuk memutuskan hubungan dengan pasangan masing-masing makanya aku mengantungkan hubunganku dengan Rahmat.
itu kesspakatan kami nyatanya, Abi malah dengan santainya memeluk dan menenangkan Rina di depanku, Abi maunya apa sih?. Sekali b*****t kayaknya sifaf itu sudah mendarah daging deh di dalam diri Abi.