Semua pelajar sedang menunggu surat kelulusan, sedangkan aku sedang menunggu keputusan jelas dari Rahmat untuk lanjut atau berpaling. Seminggu yang lalu, aku sebenarnya sudah mengutarakan jika aku ingin di nikahi sesegera mungkin.
Hari ini, aku kembali mendatangi Rahmat di rumah orangtuanya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih tapi salah satu asistent rumah tangga memberitahuku kalo Rahmat masih terlelap di dalam kamarnya.
Mau tidak mau aku menunggu Rahmat bangun dengan sendirinya sekaligus menumpang makan karena masakan di sini selalu sukses mengundang perutku untuk berbunyi. Setelah menunggu lama akhirnya Rahmat turun dari lantai dua dan berkata
"Kok kamu nggak bilang mau ke sini si yang?"
"Habis kamu di suruh jemput tapi nggak ngangkat teleponku nyatanya kami keasyikan molor" Balasku dengan wajah suntuk.
"Sorry kemarin hari terakhir aku kursus jadi kami ada sedikit perayaan" Ujarnya santai sambil mengecup keningku lembut sebagai permohonan maaf.
"Oogh jadi kamu udah mutusin mau lanjut dimana?"
"Mmmm" gumamnya sebelum meminum s**u hangat yang ku buat tadi.
"Dimana?" Tanyaku penasaran.
"Di Makassar aja deh. Tar kalo jauh, akunya yang nggak sanggup LDR'an ma kamu" Rayunya sambil mencolek daguku genit.
Aku tidak menjawab malah bertingkah seolah sedang muntah yang sukses membuat beberapa ART yang memperhatikanku dan Rahmat tersenyum tipis. Jiwa selebriti Rahmat itu sepertinya sudah mendarah daging hingga bukannya tersinggung malah merekamku dengan gadgetnya.
Setelah berbasa-basi sedikit denganku dan beberapa ART, Rahmat makan dengan tenang lalu setelah makan, aku menatap Rahmat yang duduk di sampingku dengan serius. Aku menyempatkan diri berkata
"Mat aku mau ngomong serius sama kamu" Kataku dengan perasaan deg-degan.
"Apa?" Tanyanya penasaran.
Aku tidak langsung mengucapkan apa yang tertanam di otakku, kutarik Rahmat untuk sedikit menjauh dari dapur. Di samping kolam renang ada tempat duduk yang cukup rindang dan nyaman, di sanalah kami. Setelah mengatur posisi untuk saling berhadapan, Rahmat lebih dulu berkata
"Kenapa lagi sih yang?" Tanya Rahmat sabar.
"Kok apa lagi sih? Kan udah jelas! Putusin atau nikahin aku" Tuntutku dengan nada galak.
Rahmat memutar matanya bosan, kami sudah berulang kali membahas ini. Nikahin atau putusin jelas bukan pilihan bagi Rahmat. Tangan rahmat terulur mencoba menyentuh tanganku tapi aku malah menepisnya dan menatap Rahmat galak.
Tahu respon Rahmat bagaimana? Dia malah terbahak keras dan menggangap ucapanku adalah lawakan dan angin lalu semata.
tahun ajaran kian dekat dan aku butuh kepastian Rahmat untuk menolong Alicia.
Segala alasan sudah ku ucapkan entah itu, takut dosa, maksiat, hingga berujung minta putus tapi Rahmat katanya tidak mau putus tapi belum bisa menikahiku. Dengan alasan itu, Rahmat membantahnya dengan kalimat
"Kenapa harus terburu-buru sih?, kita nggak ngelakuin free s*x atau tindakan amoral apa pun. Aku tuh pengennya aku mapan dulu biar kamu dan anak-anak kita hidup enak juga"
Romantic?, Mungkin tapi aku terdesak kali ini. Saat aku mengutarakan jika aku ingin menolong Alicia, Rahmat malah terdiam kaku dan layaknya patung untuk beberapa menit.
"Kalo kamu nggak bisa, ya udah kita putus" Putus ku.
"Aku udah bilang, kalo aku nggak mau putus sama kamu" jawab Rahmat tegas meskipun dengan nada lembut. Mendengar ucapan Rahmat, aku seketika bersidekap tapi mataku tetap menggarah pada rahmat intens.
"Terus kapan kamu nikahin aku?"
"Lima atau tujuh tahun lagi, kalo aku udah lulus S1 lalu punya pekerjaan tetap dan mapan" jawab Rahmat tegas dan ada keseriusan dari sorot matanya.
"Maaf Rahmat. Kamu udah ngambil keputusan untuk masa depanmu dan aku juga udah tahu jawabannya sekarang" Ujarku bergerak untuk berdiri.
"Maksud kamu?" Tanyanya dengan wajah sedikit panic.
"Alicia butuh status sekarang. Janji kamu memang indah tapi Alicia tidak bisa menunggu selama itu"
"Aku tuh mau nikahin kamu bukan Alicia. Kenapa kamu bawa-bawa anak itu di pembahasan kita sih?!"Ujar Rahmat mulai marah.
"Status Alicia yang buat aku nikah secepatnya kalo ngak bawa-bawa dia mang mau bawa siapa?" Hardirku dengan intonasi yang ikut meninggi.
"Lia please, masih banyak orang yang bisa nolong mereka" Ujar Rahmat mencoba menghalanggi langkahku.
"Mereka? Mereka siapa? Alicia cuman punya aku sekarang ini"
"Aku emang nggak bisa nikahin kamu sekarang, tapi aku bisa bantu cari orang untuk ngadopsi Alicia" Tawar Rahmat sebagai solusi perdebatan kami.
Ku tatapi Rahmat cukup lama. Aku tahu Rahmat tidak ingin kehilangan aku, tapi banyak hal yang buat aku juga tidak ingin mengikuti saran Rahmat.
Aku tahu Rahmat bisa mencari orang untuk mengadopsi Alicia tapi tidak ada yang bisa memastikan jika Alicia mendapatkan cinta yang cukup selama bersama keluarga barunya.
Kepercayaan diri dan kepercayaan pada orang lain sangat minim, boro-boro beradpatasi melihat orang berbicara keras saja, Alicia kadang gemetaran tapi tidak pernah menggeluarkan suara.
Beberapa waktu lalu, Tante Dewi melaporkan kalo Alicia sedang di rawat di rumah sakit. katanya itu bukan pertama kalinya Alicia di larikan kerumah sakit selama di titipkan ke panti asuhan.
Semua berakar saat seorang anak yang membentak Alicia karena Alicia mengompol di kasur, alhasil Alicia gemetaran tapi mulutnya terkatup rapat.
Tidak ada bentuk kekerasan di tubuh Alicia, tapi nyatanya Alicia jatuh sakit. Setelah Alicia di bawa ke psikiater nyatanya traumatic Alicia kian parah. Setelah dinyatakan sehat, sekali lagi Alicia di larikan ke rumah sakit karena asma yang di alaminya.
Alicia sering sekali bersembunyi di bawah kolong tempat tidur yang berdebu hingga pernapaannya terganggu. Ketakutan berkurang, nyatanya Asma muncul hingga hampir merenggut nyawa Alicia. Mendengar kabar itu, jelas aku marah pada dia yang menitipkan Alicia ke panti asuhan.
Walaupun aku marah, nyatanya tidak membuahkan hasil. Pikiran untuk menyelamatkan Alicia dari panti asuhan kian besar dan hal itulah yang membuatku tidak bisa menunda untuk menggeluarkan Alicia dari panti asuhan.
Mataku menatap Rahmat intens. Rahmat malah menatapku dengan pandangan memohon. Mulutku ingin mengatakan maaf lalu melakukan perpisahan nyatanya hatiku tidak rela. Aku malah mengangguk beberapa kali seolah mengiyakan hingga Rahmat tersenyum bahagia lalu memelukku cukup lama.
Aksi perdebatan kami berakhir. Rahmat dan semua penghuni rumah yang bergender pria berbondong-bondong kemesjid sedangkan kaum wanita melakukan sholat di rumah. setelah sholat aku menemui ibu Rahmat dan menjelaskan semuanya hingga keputusanku untuk meninggalkan Rahmat demi Alicia.
Dari raut wajah ibu Rahmat, jelas beliau kecewa tapi beliau juga ikut menitihkan air mata saat ku jelaskan semuanya. Beliau dengan ikhlas merelakan aku meninggalkan anaknya saat ini, beliau bahkan berjanji akan mengguatkan Rahmat karena kepergiaanku.
Setalah Rahmat dan yang lainnya kembali dari mesjid, barulah kami makan siang bersama. Seperti biasanya meja makan menjadi ajang gosip keluarga, banyak hal lucu yang kami bicarakan bahkan hal yang sensitiv.
Walaupun apa yang terjadi di depanku sangat menyenangkan, Aku hanya mendengarkan dengan hikmat, ikut tertawa dan menjawab jika di tanya. Setelah membantu Art membersihkan sisa makanan, aku menemui Rahmat yang sedang duduk santai di samping kolam renang.
Ku dekati dia dan duduk tepat di sampingya. Kini aku tahu jika rahmat sedang melakukan live di IG. Saat aku duduk bersamanya, rahmat melantunkan lagu yang di populerkan oleh bon jovi berjudul "thank you for loving me" sambil menatapku intens seolah semua lirik itu mewakili perasaanya padaku.
Tersentuhkah aku?. Seharusnya begitu. Setelah Rahmat selesai melakukan livenya, barulah aku meminjam gitar yang sedari tadi di peluknya. Bukannya melantunkan romantic sebagai balasan ungkapan perasaan Rahmat yang ku mainkan adalah lagu milik lovarian berjudul perpisahan termanis.
"Jadikan ini, perpisahan yang termanis yang indah dalam hidupmu sepanjang waktu" suara senar gitar yang selaras dengan suaraku sukses menembus pendengaran Rahmat.
"Semua berakhir tanpa dendam dalam hati, maafkan semua salahku yang mungkin.."
Tiba-tiba Rahmat merebut gitar yang kupeluk.
Dengan tatapan marah Rahmat pergi dari hadapanku. Entah apa yang sedang di pikirkan Rahmat tapi sepertinya Rahmat sadar jika lagu yang ku mainkan memiliki pesan untuk hubungan kami. Rahmat seolah lenyap di telan bumi untuk dua minggu lamanya.
*****
Beberapa hari setelah tidak mendapat kabar dari rahmat, aku mencari jalan lain. Hari ini aku berada di rumah Abi dan Om Hafiz untuk membicarakan tentang pernikahan.
Dengan menelan semua urat malu, ku utarakan keinginan dan kesiapan ku untuk menikah. Mendengar perkataan ku, Om Hafiz hanya bisa mendesah keras tapi beliau memilih diam sedangkan Abi terlihat tenang seolah sudah menebak dan sangat percaya diri jika hanya dirinya yang akan menolongku.
“Kamu yakin?” Tanya Abi padaku dengan wajah datar.
Aku memilih mengangguk dengan pelan dan perasaan malu tiada tara. Dalam bahasa bugis, situasi yang ku lakukan di sebut, “na julluanggi’ ale’na”. situasiku memang seperti itu, aku yang menyajukan diri untuk di nikahi abi secepat mungkin agar bisa menolong Alicia.
Aku sudah kehabisan akal saat ini. Hubunganku dengan Rahmat tidak jelas, aku juga tidak lagi meminta Rahmat untuk menikahi ku karena Rahmat sudah bilang rencana masa depannya berbeda dengan tujuanku saat ini.
Om Hafiz sudah menasehati ini dan itu, Om Hafiz juga menceritakan bagaimana sulitnya Tante Aira menikah muda tapi hal itu tidak menggentarkan niatku untuk menolong Alicia saat ini. Om hafiz tidak menentang tapi tidak juga mengiyakan, beliau malah berkata
“Undang-undang pernikahan sudah di revisi, dan jelas kalian tahu kalian tergolong pernikahan dini yang sama-sama belum mencapai batas usia nikah. Om bukan orang yang tepat membahas tentang hukum dan tidak bisa membantu banyak sekarang”
“Jadi?” Tanya Abi mewakili rasa penasaranku.
“Telpon Ayah Anggaramu, dan bicarakan rencana kalian. Biar Om Anggara juga yang bantu tentang pengadopsian Alicia” jelas om Hafiz dengan wajah serius.
Abi tidak berkata apa pun lagi tapi tangannya bergerak mengambil gadget di saku dan segera menelpon Om Anggara. Seperti perintah om Hafiz, setelah telpon terhubung, Abi sengaja menekan pilihan speker agar kami turut mendangar perkataan Om Anggara.
Setelah berbasa-basi sedikit, Abi akhirnya menceritakan semuanya pada beliau dan tahu apa yang Om Anggara ucapkan?. Om Anggara berkata
“Kalian yakin mau nikah?” Tanya di seberang sana
“Iya Ayah” Jawab Abi tegas.
“UU Pernikahan hanya mengizinkan adanya pernikahan jika baik laki-laki dan perempuannya berusia 19 tahun. Sekarang usia kalian berapa?” Tanyanya.
“Hampir 17 tahun” Jawabku dengan nada lirih serta ringisan di akhir kalimat.
“Itu masih ada dua tahun lagi. Sabarlah Habib, kawin ma gampang perkutut kamu nggak masuk sangkar selama dua tahun juga nggak langsung mati kok” Lawaknya Om Anggara yang sukses membuat Abi dan aku tertunduk dalam karena malu sedangkan Om Hafiz terbahak keras.
“Ini bukan soal masuk sangkar atau belum Ayah, ini tentang Alicia yang butuh pengakuan” jelas Abi dengan wajah gemas.
“Alicia siapa? Anak kalian? Lia hamil?” tanya om Anggara yang membuatku ikut gemas dengan Om Anggara.
“Bukan. Alicia itu adek tirinya Lia hasil dari pernikahan siri. Nah itu anak mau sekolah tapi nggak tercatat sebagai warga negara” Jelas Abi dengan mencoba sabar.
“Ayah tidak mengerti sebenarnya bagaimana maksud kalian?”
Maka mengalir lah cerita bagaimana bisa Alicia berada di muka bumi ini dan nasib Alicia yang terombang–ambing dengan psikologis dan kepercayaan diri yang buruk. Om Anggara mendengarkan dengan hikmat dan setelah cerita selesai, Om Anggara malah berkata
“Sekate-kate tu wanita, dia ngelahirin anaknya kayak muntahin makanan dari mulutnya saja” ujar Om Anggara di seberang sana. Om Hafiz yang sedari tadi pendengar yang baik, sekarang ikut berbicara dan berkata
“Jadi apa yang harus kami lakukan?” tanya Om Hafis kali ini.
“Sebenarnya di UU pernikahan juga memperbolehkan Dispensasi jika kedua orangtua mengajukan tapi itu pun di terima dengan alasan yang sangat mendesak”
“Alasan kami emangnya kurang mendesak ya?” kata Abi sarkis.
“kalian masih sangat muda, jelas banyak pertimbangan yang membuat permohonan kalian di tolak, kecuali” kata Om Anggara gamang. Om Anggara sepertinya sengaja menggantungkan kalimatnya kali ini, karena beliau terdiam cukup lama.
“Kecuali apa om?” Tanyaku gemas saking penasarannya.
“Kecuali kalo Lia hamil” Ujarnya lagi dengan nada lirih.
“Ha?” Ujarku syok.
“Iya, itu juga harus ada bukti kongkritnya” ucapnya lagi
“Om yakin?” Tanyaku
“Ya itu adalah satu-satu alasan logis yang bisa di terima para hakim untuk mengizinkan pernikahan saat ini”
“Ada cara lain nggak?” Tanyaku.
“Tidak” jawabnya tegas.
“Jadi Lia harus hamil dulu?”
“Ya nggak juga g****k. Maksudnya itu, kita bohong kalo kamu hamil jadi kita harus nikah secepatnya” Ujar Abi sambil menjitak kepalaku.
“Katanya harus ada bukti yang kongkrit, kalo hamil kan harus punya bukti juga dong! Ujarku tidak terima.
“Yang gituan kan bisa di manipulasi Lia dongdong” Ujarnya sambil menjitak kepalaku lagi.
“Aku mana tahu, kan aku nggak pernah manipulasi data”
“Kamu nuding aku pernah?” Kata Abi sewot.
“Husstt kalian ini, malah bertengkar. Jadi sekarang mereka harus gimana?” kata Om Hafiz menghentikan perdebatan kami.
“Tunggu aku dan Diba ada waktu ke sana deh. Kalo bicara lewat telpon susah” Ujar Om Anggara.
“Kapan?” Kata Abi.
“Nggak sabaran banget sih. Tunggu ayah bisa bujuk bunda mu dulu, kamu tahu sendiri kan, bunda mu nggak mau kalo kalian nikah muda”
“Kabari secepatnya ya om” Ujar ku sebelum sambungan telpon terputus.
Pembicaraan kami berakhir saat itu tapi nasibku malah mengambang. Lelah, letih malu dan tidak punya harga diri lagi yang kurasakan seketika aku ingat bagaimana dulu abi kekeh ingin menikahiku dan aku yang menolak tapi pada akhirnya, aku yang datang menggemis pada abi untuk di nikahi.
Ini karma? Kurasa. Menyesal pun percuma, aku tidak tahu harus menceritakan perasaanku seperti apa sekarang ini. Beberapa setelahnya, aku malah menginap di rumah Rina. Bukan tanpa alasan, aku menemui Rina.
Bagaimana pun aku dan Rina bersahabat, aku pernah berjanji membantu Rina dekat dengan Abi nyatanya janji ini tidak bisa ku tepati. Rada menyesal juga sebenarnya datang kerumah Rina, tapi sudah terlancur basah jadi aku memutuskan menyelam pada akhirnya.
Tahu apa yang kudapatkan saat aku baru saja mendekati pintu rumah Rina yang terbuka lebar?. Terdengar sebuah benda sepertinya di banting dan pecah lalu tidak lama setelahnya seorang lelaki berlari keluar dan sebuah panci melayang melewati pintu utama rumah Rina.
Seorang wanita dewasa berparas cantik bertolak pinggang tepat di depan pintu lalu mengumpati lelaki yang terlihat sedang memohon untuk di maafkan. Ingin pergi tapi sebelum itu terjadi, seseorang menarik tanganku untuk masuk dari pintu samping dan ternyata itu Rina.
Kami segera menuju ke kamarnya dan setelah sampai di kamar Rina yang sangat luas, bukannya berbasa-basi sebagai sambutan, Rina malah memelukku erat lalu menangis pilu dalam pelukanku.
Inginnya aku kesini untuk meminta maaf dan menceritakan masalahku nyatanya apa yang ku lihat sukses membungkam bibirku. Aku sempat menginap di rumah Rina selama empat hari lima malam dan setelah kejadian itu, aku tidak pernah bertemu orangtua Rina lagi.
Tanpa ku pinta, rina malah berkata orangtuanya memang seperti itu, datang hanya untuk bertengkar, dan pergi berbulan-bulan lamanya. Tanpa kabar bahkan duit seperser pun tidak pernah lagi mereka berikan ke pada Rina.
Rina tidak memanggil wanita yang melahirkan sebagai ibu atau pun sapaan sejenisnya, bahkan Rina dengan entengnya memanggil wanita itu dengan nama. Aneh? Kayaknya iya!!.
Setelah ku telisik lebih dalam, nyatanya tidak, karena itu atas permintaan wanita itu sendiri. Rina selama ini di besarkan oleh kakek dan neneknya. Peran orangtua Rina dapatkan dari mereka hingga mereka meninggal dunia.
Kedua orangtua sudah lama bercerai dan mereka sudah punya keluarga yang baru lagi. selama ini, kedua manusia itu sibuk dengan rumah tangga mereka masing-masing tanpa memperdulikan Rina lagi.
Orangtua Rina sudah tinggal dengan keluarga mereka masing-masing sedangkan, Rumah yang di tempati Rina adalah hasil warisan kakek dari ibunya Rina untuk Rina. Complicated? Sangat malah, saking rumitnya aku tidak tahu bagaimana menceritakannya pada kalian.