Tok
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu mengusik tidurku dan suara itu berakhir tapi sebuah benda seketika menutupi seluruh tubuhku. Ketika aku tersadar dan bergerak menyingkirkan benda itu, yang kulihat malah mata abi yang melotot tajam padaku.
Baru terbangun dengan paksa adalah hal yang paling ku benci tapi yang paling abi benci adalah saat aku tidak menutup kepalaku dengan hijab dan itu baru ku sadari saat ku dengar Rahmat berkata
“Posesif iya tapi selingkuh juga iya, heran gue sama lo bi”
“Bangun. udah telat banget sholat ashar ini, pasti gak sholat dzuhur!” Tuding Abi begitu saja saat aku masib berusaha mengngumpulkan kesadaranku.
Aku baru saja berniat mengganti posisi untuk bangun dan mengerjakan sholat tapi abi mencegat dan berkata
“Tunggu” Ujarnya memerintah lalu bergerak menggambil mukenaku yang tergeletak di atas lantai yang di lapisi karpet.
Sampai saat ini, aku tidak mengerti apa yang membuat Abi segitu marahnya saat aku tidak menutup kepala lalu membiarkan rambutku terlihat. Jujurnya aku bukan orang sedari dulu di ajari pake hijab tuh bisa langsung nurut dan setelahnya selalu pake.
Hijabku tuh kayak tirai wartek di bulan ramadhan, dan kalian yang berhijab pasti bisa merasakan gimana gerah sekaligus tersiksanya saat menggunakan hijab di dalam ruangan.
Hijab di buka, pakai daster tipis dan mamerin ketek terus ada angin sepoi-sepoi itu adalah kenyaman hakiki yang tidak bisa di dustakan.
Pakaian dan tampilan ku adalah sesuatu hal yang paling sering aku perdebatkan dengan Abi sampai saat ini. Dia paling sering mengomentari pakaianku yang katanya terlalu press bodylah, warnanya terlalu ngejrenglah tapi biarpun sering mendebatkan hal yang sama dengan Abi, hasilnya juga selalu sama, yaitu aku selalu kalah dengan asumsi abi.
Aku baru saja selesai menggerjakan sholat dan sekali lagi, aku mengimami Rina. Jika sebelumnya cuman di saksikan oleh Ilmi, sekarang mau abi, Rahmat dan Dito menatap kami nanar seolah itu adalah hal yang sangat menakjubkan untuk di tonton.
“Apa’an si?, kalian liatin kami sholat udah kayak lihat adegan tinju sampai bunuh-bunuhan!” Protesku bersiap mau melepas mukena tapi Abi lebih dulu berkata
“Jangan buka. Hijab kamu dimana?” Intrupsi abi padaku.
“Nggak tahu” Jawabku acuh tapi tetap menggikuti perintah Abi.
Aku memilih membaringkan tubuhku di atas sujadah sedangkan Abi malah membuka tasku tanpa beban sama sekali padahal di sana jelas dia bisa melihat pakaian dalam ku tapi dia seolah acuh dan tidak terusik sama sekali.
“nih” Katanya memberiku handuk yang di atasnya sudah ada pakaian sekaligus hijabnya.
“Dalamannya?” tanyaku ikut santai dan acuh.
“Ada di dalam lipatan baju gih mandi, kami nunggu kalian di lobby” Ujar Abi sembari bergerak dan di susul Rahmat dan Dito di belakangnya.
“Gilagila, kalian udah sampai di tahap saling lihat dalaman?” Ujar Ilmi histeris saat pintu kamar sudah tertutup kembali.
“Kami tumbuh dan besar bareng ya, gitu-gituan udah biasa”
“Tapi kalian gak sampai bertukar keringat kan?”
“Maksud lo?”
“Ya enggak, ada teman gue yang udah sering sekamar, tukaran keringat egh ujung-ujungnya di tinggal nikah ma orang lain. Gue pasti ngakak banget kalo itu kejadian ma lo”
“Mulut lo pedes banget dah” Kataku jengkel.
“Udah agh mandi gih” Kata Ilmi.
Ya aku yang pertama kali mandi, Rina yang kedua dan yang terakhir Ilmi. Kami baru saja selesai dan meninggalkan kamar saat kami selesai menggerjakan sholat isya.
“Kalian mandinya gimana sih, sekarang udah jam berapa coba?” Semprot Rahmat saat mendatanggi kamar kami lagi.
“Mandinya senormalnya lah cuman emang prosesnya lama” Balas Ilmi.
“Heran gue, kalian nyabunin sekampung juga bisa kalo sampai tiga jam lebih” Kata Rahmat lagi.
“Egh nih pinggang serasa mau patah ya, nggak usah banyak bacot” Balas Ilmi ketus
“Emang kalian doang?” Protes Rahmat lagi.
“Mat udah, Ilmi lagi dapet jadi sengsi. Aku lapar nih, di bawah ada makanan nggak?” kataku mengalihkan pembicaraan
“ada yuk!!” Kata Dito sembari melangkah keluar kamar.
Aku dan lainnya hanya mengekori hingga sampailah kami di lobby utama. Hotel Kami tempati sebenarnya hanya hotel kecil berbintang dua. Hotel ini terletak di jalan Jendral Sudirman no 160 pinrang.
Bangunan Hotel sebenarnya tidak terlalu besar tapi di belakang hotel yang seharusnya menjadi tempat parkir, ternyata juga di jadikan tempat wisata kuliner.
“Egh makan di belakang aja yuk. Variannya lebih banyak” Kata Ilmi.
“Di sini gratis, di belakang harus bayar” Kata Dito menjelaskan.
“Bodoh amat. dingin-dingin gini tuh enaknya makan yang panas dan berkuah, ini malah kering dan yang berkuah cuman capcay lagi. Gak berserela gua” Kata Ilmi.
Ilmi itu tipikal orang yang tidak suka makan sayur. Dia paling benci dengan sayur yang bernama sawi dan brokoli. Capcay yang ada di hadapan kami, ada kedua jenis sayuran itu, maka semakin tidak berselerahlah Ilmi.
Karena perkataan Ilmi itu jadilah kami makan di sana dan memang setelah kami tiba di lokasi itu, kami bisa melihat deretan kedai yang saling berdampingan di sisi kiri dan kanan kami. kami bisa menemukan banyak varian makanan.
Prosesnya cukup rempong juga sebenarnya karena, kami harus memilih kedai makanannya terlebih duluhu, memesan makanan, setelah menyebutkan pesanan kami harus membawa kutansi pembayaran ke kasir, dan tahu kasirnya di mana?, di pintu utama kami masuk.
Kesannya tuh kayak kami di paksa untuk kembali ke titik nol dan setelah itu barulah kembali ke titik finish. Sumpah rada nyebelin sebenarnya menurutku.
Setelah membayar dan membawa bukti pembayaran ke kedai itu lagi, barulah dia menggerjakan pesanan kami, rempong nggak sih? Jelas. Walaupun kami sempat mendengus keras karena peraturan itu buktinya penggunjung lain tidak ada masalah jadi kami juga mencoba santai-santai saja.
“Jadi rencana untuk besok apa?” tanya Abi di sela-sela waktu kami menunggu pesanan kami.
“Tempatnya Tante Dewi jauh nggak dari sini?” kataku malah kembali bertanya.
“Kayaknya nggak juga. Aku sudah minta anak Tante Dewi jemput kita besok disini”
“Aghh?!”
“Jangan bilang kamu nggak tahu rumah tantemu” Kata Dito.
“Tahu tapi takut nyasar, kota Pinrang tuh kelihatannya aja kecil tapi sebenarnya banyak lorong apa lagi pas ke rumah Tante Dewi” Jelas Abi.
“Kamu udah berapa kali ke sini emang?” Kataku menanggapi Abi.
“Udah tiga sampai empat kali”
“Masih sering nyasar?”
“Mmm” Gumam Abi menjawab pertanyaanku.
“Rumah Mama..” Kataku ingin kembali bertanya tapi abi memberi syarat untuk aku diam lalu memperlihatkan gadgetnya.
Bukan tanpa alasan abi melakukan itu, karena di lokasi kami sekarang ini juga menyediakan panggung dan ada life show untuk mereka yang sudah di bayar menghibur penggunjung sekaligus penggunjung yang ingin memperdengarkan suaranya.
Abi sudah menepi untuk menerima telpon, Dito dan Rahmat sedang asyik dengan game mereka, Ilmi sedang siaran langsung di IG sedangkan aku baru menyadari kalo Rina memperhatikan aku sedari tadi.
“Kenapa?” Tanyaku dengan suara sedikit besar agar terdengar oleh Rina.
“Aku semakin iri sama kamu” Jelasnya singkat.
“Sedari tadi kayaknya kamu bilang iri sama aku, kamu mau iri bagian mananya?”
“Kamu di kelilinggi orang yang benar-benar tulus sama kamu, dan kamu masih bisa tersenyum padahal batinmu sedang terluka, emosimu sedang kacau, mentalmu down tapi kamu masih bisa tersenyum tulus” Kata Rina panjang lebar dengan suara sama kerasnya.
“Itu bego dan munafik namanya” Celetup Ilmi seketika
“Maksudnya?” Tanya Rina
“Kalo sedih tuh sedih aja. Kamu terlihat rapuh, nangis karena tersakiti, dan pergi karena lelah bertahan tuh bukan karena pecundang tapi emang karena lia nya g****k jadi bisa lupain dan setelahnya kayak gak terjadi apa-apa” Kata Ilmi menyebutkan semua yang tidak suka padaku.
Tersinggung?, jawabannya tidak. Aku malah merasa Ilmi sudah sangat menggenalku, selain itu aku seketika menggingat mama. Dulu aku sering sekali mengatakan mama bodoh karena bertahan dengan pernikahan yang amburadul dan dengan mudahnya memaafkan semua kesalahan bapak padahal itu sudah sangat fatal.
Lihatlah aku sekarang, apa bedanya aku dengan mama coba?. Memang terkadang otak kalah dengan hati tapi entah kenapa aku tidak bisa menerima jika aku sama dengan mama. Dulu aku akan sangat bangga mengatakan aku seperti mama tapi sekarang?.
Selama bisa memeluk mama, aku merasa kasih sayang mama saat itu adalah selamanya, tapi siapa yang tahu selamanya berapa lama?. Aku masih berperang dengan diri sendiri tapi seketika Abi mengusik dan berkata
“Abi tadi nelpon kamu, tapi katanya nomormu ngak aktif”
“Oghh iya, sengaja emang” Jelasku singkat.
“Abi bilang, dia udah transfer uang ke rekening kamu, Abi juga bilang biar kamu nelpon ke Abi” jelasnya lagi.
“okey” Jelasku santai sembari menerima pesananku dari pramusaji.
“Lia” panggil Rahmat.
“Ya” Jawabku sembari menikmati minuman yang ku pesan dari kedai Sejiwa.
“Kita sebenarnya ke sini beneran liburan atau kamu ada niatan lain?” Tanya Rahmat dengan tatapan intens dan siap mengintrogasi.
“Mmm, gue mau ketemu nyokap. Setelahnya kita liburan”
“Ketemu nyokap lo, ngubah mood lo nggak?”
“Maksudnya?”
“Setiap berurusan dengan keluarga lo, lo suka mellow. Gak seru banget kita niatnya liburan tapi lo nangis mulu kerjanya”
“Gue gak janji tapi gue dah siap dengan kenyataan buruk itu”
“Kenyataan buruk gimana?” Celetup ilmi.
“Nyokap gue mau nikah lagi tapi gue tahunya cuman lewat Facebooknya. Itu juga karena gue iseng”
“Jadi maksud lo, lo ke sini cuman mau minta kejelasan ma nyokap?” Kata Rahmat.
“Yaps. Gua mau tahu aja, gue masih anaknya atau udah ngak”
“Hussstt jangan soudzon gitu deh” Tegur Dito.
“Dan lo tahu semua ini tapi ngak bilang-bilang kami gitu?” Kata Rahmat balik menuding Abi yang sedari tadi memilih diam saat Rahmat menggintrogasiku.
“Yaps” jawab abi acuh tak acuh pada Rahmat.
“Jadi kalian nyesel nih udah ikut ke sini?” Tanyaku sambil menatap wajah mereka satu-persatu.
“Nyesal sih ngak, cuman tahu faktanya belakangan tuh nyesek aja gitu” jelas ilmi dengan wajah suntuk.
“Kenapa nggak bilang dari awal sih?” Kata Rahmat lagi.
“intinya ya, siapa sih yang mau ngumbar-ngumbar aibnya kemana-mana. Lagian aku cuman bilang mau ke Pinrang, kalian ngotot ikut ya ini bukan salah gue juga” Kataku menatap Rahmat dengan tangan yang di lipat di depan d**a.
“Okey gua salah. Tapi kenapa ngomong sama Abi bisa aku-kamu’an sedangkan sama kita-kita pake lo-gue’an?” Kata Rahmat mengganti bahan pembahasan.
“Kebiasaan kali” Jawabku santai dan menerima makanan dari pramusaji begitu pun dengan yang lainnya. Ada jeda sesaat, setelah itu Rahmat sekali lagi berkata
“Rin, lo sama Abi ngomongnya kamu-aku’an juga?”
Rina tidak menjawab tapi kepalanya yang menggeleng sudah cukup menjawab pertanyaan kami.
“Pilih kasih banget”
“Kok sewot” Balasku.
“Ngingetin aja, kalo udah putus ya putus aja. Nggak konsisten banget, kan Abi juga sekarang sama Rina dan lo sama gue. SEKARANG gue tanya lo nganggap gue apa sih?”
Aku seketika diam begitu pun dengan yang lainnya. Perkataan Rahmat kali ini sukses membungkam dan menggundang senyap di antara kami padahal di sekitar kami sangat penuh dengan suara-suara alat band, orang yang menyanyi, mereka yang bercanda, suara kendaraan dan masih banyak yang telingaku dengar tapi seolah aku di kurung di ruang yang emang di desain kedap suara begitu.