Panggilan adzan Shubuh sudah di lafal kan oleh Mu'adz sin, suara itu akhirnya menggelegar di langit yang masih gelap. aku tadi setelah sholat tahajud sampai saat ini, aku masih duduk memangku alqur’an dan melafalkan ayat-ayat suci sembari menunggu iqomah di lantunkan untuk mengerjakan sholat.
Kubangunkan Rina yang sangat nyenyak dengan tidurnya. Ternyata cukup sulit untuk membangunkan Rina, saat ku bangunkan, Rina malah menarik selimut untuk menutupi seluruh badannya. Tidak berhasil membangunkan Rina, aku menghadap ke ilahi sendiri.
Langit mulai terang, suara telpon mengusikku saat aku selesai melafalkan doa. Setelah ku lihat ternyata yang menelpon Om hafiz. Sejak semalam aku mengaktifkan handphone, seperti biasa om Hafiz selalu mengingatkan untuk sholat, serta menasehati agar aku selalu berpikir positif dengan apa yang ku alami.
Ketika sambungan telpon sudah terputus, aku bergerak ke arah jendela. Ku pandangi langit pagi setelahnya ku perhatikan jalan yang masih terlihat masih sepi, hanya sedikit kendaraan yang berlalu lalang.
Pikiranku seketika melayang pada satu kejadian yang membuatku sadar kalau hidup itu anugrah allah yang harusnya selalu ku syukuri hingga hari ini. Dulu aku sering sekali bertanya pada diri sendiri dan pada om Hafiz.
Saat aku masih berseragam putih merah, aku merasa jika tuhan tidak adil padaku hingga menangisi semua cobaan dan menyalahkan allah, lalu datanglah om hafiz memelukku lembut dan menasehati ku. Aku berkata
“Kenapa Allah selalu memberiku cobaan yang serasa tidak ada habisnya” ujar ku sambil terisak dalam pelukan om Hafiz. Om Hafiz lalu berkata
“Karena Allah tahu kalo Lia bisa, Lia mampu menghadapinya makanya cobaan ini di amanahkan sama Lia”
“Derita kok amanah” Protesku.
“Hehehe” Om hafiz tertawa mendengar cemohanku lalu berkata
“ Gini deh, sederhananya gini. Kalo lia mau naik kelas, lia harus ujian dulu apa tidak?” Tanyanya dengan tatapan intens pada mataku.
“Salah” Kataku
“KOK salah” Tanyanya dengan dahi yang berkerut.
“Kalo mau ujian harus sekolah dulu, sekarang kan lia masih libur sekolah” Kataku polos pada saat itu.
“Hehehe iya. Kalo lia udah sekolah lagi dan mau penaikan kelas deh kalo gitu” Ralat Om Hafiz dengan senyum tipis di bibirnya.
“Mmm iya” Jawabku.
“Nah sama, untuk jadi manusia baik, lia harus menghadapi ujian dan cobaan ini dulu” kata om hafiz menasehati dengan lembut.
Aku seketika terdiam tapi pikiranku melayang entah kemana saat itu, tapi om hafiz menggintrupsi dan berkata
“mau dengar dengar kisah nabi Ayyub tidak?” tanya om Hafiz masih menatapku intes yang masih dalam pelukannya.
“iya” jawabku ikut menatap matanya.
“di ceritakan bahwa nabi ayyub memiliki harta yang banyak dengan bermacam jenisnya, seperti : hewan ternak, b***k, dan tanah. Ia juga memiliki istri yang saleh dan keturunan yang baik” jelas om Hafiz lembut dan pandangan kedepan seolah menerawang ingatannya kembali.
Aku memilih diam dan mendengarkan apa yang di katakana om Hafiz dengan hikmat. Sekali lagi om Hafiz berkata
“Allah Subanaahu wa ta’ala ingin menggujinya, apabila allah mencintai suatu kaum, maka dia menguji mereka” katanya lagi tapi ada jeda, setelah menarik nafas om Hafiz melanjutkan ucapannya “barang siapa yang ridha dengan ujian tersebut, maka dia mendapatkan keridhaan-nya dan barang siapa yang marah terhadap ujian tersebut, maka dia mendapatkan kemurka-nya” jelas om hafiz.
Aku masih menyimak dan memikirkan setiap kata om Hafiz tapi seketika om hafiz bertanya padaku. Om Hafiz berkata
“lia mau jadi orang yang di cintai allah atau di murkai allah?”
“di cintai allah lah” jawabku spontan.
“nah makanya Lia harus ridha dan tetap bersabar bisa?”
Aku kembali diam untuk menanyakan pada diriku sendiri. Apa bisa aku melakukannya, apa bisa aku sabar menghadapi semua cobaan yang lebiih berat di hari esok, Atau apakah mungkin aku membenci allah dan menjahui allah dan melalaikan semua perintahnya.
Aku masih bertanya-tanya dan om hafiz malah berkata
“om lanjutin cerita atau udahan?” tanya om Hafiz memastikan.
“lanjutin dong om” kataku.
“Cobaan Nabi Ayyub di mulai ketika hartanya yang banyak seketika habis, anak-anaknya meninggal dunia, semua ternaknya binasa dan Nabi Ayyub ‘alahis salam sendiri menderita penyakit yang sangat berat.”
“sakit apa?” tanyaku penasaran
“Di ceritakan bahwa tidak ada satu pun dari anggota badannya yang tidak terkena penyakit selain hati dan lisannya yang ia gunakan untuk dzikir kepada allah subbhanahu wa ta’ala”
aku masih saja diam dan tatapanku enggan beralih dari om hafiz.
“Hari pun berlalu, kecuali penderitaan nabi Ayyub. Penderitaan nabi Ayyub semakin berat, dan saat penderitaan yang dialaminya semakin berat, maka kerabatnya menjahuinya, demikian pula dengan kawan-kawannya. Tapi nabi Ayyub dan Istrinya tetap sabar menhadapi masalah hingga allah menghentikan cobaanya dan menggantikan semua pada Nabi Ayyub dengan hal yang jauh lebih baik lagi” Jelas om Hafis.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu menghentikan kegiatanku menggenang masa lalu bersama om Hafiz. Seketika aku bergerak mendekati pintu dan ku lihat abi serta yang lainnya sudah terlihat rapi dan wangi.
“belum mandi pasti?” tebak dito yang melihatku masih menggunakan mukena.
“sudah kok” jawabku.
“masuk” kataku sembari bergerak dan memberikan mereka akses untuk masuk ke kamar milik kami.
Baru ku sadari jika rina dan Ilmi ternyata juga sudah selesai bersiap. Sekarang ini hanya aku yang belum berbenah untuk melakukan misi kami yang tertunda karena rasa lelah setelah mendorong mobil.
Mereka semua menunggu ku di lobby utama karena tidak jauh dari lokasi resepsionis, di sanalah hotel menyiapkan makanan untuk para tamu seperti kami.
Mereka berniat untuk sarapan terlebih dahulu katanya selain itu, mereka juga akan menunggu anak tante dewi dan Om adi disana.
Anak tante Dewi bernama Firman, Firman adalah sosok yang baik tapi juga judes dan kadang menyebalkan menurutku. Oyah satu hal yang hampir lupa ku ceritakan, seingatku om Hafiz pernah bercerita jika tante aira itu anak ketiga dari tiga bersaudara, dan yang paling pertama menikah di banding saudara-saudarannya.
Harusnya karena pertama kali menikah, otomatis memiliki anak akan lebih cepat di banding kedua kakak-kakak tante aira, nyatanya tidak. Abi tetap menjadi cucu ketiga dari keluarga tante aira sedangkan menjadi cucu pertama dari keluarga om Hafiz.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat dua pulih lima menit saat Firman datang. Kami sempat makan dan bercerita panjang tapi bukan menggenai kehidupan dan percintaan mamaku melainkan objek wisata yang asyik dan bisa kami jangkau untuk beberapa hari ini.
Saat kami menuju parkiran, aku baru tahu kalo firman datang menggunakan mobil. Aku seketika berkata
“aku ikut mobil Firman ya, ada yang harus ku bicarakan secara pribadi sama firman” jelasku pada semuanya. Untunglah mereka menggerti sehingga membiarkanku se mobil dengan Firman.
Aku sudah duduk di atas mobil bersama Firman, mobil mulai melaju dan meninggalkan parkiran mobil. Tidak bisa menahan rasa tanyaku lagi, aku berkata
“rumah kontrakan mamaku jauh tidak dari rumahmu?” tanyaku dengan pandagan intens pada firman yang mengendarai mobil.
“tidak juga kenapa?” tanya firman dengan pandangan lurus kedepan.
“kami, maksudku sebenarnya ke sini pengen ketemu dan tahu kabarnya” akuku jujur.
“dia baik-baik saja kalo kamu mau tahu”
“iya saking baiknya sudah mau nikah kan?” kataku sarkis.
“mmm”
“laki-laki itu masih keluarga mamamu kan?” tanyaku lagi
“mmm” gumamnya menjawab tanyaku sekali lagi.
“kamu akrab dengan laki-laki itu?”
“tidak telalu” jawabnya singkat sembari membelokkan mobil memasuki lorong yang hanya bisa di lalui satu mobil.
“tapi dia baikkan?” tanyaku.
“mungkin, kami hanya saling tahu” jawabnya santai.
“makudnya?”
“dia itu petugas kesehatan yang sering di tugaskan di berbagai tempat, aku baru tahu dia saat dia pulang ke Sulawesi dan menetap di sini”
“ooo” kataku dengan rasa penuh kekecewaan.
“kami ngak ngerestu pernikahan mereka?” tanya Firman padaku.
“boro-boro merestui tahu mereka bakal nikah aja dari facebok kok” jawabku masih dengan nada lesu.
********
Mobil sudah berhenti di rumah yang bisa di bilang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Rumah itu bertingkat dua dan di sekitarnya di apit rumah berbahan kayu. Kami tidak langsung turun dari mobil, firman lalu berkata
“kalian lost kontak?” tebaknya begitu saja dan sayangnya itu sangat benar.
“mm setelah pindah ke pinrang, aku seperti kehilangan sosok mama”
“jadi mau mu menemuinya apa? batalin pernikahan mereka? “ tanya lagi.
Aku memilih menggeleng terlebih dahulu setelahnya berkata “aku cuman mau tahu baginya aku masih anak atau sudah di buang”
“yakin mau tahu jawabannya?” tanya dengan posisi tubuh yang di miring seluruhnya hingga bisa saling berhadapan denganku.
“sangat” kataku penuh keyakinan yang sialnya mulai memudar.
“sudah siap?”
“ku rasa tidak akan siap tapi kalo udah batas aku tahu harus berada di mana” jawabku dengan wajah yang di tundukkan dalam.
“jujurnya aku kasihan sama kamu tapi kamu tidak pantas di kasihani” katanya menatapku intens.
Ku angkat kepalaku dan ikut menatap matanya intens. Aku tidak sempat berperang dalam pikiranku karena mulutku sudah berkata
“maksudnya?” tanyaku menelisik dia.
“kamu kuat, kamu hebat. Ada atau tanpa mamamu kamu bisa berdiri tegar, sekarang ini memang sepertinya orang lain lebih baik di banding keluarga tapi aku lebih suka menggabmu sebagai keluargaku” kata Firman gaman dan meninggalkan aku yang terduduk di mobil dengan pikiran kacau karena perkataan firman yang aneh.
Tok
Tok
Tok
Ketukan di jendelah sebelahku akhirnya menyadarkanku. Aku ikut turun dari mobil dan menggikuti langkah yang lainnya yang sudah terlebih dulu memasuki rumah milik orangtua firman.
Mereka menyambut kami dengan penuh suka cita, apa lagi saat tante dewi memelukku. Aku serasa punya rumah baru yang sudah sangat lama ku lupakan selama ini. Ku akui pelukan om Hafiz lembut tapi pelukan seorang wanita yang menyayanggi tulus kalah lebih nyaman.
AKu rindu mama.
Aku rindu kasih sayangnya.
Aku rindu semua tentang wanita itu.
Rumah milik Keluarga om Adi dan tante dewi ternyata cukup asri, banyak bunga yang ada di halaman depan. Saat memasuki rumah itu, rumahnya terlihat sangat indah dan elegan menurutku. Ruang tamunya memang minimalis tapi nyaman dan sofanya sangat empuk.
Sebelumnya kami sempat bercerita panjang lebar hingga waktu sholat duhur tiba. Yang pria pergi ke masjid sedangkan kami yang wanita menetap di rumah.
aku dan rina menggerjakan sholat secara bergiliran tapi tidak dengan tante dewi dan ilmi, ternyata tante dewi juga sedang masa priodenya.
Tidak lama kami selesai sholat dan bercerita sedikit, akhirnya baik abi, om Adi serta yang lainnya pulang. Banyak makanan yang tante Dewi kami siapkan, salah satunya adalah makanan khas kota pinrang yang bernama palakko.
Palakko ini adalah sebuah makanan yang bahan utamnya adalah itik. Itik yang di masak lalu di campur dengan rempah-rempah yang cukup banyak hingga menyatuh dengan daging itik.
rasanya enak, dan akan tambah enak jika di sajikan dengan nasi hangat, sambel yang pedas serta itiknya sedikit berkuah.
Kami semua menikmati makan dengan lahap saking lahapnya Rahmat bahkan tidak sadar sudah makan dua piring hingga membuatnya begah dan tidak bisa meninggalkan tempatnya karena kekenyangan.
Setelah makan, kami berinisiatip membantu tante Dewi dan di saat membantu tante dewi itulah, aku bisa kembali menggusik tentang kehidupan mama selama di sini. Tante dewi berkata
"mamamu bekerja di rumah sakit sebagai clening servis sedangkan Alicia di titipkan di play grup sampai mamamu pulang kerja"
Aku memilih diam saja.
"calon suaminya adalah kepala rumah sakit umum sekarang ini, mereka akan menikah dua bulan lagi" kata tante dewi tanpa ku minta.
"mama dan Alicia bahagia tidak selama di sini?"
"mmm tante rasa bahagia" jawab tante dewi lagi sembari menyusun piring yang selesai ku cuci.
"Alicia bagaimana, dia baik-baik saja kan?"
"tante rasa iya. Orangtua calonnya mamamu sangat suka dengan Alicia jadi
Alicia beberapa kali di titip sama mereka"
"mereka tahu kalo Alicia ini bukan anak kandung mama?"
"tidak"
Mendengar perkataan tante dewi, seketika aku terdiam kaku. Aku kini membiarkan pikiranku yang berbicara di dalam sana hingga pekerjaan kami selesai.
Kondisi dapur, dan meja makan akhirnya bersih kembali, aku dan tante dewi akhirnya kembali kedapur untuk bergabung dengan yang lainnya.
"wi, mau ketemu mamamu kapan?" tanya om Adi padaku.
"kata tante dewi, mama kerja di rumah sakit, emang udah pulang jam segini?" tanyaku balik.
"sudah kayaknya, tadi pagi om lihat mamamu menuju rumah sakit berarti shift pagi, jam segini biasanya sudah di rumah dia" kata om Hafiz lagi.
"oo sekarang aja deh om"
"ya audah yuk" ajak om Adi.
"tungu om" cegatku saat om adi akan bergerak dari duduknya.
"Kenapa?" tanyanya binggung.
"bisa ngak kalo lia sendiri yang nemuin mama. Maksud lia, om cuman nganterin sampai di luar dan nunggu lia dan mama selesai bicara"
"setelah itu?"
"mmm kata kak firman, kak firman mau ngajak kami sore ini ke permandian sulili" jawabku ragu.
"kamu yakin?"
"iya"
"okey, jadi yang lain nunggu di sini kan?"
"iya om" kata mereka serempak.
Aku dan om Adi akhirnya meninggalkan rumah dan berjalan menuju rumah kontrkan mama. Tidak butuh lama, akhirnya kami sampai di rumah berpetak yang menjadi tempat mama dan Alicia bernaung selama ini.
Rasa bimbang ragu datang saat aku mendekati pintu rumah sebenanarnya, tapi Aku takut akan menyesal setelah mengetahui kenyataannya tapi aku takut kalau tidak mengetahui kenyataanya aku akan terus merasa tidak tenang. Perasaan itu meserasa menjeratku semakin aku ingin kabur, nyatanya aku sudah berdiri di sini.
Sesuai kesepakatan, om Adi hanya menunggu di depan pintu. Ketika ku ketuk pintu beberapa kali dan menggucapkan salam sebanyak dua kali, pintu terbuka dan terlihatlah sosok wanita yang sangat ku rindukan selama ini.
Wanita itu terpengarah menatapku sendangkan aku hanya bisa terdiam kaku melihatnya masih menggunakan seragam kerjanya. Aku yang lebih dulu membuka suara dan berkata
"saya boleh masuk?" tanyaku canggung.
Wanita itu tidak bersuara tapi membuka pintunya makin lebar. Dia baru saja akan membuka mulut dan menegur om adi tapi aku lebih dulu berkata
"om Adi di luar saja, ada yang saya ingin bicarakan secara pribadi dengan anda" ujarku dengan intonasi datar padahal sedari tadi aku menahan tanggisku sedari tadi.
Sekali lagi wanita itu tidak bersuara, dia hanya mengganguk dan membiarkan pintu tetap terbuka sebagai bentuk ke sopanan. Aku di tuntun masuk ke dalam dan memperlihatkan ruang tamu yang kecil tapi bersih dan nyaman.
Wanita itu masuk entah kemana tapi saat dia kembali, dia membawa segelas teh hangat untukku. Dia kini sudah duduk saling berhadapan denganku tapi dia tidak kunjung membuka suara.
"apa kabar?" tanyaku aneh.
"baik" jawabnya singkat dan menunduk.
Kami berdua kembali terdiam cukup lama.
Entah apa yang dia pikirkan dan apa yang membuatku merasa sangat canggung padanya, Kami dulunya sangat akrab, kami layaknya sahabat berstatus ibu dan anak, hingga akhirnya terbentang jarak bernama jeda yang sama-sama mendiamkan kami.
Jeda yang membuatku menyadari bahwa didalamnya adalah hal yang sangat menyakitkan, jeda yang membuatku mengerti bahwa ada tanpanya waktu seperti membeku.
jeda yang membuatku tahu dia punya ruang istimewa di dalam hatiku, tetapi jeda juga mengajarkan aku jika bukan hanya aku yang bisa masuk dan menetap dihatinya, jeda ternyata mampu menyingkirkan aku yang pernah ada didalam sana.
aku ingat pribasa yang bilang "Didunia ada tembok yang tidak tembus oleh angin." Ku rasa memang seperti itu
ibaratnya sebuah tembok telah dibangun dan berdiri kokoh diantara kami, selain itu aku juga seakan ada diujung jurang yang jika aku bergerak sedikit saja akan membawaku kejurang terdalam selain neraka.
Dalam pembicaarn kami, Pada akhirnya kisah ini berakhir menjadi orang asing yang mengetahui semua rahasiaku. Semua pengakuan yang mama ucapkan membuatku tidak bisa berka-kata lagi, sebisa mungkin aku menahan diri untuk tidak menanggis.
Menurutku, tanggisanku bagi orang yang tidak peduli sedikit pun hanya akan membuatnya semakin senang. Sungguh aku tidak menggerti dengan kondisi keluargaku yang benar-benar hancur.
Aku ingat ketika mama pernah bilang kalo mama sudah memberi bapak kesempatan, sekarang kesempatan itu sudah berlalu dan harus di gantikan karma yang harus bapak jalani. Duka mama sudah menjadi bahagia dan dia tidak ingin kembali menenggok ke belakang akan masa kelam itu.
Hal tentang bapak masih rasional bagiku tapi tentang aku yang menggingatkan tentang masa lalu itu yang membuatku serasa di hantam sadis oleh fakta yang baru ku ketahui. Fakta itu yang membuatku semakin bungkam.
Banyak hal yang tidak bisa ku jelaskan, dan kuterima dengan baik. Aku hanya bisa tertunduk pasrah dan mencoba menggiklaskan semua. Aku marah, aku kecewa, aku sedih dan ingin meraung untuk melepaskan sesak di d**a tapi tidak kulakukan.
Setelah mendengar penjelasan mama, akhirnya kau merasa cukup dan rasanya sudah tidak ada yang perlu ku perbaiki dengan mama. Dalam ke bungkaman, aku memilih meninggalkan rumah itu bahkan aku lupa jika om Adi bersamaku.
Ku pacu langkahku menuju jalan yang sudah ku hapalkan. Otakku mencoba mengerti situasi mama, ragaku mencoba menggiklaskan tapi tidak dengan sukma dan hatiku.
Baru saja aku akan memasuki rumah om Adi, seketika pandanganku buram, tubuhku serasa tidak memiliki tulang di susul rasa sakit sekejab dan akhirnya aku tenggelam dalam kegelapan itu.