Kisah kita memang tidak begitu indah tapi, setidaknya dia pernah jadi alasanku bahagia setiap hari. Tak perlu saling membenci, mari berjanji satu sama lain untuk tidak saling menggusik, mari hidup tenang tanpa melibatkan masa lalu.
Seperti itu keputusanku sekarang ini. Setelah incident aku pingsan dan menggundang kepanikan baik untuk semua orang, di sinilah aku.
Aku berada di salah satu objek wisata bersama yang lainnya. Awalnya mereka berniat membatalkan karena jelas tahu kalo aku tidak sedang kondisi baik-baik saja tapi setelah aksi maksa memaksa di sinilah kami.
Namanya permandian air panas sulili. Airnya memang panas dan sangat nyaman untuk merilekskan tubuh tapi sayangnya tidak membuatk hatiku menjadi lebih baik. Aku berenang ke sana-kemari tanpa ragu.
Kondisi tempat ini cukup sepi karena bukan hari libur. Kata penjaganya, alias petugas yang merawat kolam, tempat ini paling ramai kalau hari minggu apa lagi libur sekolah. Sekarang ini hanya ada kami berenam dan beberapa kios pedagang yang terbuka.
Beberapa kali aku melintasi kolam renang tanpa lelah itu pun berhenti saat abi memaksaku untuk berhenti dan naik dari atas kolam. Abi berkata
"bodoh boleh, bunuh diri jangan"
"yang lagi bunuh diri siapa coba?"
"aku tahu kamu marah sama mamamu, tapi jangan ngerugiin diri sendiri, kamu tadi udah pingsan terus maksain diri berenang, itu namanya apa?" ujar abi menahan diri untuk meneriaku dengan suara semakin keras.
"aku tuh cuman butuh pelampiasan bi, aku capek terpuruk terus nanggis-nanggis ngak jelas" kataku menunduk dan memainkan air.
"okey aku tahu kamuu sedih tapi banyak cara yang lebih baik, sekarang kita lagi liburan, nikmatin dan saat kita pulang, tidak penyesalan lagi di hatimu"
"mmm kau benar" kataku gamang.
"kamu kan bilang, kalo tujuan utamamu cuman mau tahu kalo kamu masih anaknya atau bukan kan?"
"mmm" gumamku.
"sekarang udah tahu?" tanya abi sambil tangannya memaksa aku wajah dan mataku bersitatap dengannya.
"udah" jawabku lirih.
"jawabannya apa?"
"masih tapi di harapin mati"
"husst jangan ngawur kamu" kata abi kesal.
"aku katanya harus ngerti posisinya kami sekarang, aku sudah besar dan harus menentukan pilihanku sendiri"
"maksudmu mamamu lepas tangan sama kamu?"
Aku memilih diam dan menggalihkan pandangan ke sembarang arah.
"sekarang tujuanmu bagaimana?"
"aku mau mati" jawabku spontan.
PLAK
Suara tamparan sudah menggenai pipiku hingga membuat telinggaku sedikit mendenggung. Abi menamparku?, ya dia melakukannya sekali lagi saat aku hanya terdiam dan terpenggarah menerima kedua tamparan itu.
Aku marah?, tidak. Aku malah masuk dalam pelukan abi dan menanggis keras di dalam sana. Ku luapkan semuanya di sana tanpa ragu, aku memang sedari tadi bersikap jika baik-baik saja, aku berharap aku kuat dan bisa melakukannya dengar tegar tapi semakin kuat aku berusaha, semakin aku sadar kalau aku ini lemah.
Apa yang abi lakukan padaku ternyata terlihat dengan jelas oleh ilmi sehingga ilmi memisahkan aku dan abi secara paksa. Dengan marah ilmi berkata
"b******k banget lo, udah nampar tapi masih cari kesempatan sama lia" ujar ilmi dengan nafas tersenggal-senggal saking tidak terimanya dengan apa yang abi lakukan.
"tidak semua yang kamu lihat adalah fakta"
"fakta apa sialan, jelas-jelas lo nampar lia dan lo masih menyangkal"
"gue cuman ingatin lia sebelum lo juga hanya bisa menggenang dia"
"maksud lo" jerit ilmi.
"dia mau mati. Awasin baik-baik sebelum dia bener lakuin itu" kata abi lalu beranjak pergi dan bergabung dengan rahmat, dito, dan rina di salah satu kios yang menyediakan makan dan minum.
Abi sudah hilang dari pandangan kami, ilmi lalu duduk di sampingku dan mencelupkan kakinya ke dalam kolam seperti yang kulakukan. Ilmi lalu berkata
"benar lo pengen mati?"
"lo mau nemanin?"
"g****k. Ogah gila, walaupun lo sahabat gila gue, kalo lo mati ya mati aja sendiri" kata ilmi ketus. Aku hanya tersenyumm kecut mendengar perkataan ilmi.
"lia"
"mmm" gumamku menjawab.
"kali ini beneran berat ya, masalah lo?"
"sangat" jawabku singkat.
"masa lo mau mati sia-sia cuman karena ini?"
"aku rasanya dapat jalan buntu Mi, orangtua gue masih hidup tapi ngak ada yang bisa gue andalin" kataku dengan nafas yang di hembuskan secara kasar di akhir kalimat.
Mendengar perkataanku seketika ilmi diam dan ikut denganku menatap langit sore. Kami berdua sibuk dengan pikiran kami masing-masing hingga terdengar suara rahmat berkata
"pulang sekarang yuk, udah mau malam juga"
Kami berdua tak bersuara, hanya menggekori langkah rahmat dan yang lainnya menuju mobil untuk menggambil baju ganti kami. Setelah semuanya berganti pakaian, barulah kami bergerak meninggalkan area permandian itu. Kami harus mengantarkan Firman ke rumahnya.
Sebenarnya tante Dewi dan om adi menawarkan agar kami mengginap di rumah mereka saja, tapi kami menolak karena tidak ingin menggangu mereka dengan suara bising kami di tengah malam.
Untungnya mereka menggerti dan menggiklaskan kami kembali ke hotel. kami meninggalkan rumah itu lalu melanjutkan perjalanan untuk kembali ke hotel tapi saat kami masih di perjalanan mendekati hotel, rina berkata
"kita pindah hotel yuk"
"kenapa?" tanya Ilmi.
"Disana tuh suara karoke roomnya kedengaran sampai kamar padahal beda lantai belum lagi suara life music yang di belakang. Kita tuh tidur karena kecapean tapi yakin deh tar malam pasti ngak bisa tidur saking berisiknya" kata rina panjang lebar. mendengarkan perkataan Rina. Dito seketika berkata
"iya juga sih, kemarin gue emang ke bangun beberapa kali saking kerasnya tuh suara"
"jadi gimana?" sambung ilmi.
"aku udah share dan ternyata ada hotel lain yang ngak kalah besar dan bagusnya dari hotel itu"
"Di mana?" tanya abi selaku yang menyetir mobil
"lokasinya ngak jauh-jauh amat kok dari sini" kata rina saat kami sudah kembali memasuki area parkir hotel.
"bagusnya gimana? Mau pindah sekarang atau tar malam?"
"tar malam aja deh, kita tidur atau berbenah dulu pas habis makan malam kita langsung cabut terus sampai di hotel lain langsung tidur aja gimana?"
"mmm okey deh" kata kami serempak menyetujui perkataan Rina.
Sesampainya kami di lobby, kami segera menuju kamar kami, masing-masing. Walaupun sudah mandi, aku tetap memilih membasuh tubuh begitu pun dengan rina dan ilmi. Aku baru saja selesai sholat isya ketika Rina selesai berdandan.
"egh sebelum cek out, karokean yuk" ajakku pada mereka.
"boleh deh" sahut Ilmi dan rina dengan semangat empat lima.
Kami baru saya akan menuju lift tapi suara ditto menggiintrupsi kami, ditto berkata
"mau kemana?"
"karokean di lantai bawah" jawab rina
"katanya mau pindah hotel"
"iya setelah karokean tapi" jawabku lagi.
"ya udah buking aku manggil yang lainnya kalo gitu" kata ditto masuk ke kamar kembali.
Setelah registrasi di resepsionis masuklah kami ke ruang karoke. saat baru memilih lagu abi, ditto dan rahmat akhirnya datang dan bergabung bersama kami. Kami bernyanyi-nyanyi dengan ceria tapi tanpa kami sadari, kami lupa dengan rasa tidak suka kami pada Rina.
Rina seolah sangat pandai berbaur dengan kami sehingga jarak yang kami buat sedari awal seketika runtuh. aku sudah tidak canggung menggandeng tangan rina, duduk bersampingan bahkan secara bersama-sama menertawakan rahmat yang nyanyinya pales dan ditto yang menggila sedangkan abi hanya memasang wajah dan menatap kedua pria itu dengan pandangan ngeri.
*****
"tujuan utamamu udah, sekarang rencanamu gimana?" tanya rahmat saat kami sedang berkumpul di meja makan milik restoran hotel.
"ya udah, kan tujuan kalian mau ikut ke sini karena mau liburan!" balasku santai.
"kamu yakin, baik-baik saja?" sekali lagi rahmat bertanya.
"yapss" jawabku mencoba yakin dengan apa yang ku katakan.
"katanya ya, tapi matamu masih bengkak. Kami lebih suka kalo kamu jujur di banding pura-pura tegar lia" ujar rahmat ketus.
"aku kan dah bilang kalo ke sini tuh cuman mau minta kejelasan. Setidaknya dia sudah jujur, toh lebih baik dari pada ngak jelasan plush banyak kebohongan" kataku gamang sambil memainkan makanan milikku.
"terus sekarang gimana?" tanya Rina ikut berbicara
"mmm kalo ke toraja sekarang gimana?" ujarku.
"boleh deh, aku juga belum pernah ke sana!" kata ilmi bersemangat.
"toraja ya. Dari pinrang kota lumayan jauh sih sebenarnya" kata firman seolah sedang berpikir keras.
"kan perginya naik mobil bukan jalan kaki kan?" balasku.
"jelas" kata Firman di ikuti decihan di akhir kalimat. "Dorong mobil ngak jauh-jauh banget kalian udah menggeluh bukan main, apa lagi jalan mendaki gunung dan melewati lembah kayak ninja hatori" balas firman sarkis sekaligus menggolok-ngolok kami semua.
"hahahaha anda lucu sekali" balasku memulai perdebatan.
"terima kasih, setidaknya tidak semenyedihkan anda nona" balas firman sekali lagi dengan wajah yang sangat menjengkelkan.
"tuh mulut emang ngak berubah ya. Heran deh gak abi, ghifa dan kamu kok mulutnya kayak bon cabe level lima puluh sih?" kataku menahan gemas pada firman.
"udah-udah. Kalian setiap ketemu kenapa harus bertengkar sih?" kata abi mulai angkat suara setelah menjadi penonton sedari tadi.
"tau nih sepupumu, mulutnya udah kayak sabda dajjal. Perlu di bumi hanguskan pake banget"
"apa?"
"udah" kata abi menggenggam tanganku erat agar tidak menyerang Firman.
"untuk ke sana gimana? Menurut kamu gimana bang?" tanya abi tanpa melepaskan genggaman tangannya padaku.
"okey, tapi saranku kita sewa mobil untuk ke sana, jalanan ke sana cukup anti mainstream" kata firman.
Kami semua seketika diam tapi memilih mengganguk. Jujurnya aku seketika menggingat kejadian saat kami harus mendorong mobil dan kurasa aku sudah tidak ingin kejadian itu terulang lagi padaku.
Dimulailah persiapan kami mulai dari memilih sopir, biaya akomudasi, makanan serta jaket yang tebal karena tanah toraja adalah tempat yang dingin.
Aku sempat melakukan searching di internet menggenai lokasi toraja dan ternyata sebelum sampai di sana, kami bisa melewati kabupaten enrekang yang terkenal dengan keindahan gunung nona.
Selain itu ada juga objek wisata yang bernama Laskar Bambapuang buttu macca. Lokasi itu banyak di kunjunggi karena pemandangannya yang indah dan masyarakat di sana sudah menentukan tempat-tempat yang keren untuk mengambil foto.
Hasil kerja keras masyarakat di sana ternyata berbuah manis dan sukses menggundang masyarakat lain untuk datang. Ibaratnya, sekali mendayung dua pulau terlampaui, sehingga semakin memacau semangat kami untuk berangkat ke tanah Toraja.
Keesokan paginya, mobil yang kami rental secara dadakan sudah menunggu di lobby hotel pada pukul tujuh lewat dua tujuh menit. Sopir kami kali ini adalah lelaki paruh baya bernama om Kadir. Beliau adalah lelaki yang cukup ramah tapi karena kumis tebalnya, aku sedikit takut pada beliau.
Awalnya aku masih tenang karena jalanan masih lancar jaga dan kananan masih melewati jalan yang lurus hingga tanpa terasa tiga jam perjalanan, tibalah kami di kota enrekang dan senam jantung pun di mulai.
Perjalanan ternyata sangat lama dan terasa sangat mendebarkan saat kami harus melewati jalanan yang berkelok. Rasanya itu, belum bagus posisi mobil setelah kami berbelok , kami harus melewati belokan yang tidak kalah tajamnya.
Perasaan itu sudah sangat-sangat mendebarkan tapi nyatanya itu belum selesai. yang membuatku selalu melapalkan syahadat adalah, saat kami harus berbagi jalanan dengan mobil truk yang berada di sebelah kami.
Mungkin kalian tahu jika suara truk penggangkut barang itu punya suara yang khas dan suara khas itu yang tidak nyaman di telinggaku. Aku tanpa sadar memeluk rina di sampingku padahal rina sedang tertidur dengan lelapnya.
Mobil terus melaju hingga tibalah kami di jalanan yang mendaki hingga penurunan beberapa kali dan di saat itulah semua isi perutku turun ke dalam kantongan yang sudah ku sediakan sedari tadi.
Rasanya sangat-sangat tidak nyaman bahkan rasa muntahan ku tertinggal di tenggerokan. Karena mualku bukannya berkurang malah semakin parah, om Kadir akhirnya menepikan mobilnya di salah satu warung.
Kami sempat beristirahat sekaligus melaksanakan sholat dzuhur di warung itu, setelahnya melanjutkan perjalanan hampir lebih dari dua sampai tiga jam perjalanan, barulah kami di daerah bernama rante pao.
Tanah Toraja berasal dari tiga kata yaitu tanah yaitu daerah, sedangkan to dan raja bisa di artikan sebagai tempat orang-orang hebat (raja).
Tanah toraja di huni oleh masyarakat mayoritas non-muslim dan masyarakat di saja memelihara hewan ternak termasuk babi sebagai penopang kehidupan. salah satu yang unik dari tanah toraja adalah, tradisi upacara rambu solo.
Rambu solo adalah sebuah upacara pemakaman. Pada upacara rambu solo, penduduk Toraja percaya jika tanpa adanya upacara ritual ini maka arwah orang yang telah meninggal akan memberikan kesialan bagi keluarga yang di tinggalkan.
Sesuai kepercayaan penduduk tanah Toraja (aluk to dolo) memiliki berperinsip bahwa, semakin tinggi tempat jenazah di letakkan maka akan semakin cepat pula rohnya menuju nirwana. Dalam upacara tersebut juga ditandai dengan kegiatan penyembelihan kerbau.
Kerbau yang di sembeli dianggap akan menjadi tunggangan bagi arwah yang menuju kemuliaan (menuntun arwah tersebut ke surga), semakin banyak kerbau yang di sembeli, maka semakin banyak dan cepat pulalah si arwah sampai di surga.
Jujurnya aku sedikit ada yang janggal dari kegitan itu, tapi aku memilih diam apa lagi saat kami di ajak berkeliling ke salah satu goa di mana di tempat itu terdapat beberapa tulang belulang yang memang sengaja di letakkan di sana.
Ngeri ngak sih?, banget malah untuk aku yang memang sangat penakut. Sedari awal kami sampai, aku tidak pernah lepas dari pelukan abi bahkan saat rahmat memamerkan sebuah tengkorak yang memiliki story sebagai cinta sejati di gua itu aku bukannya memandang takjub, malah minta pulang dan istrirahat di hotel.
Dengan terpaksa mereka mengikuti ke inginanku dan pulang ke hotel, di hotel mereka meledekku tiada henti. Aku tahu ketakutanku tidak pandang tempat karena memang kota ini khas dengan upacara kematian tapi sumpah, aku yang bisa melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa lihat di sana, rasanya seperti datang untuk bunuh diri.
Aku bukan menakut-nakuti tapi jujurnya memang apa yang ku lihat tidak bisa ku jelaskan pada mereka, walaupun ku jelaskan pastinya mereka tidak percaya kecuali abi. Abi tahu kemampuan itu dan kemampuan sekaligus musibah itu yang membuat abi posesif padaku sampai saat ini.
"kamu baik-baik saja kan?" tanya abi saat menemuiku secara pribadi di depan pintu kamarku bersama rina, dan ilmi.
"sedikit" jawabku menyandarkan tubuh di kusen pintu.
"mereka mengganggu?" tanya abi lagi dengan wajah yag terus memperhatikanku dengan khawatir.
"sedikit" kataku lagi sembari menunduk.
"makanya kalo ngomong itu pake otak, sekarang gimana? Nyeselkan ngusul ke sini? " katanya sarkis. Aku hanya mengganguk kali ini
"sekarang gimana?" tanya dengan wajah judes saat ini.
"setidaknya ini ngalihin pikiran aku dari mama" kataku menatap mata abi intens.
"ya sudah, sudah jam empat kurang. Gih sholat" katanya
"ingat kita harus pulang sebelum masa priodemu. Tahun barunya di rumah tante dewi dan om adi saja" putus abi begitu saja, lalu setelahnya abi masuk ke kamarnya dan tidak nampak lagi di mataku.