Dor
Dor
Dor
Dor
Suara petasan lepas dari tempatnya lalu melesat naik jauh di atas kepala kami. Petasan itu sekali meletus di atas sana lalu terlihatlah sebuah kembang api yang nampak indah di pandang mata.
Sebenarnya pemerintah sudah memberikan himbauan untuk tidak merayakan pergantian tahun dengan kembang api serta pesta pora tapi karena kota pinrang adalah kota yang di huni dengan kepercayaan yang berbeda, nyatanya masih banyak juga yang tetap melanggar.
Aku dan teman-temanku termasuk masyarakat yang tidak patuh aturan, buktinya kami datang ke alun-alun kota pinrang dan bergabung dengan yang lainnya. Alun-alun kota pinrang itu sudah di penuhi oleh pedagan dan jualan mereka tidak jauh berbeda.
Sebenarnya di rumah om adi dan tante dewi sudah menyediakan makanan untuk kami santap tapi karena teman-temanku ingin merasakan sensasi baru di tempat yang baru, mau tidak mau om adi membiarkan kami berada di sini dengan di kawal firman tentunya.
Kata firman, setiap tahun dia tidak pernah bisa pergi merayakan tahun baru, begitu pun abi. Berhubung kami sebagai orang baru tidak sepahaman, firman dapat penggecualian untuk pertama kalinya.
Di keluarga mereka, mereka malah lebih senang untuk melantunkan shalawat, berzikir dan berkumpul bersama sebagai bentuk syukur keluarga mereka, hal itu di anggap lebih berfaedah dibandingkan keluar dan bergabung lalu menikmati hal yang sangat duniawi seperti yang kami lakukan sekarang.
Kami baru pulang pukul satu lebih. Kami di sambut dengan wajah lega tapi yang membuatku tidak nyaman adalah, wanita yang ku panggil mama dan lelaki calon suami barunya sedang duduk di teras depan bersama om Adi dan tante dewi.
Aku menyalami om Adi dan tante sedangkan untuk sepasang sejoli yang di mabuk cinta dan akan menikah tidak lama lagi, aku hanya melemparkan senyum miring, aku baru saja akan memasuki rumah tapi om Adi berkata
“lia, bisa kita bicara?”
“lia capek om” balasku menggelak.
“ini cuman sebentar kok, yang lain mohon penggertiannya ya” kata om hafi menatapi teman-temanku termasuk firman.
Kami semua memasuki rumah. firman dan yang lainnya memilih langsung memasuki kamar masing-masing sedangkan aku, abi, dua pasang orang dewasa malah memilih duduk di ruang keluarga om Adi.
“lia” panggil om adi lembut padaku.
“ya” jawabku santai padahal aku sedang menahan air mataku sedari tadi.
“mama dan calon suaminya mau minta restu kamu untuk pernikahan mereka”
“hahaha” tawaku keras tanpa ku sadari
“lia” tegur abi sembari meremas tanganku lembut untuk menyadarkan sekaligus menyemangatiku.
“lawakan om lucu banget sumpah” kataku sarkis
“lia” panggil lelaki itu dengan wajah serius padaku.
Aku tidak menjawab, malah dengan berani ikut menatap matanya intens. Kami sempat saling memandang cukup lama tapi bukannya aku menyahut, aku malah mengangkat alis kananku seolah sangat angkuh.
“mungkin ini telat untuk perkenalan kita tapi boleh kita berteman mulai sekarang?”
Aku sekali lagi tertawa tapi di dalam sana sudah hancur-sehancur hancurnya. Aku tetap memilih bungkam, mataku menatap wanita yang sedang tertunduk dalam di hadapanku.
Rasa rindu, sayang, kecewa, marah, dan harapan dia bahagia sebenarnya ada untuk dia tapi entah kenapa hatiku tidak bisa iklas dengan pilihannya.
Pilihannya mungkin sudah benar, tapi akan sangat benar seandainya sedari awal dia jujur dan memperkenalkan kami dengan cara normal tapi lihatlah sekarang.
Mereka bilang mereka ingin meminta restu dariku? Untuk apa?. Bukannya wanita itu sudah bilang kali ini dia sedang berperan sebagai antagonis dan memilih egois! Lalu untuk apa berbasa-basi padaku?.
Abi semakin kuat menggengam tanganku karena aku juga melakukan hal yang sama. Aku tahu abi bisa merasakan bagaimana aku bergetar menahan amarah, menahan tangis serta bagaimana aku mengguatkan diri untuk mendengar perkataan lelaki itu.
“lia” panggilnya dengan nada merayu sedangkan wanita itu mulai terisak di tempatnya.
“intinya om, saya sudah memaafkan. Dia sendiri yang memutuskan hubungan ibu dan anak di antara kami. Saya sebagai orang buangan menerima itu, jadi apa pun yang terjadi pada saya atau dia, itu bukan hal yang harus di sangkut pautkan lagi” putusku lalu meninggalkan mereka.
Semua ucapan yang ku ucapkan sungguh sangat berat ku ucapkan tapi dia sendiri yang mengginginkan itu, lalu aku bisa apa?.
Dia egois? Tidak kurasa cuman aku yang menjadi beban untuknya selama ini.
Aku memasuki kamar dengan tangis yang tidak bisa ku tahan lagi. Rina dan ilmi menyambutku dengan pelukan hangat mereka. Sungguh jika bisa memilih aku tidak akan pernah memilih di lahirkan seperti ini.
Aku tidak pernah mau membenaninya, menghalanggi langkahnya tapi kenapa seolah penderitaannya itu karena aku. Dia yang memilih menikah dengan bapak, dia kabur dari keluarganya dan menderita bertahun-tahun karena kesalahannya sendiri.
Nah hubungannya dengan penderitaannya dan aku ini apa?. Dia menyesal begitu melahirkan dan membesarkan aku?. Kenapa baru sekarang dia utarakan, kenapa baru sekarang dia menyadari penyesalan itu?.
Lalu aku harus apa? Salahku apa? Aku ini kenapa?.
“Lia” panggil seseorang disertai ketukan pintu cukup keras. suara itu menggusik kegiatanku meratapi nasipku yang sangat tragis.
“Lia”
“Lia”
“Buka pintu” pintanya kali.
Ilmi yang bergerak membuka pintu sedangkan aku masih menanggis dalam pelukan rina. Kurasakan seseorang duduk di belakangku lalu menyentuh lengan kananku.
“sini” katanya memaksa aku untuk berbalik dan berhadapan dengannya.
“apa sih?” kataku dengan suara parau, juga mata yang masih sembab.
“aku ngak maksa kamu, sekarang kamu boleh nangis, tapi besok harus baik-baik saja ya!” katanya menatap mataku intens dan intonasi tidak ingin di bantah.
“masukin aku ke rumah sakit jiwa dong” kataku memelas dan masuk dalam pelukannya.
“kamu telat. dari pertemuan pertama kita pas kecil seandainya bisa aku udah lakuin itu” ujarnya dengan wajah serius.
“apa’an sih!” decakku kesal.
“sudah katanya kemarin kuat. Kita lagi liburan, ngerusak suasana” ujarnya sewot.
Aku tidak menjawab malah melepaskan pelukanku pada tubuh abi lalu menatap abi dengan wajah marah.
“kamu nanggis ngak guna, langit hujan ma berkah, kamu nangis malah jadi musibah dan ngerepotin” katanya menunjuk-nunjuk keningkku beberapa kali dengan mimik wajah datar kali ini.
“apa’an si” kataku marah juga mata melotot menatap abi.
“aku lebih suka kamu marah di banding nangis” katanya menggusap kepalaku beberapa kali.
“iss” ku tepis tangan abi dari kepalaku.
“maafkan semuanya dan tidur dengan perasaan damai ya” katanya sembari mendekatkan bibirnya ke keningku lalu berlalu pergi begitu saja dari hadapan kami bertiga.
Rina dan Ilmi sampai mengganga lebar saking terkejutnya melihat abi seperti itu.
Mereka sangat terpengarah karena sikap baik dan manis abi yang unik, ku rasa memang hanya abi satu-satunya orang yang bisa membujuk dengan cara aneh tapi berakhir dengan debaran jantung bertalu-talu.
******
Sehari setelah pergantian tahun, kota pinrang di guyur hujan sangat lebat. Dari pagi hingga petang, kami tidak bisa merasakan terik matahari.
Waktu terus berganti tapi kami seolah terkurung dalam rumah milik om Adi dan tante Dewi.
Awalnya tadi pagi kami berniat pamit dan kembali ke Makassar tapi karena cuaca yang anti mainstream om Adi menentang rencana kami. Langit malam sudah mengguasai tapi hujan tak kunjung menunjukkan petanda akan reda malam ini.
Cuaca malam ini sangat dingin, Di dalam kamar yang kami tempati, aku ilmi dan rina sampai-sampai tidak pernah menyalakan pendingin ruangan dan terus bersembunyi di dalam selimut, bahkan saat kami berkumpul di raung keluarga milik om adi untuk sekedar bercanda gurau, kami membawa selimut kami masing-masing.
Banyak hal yang kami bicarakan, tapi yang paling berkesan dalam pikiranku adalah, kisah pertemuan dan pernikahan om adi bersama tante Dewi.
Tante dewi menceritakan kisah mereka dengan sangat lucu sampai-sampai mengocok perut kami yang mendengarnya.
Aku tidak pernah menyangka jika tante dewi adalah orang yang bisa terus terang mengutarakan pikirannya. Bahkan orang yang melamar untuk pertama kali adalah dia, bukan om Adi.
Proses menuju pernikahan mereka sangat singkat tapi Alhamdulillah karena iman, kesabaran, dan pemahamanan agama mereka sepaham, mereka bisa rukun dan punya tiga orang anak laki-laki.
Pukul setengah Sembilan, kami kembali memasuki kamar masing-masing, tapi hingga pukul tiga malam, aku tidak kunjung bisa memejamkan mata. Sholat malam baru saja ku lakukan saat Rina dan Ilmi terbangun karena suara petir yang sangat keras.
Suara petir bergemuruh, seolah allah sedang balas dendam pada umatnya karena menyalakan petasan sehingga menurunkan hujan serta suara petir yang seolah sersaut-sautan.
“lo belum tidur?” tanya Ilmi
Aku memilih mengganguk saja tanpa bersuara.
“habis nangis lagi”
“ya” jawabku dengan senyum yang di paksakan.
“lia” panggil Rina kali ini.
“mmm” gumamku menjawab.
“aku penasaran sama kisah kamu dan abi sampai saat ini” katanya dengan wajah serius.
“kenapa?” tanyaku heran.
“aku iri, aku juga mau punya cowok yang perhatiannya seperti abi ke kamu” kata rina malu-malu.
“kan kamu udah punya abi, kenapa masih iri” tanyaku sekaligus serangan tidak langsung pada Rina.
Aku beranjak dari tempatku dan bergerak menuju dapur, seketika kurasa aku membutuhkan sesuatu yang hangat. mereka berdua juga mengekori langkahku hingga kami di dapur dan membuat tiga gelas teh hangat untuk kami.
Kini rina sudah duduk bersebrangan denganku. rina memaksa dirinya tersenyum setelahnya dia berkata
“lanjut cerita yang tadi dong. Aku juga mau yang milikku bukan milik orang lain” jelasnya gamang.
“mmm” ilmi seketika pura-pura terbatuk.
“bagaimana ya. Aku binggung” kataku sembari garuk-garuk kepala yang sebenarnyan tidak gatal.
“iya cerita in alasan abi dan orangtuanya baik ke lo” kata Ilmi ikut membuka suara kali ini.
“mmm sebenarnya, abi yang sekarang beda banget sama yang dulu” kata sambil menerawang masa lalu bersama abi dulu.
“abi emang gimana?” tanya ilmi dan rina bersamaan.
“abi dan om Hafiz orang baru yang tinggal di samping rumahku. aku yang anaknya sedari awal gampang bergaul malah tidak tahu malu mendatanggi mereka terus-menerus dan jadi parasit untuk abi da nom hafis”
“maksudnya?” tanya mereka lagi.
“aku kan orang miskin, sedangkan abi berkecukupan. Aku suka kerumah abi untuk numpang makan dan bermain. Aku pikir karena kami sering bersama, abi menggangapku teman tapi nyatanya tidak” kataku sembari menghembuskan nafas secara kasar.
“terus yang buat dia berubah apa?”
“Aku selalu ngikutin kemana pun abi pergi dan apa pun yang abi sukai termasuk berenang, karate dan tekondo. Biarpun abi tidak suka tapi abi ngak bisa ngelak karena om hafiz malah dengan suka rela bayarin semuanya biar aku tetap bisa ngekorin abi” aku menjeda sesaat untuk menarik nafas.
“Saat SMP kelas dua, aku dan abi ikut kegiatan ekstrakulikuler di sekolah. Saat itu kegiatannya baru selesai pas mau magrib. Aku awalnya pamit untuk ke kamar mandi tapi ternyata abi jadiin itu ke sempatan untuk ninggalin aku” sekali lagi aku menghembuskan nafas dengan berat
Mereka masih diam dan tetap menyimak ceritaku dengan wajah serius.
“saat itu udah mulai gelap dan hujan pula. Aku binggung harus gimana jadi aku nunggu di halte dekat sekolah dengan harapan abi kembali dan bawa aku pulang”
“terus?” tanya Rina.
“aku nunggu udah kayak orang gila di sana. Nyanyi, ngomel dan ngomong sendiri tapi bukannya ketemu abi, malah ada seseorang yang singgah pas di depanku”
“awalnya aku diam dan ngak peduliin itu orang”
“tukang ojek” tebak ilmi
“ngak tahu pokoknya dia pake mantel hujan, pake helm dan berhenti lama di depanku”
“kenapa ngak nyuruh dia ngantar kamu pulang” kata rina tidak sabaran mendengar inti cerita.
“ngak punya uang” jawabku santai
“terus apa hubungannya tuh orang ma abi”
“ngak ada” cenggirku dengan wajah polos
“lah kenapa lo ceritain dia g****k” umpat Ilmi padaku.
“mau dengerin atau tidak nih. Protes mulu, gue ceritanyan sambil ngingat rasa sakitnya bego” kataku menggeluarkan alasan.
“lanjut deh” kata ilmi dengan wajah suntuk tapi tetap nunggu aku bercerita.
“aku ngak tahu dia ngapen di depanku dan aku juga ngak mau tapi sampai dia manggil dengan nanda kayak ngusir kucing tapi tangan kanannya bergerak kayak manggil, dan lo tahu tangan kirinya ngapaen?”
“udah deh ngak usah basa – basi langsung bisa point inti ngak sih” kata ilmi jengah
“ngak asik lo” kataku ikut kesal.
“lanjutin dong, penasaran nih gue” kata Rina menggintrupsi perdebatanku dengan Ilmi.
“tuh orang onani di depanku dan manggil biar aku bantuin dia” kataku seketika bergetar ngeri menggingat orang itu.
“aghh sirius?” jerit ilmi heboh.
“sumpah, gue sampai lari terbirit-b***t dan maksa masuk ke sembarang rumah”
“agh?” kata rina
“iya, gue gedor-gedor pintu orang yang gak gue kenal dan untungnya yang buka pintu itu ibu-ibu” jelasku masih memeluk diri sediri dalam keadaan bergetar karena ketakutan.
“terus?” tanya Ilmi mulai kembali tertarik dengan ceritaku.
“gue meluk dia sambil nangis-nangis sedangkan tuh ibu teriak-teriak manggil keluarganya yang ternyata lagi sholat magrib”
“terus?” kata Ilmi lagi.
“awalnya mereka curiga dan mikir gue adalah perampok dengan trik baru tapi setelah gue di tenangin dan bisa di ajak cerita, mereka baru percaya sama apa yang gue bilang”
“ceritanya udahan nih?” tebak ilmi dengan wajah suntuk.
“ya ngaklah” bantahku.
“lo pulangnya gimana?” tanya Rina
“gue untungnya hapal nomor telpon rumah om Hafiz, di telponlah om Hafiz dan ngak lama setelahnya om hafiz datang bareng abi yang nunduk terus sampai kami di rumah”
“om hafiz marah karena lo repotin?” tanya ilmi lagi.
“ngak, besok paginya malah om Hafiz ngehukum abi?”
“kenapa?”
“karena abi ngak jaga amanah” kataku mulai santai setelah menerima segelas air dari rina.
“kok kesannya bokapnya abi lebih sayang ke lo dari abi?” kata ilmi.
“mungkin karena kemungkinan terburuknya lebih banyak kalo gue di posisi itu”
“maksud lo?”
“ya orang itu bisa saja merkosa gue, ninggalin gue di mana gitu, terus gue hamil tanpa pernikahan terus bunuh diri dan semacamnya kan mungkin”
Mereka hanya diam kali ini tapi kepala mereka mengganguk-angguk seolah membenarkan.
“setelah itu abi baru baik sama lo?”
“ya enggaklah mana ada” kataku sewot menggingat bagimana menjengkelkannya abi dulu.
“terus?”
“abi orang yang paling tengsin minta maaf ke gue”
“eghh jadi dia ngak minta maaf atau merasa menyesal setelahnya?”
“minta maaf sih enggak tapi menyesal kayaknya ada deh” kataku tersenyum saat menggingat kejadian itu
“lo senyum kenapa?” tanya ilmi menelisik wajahku.
“lo tahu apa yang abi lakuin sebagai gantinya?” kataku mulai sok berteka-teki tapi di balas ilmi dengan sewot. Ilmi berkata
“kami ngak bakalan tahu kalo lo ngak ngomok geblek” semprotnya.
“aisss lo emang gak layak jafi tempat sampah gue” ujarku lalu memanyunkan bibir.
“ngak usah sok imut lanjut ceritah gih” perintah ilmi.
“kalian tahu ngak filem yang judulnya ketika mas gaga pergi” kataku.
“ngak” jawab mereka serempak
“wajar sih, aku juga baru tahu pas dapat novelnya”
“please deh lia jangan bertele-tele gua mau tau intinya doang ini”
Aku berdecak terlebih dahulu lalu berkata.
“intinya tuh abi searching di internet soal nyuruh cewek menutup diri dengan hijab secara tidak langsung”
“demi apa?” kata rina takjub.
“nah ketemulah film dan buku itu”
“terus?” kata rina.
“abi beli bukunya, terus di kasih ke gue. Abi malah udah nandain inti yang harus gue menggerti dari buku itu”
“intinya gimana?” kata rina lagi.
“nah di buku itu tuh ceritain kalo ada anak cewek yang bertanya ke salah satu pemateri. dia nanya, buat apa kita berhijab kalo hanya pormalitas, dan dia bilang, mending hijabin hati lebih dulu dibanding kepala”
“secara ngak langsung abi nyuruh kamu pake hijab gitu” tebak rina.
“mmm” gumamku sembari mengganguk.
“tuh buku tahun berapa sih?” tanya ilmi.
“lupa gue, gue inget tuh cuman karena abi yang ngasih”
“yang lo ingat dari buku itu apa aja?” kata Rina lagi.
“mmm kalo ngak salah, si pemateri ngomongnya gini” kataku menegakkan tubuh sembari menggingat, setelahnya aku berkata
“hijab itu udah kewajiban untuk wanita, jilbab juga sebagai identitas, dengan berjilbab wanita bisa untuk control social, dan yang terpenting bisa menghalanggi orang untuk menghayalkan yang buruk tentang si wanita” tuturku panjang lebar.
“setelah itu, lo mantap pake hijab” kata ilmi
“yapss” jawabku lalu menikmati tehku.
“gue belum menggerti di bagian bisa ngontrol social” kata rina
“mmm aku lupa, tapi maksudnya perempuan bisa memilih pria mana yang layak untuk di jadikan imam untuk menuju jannahnya mungkin”
Rina dan Ilmi seketika memilih bungkam dan menunduk dalam. Jujurnya aku binggung dengan tingkah mereka jadi aku berbalik melihat ke belakangku ternyata oh ternyata sudah ada abi yang bersidekap menatap kami bertiga.
“gosipin aku kok udahan?”
Aku tidak tahu bagaimana reaksi ilmi dan rina sekarang ini yang jelas terciduk oleh abi rasanya udah kayak nurunin rel rolling coster sumpah.
Abi mah aku bisa bersikap bodoh seperti biasanya tapi di belakang abi malahan ada rahmat dan ditto juga. Boleh tenggelamkan aku sekarang juga ngak sih?. Wajahku seketika serasa hangat bukan main.
“kisah kalian romantis banget sih” kata rahmat dengan senyum menggoda sedangkan yang lain malah terbahak keras.