Nama gadis itu, Karen Robert Potter. Seorang gadis kelahiran Australia, yang bersekolah dan besar di New York City. Gadis itu tidak tahu, saat ia tertidur lelap, sebuah keajaiban tiba-tiba terjadi pada benda ajaib di samping tempat tidurnya, tepat di atas nakas kasur dimana sebelumnya ia menaruh sebuah mainan rumah-rumahan di sana.
Benda ajaib itu, berbentuk rumah-rumahan yang biasa kita lihat sebagai rumah barbie atau boneka kecil. Rumah kecil itu, tiba-tiba bercahaya, diikuti lampu kecil yang juga menyala, membuat seisi rumah kecil itu terang benderang. Muncullah makhluk kecil yang memiliki bentuk menyerupai manusia namun dengan ukuran yang sangat mini di sana.
Makhluk kecil itu tampan, dengan kemeja, dan anting kecil yang mengantung di sebelah telinga kecilnya. Mungkin tingginya tak lebih tinggi dari ibu jari, atau jari telunjuk. Tapi percayalah, benda—manusia kerdil—itu benar-benar tampan!
Bertepatan dengan itu, Karen terbangun tanpa sengaja dan saling bertatapan dengan makhluk kecil yang membuatnya terkejut setengah mati di sampingnya.
Makhluk kecil itu bertanya.
"Apa kau pemilikku, sekarang?"
Oh God! Makhluk itu dapat bicara!
Karen sadar, sesadar-sadarnya! Padahal biasanya jika dibangunkan kasar oleh adik lelakinya saja, ia tidak mudah untuk segera sadar dari pengar tidur.
"Oh, kau pasti terkejut,"kata makhluk kecil itu. Tak lama kemudian, ia berubah menjadi bentuk manusia normal, dengan tinggi rata-rata pria yang biasa Karen lihat,"aku, Caldwell Clifford! Salam kenal, Cantik!"
"Aaaaaaaaaaaaa, Hantu!"
****
Aku tersadar saat alarm dari ponselku, berbunyi dengan nyaring membuat seluruh kesadaranku tersadar dengan sempurna.
Langit masih gelap, diikuti cahaya matahari yang sedikit demi sedikit akan muncul sejalan diriku melakukan aktivitas pagi hariku. Aku melangkah menuju wastafel kamar mandi kamarku, dan mencuci wajah, juga menggosok gigiku. Ah, air keran saat pagi itu benar-benar dingin.
Setelah beres-beres kamar, dan telah siap dengan seragam sekolah-penjara-ku, aku keluar dari kamar, dan menemukan adik lelakiku, sedang asyik memakan serealnya, dan telah rapih dengan seragamnya juga. "Hey bocah, tumben kau sudah bangun,"kataku meledeknya, lalu mencium pipinya, membuat Ken-nama adikku-langsung menggosok-gosok pipinya dengan jengkel. Diam-diam aku meneruskan aktivitasku dengan melihat reaksinya.
"Berhentilah, Karen! Kau menjijikan!" cercahnya.
Aku memukul kepalanya pelan. "Kemana sopan santunmu, Anak Muda?" kataku.
Ia mendengus, kemudian memutar bola matanya. "Dude, kita tinggal di New York, bukan di desa kecil di sudut Aussie lagi!”jelasnya yang kemudian membuatku kembali mencubit pipinya gemas.
"Kau harus tetap melestarikan budaya, Dasar Ken Bau." Usai memberinya beberapa kiat, aku menyiapkan sereal untukku juga, sesekali menjahili Ken dengan menyendok sereal di mangkuknya dan Ken yang hanya mampu mendengus jika kulakukan itu. Hahaha, memiliki adik lelaki memang selalu menyenangkan.
°***°
Hal pertama yang kubenci selama aku di sini adalah, sekolah.
Sekolah bagaikan penjara yang dipadukan dengan neraka, dan demi tuhan, aku tak 'kan sanggup jika bukan karena dad melarangku pindah dari tempat laknat ini. Di sekolah, aku hampir tidak memiliki teman. Tak satupun dari mereka menganggap aku manusia. Well, serius. Aku sebegitu tidak terlihatnya di sekolah. Ah intinya, aku benci sekolahku!
Aku mengangguk lemah ketika Pak Henry, memarahiku karena aku yang tidak memerhatikan materi pelajarannya, dan hanya butuh beberapa detik saat tubuhku tiba-tiba telah berada di luar kelas sekarang. Iya. Aku diusir dari kelas, hanya karena melamun sebentar di pelajaran geografi yang membosankan.
Mengapa hidupku menyedihkan, huh? Aku salah apa dalam hidupku sebelumnya? Apa mungkin sebelum ini, aku adalah orang yang sangat beruntung? Karena itu aku direinkarnasikan dengan kehidupan menderita seperti ini? Sejak kapan aku percaya reinkarnasi, astaga.
Diusir dari kelas mengacaukan isi otakku.
Asik melambung dengan pikiranku, tanpa sengaja, aku melihat Veronica―Si Ratu sejagat sekolah―orang yang membenciku nomor satu di sekolah, kini menertawakanku yang berdiri di luar kelas.
Memangnya dia berhak menertawakanku? Dia sendiri sedang apa di luar kelas, kalau bukan karena dihukum juga? Hih, Gila.
Aku memutuskan untuk pergi saja ke perpustakaan, dan mengistirahatkan tubuhku untuk sejenak. Aku butuh ekstra energi sebelum aku menahan emosiku nanti di jam istirahat.
Oh Tuhan, kapan kehidupanku, akan berubah?
****
Aku memiliki keluarga yang bahagia. Kedua orangtua yang sempurna, satu adik lelaki yang tampan, keuangan orangtua yang sangat bagus, ditambah perhatian dari orang popular di sekolah—mungkin ini sebabnya Veronica membenciku.
Actually, aku pikir, aku tak seburuk itu. Wajahku yang tidak jelek amat ini membantuku lebih mudah mendapatkan teman. Dulu, sebelum Veronica membenciku, aku memiliki banyak teman, dan entah mengapa, satu persatu mereka menjauh dariku semenjak aku diputuskan menjadi musuh utama Veronica di sekolah.
Bukan ingin menghina, tapi jika dibandingkan Veronica dan aku, kupikir attitude-ku lebih sempurna di banding gadis bertutur kasar itu. Dia hanya mengerti bagaimana caranya menyakiti perasaan orang, dan mendapatkan teman banyak karena itu. Aku jadi heran, mengapa orang senang berteman dengan orang yang berkelakuan rendahan sepertinya, dibanding mencari teman yang tulus berteman—hm sepertiku ... mungkin?
"Karen!"
Seseorang memanggilku, dan ketika kuberbalik untuk melihatnya, aku tak mengenalinya. Ah, apa ia salah panggil ya? "Hai, kau Karen, 'kan?"
Eh, dia benar-benar bicara denganku! Aku mengangguk ragu, sambil membalas senyumnya kaku. "Hmm itu namaku—I mean, yeah. Aku Karen, ada apa?"
Ia mengamit lenganku, kemudian tertawa—tampak bahagia—di sampingku. "Godness! Ternyata benar kau! Aku tak percaya bertemu denganmu. Kau Karen Petter, aku suka sekali dengan lukisanmu."
Wow, ia mengetahui soal lukisanku!
"It's Karen Robert Potter, actually," koreksiku. Kemudian aku tersenyum sebentar padanya. "Terima kasih."
"Oh my god, kau teman pertamaku yang seorang seniman," katanya dengan nada excited menggema di telingaku.
Teman?
"Aku Katherine. Kelasku dua kelas dari kelasmu, Kar." Dia memegang pundakku, lalu ia mengambil ponselnya dan ia berikan padaku. "Berikan nomormu,"katanya.
Aku mengetikan nomorku, dan ia memekik girang, lalu mencium pipiku sebelum pergi. "Aku akan menghubungimu, Karen." Ia melambaikan tangannya sembari berlari menjauh.
Eh? Kupikir, aku baru saja mendapat teman baru. Hehe.
***
Adikku, Ken, bocah empat belas tahun itu, lebih suka bermain game di ponselnya, dibanding bermain dengan teman sebayanya di luar rumah. Orangtuaku sedang pergi ke luar kota saat ini. Mereka memang sering meninggalkan kami, dan dalam sebulan, kami hanya akan bertemu mereka dua kali saja. Itulah mengapa, aku dan Ken lebih dekat daripada kakak-adik manapun.
"Ken, kau berpacaran dengan ponselmu, atau bagaimana?" tegurku.
Ken menengok sebentar—hanya untuk memastikan bahwa aku yang menyapa—kemudian ia kembali berkutat dengan ponselnya. Dasar maniak ponsel!
"Ada apa?" tanyanya cuek.
"Apa kau sudah makan malam? Ingin makan di luar? Atau kumasakkan sesuatu?" tawarku sambil duduk di sebelahnya.
Ken menaruh ponselnya, kemudian menatapku. "Makan di luar saja, Kar. Ada resto yang ingin kudatangi," katanya kemudian.
"Baiklah kalau begitu."
Sepertinya makan di luar, memang kegiatan yang kami butuhkan saat ini.