Ken tampak berapi-api mengajakku pergi. Bocah itu langsung masuk ke dalam resto yang ia mau, dan memesan makanan sesukanya. Aku hanya tertawa melihat sikapnya yang sangat kekanakan, padahal wajahnya cukup manly untuk anak seumurannya kupikir.
Saat berjalan ke arah restoran, tepatnya beberapa toko sebelum resto yang kami tuju, aku melihat toko mainan, dan sebuah rumah-rumahan kecil, menyita perhatianku, dan pada akhirnya menarikku untuk masuk ke dalam toko itu.
"Selamat datang di fairy thumb! Selamat berbelanja!" Seorang lelaki tua menyapaku, dan aku hanya tersenyum kaku.
Tokonya sepi, dan aku langsung masuk ke dalam tempat rumah-rumahan kecil tersebut berada. Rumah kecil itu, sangat bagus, furniture kecil di dalamnya menyita perhatianku karena terlihat menggemaskan.
"Kau suka yang satu itu? Aku akan menghadiahkannya untukmu, karena ini hari pertama pembukaan tokoku." Lelaki tua yang tadi menyapaku, kini berada di hadapanku. Aku menatapnya tidak percaya.
"Sungguh?" tanyaku.
Lelaki tua itu tersenyum ramah, kemudian mengambil rumah kecil itu dan membungkusnya untukku. "Semoga kau bahagia," katanya untuk terakhir kali sebelum aku benar-benar pergi dari toko itu.
Wow, lelaki tua tadi itu, baik sekali! Aku memang bukan anak kecil, tapi memiliki benda seperti ini, bukan berarti aku anak kecil, bukan? Lagipula, i'm just sixteen, guys.
"Karen! Kau lama sekali! Makananmu sudah dingin, tahu!" oceh Ken ketika aku baru duduk di hadapannya. "Apa yang kau bawa?"
"Hanya hadiah,"jawabku asal, kemudian memakan makananku sebelum cacing perutku mulai berdemo—lagi.
***
Aku menaruh rumah-rumahan kecil mainan baruku, ke atas nakas samping kasurku yang biasanya tempat aku menaruh air putih, atau buku. Ketahuilah, biasanya aku insomnia, karna itulah aku selalu menaruh buku di dekatku.
Entah mengapa, hari ini rasanya tubuhku sangat lelah, hingga aku pikir, aku bisa langsung tidur saat ini juga. Karena mom selalu mengajarkanku tata krama sebelum tidur, dengan terpaksa aku mengganti pakaian ke piama, lalu menggosok gigi dan mencuci wajahku, setelah itu, aku tertidur dengan pulas.
*
Suara gemerisik juga cahaya yang menyilaukan, menganggu tidurku, hingga membuatku sedikit tersadar untuk mencari hal yang mengangguku.
Apa tikus kini mulai berani keluar dari tempatnya, di musim dingin seperti ini?
Cahaya menyilaukan itu, datangnya dari arah nakasku, tepatnya di belakangku karena aku tidur tengkurap menghadap pintu. Ketahuilah, aku selalu tidur dengan posisi ini, dan selalu mematikan lampu sebelum tidur, namun entah siapa yang menyalakan lampunya lagi. Perlahan, aku membalikan tubuhku dan terkejut setengah mati saat yang kulihat berkilauan adalah rumah kecil yang tadi sore dihadiahkan untukku!
"Apa kau pemilikku, sekarang?"
Ada suara!
Jantungku berdegup dengan kencang, desiran darahku mulai membuat seluruh bulu kudukku meremang dan berdiri.
Aku melihat makhluk kecil mirip manusia di sana. Memandangku, dan parahnya ... bicara padaku! Apa aku masih berada di dunia mimpi?
"Oh, kau pasti terkejut,"kata makhluk kecil itu.
Aku makin terkejut setengah mati, ketika makhluk kecil itu, bertransformasi secara tiba-tiba menjadi pria di hadapanku, sambil tersenyum—yang jujur kuakui sangat tampan—dan menyentuh punggung tanganku, menciumnya dengan lembut. "Aku Caldwell Clifford. Salam kenal, Cantik!"
"Aaaaaaaaaa, Hantu!"
Pria ini ah tidak, makhluk ini, hanya terkekeh melihat sikapku barusan. Mengapa dia tertawa? Dan lagi, kemana Ken? Apa dia tidak mendengar teriakanku barusan?
Ah aku lupa, dia pasti tidur sambil mendengarkan musik keras-keras lewat headphone-nya. Aku sedang sial!
"Siapa namamu, Nona?" tanyanya sambil duduk di pinggiran kasurku.
Dengan reflek aku menjauh hingga aku berada di ujung kepala kasurku. "Dimana tata kramamu, kau—ah makhluk astral?"tanyaku menutupi ketakutanku.
"Baiklah, aku akan memperkenalkan diriku." Makhluk itu, mendekat kepadaku, kemudian membelai pipiku yang membuat darahku kembali berdesir dengan cepat lagi. Ah parah! Mengapa aku menjadi seperti ini!
"Namaku, Caldwell Clifford. Aku seorang thumbelina yang akan membuat pemilikku bahagia. Jadi, nona cantik sepertimu, memiliki kesusahan apa, hingga dewa mendengar keluh kesahmu, dan mengirimku ke sini, huh?"
Aku tak percaya dengan yang barusan ia katakan!
Demi tuhan, sepertinya aku masih bermimpi. Apa ini masa puberku? Mengapa aku memimpikan seorang lelaki, di tambah tampan seperti dia sih? Dan apa maksudnya itu? Thumbelina? Gila.
"I can hear you, Young Lady."
"A-apa?"
"Aku bisa mendengar suara hatimu, Dear. Apa kau bilang aku tampan, tadi?"
Huh?!
Dia mendengarnya. Ia bicara seperti itu sambil masih membelai pipiku, menciptakan desiran aneh lagi di kedua pipiku.
"Aku bisa menjadi sahabat, orangtua, teman, atau mungkin
... pacar? Mulai saat ini, aku akan ada 24/24 bersamamu kapanpun kau butuhkan. Untuk ketentuan lain, bisa kau ketahui setelah ini."
Ia menarik wajahku ke arah wajahnya.
Ada rasa kenyal, dingin, basah, dan aneh di atas bibirku. Ya tuhan! Apa barusan ini, ia menciumku?
Makhluk yang mengaku bernama Caldwell ini, menjilat bibirku, dan jantungku sedang berlomba sprint di dalam rongga dadaku. Suatu kata-kata terpampang di pikiranku seraya Caldwell menciumku. Itu semua, hal, dan ketentuan soal dirinya. Beberapa detik kemudian kata-kata tersebut menghilang, dan ciuman Caldwell berhenti.
"Yang tadi itu bonus. Karna kau sangat cantik."
Sesungguhnya aku tidak ingin menyumpah, karena itu perbuatan buruk. Tapi karena makhluk astral ini, aku malah jadi menyumpah.
Holyf*ck! My first kiss is a thumbelina.
***
Kejadian semalam, sungguh mengejutkanku.
Makhluk yang mengaku sebagai thumbelina itu, malah lebih tampak seperti seorang perve*t. I mean, dia memang tampan dan kuakui sangat rupawan, tapi image sebagai sosok thumbelina yang imut, kujamin nol besar, ada padanya.
Ok. Berhubung aku sedang membahas soal si—fake—thumbelina ini, a.ka Caldwell, aku akan memberi tahu hal-hal penting yang berhubungan dengannya.
Nama lengkapnya, Caldwell Johanson Clifford. Ia adalah sesosok thumbelina laki-laki yang dapat berubah wujud menyerupai manusia pada umumnya. Para thumbelina ini, kadang hidup di dalam rumah ajaib yang biasanya dimiliki si pemilik yang memintanya—dalam kasusku, aku hanya berdoa—dan yang terpenting, thumbelina selesai bertugas dalam-
Dalam apa ya? Mengapa aku menjadi lupa? Aku bahkan mengingatnya semenit yang lalu.
"Kau bisa mengetahuinya lagi, kok."
Aku terkaget ketika Caldwell yang semulanya berada di rumahnya, tiba-tiba berdiri di belakangku, dan berbisik di belakang leherku. Ah! Si perve*t ini!
"Perv*rt? Aku hanya melakukannya untuk bersenang-senang, tahu."
"Oy! Berhentilah membaca pikiranku. Kita tidak impas tahu. By the way, tadi bagaimana?" tanyaku sambil memasang jas sekolahku, dan mempersiapkan buku-buku untuk sekolah. Iya, aku sedang bersiap untuk berangkat sekolah.
"Kemarilah," katanya sambil menarikku, dan akhirnya aku terduduk di kasur di sampingnya. Omong-omong, aku baru sadar soal pakaian Caldwell. Semalam, aku melihatnya memakai piama, dan sekarang, ia memakai seragam yang sama denganku. Aku juga ragu akan cerita yang kuingat itu. Ayolah, di zaman sekarang? Thumbelina? Doa? Itu lucu.
Chu~
"Hei! Apa yang kau lakukan!"
Huh, dia menciumku tanpa persetujuan lagi!