"Sudah ingat, belum?"
"A-apa?"
Chu~
Caldwell kembali menciumku, dan demi tuhan, jantungku berdegup jutaan kali lebih cepat dari biasanya. "Ish! Kau-"
Tok tok tok
"Ada apa Karen?"
Huh, Ken jadi mendengarnya, kan. "Tidak ada, Ken. Aku akan keluar sebentar lagi," jelasku sambil mengusap-usap bibirku. Kalau caranya seperti ini, mana bisa aku mengingat hal penting itu. Justru yang kupikirkan malah soal ciumannya. Argh, bisa gila aku!
Kupandangi tajam Caldwell, dan makhluk itu malah balik memandangku dengan wajah polosnya—berbanding balik dengan wajah perve*t-nya tadi—lalu berkata,"What? Am I doing wrong?"
Baiklah, tidak boleh seperti ini! Aku bisa mati jika terus-terusan sport jantung bahkan di pagi hari. Aku harus membuat perjanjian dengan Caldwell.
"Perjanjian apa?"
"Huh! Bisakah kau tidak mengintip pikiranku sebentar saja, Mr. Perv?"
"Maaf ya, Karen. Tapi apa yang kau pikirkan, akan terus terdengar meskipun aku tak mengingingkannya. Jadi, berhentilah menyalahkanku, oke?"
Ah dia benar juga!
"Ya, Aku memang selalu benar," katanya menyombongkan diri.
"Terserah kau. Berhubung kau sudah dengar, mari kita buat perjanjian. Kau boleh berada 24/24 di sisiku, tapi bisakah kau tidak sembarang menciumku seperti tadi?"
"Why? Kau ingin lebih, Darling?"
"Ingin lebih, my ass. Pokoknya jangan." Setelah aku berbicara, aku keluar dari kamar, dan sebelum menutupnya, kupandangi ia yang tersenyum padaku, "Jangan keluar dari kamar atau rumahku dengan tubuhmu yang sek—"
"Karen? Godness! Siapa pria ini?"
Oh astaga. Ken? Mati aku!
***
Ken memandangku penuh tanda tanya, dan memandang tajam ke arah Caldwell saat ini. Bocah lelaki itu, melangkah maju saat itu juga ketika dalam beberapa detik, aku tidak menjawab pertanyaannya.
Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kukatakan pada Ken? Astaga! Aku mulai menggila.
"Jadi, kau Ken? Hai, aku Caldwell Clifford. Mulai saat ini aku akan tinggal bersama kalian!" kata Caldwell santai.
Ken tampak terkejut, namun masih memandang Caldwell ragu. "Kau kekasih ... Karen?"
Caldwell mendekat ke arahku, kemudian mencium pipiku—sembarangan—lagi, lalu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Ken. "Ya kira-kira, seperti itu,"katanya.
Ken menatapku meminta jawaban, namun yang sanggup kulakukan hanya menggeleng sebagai jawaban kepasrahanku. Bagaimana aku akan menjelaskannya? Bisa-bisa Ken menganggapku gila!
"Chil bruh. Bisa dikata aku kekasih bohongannya. Tapi, jika kakakmu ingin menjadi kekasih sungguhan sih, tidak masalah. Dan satu lagi, aku tinggal di sana. Jadi, kau tak perlu mencurigai kakakmu yang tidak-tidak, Ken. Kakakmu itu, orang baik, polos, dan lugu 'Sesungguhnya, kakakmu itu tipeku sekali' Hahahaha. Nah, mari berangkat?" jelas Caldwell panjang lebar, berbisik ke arah Ken, kemudian menunjuk rumah-rumahan kecilnya.
Aku ingin tertawa mendengar penjelasannya yang diikuti bisikan kecil ke arah Ken, yang jelas-jelas masih dapat kudengar. Ken mengangguk mengerti—mungkin—kemudian berkata, "Baiklah kalian. Paham kan, kalau aku masih di bawah umur. Jadi, usahakan untuk tidak mendesah terlalu keras, oke?"
What?
"Ken! Shut up you, dirty mouth!"
"Alright, Karen. I'll go in peace, ok? Bye."
Aku mendengus saja. Tapi, mengapa Ken tidak bertanya apa-apa soal Caldwell yang bilang ia akan tinggal di rumah-rumahanku?
"Aku telah memberi tahunya semalam, kalau kau penasaran."
"Ha? Kapan?"
"Aku rasa kau lupa, tapi saat kau berteriak kalau aku hantu itu, aku mendatangi Ken menjelaskan diriku padanya lewat mimpi," jelasnya sambil menjauh dariku. Ia berubah menjadi kecil lagi, lalu berteriak padaku, "Sembunyikan aku di sakumu."
Aku menaruh tanganku di meja, Caldwell pun menaiki tanganku. Saat aku akan mengarahkannya ke jasku, Caldwell menggoyangkan tubuhnya hingga tanganku ikut bergerak. "Jangan di situ, terlalu pengap."
"Lalu dimana? Kau tahu? Aku bisa telat karenamu!" ketusku.
Caldwell melompat dari tanganku, ke rumahnya. Tak lama kemudian, kulihat makhluk itu mengeluarkan mobil-mobilan kecil berwarna merah dari bagasi rumahnya.
"Kutunggu di luar," katanya sebelum ia dan mobilnya menghilang bagai di telan awan.
Tiin tiin
Godness!
Aku sontak mengikuti kata-katanya, keluar dari rumahku. Mataku membulat dengan sempurna saat Caldwell beserta mobilnya tadi, kini telah berada di halaman rumahku dengan ukuran manusia. Berapa kali melihatnya pun, aku masih tidak percaya!
"Cepatlah, Sayang. Kau ingin terlambat sekolah?" tanya Caldwell dari dalamnya.
"Oke, oke."
Baiklah, kuharap tak 'kan ada apa-apa yang terjadi nanti.
***
Oh ya, baiklah. Apa aku barusan bilang Caldwell menyebalkan?
Fu*kin yes!
Ia membuatku diperhatikan dari ujung kaki, hingga ujung kepalaku karena berangkat sekolah bersamanya. Sejujurnya aku juga tidak tahu bagaimana cara Caldwell memiliki seragam sekolahku, dan tiba-tiba akan sekolah di sekolahku juga tapi ... masa bodoh lah. Aku hanya ingin datang ke kelas dan tidak terlambat saja.
"Aku ada urusan sebentar, jadi kau bisa ke kelas sendiri 'kan? Karen?" tanya Caldwell saat kami telah turun dari mobil sport merah—mainan—nya.
Aku menatapnya, kemudian mengangguk, dan tersadar. "Ah, sure. I mean, yeah. Silakan pergi lebih dulu," kataku.
Caldwell menggelengkan kepalanya, kemudian mencium pipi kananku. Oh tidak! Ia melakukannya lagi.
"Oops, sory Karen. Yang tadi itu, bonus karna kau sangat cantik pagi ini. Nah pergilah ke kelasmu," katanya sambil mendorong badanku pelan.
Aku hanya memutar bola mata, kemudian berjalan ke arah kelasku. Hell yeah! Caldwell itu, perv*rt menyebalkan!
***
Kelas Mr. Jeffery, membuatku mengantuk di sepanjang pelajarannya. Aku tahu, ia mengajar kelas seni, tapi demi tuhan, aku tidak sedikitpun tertarik dengan bahasannya yang melulu soal kehidupannya dulu saat ia masih menjadi penyanyi terkenal di masa mudanya. Ayolah, aku bosan.
Beberapa menit kemudian, aku rasa ada yang mengetuk pintu kelas, dan seseorang berkepala botak, perut gendut yang kuketahui sebagai kepala sekolah, masuk untuk meminta izin kepada Mr. Jeff..
Beberapa saat kemudian, kulihat Mr. Jeff mengangguk, kemudian kepala sekolah keluar, dan satu orang kembali masuk dan orang itu adalah....
"Hai guys. Panggil aku, Caldwell. Aku kekasih Karen."
What the he*k?
***
Sepanjang waktu, orang-orang menatapku dengan penasaran. Oh c'mon. Aku saja penasaran ada apa dengan diriku, hingga keberuntungan memihak padaku.
Baiklah, akan kuceritakan detailnya. Pertama, Mr. Jeff hari ini sama sekali tidak membahas soal masa lalunya. Gosh! Ini sudah seperti hujan badai di gurun sahara. Aku bahagia sekali!
Kedua, aku melihat Veronica melihatku seperti orang kesetanan saat Caldwell berada di sampingku. Sudah kuduga! Ia pasti akan bersikap seperti itu ketika tahu murid baru—apalagi tampan—langsung dekat denganku yang notabenenya orang yang ia benci.
Terakhir, orang-orang di sekolah, mulai berbicara padaku, dan bahkan mengajakku mengobrol sedikit demi sedikit. Ternyata, Caldwell ada gunanya juga ya.
"Sudah kudengar, Dear. Jika ingin berterima kasih, berterima kasih saja." Caldwell menyedot banana milk-nya, kemudian menyodorkan sandwich yang telah ia buka kepadaku, "Makanlah sebagai tanda terima kasihmu," katanya lembut.
Deg deg
Oh tidak. Aku tidak boleh berpikir soal hatiku. Nanti kalau Caldwell mendengarnya bagaimana? Ada apa ini? Dimana sistem kebebasan berbicara di sini? Ini kehidupanku, mengapa aku harus menahan diriku untuk bicara bahkan hanya untuk di dalam hati?
"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk tidak bicara dalam hati, Karen," kata Caldwell lagi sambil tersenyum padaku. Oke, yang satu ini sungguh membuatku—lumayan—suka dengan—omongan—nya.
Aku memakan roti isi yang telah ada di tanganku, kemudian menatap sekeliling kantin yang telah ramai menatapiku dengan Caldwell saat ini?
Ada apa? Apa kami semenarik itu untuk dilihat?
Oh ya, aku baru ingat. Yang mereka tahu; Caldwell adalah anak baru, humble person, tampan, dan tiba-tiba berpacaran denganku.
Ah astaga! Mengapa aku baru sadar soal itu!
Tapi, egois sedikit, tidak apa 'kan? Lagipula, Caldwell memang hadir khusus untukku. Tidak masalah orang bicara apa, aku hanya akan menjalankan kehidupanku sesuai yang kumau.
"Nice! Aku suka jalan pikirmu, Karen," kata Caldwell, lalu menepuk pucuk kepalaku pelan, yang lagi-lagi membuat jantungku berdegupan secara bersamaan.
What he has just done, to me.