Jam pulang sekolah sudah berdenting sejak pukul 4, tapi aku masih harus duduk sabar di kursiku menunggu orang-orang keluar kelas sementara kursi belakangku ramai karena orang-orang tak juga keluar dari kelas dikarenakan Caldwell. Ya. Caldwell. Entah sihir apa yang lelaki satu itu lakukan, tapi dia sungguh menjadi biang perhatian hari ini. Dimulai dari mobil yang kami kendarai pagi tadi, pernyataannya soal menjadi kekasihku di kelas, dan juga keinginannya untuk duduk di belakangku dan mengawasiku seperti pengawal—yang sayangnya sama sekali tak tercapai karena justru malah ia sendiri yang dikerubungi orang.
"Anu, Karen? Bisa kau bantu aku?" Suara memelas Cald terdengar sayu dari belakang. Ia pasti sudah kelelahan kan sekarang meladeni pertanyaan dari anak-anak kelas yang penasaran soal nya? Haha rasakan itu!
"Karen!" Kali ini nadanya seolah membentakku karena mengejeknya dalam hati barusan. "Guys. Maaf ya, sepertinya kami harus pulang ke rumah sekarang," ujarku tanpa pikir panjang.
Sontak semua orang memandangku dengan terkejut. Eh? Apa yang kukatakan sampai orang lain kaget begitu?
"K-Kalian tinggal serumah?"
"Iy—" Otakku bekerja lambat saat pertanyaan itu masuk ke telingaku dan mulai terproses di otak, dan sontak saja aku ikut terkejut dengan pertanyaan sekaligus pernyataan bodohku sebelumnya. "Ah bukan, maksudku anu—"
"Tidak. Rumah kami hanya berbeda beberapa blok. Itu maksudnya," jelas Cald sambil mengedipkan sebelah mata padaku.
Ia berdiri dari kursinya dan berjalan ke depan, menuju kursiku dan menarikku berdiri sambil menjauh dari anak-anak yang masih menunggu jawaban kami lebih jauh.
"Fiuh. Para manusia memang melelahkan."
"Siapa suruh kau berlaku seenak jidatmu huh?" "Oh, begini caramu memperlakukan orang yang menyelamatkan hidupmu? Orang akan berlomba memberikan kado ciuman untukku, bukan mengeluh begitu," ledek Cald sambil menaik turunkan alis dan mengecupkan bibirnya sendiri sambil melihatku.
"Oh ya? Selamatkan aku dari apa huh?"
Tiba-tiba saja wajah menyebalkan Cald berubah menjadi serius saat tangannya menyentuh kedua pipiku.
"Kau lupa aku bisa mendengar setiap pikiran orang lain? Entah itu dirimu, tukang kebun di depan, apalagi orang-orang di dalam kelas tadi. Kau tahu apa yang mereka pikirkan soal kita tadi? Menjijikan. Aku tak akan menyebutkannya tapi ketahuilah bahwa pikiran kotor mereka sangat melukai indra pendengaranku yang sensitif."
Wow. Baru kali ini aku mendengar nada suara Cald yang begitu serius saat bicara denganku. Ia sama sekali tak terlihat bercanda, apaagi saat ia mengatakan kata 'menjijikan' yang keluar dari bibir tipisnya. "Astaga Karen. Kau yakin aku yang m***m?" Argh, aku lupa ia bisa membaca pikiranku juga. "Kau mau bibirku? ambil Karen ambil. Semua untukmu," ujarnya lagi dengan nada menggelikan. Aku sendiri langsung berlari menjauh darinya. Aku menyesal barusan berpikir Caldwell sangat keren saat dia bicara serius tadi.
"Aku memang keren tahu!"
"Ya, ya, terserah."
***
Hari ini Ken pulang malam, dikarenakan ada tambahan jam belajar di sekolahnya hari ini. Entah itu benar ada tambahan jam belajar, atau ia memang seang terkena detensi jadi harus mengerjakan tugas dulu sebelum bisa pulang, aku tak tahu. Tapi yang jelas Ken tidak seterbuka itu padaku soal urusan sekolahnya. Padahal kan, aku adalah pengganti kepala rumah tangga di rumah ini selama orangtuaku pergi bekerja. Tapi anak satu itu selalu saja lebih ingin menjaga diri sendiri dan menjagaku lebih dari aku menjaganya karena ia merasa ia harus menjadi adik lelaki yang dapat diandalkan.
"Kau sebegitu menyayangi Ken ya?" tanya Cald saat aku asik merenung menatap TV tapi pikiranku melalang buana entah pergi kemana.
"Masa iya aku benci adikku sendiri."
"Ah aku jadi iri pada Ken."
Aku mengangkat sebelah alisku ke atas sambil memandang wajah Caldwell yang fokus menatapku. Mata birunya membuatku terpesona. Rupa Caldwell sangat tidak manusiawi, dimana hal itu memang benar karena Caldwel kan memang bukan manusia.
Kulihat Caldwell tersenyum sendiri sambil memandangku. Uh, aku lupa lagi kalau ia bisa mendengar pikiranku. "Iri kenapa?" tanyaku acuh. Masalahnya, apa yang bisa ia irikan dengan adikku? Ia tampan, pastinya jika ia mau, para gadis akan mengantri untuk jadi kekasihnya. Sedangkan adikku, puber saja belum. Badannya kurus dan freckless di wajahnya masih penuh. Apa Cald buta ya?
"Bukan itu. Aku iri padanya karena ia dikhawatirkan olehmu."
deg
Huh. Apa sih. "Kau tak tahu betapa cantik dirimu Karen? Kau cerdas, dan baik. Jangan biarkan siapapun menentukan siapa dirimu. Terlebih saat di sekolah. Aku melihat potensimu di segala bidang. Kau melakukan segalanya dengan baik. Kau sudah bekerja keras Karen. Jangan paksa dirimu jadi apa yang orang-orang ingin untukmu."
Mataku tiba-tiba saja mengembang mendengar ucapan Cald barusan. Selama aku hidup. Aku selalu bekerja lebih keras dari siapapun. Aku ingin terus melampaui ekspetasi orangtuaku dengan prestasi. Aku ingin selalu jadi orang ramah dan baik kepada setiap orang. Tapi selama ini usahaku selalu sia-sia. Orangtuaku jarang pulang. Jangankan tahu soal prestasiku, tahu aku dan Ken makan dengan teratur saja, tidak. Lalu di sekolah, jangankan untukmenjadi ramah pada semua orang. Mereka malah memusuhiku dan aku bahkan tak memiliki siapapun untuk bahkan disebut teman.
Aku terenyuh mendengar perkataan Caldwell barusan. Ia mengakui bakatku. Ia memberikan apresiasi untukku, dimana selama ini hal itu yang aku inginkan dari orang lain. "Sssstt, jangan menangis."
Caldwell merengkuhku dengan lembut. Aku yang tadinya memang sedang menahan tangis, tiba-tiba saja tangisku jadi meledak berkat pelukan dan ucapan hangatnya. Sebut saja aku cengeng dan aneh namun hal-hal yang Caldwell berikan padaku benar-benar menyentuh relung hatiku yang terdalam.
CKLEK
"Argh mataku! Tolong dong kalau mau melakukan itu, di kamar saja!"
Suara teriakan Ken membuatku sontak melepas pelukan Caldwell dan menghapus air mataku dengan cepat. Ken masih berada di daun pintu saat melihat aku dipeluk oleh Caldwell.
"Dan please, gunakan pengaman oke? Aku tak mau jadi om di usiaku yang masih 14 tahun!"
"KEN!!!" teriakku saat Ken langsung kabur ke kamarnya meninggalkan aku dan Caldwell yang tertawa melihat Ken yang sedang meledek kami. "Kok malah tertawa sih? Dia salah paham terus tahu!"
"Loh memang kenapa? Kan wajar. Atau kau belum pernah melakukannya ya?"
Pertanyaan Caldwell membuat wajahku memanas karena malu. "S-Siapa bilang?"
"Tak apa, Karen. Jujur saja. Kalau kau tak jujur pun, aku masih bisa mendengar pikiranmu tah-"
"Oke, aku belum pernah. Jangankan melakukan hal itu, punya pacar saja belum pernah seumur hidupku. Kau ini tak pernah puas ya kalau belum dapat ucapan yang kau mau?" keluhku kesal.
"Jangan kesal begitu, kau jadi tambah cantik," godanya. Dan ya memang parahnya aku benar-benar tergoda.
"Kalau tergoda, boleh aku menciummu?"
Sontak aku menjauh beberapa inchi darinya. "m***m!!" teriakku dan Caldwell lagi-lagi hanya tertawa sambil berlari kabur menjauh dariku yang masih duduk di sofa. Tanpa sadar, aku tersenyum kecil. Kehadiran Caldwell memberi warna dalam hidupku.
***
"Well, well, enakya sekarang sudah ada back up dari anak baru."
Suara menyebalkan Veronica terdengar dari pintu saat aku masih mencuci tanganku di toilet sekolah. Aku tak menghiraukannya sama sekali. Fokus dengan tanganku dan air mengalir dari kran yang masih terbuka di sini.
Veronica masih memerhatikanku dari ujung pintu sambil memangku tangan. Karena kegiatanku mencuci tangan sudah usai, aku merapihkan baju dan berniat keluar meninggalkan Veronica yang berada di daun pintu. Namun gadis itu tak mengizinkanku untuk pergi.
Tubuhnya yang lebih tinggi dan berisi dariku menghadangku hingga aku tak bisa keluar. "Minggir,aku ingin keluar."
Bukannya menepi, gadis itu malah mendorong tubuhku ke dalam wc, sedangkan ia mengunci pintu toilet dari dalam. Ah, apa yang akan gadis gila ini lakukan? Ia tak sadar kalau sekarang ini ia sedang membullyku secara langsung? Biasanya kan ia membulyku secara tidak langsung saja. Contohnya dengan membuat semua orang menjauhiku meskipun aku tak melakukan apapun.
"Serius, V. Aku salah apa padamu?"
Padahal apa yang baru saja kukatakan, bukan hal buruk. Tapi tiba-tiba saja Veronica menjambak rambutku ke depan dan menarikku ke wastafel.
"Jangan sok dekat!"
Ia menyalakan keran, sedangkan aku masih berusaha melepaskan rambutku yang dijambak olehnya yang tentu saja hanyalah kesia-siaan karena tenagau tak sebanding dengan Veronica yang memang memiliki tubuh atletis sejak kecil.
Dulu Veronica tak sejahat ini. Kami berteman sejak bangku sekolah dasar. Ia mulai berubah saat kami masuk junior highschool , dimana tiba-tiba aku terpilih menjadi perwakilan sekolah untuk lomba cerdas cermat dan memenangkan hadiah utama. Sejak saat itu, seluruh guru-guru mengenaliku dan menjadikanku anak emas mereka, sedangkan Veronica, bukannya mendukung malah balik menjauhiku.
Hanya karena aku menjadi lebih populer darinya.
Ia berhasil membuat rambutku basah hingga ke seragam. Usai puas membuat pakaianku basah, baru ia melepas jambakkan di rambutku. Aku menahan tangisku melihat wajahnyayang tampak puas melihat aku yang tersiksa. "Apa kau akan bertanya apa alasanku melakukan ini?" tanyanya sambil tertawa.
"Tak ada alasan khusus! Karena ini menyenangkan, hahahhaa."
Dadaku sakit mendengar ucapan kejamnya barusan. Ia menjambak dan mengguyur kepalaku hanya untuk bersenang-senang. Psikopat.
Aku langsung membuka pintu kamar mandi dan melihat dua orang antek Veronica rupanya sedang berjaga di depan pintu toilet, dan saat aku keluar, mereka tertawa melihat rambut dan seragamku yang basah yang membuat seragam putihku menjadi tembus pandang.
"Wow, belahan d**a yang bagus Karen!"
Seorang lelaki berandal yang kuketahui biasanya bersama dengan Veronica tiba-tiba menatapku dengan terang-terangan tepatnya ke arah dadaku yang membuatku langsung menutupi diriku dengan tangan. Aku masih dengan mataku yang mengembang karena menahan tangis, dan hatikuyang sakit karena diperlakukan dengan sangat tidak pantas sebagai manusia. Sebetulnya, apa salahku ya tuhan?
Rasa dingin menyentuhku saat angin bersemilir dan mulai banyak orang melihatku tanpa ada rasa ingin membantu. Hanya penasaran. Kulihat Veronica sudah keluar dari toilet sambil menyeringai melihat aku yang menjadi bahan ledekan para berandalan sekolah.
Namun hal ini tak berlangsung lama saat aku merasakan tubuhku terselimut jas sekolah kami yang hangat. Caldwell adalah orang yang memasangkannya untukku. Dengan lembut ia membawaku melewati orang-orang yang masih menatap kami seolah Caldwell baru saja menyelamatkan kucing yang tercebur ke kolam.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir yang bisa langsung kurasakan.
Tangisku pecah lagi karena ucapannya. Kenapa Caldwell selalu menjadi orang yang melihatku menangis sih?
Ia memelukku dengan lembut sambil terus mengarahkan kami berjalan entah kemana. "Tak apa, menangislah sepuasmu dan tersenyum lagi untukku nanti," ujarnya lembut. Ia mengusap-usap pucuk kepalaku membuat hatiku menghangat.
Ah, Tidak. Aku tidak boleh jatuh cinta pada Caldwell.
***
"Taman bermain? Kau pikir aku anak kecil ya Cald?"
Caldwell hanya tertawa mendengar keluhanku. "Kau tahu ini pertama kalinya aku bolos sekolah, tapi bolos sekolahku hanya ke taman? Lebih baik kita kembali ke sekolah. Ayo pergi."
Caldwell menahan tanganku sambil menggeleng. Senyumnya mengembang, lalu ia menyuruhku untuk duduk di kursi taman panjang dimana di hadapan kursi ini aku bisa melihat banyak bunga-bunga bermekaran. "Duduk dan rasakan udara segar di sekelilingmu," perintahnya.
Aku akhirnya hanya menuruti ucapannya sambil memandang bunga-bunga di hadapanku. Semuanya tampak sehat dan dalam kondisi segar. Aku juga bisa melihat beberapa hewan seperti kupu-kupu dan kumbang hinggap di kelopak bunganya. "Bagaimana ya rasanya menjadi kupu-kupu? Sepertinya menyenangkan."
"Menyenangkan sampai kau tahu hidup kupu-kupu hanya sampai 2 minggu."
"Hah? Serius?"
"Tergantung cuaca. Bisa jadi 2 hari kalau sangat dingin."
Aku terkejut mendengarnya. 2 minggu? Bagaimana mereka bisa terlihat semenyenangkan ini meskipun hanya hidup untuk 2 minggu, dan bahkan 2 hari jika dengan cuaca dingin. Bagaimana bisa aku merasa hidupku lebih menyedihkan daripada mereka yang tidak bisa merasakan hidup lama.
"Ugh, poor them. Hidupku lebih baik dari mereka."
Aku bisa mendengar Cald tertawa mendengar ucapanku barusan. Aku ikut tertawa bersamanya. "Ketahuilah Karen, aku akan selalu ada untukmu. Aku berjanji."
Aku menatap wajah Cald yang terlihat sangat serius menatapku. Wajahnya perlahan mendekat kepadaku. Aku tahu. Aku tahu ia berniat menciumku. Tapi aku langsung mengalihkan wajah sambil menatap kembali bunga-bunga indah di hadapanku. "Wah segar sekali di sini," ujarku sambill menghirup udara segar yang terdapat secara gratis.
Diam-diam aku melirik Caldwell yang tersenyum sambil menutupi mulutnya. "Mau es krim?" tanya Caldwell usai kecanggungan yang baru saja kami ciptakan.
"Boleh! Aku mau vanila ya!" ujarku dengan semangat. Caldwell berdiri, lalu mengusap pucuk kepalaku pelan.
"Tunggu sini ya."
Ia kemudian berjalan menjauh dariku. Lalu aku baru sadar, darimana Caldwell dapat uang. "Tenang saja, uang bersih kok!" teriaknya dari jauh.
Aku tertawa mendengarnya yang masih bisa menjawabku meskipun dari jauh.
***
Baik aku maupun Caldwell, akhirnya memutuskan pulang usai makan es krim di taman tadi. Kami tak kembali ke sekolah dan Caldwell bilang takm perlu peduli dengan tas kami karena ia sudah memindahkannya ke rumah kami sejak siang tadi. Saat aku membuka pintu, Ken sudah berdiri di depan sofa dan menatap aku dan Caldwell dengan dua alis menyatu.
"Kalian...,"
Duh, bagaimana nih. Ken pasti sadar kalau hari ini aku membolos. Masalahnya bukan karena bolosnya, ia pasti akan bertanya alasan aku membolos dan ia akan tahu kalau selama ini aku dijauhi di sekolah. Sedangkan itu, aku tak bisa berbohong padanya. "kenapa selalu pulang tepat waktu sih? Orang seumurmu kulihat lebih senang main dulu sepulang sekolah daripada langsung pulang tahu. Coba deh sekali-kali rasakan pesta atau apa gitu," omel Ken yang sontak membuat aku diam-diam tersenyum lega karena ia tak menyadari aku dan Cald yang pulang terlalu cepat.
"Berhenti mengomel Ken. Lagipula, pesta apa sih? Terlalu malam dan pastinya berisik."
"Tuh kan, apa kataku, Cald. Karen tuh kuno. Kenapa kau memacarinya sih?"
Cald tertawa mendengar ucapan Ken. "Tenang saja, Ken. Aku akan mengubah kakakmu menjadi lebih baik kok."
"Bagus. Aku bosan melihatnya di rumah terus. Kalau bukan peralatan masak yang ia pegang, pasti buku atau tv. Seperti nenek-nenek."
"Benar, tapi bukan soal nenek-neneknya. Karen sangat muda dan cantik tahu!"
"Dasar b***k cinta. Seleramu sungguh aneh, Cald."
Huh, sial. Aku invisible ya? Mengapa mereka membicarakan aku yang jelas-jelas ada di hadapan mereka. "Intinya, Cald. Dia kuserahkan padamu!"
"HEI MEMANGNYA AKU BARANG HAH?!"
"Dengan senang hati, Ken. Akan kupermak sampai halus," jawab Cald yang juga seolahtak mendengarku.
"Oy, aku di sini loh!" teriakku kesal. Namun baik Cald maupun Ken malah pergi menjauh dariku. Ken langsung duduk di sofa dan menonton TV sedangkan Cald naik ke lantai atas, membuat aku mengikutinya yang ternyata berjalan ke kamarku.
"Kau tahu tidak tingkahmu tadi menyebalkan?"omelku.
Cald hanya tersenyum tipis mendengar omelanku. "Kau tahu kan kita tak benar-benar kekasih sungguhan, kenapa kau buat Ken menjad-apa yang kau lakukan!" teriakku saat melihat Cald mulai membuka seragamnya dan menunjukkan tubuh shirtless nya yang sumpah demi tuhan sangat indah.
Tanpa sadar aku menutup mataku dan menginpitnya sedikit dari celah jari. "Kenapa tak bilang kalau mau ganti baju."
"Kau sendiri asal ikut masuk saja. Kupikir kau memang ingin melihatku ganti baju."
Oh ayolah, akutahu kalau barusan itu Cald sedang menggodaku.
"Bagaimana kalau tiak?"
Tiba-tiba aku merasakan napas hangat menerpa bibirku. Tangan Caldwell menyentuhku dan menariknya ke atas, membuat aku dapat melihat dengan jelas wajahnya yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahku. "Kau tahu aku bisa mengajarimu apapun kan? Termasuk itu," katanya sambil menyeringai.
Aku mendorongnya menjauh dan berdiri. "Uh, berhentilah dasar m***m! Tutup pintunya atau jadilahthumbelina dan ganti pakaian dirumah kecil itu dibanding melakukannya di kamarku!"
Aku keluar dari kamar dan langsung membanting pintunya. Dadaku berdegup kencang karena terkejut dengan sikap Caldwell barusan. Sekali lagi, aku ingin menekankan pada diriku bahwa aku tak boleh jatuh cinta padanya. Dan kuharap aku tak begitu bersandar padanya.