Nenek juga saudara-saudaraku dari Australia datang ke rumah kami di New York dengan penerbangan pertama secepat yang mereka bisa dapatkan dari Australia
Setelah mengetahui keberadaan mayat orangtuaku kemarin, dan mengobrollangsung dengan pihak RS yang mengabari rumah kami, aku langsung menghubungi keluargaku di Aussie, dan mengurus soal upacara kematian mereka di sini, sendirian. Dimulai dari membeli peti mati, mengurus lahan untuk kuburan, membeli batu dengan ukiran atas nama mom dan dad. Aku bahkan memesan catering makanan di rumah.
Ken, bocah lelaki itu sudah lumayan mendingan saat ini. Cherryl―sahabat Ken―datang ke rumah kami, dan langsung menenangkan Ken membuatku bersyukur bahwa setidaknya Ken memiliki satu teman untuk menghiburnya.
Padahal tinggal beberapa hari lagi untuk melihatku lulus sekolah dan wisuda, tapi orangtuaku telah pergi meninggalkanku dan Ken lebih dulu untuk selamanya. Aku tahu semua yang hidup, pada awalnya memang mati, dan pada akhirnya akan mati lagi. Tapi, aku masih manusia, dan aku masih belum bisa menerima sepenuhnya bahwa orangtuaku telah dipanggil secepat ini oleh Tuhan.
Oh tunggu. Aku sebetulnya aku masih tidak percaya dengan apa yang Caldwell katakan soal ruh orangtuaku.
Saat semua orang sedang berduka melihat peti mati kedua orangtuaku, aku berdiri dan berlari. Ya, aku berlari ke arah ruangan yang berada di pojok dekat kamar mandi dimana ada ruangan untuk memantau CCTV di sana.
Mataku sangat teliti dan jeli saat ini. Aku hanya ingin menyangkal bahwa orangtuaku telah meninggal begitu lama padahal baru kemarin aku bertemu mereka. Bahkan mayat mereka masih sangat bagus seperti baru meninggal kemarin, meskipun kata dokter itu karena hawa dingin yang membekukan mayat mereka.
Aku memasukkan input tanggal dan jam yang kuingat saat kedua orangtuaku datang. Lalu saat momku memasak untukku. Lalu saat dad keluar dari kamarnya.
Tidak. Ini tidak mungkin nyata kan? Aku tidak melihat apapun. Pintu terbuka sendiri,padahal saat itu orangtuaku datang. Di dapur, Caldwell yang memasak sendirian dan aku juga ingat hanya Caldwell yang membawakan makanan ke meja dan membawakan hanya untukku dan dia. Semua ini…benar apa yang dikatakan Caldwell, bahwa mereka datang untuk menemuiku.
Aku menangis lagi sejadinya. Aku ingat ucapan mereka soal betapa mereka menyayangiku kemarin. Jadi mereka datang kepadaku untuk mengatakan soal betapa mereka menyayangiku? Tangisku menjadi sangat sulit dihentikan, hingga aku bahkan tak bisa mendengar tangisku sendiri. Aku ingin berteriak tapi hanya berakhir dengan teriakan ilusi yang membengkakkan mata.
Setelah beberapa menit menangis dalam diam, aku menghapus semua air mata yang merembes di pipi. Usai merasa baik-baik saja, aku keluar dari ruangan dan menuju ruang utama dimana upacara kematian akan dimulai. Rupanya peti mati sudah ditutup, dan mereka seolah sedang menungguku untuk memulai acara.
Ternyata tinggal aku yang harus mengucapkan kata-kata terakhirku soal orangtuaku. Nanny―sebutanku untuk nenek―menepuk pundakku untuk menyemangatiku. Aku naik ke atas podium dan berusaha untuk tetap tegar sambil memegang mic melihat kea rah seluruh keluargaku dan teman-teman orangtuaku yang datang.
“Uhm, orangtuaku ya? Mom dan dad dulu sangat jelas soal kehidupanku dan Ken. Tidak boleh di luar rumah sampai tengah malam kalau tidak perlu. Boleh berteman dengan lawan jenis asal tidak menjadikannya pacar. Maksudku, itu semacam hal yang sulit kan? Tapi aku kini paham maksud mereka. Mereka tak ingin kami terkena musibah di jalanan apalagi jika pulang terlalu larut. Mereka tidak ingin kami mengorbankan pendidikan demi pacar, kini aku tahu betapa mereka mencintai aku dan Ken. Dan meskipun omelan mereka terkadang membuatku muak, sekarang aku begitu merindukan mereka….”
Air mataku mengalir begitu aku mengucapkan kata rindu. Suaraku tiba-tiba bergetar saat mengatakan hal selanjutnya.”Aku yakin mereka sudah berada di tempat yang lebih baik saat ini. Aku yakin mereka sedang melihat acara pemakaman ini sambil tersenyum karena lihatlah, seluruh keluarga dan kerabat serta teman semua datang. Aku bahkan bisa membayangkan mom yang sibuk mengobrolkan soal ponakannya yang baru lahir,”
Aku menunjukke arah bibiku yang sedang mengendong bayi. Tangisku sudah mereda saat orang-orang tersenyum mendengar lelucon payahku.”Tapi sekali lagi. Aku ingin berterima kasih karena mom dan dad sudah melahirkanku ke dunia ini. Jika aku mati nanti, aku berharap di kehidupanku selanjutnya aku menjadi anak mereka lagi, lagi, dan lagi. Terima kasih.”
Pidatoku usai, dan rasa sesakku berubah menjadi plong saat turun dari podium. Ken berdiri saat aku turun dan membuka lengannya membuat akusontak memeluknya. Baiklah, hidup berdua saja dengan Ken. Aku yakin aku bisa.
***
"Karen, aku turut berduka cita." Aku mendengar suara gadis di belakangku, dan ternyata dia Katherine. Kami baru saja kembali dari acara kuburan dan aku sendiri sedang duduk di kamar menghadap ke jendela.
Gadis itu mengenakan setelan gaun hitam, lengkap dengan heels hitamnya. Ia sontak memelukku, ketika aku mengangguk sambil tersenyum padanya. Ia menepuk pelan tangannya di punggungku membuatku membalas pelukannya lebih erat.
"Besok, kau tetap ikut prom night school, 'kan?" tanyanya ketika kami melepaskan pelukan.
Aku menatapnya ragu, kemudian menjawab, "Entahlah, Kat. Mana mungkin aku ikut acara itu ketika sedang begini?" Aku baru saja kehilangan dua orang yang menjadi tumpuan hidupku. Bagaimana mungkin aku melakukannya?
Katherine menggeleng-gelengkan kepala, kemudian mencubit pipiku pelan. "Kau tidak boleh bicara begitu. Aku akan membantumu menyiapkan segalanya, Karen. Percaya saja padaku," katanya dengan jelas.
Meski baru satu bulan lebih aku mengenalnya, aku tahu watak Katherine yang satu ini. Ia paling tidak bisa menerima penolakkan. Aku akhirnya mengangguk sebagai jawaban. "Kau akan pergi bersama Caldwell?" tanyanya lagi.
Kenapa membahas Caldwell sih? Aku bahkan tiak tahu ia dimana dan kemana. Entah aku terlalu marah hingga tidak peduli atau aku terlalu sibuk mengurus kematian orangtuaku dan kesedihanku yang harus kupendam demi terlihat baik-baik saja.
Aku hanya bisa menjawab, "Mungkin? Aku tidak tahu."
"Omong-omong, kau bertemu dengannya dimana sih, Karen? Mengapa ia bisa tiba-tiba dekat denganmu?" tanyanya lagi. Kali ini pertanyaannya begitu memojokkan hingga aku merasa harus menjawabnya.
Aku hanya tersenyum kecil, kemudian menjawab ragu, "Ya, hanya bertemu saja, begitu."
"Really? Aku rasa kau bohong soal Cald tetanggamu. Kau tinggal dengannya juga, ya?"
Deg deg
Wait.
Bagaimana Katherine bisa peka soal hal itu sih? "Kau tahu darimana?"
"Wait! Jadi aku benar?"—Katherine menutup mulutnya sendiri—"ah maksudku, aku hanya menebak. Ternyata benar? Astaga aku tidak bisa percaya ini."
Astaga aku yang keceplosan.
"Dia tinggal sekamar denganmu? Atau dengan adikmu tadi ? Atau bagaimana?" tanyanya heboh.
"I-itu–"
"Karen, aku baru selesai menyelesaikan urusanku."
Aku terkejut saat Caldwell tiba-tiba datang dari rumahnya dan berdiri di depan aku dan Katty yang sedang mengobrol. Aku melotot syok, sedangkan Kath terlihat lebih syok lagi dariku. Ia bahkan sampai mundur selangkah saat Caldwell mendekat.
"I-itu, C-C-Caldwell, kan?"
Aku menepukkan dahiku. "Oh Karen punya tamu," jelasnya santai.
Punya tamu your ass. Kalau Katherine histeris bagaimana? Dia pasti tidak akan paham apa yang ia baru saja lihat kan? Caldwell bodoh!
"Katherine, 'kan? Salam kenal, aku Caldwell." Caldwell tersenyum sambil menunduk kepada Katherine. Katherine masih menggeleng tak percaya saat ini. Aku yakin setelah ini, Katherine akan menjauhiku, dan menganggapku gila.
"Karen, aku akan datang ke rumahmu besok, jam 4 sore ya." Katherine mundur perlahan, kemudian tubuhnya langsung menghilang di balik pintu. Entah lari, kabur, atau bagaimana. Ah, aku tak peduli. Paling besok aku tak menghadiri acara itu. Aku saja bingung akan tinggal dimana setelah ini?
Ikut pergi ke Australia bersama Ken dan keluargaku, atau tetap menetap di sini?
"Ikutlah denganku kalau begitu."
Aku sontak menatap Caldwell tidak percaya. Begitu pikirnya? Semudah itu? Apa ia berpikir aku sudah memaafkannya sekarang?
"Kau marah padaku, Karen?"
"Kau bodoh ya Caldwell? Aku benci padamu."
Apa yang barusan kukatakan? aku malah menangis! Oh God!
Caldwell memelukku erat. Dengan ini, aku menumpahkan segala keresahan, dan kesedihanku selama ini, kesedihan yang selalu aku pendam sendirian, yang akan terus menjadi topengku di setiap hariku.
Dicaci, dibully, dibenci, ditinggalkan, apa lagi yang kurang dari hidupku? Mengapa semua terasa menyesakkan dadaku ketika aku menangis?
"Sssst, kau memilikiku, Karen." Caldwell berbisik di telingaku, kemudian mengusap-usap rambutku dengan lembut. Mengapa kau sangat baik padaku, Caldwell? Mengapa kau hadir di hidupku? Mengapa kau membuatku tak bisa melangkah jauh darimu? Mengapa kau membuatku jatuh cinta padamu?
"Karena kau belahan jiwaku."
Deg.
Aku melepas pelukannya, kemudian menatapnya penuh tanda tanya. Belahan jiwa?
"Kau belahan jiwaku, Karen. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku datang, bukan tak disengaja, aku berbohong. Itu adalah kesengajaan. Aku mengenalmu, jauh sebelum kau tahu aku. Kakek-kakek pemilik toko itu? Tidak ada. Itu hanya boneka voodoo yang kujadikan manusia. Maafkan aku, tapi aku belum bisa menjelaskan semuanya sekarang. Maafkan aku karena aku harus menghapus kenanganmu saat ini." Caldwell menarik wajahku, kemudian mencium bibirku, dan tiba-tiba semua gelap.