Aku tidak tahu mengapa aku harus merasa kaku saat ini di samping Caldwell. Caldwell terlihat sangat tampan, dengan jaket merah yang membalut seragam sekolah, juga earbuds yang terpasang di mp3-nya. Aku juga tidak tahu darimana ia mendapatkan itu.
Kami saat ini sedang berada di kantin. Jam sekolah kami telah selesai untuk hari ini, dan karena aku merasa lapar, aku meminta Caldwell untuk mampir ke kantin, dan kami memutuskan untuk makan dulu. Jangan heran mengapa kantin masih begitu ramai meski jam sekolah telah usai, sekolah kami biasanya ada kelas malam, hingga sekolah selalu ramai setiap jam.
Aku melihat banyak orang di kantin, tapi yang lebih mencolok adalah Veronica. Make up nya yang tebal ditambah rok nya yang terlalu pendek. Bagaimana tidak terlihat mencolok bukan? Kulihat Veronica menatapku dengan sinis, diikuti para pengikutnya—Rebecca, dan Lolita—yang memandangku seolah aku makhluk yang tak seharusnya berada di kantin. Aku tak begitu peduli kepada mereka. Tiba-tiba aku ingat perlakuannya kepadaku di kamar mandi. Apa gadis itu tidak kapok ya? Dan bagaimana Caldwell menghapus ingatan mereka?
“Rahasia,” bisik Caldwell lalu menyeruput es nya yang kami pesan.
“Jangan dekat-dekat, ini sekolah tahu,” kataku sambil memukul bahunya pelan. Hidanganku belum datang, jadi seraya menunggu, terkadang aku ikut menyeruput es milik Caldwell.
Antek-antek Veronica mendekat ke meja kami, dan langsung duduk di samping Caldwell yang kini terkaget karna mereka. "Caldwell, mengapa kau selalu bersamanya? Karaoke dengan kami, yuk? Veronica akan mentraktir seluruh anak di sekolah loh," kata Rebecca sambil menggait lengan Caldwell dengan genit. Hello please aku masih di depan kalian loh, orang yang secara fisik adalah pacar Caldwell―meskipun tidak betulan.
Aku menatap mereka dengan jangar, berdecih dalam hati. Lalu apa? Kalian ingin pamer padaku karna hanya aku yang tidak diajak, huh? Kalau Caldwell ingin ikut, sudah ikut saja sana. Aku tak peduli, lagipula hidupnya kan, tidak melulu soal aku. Mengapa aku jadi kesal sih.
"Aku akan ikut,"—Caldwell melepas earbuds-nya, kemudian menarik tanganku, dan menciumnya—"asal kekasihku ikut," lanjutnya yang membuatku hampir memuntahkan es yang baru kuseruput lagi dari gelas Caldwell.
Lolita dan Becca saling berpandangan, kemudian keduanya perlahan pergi ke arah Veronica lagi. Demi tuhan, nafsu makanku telah hilang. Kuputuskan untuk pergi dari situ, dan Caldwell langsung mengikutiku. Oh tidak deh, lebih baik aku minta bungkus makananku dulu.
***
Sejak pulang sekolah, usai makan makanan yang kubungkus dari kantin menggunakan paper bag dan plastik, aku memendam diri di dalam selimut kamarku. Saat aku pulang tadi, tiba-tiba hujan mengguyur lingkungan kami. Untungnya saat hujan aku dan Caldwell sudah sampai di rumah, dan saat aku pulang Ken sedang mengerjakan PR di depan ruang TV. Suara hujan ini, membuatku semakin meringkukkan diri di dalam selimut hangatku.
Aku memang Karen yang kuat, yang tahan banting bahkan ketika aku dimusuhi orang satu sekolah. Tapi, aku masih perempuan kan, aku pun masih remaja yang merasa sedih saat ini. Aku diperlakukan seperti debu di sekolah, bahkan antek-antek Veronica melakukannya secara terang-terangan tadi. Seolah aku tidak berharga. Tidak bernilai. Tidak pantas untuk menjadi remaja seperti mereka. Meskipun ada Caldwell, tapi kenyataannya hal ini memang benar atau sebenarnya pikiranku saja yang terlalu berat? Entahlah aku hanya ingin meratapi nasibku dan merasa dramatis karena mendengar suara hujan.
Cklek
Kurasa ada yang masuk ke dalam kamarku. Cahaya dari luar kamar merembes masuk, membuatku hampir kesilauan. Beberapa menit kemudian sebuah suara mengagetkanku diikuti lampu kamarku yang menyala. "Kau kenapa Karen?"
Oh, Caldwell.
"Jangan berkata 'Oh, Caldwell' seolah kau tak mengharapkan aku masuk. Izinkan aku masuk,"katanya.
"Kau kan sudah masuk, Clifford!" kataku memanggil nama belakangnya. "By the way, apa sejak lahir namamu seperti manusia?" tanyaku penasaran.Oh sungguh, tiba-tiba otakku berhipotesis sendiri. Bagaimana Caldwell bisa kesini dari dunianya. Bagaimana bisa ia memiliki nama lengkap―yang sangat indah. Bagaimana ia bisa melakukan sihir tertentu padahal di buku dongeng, Thumbelina bukan penyihir, hanya manusia yang bentuknya seukuran ibu jari. Nah, kan. Otakku berpikir sangat keras sekarang.
Caldwell berjalan mendekat padaku setelah menutup pintu kamar, kemudian ikut duduk di samping kasur, sambil mengusap rambutku. "Maksudmu nama-nama yang kausebut sebagai nama manusia itu hanya milik manusia saja ya? Tidak loh,"katanya.
Oh begitu kah? Aku mengangguk-angguk saja, kemudian Caldwell mengubah posisi duduknya, menjadi tidur di sampingku, sambil menyuruhku menaruh kepala di lengannya yang hangat. Ia lalu memelukku sambil mencium pucuk kepalaku. "Caldwell, apa tuhan tidak marah? Karena aku jatuh cinta padamu," tanyaku.
Caldwell menggeleng—kurasa—kemudian mengusap-usap kepalaku lembut. "Kau tahu? Aku harus pergi setelah 50 hari menemanimu," katanya.
Aku melepas pelukannya sambil menatapnya lurus dan jauh ke dalam matanya. "Kau bercanda? T-tapi,"—aku menutupi wajahku demi tidak terlihat menyedihkan—"kenapa kau baru bilang sekarang?"
Caldwell gila. Ini hari ke berapa? Kenapa ia baru mengatakannya sekarang, ketika aku sudah terlanjur jatuh hati dan menggantungkan diriku sepenuhnya padanya?
"Itu peraturan, Karen. Maafkan aku karna membuatmu seperti ini. Tapi, aku juga merasakan hal yang sama sepertimu. Aku jatuh cinta padamu."
Oke, yang barusan itu sukses membuatku hilang akal. Aku tidak tahu sejak kapan kami mulai saling memperhatikan, hingga jatuh cinta, dan aku juga gila sepertinya karna aku mulai menangis saat ini. Sudah kubilang, takdir sangat senang mempermainkanku.
"Aku tidak ingin berpisah denganmu, Caldwell. Aku akan gila. Asal kau tahu, aku bahagia ada kau di sisiku. Aku bisa tegar dan tabah menghadapi semuanya karna aku tahu, aku memilikimu. Lantas, kalau kau pergi, bagaimana denganku? Bawa saja aku kemanapun. Aku tidak akan membuatmu repot. Aku jug-"
Caldwell menciumku dengan lembut. Setiap decakan suara ciuman kami, membuatku semakin merasa tak ingin melepaskannya nanti, ia memagut bibirku, mengisapnya, membuatku memeluknya semakin erat. Hatiku hancur, tapi aku berusaha untuk tidak menunjukkannya. Jiwaku tenggelam dengan lautan kesedihan yang awalnya selalu kupendam. Badai seolah datang bertubi-tubi padaku.
Beberapa saat kemudian, ia melepas ciumannya. Caldwell menatapku dengan mata teduhnya, dan aku membalas tatapan matanya. Beberapa saat aku merasa aku melihat diriku di matanya dengan wujud lebih dewasa dan menawan. Aku di sana, dan Caldwell berada di sampingku sambil mendengarkan aku yang bercerita. Di belakangnya, aku melihat Ken sedang menggandeng seorang gadis, membawa pigura foto kedua orangtuaku.
Sontak aku mengalihkan tatapanku dengan menggeleng-geleng, dan menatap Caldwell tajam. "Caldwell, apa-yang-kau-lakukan?" tanyaku tanpa sadar mengeja karena merasa tidak terima. Orangtuaku. Mengapa Ken di sana membawa pigura dan berpakaian serba hitam? Mengapa kini perasaanku tidak enak soal mereka?
Caldwell serta merta memelukku, kemudian menenggelamkan kepalaku di dadanya. Tidak kan, orangtuaku mungkin memang akan meninggal, semua orang memang akan meninggal, tapi bukan sekarang-sekarang ini kan?
"Caldwell, mengapa kau melakukan ini?"
"Maafkan aku, Karen. Orangtuamu telah meninggal sejak minggu kemarin."
Deg
Dadaku terasa sakit seperti ada yang menusuknya saat perkataan itu lolos begitu saja dari mulut Caldwell. Tidak, tidak mungkin orangtuaku telah meninggal. Aku tidak bisa mempercayai ini. Haha, bercanda Caldwell sangat lucu.
"Kau harus terima, Karen. Jangan biarkan mereka sedih melihatmu dari atas,"kata Caldwell. Nadanya sangat menenangkan sekaligus serius.
Aku melepas tautan tangannya, sambil masih menatapnya tajam. "Oh ya? Orangtuaku masih sehat, dan bahkan mengunjungi kita kemarin, Caldwell! Apa kau pikir aku anak kecil yang bisa kau bohongi? Kalau mereka meninggal sejak minggu kemarin, bagaimana mereka bisa pulang kemarin dan bahkan wujud mereka masih manusia dan aku tak pernah melihat mayat bisa tersenyum dan bahkan memegang bahumu."
"Itu adalah keinginan terakhir mereka untuk bertemu denganmu. Mereka mengalami kecelakaan di perjalanan saat melewati tebing curam, dan mayatnya baru ditemukan siang tadi. Yang kaulihat kemarin hanya ruh mereka. Ken akan kemari sebentar lagi-"
Brak!
Aku melihat Ken membanting pintu kamarku dengan mata berkaca-kaca, kemudian berlari padaku dan memelukku erat saat aku bahkan baru berdiri dari kasur. "Karen…mom dan dad…meninggal.”
Ken menangis tersedu-sedu di pelukanku. Saat ini, aku menahan tangisku untuk tidak keluar lebih kencang. Aku harus kuat, dan tidak boleh lemah karna Ken lebih membutuhkan sandaran saat ini. Mengapa di setiap kebahagiaanku, tuhan selalu memberikan kesedihan pula? Apa ini memang suratan takdirku? Tuhan senang mempermainkanku, huh?