Aku gagal untuk menjauhi Caldwell. Jujur saja, itu seperti menjalankan misi yang tidak mungkin kujalankan kan? Bukannya berhasil, justru aku malah menatapnya, memeluknya, dan menciumnya seperti aku kehilangan kewarasanku. Parahnya, aku dan Caldwell berciuman di depan orangtuaku yang baru saja pulang!
Aku sudah gila sepertinya.
Jam berdenting tanda saat ini sudah memasukki jam 9 malam. Saat orangtuaku masih duduk mengelilingi Caldwell sedangkan aku duduk di sampingnya dan masih lebih memilih membungkam mulut dibanding memulai percakapan canggung soal apa yang baru saja orangtuaku lihat tadi.
Rasa bersalahku pada Caldwell hampir ada di puncaknya. Ini salahku karena ia mendapat banyak masalah. Dimulai dari mengunakan kekuatannya terlalu banyak untuk masuk ke sekolahku. Ia bahkan terkadang ikut pusing mengerjakan tugas Ken karena aku sibuk melukis, lalu sekarang. Ia harus terlibat masalah karena aku jatuh cinta padanya. Karena ciuman bodoh yang tidak tepat itu, sebentar lagi hidup Caldwell mungkin akan berbeda. Hah Karen, kenapa kau sangat ceroboh sih?
“Karen, bawakan Dad minum,” ujar Dad sambil menyuruhku untuk bergegas pergi ke dapur sementara aku masih duduk dan tak menghiraukan permintaannya. “Karen?”
“Tunggu dulu, sejak kapan kalian sampai di sini? Maksudku kenapa kalian tidak menghubungiku kalau akan pulang?” tanyaku mendesak mereka yang tampaknya tak ingin aku ada di sini saat mereka menginterogasi Caldwell.
“Lalu melewatkan kejadian tadi dan membiarkanmu jadi ibu muda?” tanya Mom sambil menaik turunkan alisnya di hadapanku. Huh mereka tahu betul bagaimana cara membungkamku dengan membuatku malu.
“Mom, ciuman tak akan membuatku hamil!”
“Oh begitu?” Wajah mom terlihat meragukanku lalu menyenggol lengan dad dan berkata,”Kapan ya Dad waktu Karen menangis sesenggukan saat pulang dari sekolahnya karena ada anak cowok yang memegang tangannya? Lalu dia terus menangis sambil bilang,’Mom, Dad, Karen akan hamil’sampai membuat tetangga kaget dan mengira yang tidak-tidak?”
BLUSH
Huh, sumpah mom masih ingat hal memalukan begitu? Dan kenapa mom harus mengucapkannya sekarang di depan Caldwell sih? Aku melirik ke arah Caldwell yang sedang menahan tawa di sampingku.
“Mom, Dad, please?” mohonku sambil menyatukan kedua tangan. Mereka tampak tak menghiraukan aku dan fokus ke Caldwell.
"So, anak muda. Dari mana asalmu?" tanya dad-ku.
Aku memberikan gesture pada Caldwell untuk tak memberi tahu pada orangtuaku soal dirinya. Maksudku soal jati dirinya yang asli. Bisa-bisa orangtuaku menganggap kami gila kan? Ken bisa percaya saja sudah merupakan mukzizat atau sebenarnya ia hanya pura-pura percaya dan membiarkannya begitu saja karena seru atau memang ia percaya betulan, ah intinya orangtuaku tak akan percaya kan? "Biarkan aku mengenalkan diriku," kata Caldwell. Ia tersenyum santai.
Aku menggila sendiri. Please, jangan ucapkan hal konyol kepada orangtuaku, Caldwell. "Namaku, Caldwell Clifford. I’m a boyfriend of Kar-"
"No, Mom, Dad. Cald is just a friend. It is just a friend,"jelasku sejelas mungkin. Caldwell bodoh, maksudku bukan jati diri, tapi juga bukan soal kekasih kan? Bisa-bisa mereka jadi semakin salah paham soal tadi―walaupun memang kejadian tadi benar-benar membuat siapapun akan salah paham sih.
"HAH! Kau sungguh kekasih Karen kami? Astaga! Bagaimana kau bisa berakhir dengan Karen kami yang menyebalkan ini, Caldwell?" kata mom-ku heboh. Dad sendiri terkekeh padaku, kemudian menepuk-nepuk bahu Caldwell.
"Oh bahumu lumayan juga. Syukur kalau anakku masih normal. Kau tahu? Selama 16 tahun hidupnya, ia tak pernah membawa kekasihnya ke rumah, hingga membuat kami khawatir." Dad berbisik, kemudian menepuk bahu Caldwell sekali lagi, “masalahnya anak tetangga sebelah tidak pernah pacaran dan tahu-tahu membawa pacar perempuan ke rumah. Kau tahu, aku bukannya anti lgbt, tapi aku tetap tidak ingin anakku berakhir begitu.”
What the... Apakah mereka benar-benar mom dan dad, karena hal terakhir yang kuingat soal kata pacar dari mereka adalah aku harus menjauhi makhluk bernama laki-laki.
Aku bisa gila ini. Mengapa reaksi orangtuaku malah diluar ekspektasiku, ha?
“Serius ini mom dan dad?” tanyaku keanehan.
“Kau pikir kami hantu? Kami bukan hantu!” ujar mom sambil bersikukuh. “Ken belum pulang nih?” tanya mom mengalihkan ucapannya barusan. Aku menengok ke arah jam. Tadi sore sih setelah ia memberi tahuku kalau Caldwell akan pulang malam, ia izin pergi ke rumah Robin, teman dekatnya di sekolah. Jadi ia mungkin menginap di sana ?
“Ken menginap sepertinya,” jelasku. “Oh ya mom, dad. Jangan salah paham dulu. Uhm Cald sementara tinggal di sini karena yatim piatu.”
Orangtuaku mengangguk-angguk menunggu penjelasanku selanjutnya.”Kalian tahu kan, ia hitung-hitung menjagaku dan Ken?”
“Karena ia kekasihmu?” tanya dad yang terlihat sangat menyukai fakta bahwa Cald kekasihku.
“I-ya karena ia kekasihku?” Aku tidak tahu mengapa ujung kalimatku terdengar seperti pertanyaan, tetapi aku yakin kalau aku sekarang sedang meragukan ucapanku sendiri, sedangkan Caldwell asik melihatku yang terlihat kaku saat berbohong.
Usai menceramahi soal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan―dimana hal itu sudah jelas kami ketahui―orangtuaku juga menambahkan kisah percintaan mereka dulu sewaktu di Australia. Mereka tinggal berdua untuk waktu yang lama ketika masih berkencan dan melihat kami seolah sedang bernostalgia.
Uh. Bagaimana kalau sekolah tahu kalau aku tinggal bersama Caldwell? Bisa-bisa aku dan Caldwell dikeluarkan bukan dari sekolah?
Caldwell hanya tersenyum mendengar celotehan orangtuaku yang aneh ini. Yah, terserah kau akan berpikir apa, Caldwell. Orangtuaku memang begini adanya.
***
Kata Caldwell, Ken akan langsung berangkat sekolah dari rumah Robin karena bocah itu menghubunginya ke telepon rumah pagi tadi. Aku hanya mengiyakan saat aku duduk di meja makan sambil menunggu mom menyiapkan sarapan di dapur. “Biar aku bantu mom-mu menyiapkan sarapan ya?” kata Cald lagi. Ia mengusap pucuk kepalaku saat berjalan melewatiku menuju dapur.
Tak lama aku lihat dad keluar dari kamarnya. “Uhm dad? Kau tak ganti baju?” tanyaku yang melihatnya masih menggunakan pakaian kemarin.
“Tidak apa. Karena sebentar lagi kami akan pergi lagi,” jawab dad sambil tersenyum. Tak berapa lama, usai dad duduk di kursinya, Caldwell datang dengan membawa beberapa piring dan gelas dengan lihai seolah ia adalah pegawai restoran cepat saji. Ia menaruh makanan dan minuman yang dibawanya ke mejaku dan mejanya.
Aku mengernyit, terlebih saat mom datang dari dapur dan masih memakai pakaian yang kemarin juga. Tiba-tiba terlintas pikiran aneh di pikiranku, dan aku menatap mereka sambil tersenyum jahil.”Hayo, semalam kalian ngapain?” tanyaku.
Mom dan dad awalnya terlihat terkejut mendengar ucapanku namun mereka akhirnya tertawa. “Sudah cepat sarapan. Kau harus sekolah kan?” tanya mom. Ia melihatku dengan tatapan penuh sayang. Tatapan yang sangat kurindukan. Kali ini berapa lama mereka akan pergi ya?
“Eh kalian tidak sarapan?” tanyaku, melihat tak ada makanan atau minuman apapun di atas meja.
“Tidak begitu lapar. Kami takut jet lag, sebentar lagi kan harus berangkat lagi.” Kali ini mom yang menjelaskan. Ia tampak sangat bahagia melihat aku menyuap omelet yang dibuatnya. Uhm rasanya sangat menyenangkan. Masakan mom enak seperti biasa.
“Kenapa pulang kalau akan pergi lagi?” tanyaku. Sejujurnya saat ini aku sedang menyembunyikan nada suaraku yang hampir marah. Maksudku, lebih baik tidak pulang sekalian kan jika hanya mampir untuk tidur? Ken bahkan tak sempat melihat mereka.Apa mereka tidak memikirkan betapa rindunya aku dan Ken kepada mereka?
“Karena kami merindukanmu Karen. Kami ingin sekali melihatmu, anak kami yang cantik dan cerdas, yang paling pandai merawat diri dan rumah dengan sangat baik.”
Deg
Ucapan mom membuat perasaanku mendadak menjadi tak karuan. Padahal sebelumnya aku merasa sangat marah tapi sekarang aku merasa sangat menyesal telah berpikiran buruk soal orangtuaku. “Jangan sampai telat makan jika kami pergi nanti ya,” ujar dad melanjutkan ucapan mom.
Ugh, apa sih. Kenapa mereka senang membuat peraaanku menjadi aneh begini? “Kau tahu kami mencintaimu kan Karen?” ujar mom.
Aku mengangguk setuju. Aku tahu mereka bekerja dengan sangat keras demi aku dan Ken. Aku tidak boleh mengeluh dan jadi anak berbakti untuk mereka. “I love you too, mom, dad.”