Matahari sudah berada di peradabannya yang seharusnya ketika aku membuka mata dan terbangun dari tidur lelapku semalam. Ah, semalam aku tidur jam berapa ya? Rasanya aku lelap sekali tertidur hingga lupa aku tidur jam berapa. Lalu apa Caldwell sudah pulang ya?
“Karen ba-oh sudah bangun rupanya.” Ken tanpa mengetuk pintu langsung masuk begitu saja ke kamar. Awalnya kukira Cald. Ya mungkin saja kan tiba-tiba ia lupa soal pernyataan cintaku dan bersikap seperti biasanya lagi padaku.
“Cepat siap-siap. Kau mau bolos?” tanya Ken lagi.
Aku menengok ke arah jam di atas nakas dan tekejut karena ternyata sudah hampir jam 8. “Caldwell belum kembali. Jangan berharap bisa diantar naik mobil,” lanjut Ken yang seolah bisa menerawang pikiranku selanjutnya. Ah rupanya Caldwell belum kembali dari urusannya.
“Oh ya, semalam kau pulang jam berapa?”
Aku menatap Ken bingung. Memangnya kemarin aku kemana? Kenapa tanya aku pulang jam berapa? “Ah sudahlah, cepat siap-siap atau kau akan ketinggalan bus. Aku beli roti tadi pagi untuk sarapan. Semua sudah siap di bawah.”
Nah, kelihatan kan betapa cerewetnya Ken sekarang? Kurasa cuma Ken adik lelaki yang sangat cerewet dan peduli pada kakak perempuannya.
“Iya, aku mandi sekarang,” jawabku malas.
***
“Oh, Kath! Hai,” panggilku.
Katherine yang mulanya sedang mengobrol dengan sesama grup cheerleadernya langsung izin untuk mendekat ke arahku. “Hey Yo Karen.”
“Tumben pakai scarf. Kau kedinginan?” tanyaku. Aneh melihat Katherine yang memakai scarf ke sekolah. Biasanya ia ingin memperlihatkan leher jenjangnya kepada semua orang.
“Uh, aku tidak tahu. Tapi tiba-tiba ada dorongan untukku memakai scarf. Kupikir ini bagus juga,” ujar Kath sambil membenarkan scarf yang ia pakai dan tersenyum. “Uh aku agak mual, ke toilet yuk?” ajak Kath.
Aku dengan segera membantu Kath berjalan ke toilet. Ah sepertinya semalam aku ke pesta bersama Kath dan kami mabuk. Karena itu aku tidak ingat kalau aku pergi ke pesta dan pulang jam berapa semalam saat Ken bertanya tadi. Kath tampak pucat usai menyelesaikan urusannya di kamar mandi.
Aku sejak tadi menunggunya di depan wc, tepatnya di depan kaca dan wastafel. Ia keluar dari wc dan membuka keran wastafel dengan lemas. “Aku tak tahu apa yang terjadi padaku hari ini. Tubuhku sangat tidak bertenaga.”
Kulihat Kath membuka scarf-nya dan aku terkejut melihat bekas luka terlihat masih agak basah di leher Kath. “Dan leherku terasa agak perih.”
“Kau bercanda Kath? Bagaimana tidak terasa perih kalau lukanya masih basah begitu?!” omelku.
Aku segera mengambil kapas dan obat merah yang memang selalu kubawa setiap hari di dalam tas sekolahku. Katherine malah tampak bingung. Ia sesekali meringis saat aku memberikan obat ke lehernya, namun ia tetap terlihat bingung karena sama sekali merasa tak memiliki luka.
“Luka apa Karen? Leherku baik-baik saja,” ujarnya dengan bodohnya. Padahal ia bisa melihat lukanya sendiri lewat kaca kan?
“Jujur saja, kau disakiti kekasihmu?” Aku bertanya dengan mengintimidasi. Aku yakin Kath saat ini hanya sedang menutupi apa yang terjadi padanya.
“Kau bercanda ya Karen? Aku sudah menjomblo 2 bulan.”
Huh. Tapi kenapa aku merasa Katherine punya kekasih ya? “Ini cepat kering tidak sih? Aku mau pakai scarf-ku lagi.”
Aku meniupi luka Katherine dan setelah kering aku memakaikan scarf-nya dengan hati-hati. “Apapun yang terjadi jangan membuka scarf-mu.”
“Kenapa?”
“Lakukan saja apa yang kusuruh.”
***
Saat aku sampai di rumah, aku langsung membulatkan mata, menghirup aroma yang sangat kukenal dan kurindukan berada di rumah ini. Aroma ini adalah … wangi Caldwell!
Aku buru-buru masuk ke dalam rumah, dan berlari ke dapur untuk kemudian benar-benar menemukan Caldwell di sana sedang membuat minuman di atas pantry. Hatiku mencelos begitu saja. Seolah kekhawatiranku selama ini hilang begitu saja. Melihat wujudnya saja sudah cukup.
“Ya aku tahu kau rindu. Tidak usah malu, peluk saja aku.”
DEG
Uh, sial aku lupa kalau Cald pembaca pikiran. Cald membalikkan badan dan membuka lengannya besar-besar. Aku langsung berbalik ke belakang, dan kabur ke kamar. Tidak, aku tidak dan belum siap untuk ini.
Bagaimana kalau Caldwell nanti kabur lagi? Bagaimana kalau kali ini ia kabur lebih lama dari kemarin dan tak akan kembali lagi untukku?
Tidak. Lebih baik aku menghindarinya lebih dulu kan? Karena setidaknya aku bisa mencium keberadaan dan melihat wajahnya. Itu cukup untukku.
Ya. Kurasa sangat cukup. Kuharap.
***
. Aku tidak bicara pada Cald di rumah, dan sekolah. Aku menghindarinya, seperti aku menghindari makanan jamur di hidanganku. Aku bahkan berhenti berpikir, hingga membuatku plongo seperti orang bodoh, ketika berada di dekatnya.
Syukurlah aku pulang lebih dulu dibanding Caldwell. Ken bilang, ia akan pulang malam karena ada tugas kelompok di rumah teman barunya yang bernama Jessica. Hm, aku ragu kalau Jessica temannya. I mean, mereka tampak serasi bersama. Pokoknya aku sendirian di rumah, sambil menonton TV saat ini.
Tiba-tiba pintu rumahku terbuka, dan tanpa kutengok pun, aku tahu kalau itu adalah Caldwell. Makhluk itu lebih tampak seperti manusia akhir-akhir ini, hingga aku takut aku terlalu menggantungkan diri dengannya. Oke sesungguhnya aku memang sudah melakukannya.
Lelaki itu langsung masuk ke dalam kamarnya—aku memberinya kamar lain—dan setelah beberapa menit, ia keluar lagi dari kamarnya itu.
Aku langsung berpura-pura fokus dengan serial TV yang kutonton. Actually, aku jarang menonton televisi, dan aku tidak suka serial, tapi akan kuusahakan tahan menontonnya untuk saat ini.
Benar saja! Ia duduk di sebelahku, kemudian mengambil toples cemilan di meja, dan mengangkat kedua kakinya ke sofa yang kami duduki sambil memakan cemilannya. Ugh, tahanlah Karen. Jangan berpikir soalnya. Please, jangan berpikir soalnya, i'm ok without him, aku pasti bisa.
Fine! Aku tidak bisa.
Bau Caldwell terhirup sangat menyegarkan, membuatku rindu padanya. Haha aku aneh ya? Padahal aku yang menjauhinya, tapi aku malah merindukannya seperti orang gila ketika ia bahkan di sampingku.
Hey! Caldwell! Aku tahu kau mendengarkan pikiranku. Tapi kumohon jangan tertawa, karna aku tidak jamin akan menangis di sini, sekarang.
Kulirik, Caldwell menutupi mulutnya yang akan tertawa, dengan memasukan banyak cemilan kedalamnya. Kudengar ia mengunyah cemilannya hingga terdengar bunyi 'krauk-krauk' yang membuatku semakin kaku saja saat ini.
Akhirnya mataku kembali fokus ke TV, dan sepertinya ini hari sialku. Pertama kalinya menonton serial, dan adegannya sedang berciuman panas di kamar hotel? Ugh, ini serial TV atau film biru?
Entah mengapa aku jadi gugup.
Caldwell menaruh toples cemilan, kemudian menggenggam tanganku saat ini. Ia mengarahkan wajahku, hingga mau tak mau aku menatapnya. "Mengapa kau menghindariku?"katanya.
Aku melepas genggamannya, kemudian mengalihkan pandanganku ke layar TV lagi. "Jangan tanyakan soal itu," kataku.
Caldwell kembali mengarahkan wajahku, hingga aku lagi-lagi menatap wajahnya. Demi tuhan, aku takut menatap Caldwell. "Kau jatuh cinta padaku?" tebaknya.
Tebakan yang jitu! Kalau kau tahu, mengapa kau membuat keadaan saat ini semakin memburuk dengan mengatakan itu? Lagipula bukankah aku sudah mengatakannya di bianglala waktu itu?
Caldwell tampak terdiam, kemudian menarik wajahku, dan mencium bibirku dengan lembut. Perasaan yang menggebu ini, membuatku membalas ciumannya, dan memperdalam ciuman kami. Aku memeluknya, hingga kami berdua terjatuh di atas sofa dengan posisiku yang masih di atasnya.
Ciuman kami masih berlanjut, hingga kusadari tangan Caldwell tengah meremas bokongku yang tertutup hotpants, dan bibirnya saat ini sedang asik menjilati leherku membuat aku mendesah sekaligus melenguh dibuatnya. "Aannggh."
"Aku suka suara itu," bisiknya. Aku hanya tersenyum simpul dari atasnya, kemudian memeluknya lagi, hingga seluruh badanku menempel padanya seperti seekor gurita dengan tentakelnya.
Cklek
"Karen. Kalian sedang apa berdua?"
DEG DEG
Orangtuaku?