Pelajaran statistika sudah dimulai sejak satu jam yang lalu, tetapi Ms. Fransisca tampak masih betah berdiri di depan papan sambil mencoretkan spidolnya yang basah yang baru diisinya ke atas papan, menulis angka-angka dan perhitungan yang tampak memusingkan sampai hampir membuatku mual.
Oh ayolah. Aku sedang tidak mau menambah beban pusing di kepalaku. Pikiranku masih berkecamuk soal—kau-tahu-siapa—dan aku sedang memikirkan solusi untuk hal ini, karena demi tuhan aku tidak rela jika Caldwell memperlakukanku seolah aku adalah kotoran yang harus dihindari.
Oke. Aku tahu perumpamaanku terlalu berlebihan. Tapi kalian paham intinya kan? Aku hanya ingin Caldwell kembali seperti biasanya. Jika aku tahu sikapnya akan berubah saat aku menyatakan perasaanku secara langsung, aku akan mati-matian menutup mulutku dan berbicara hanya dalam pikiran dan hati—meskipun sebenarnya ia masih mendengarnya—karena jika aku tak mengucapkannya di mulut, paling tidak Caldwell akan berpura-pura tidak mendengarkan isi hatiku.
Namun sekali lagi aku merasa keputusanku kemarin sore tidak ada salahnya. Setidaknya aku ingin ia mengetahui secara langsung isi hatiku. Bagaimana perlakuannya padaku memengaruhi perasaanku padanya. Apakah perlu kubuatkan jurnal ilmiah dengan judul 'Bagaimana perlakuan seorang lelaki memengaruhi perasaan dan sikap seorang wanita', huh? Tuh kan, aku overthinking lagi.
"Oke class. Sekian untuk hari ini. Jangan lupa tugas yang harus dikerjakan untuk tambahan nilai ujian tengah semester kalian. Selamat beristirahat."
Usai Ms. Fransisca pergi, seisi kelas langsung terlihat rileks dan memasukkan buku ke dalam tas mereka. Beberapa orang ada yang langsung pergi keluar kelas sedangkan sisanya masih duduk cantik dan membenarkan make up. Oh tentu saja yang membetulkan make up hanya yang perempuan. "Karen!" Suara khas cempreng yang sudah bisa kutebak siapa, memanggilku.
Katherine dengan rok seragamnya yang benar-benar pendek mendatangiku dan duduk di kursi depanku yang kosong. "Kok tidak ke kantin?" tanyanya. "Oh iya, Caldwell mana?" Aku sedikit terganggu saat Katherine memanggil nama Caldwell ketika hubunganku dengan Caldwell sedang tidak baik begini.
"Sakit,"jawabku singkat.
"Mau ke kantin?" tanyanya. Aku mengangguk sebagai ganti jawabanku. Kami berjalan beriringan menuju kantin sekolah yang ramai. Beberapa kali Katherine menyapa anak lain ketika berpapasan tapi hanya aku yang tidak mengenal mereka dan hanya ikut tersenyum saat mereka menyapa Katherine.
"Kath, kenapa kau mau jadi temanku?" tanyaku iseng. Katherine yang sebelumnya sedang menyapa teman-temannya langsung menatapku aneh.
"Pertanyaanmu, oh astaga. Aku tidak paham jalan pikirmu." Kath langsung pergi mendahuluiku untuk ke kantin. Sepertinya ia tak mau membahasnya. Lagipula aku sendiri yang bodoh karena menyinggung hal itu.
"Kath, tunggu aku!"
***
"Oh jadi kau punya adik toh? Apa adikmu tampan? hahaha."
Aku tertawa mendengar pertanyaan Kath saat aku menceritakan soal keluargaku padanya. Tiba-tiba Kath jadi sangat tertarik soal keluargaku. Jadi karena aku memercayai Kath, aku menceritakan seluk beluk keluarga dan bahkan kehidupanku padanya.
"Jangan ganggu adikku. Dia masih kecil."
"Iya aku paham. Hanya penasaran kok. Tapi kalau tampan, tidak apa lah untuk kujadikan koleksi pacar." Aku menyikut lengan Kath membuat gadis itu kembali tertawa sambil menyedot minumannya sampai habis.
Kath tidak memakan makan siangnya sama sekali. Aku bingung, lalu untuk apa ia mengambil makanan jika ia tak menyentuh makanannya begitu.
"Oh kau sudah selesai? Sekalian ya taruh milikku. Aku terlalu kenyang haduh."
Aku mengangkat sebelah alisku. Jika kuperhatikan tadi, sepertinya Kath hanya makan satu suap dan kemudian minum jus nya sampai habis.
Sudah beberapa hari ini dia hanya selalu minum jus sampai aku sendiri bingung. Tapi setelah kupikir lagi, memang ya tubuh bagus itu tidak bisa terjadi begitu saja. Butuh diet khusus seperti yang dilakukan Kath ini.
Saat aku usai menaruh makanan, orang-orang tampak melihatku. Aku sempat mendengar mereka berbisik kasihan padaku, tapi kasihan karena apa coba? Aku bahkan mensyukuri hidupku beberapa minggu ini karena kehadiran Caldwell dan juga Kath sebagai temanku.
Aku kembali kepada Kath dan melihat Kath sedang mengaplikasikan lip balm ke bibirnya.
"Kath. Ada yang salah dariku? Kok aku merasa orang-orang bicara buruk soalku ya?" Kath menutup lip balm nya dan menatapku dan seolah menilai.
"Tidak. You're gorgeous like usually."
"Oh iya Karen. Kau bisa menyetir?" tanya Kath usai menaruh lip balm nya ke dalam tas.
"Kenapa?"
"Kau akan tahu nanti," jawabnya.
"Tunggu aku saat pulang sekolah. Kita akan pergi."
"Kemana?"
"Rahasia dong." Katherine mengedipkan sebelah mata kepadaku, membuat aku hanya memandangnya tanpa berharap ia akan menjelaskan lagi. Aku hanya akan mengikutinya saja.
***
Usai Kath menyuruhku untuk berbelok ke kanan, tepatnya ke depan sebuah mansion mewah yang lokasinya ada di pinggiran kota, aku memarkirkan Porsche Kath secara teratur, tepat di samping beberapa mobil sport terparkir rapih. Seorang lelaki yang kukenali sebagai Jackson, kekasih Kath membukakan mobil dan membantu Kath turun dari mobil.
Aku menatap Kath penuh rasa tanda tanya, tapi gadis itu tak begitu memedulikan aku yang masih duduk di kursi kemudi, dan berjalan masuk ke dalam mansion mewah bersama kekasihnya dengan mesra. Lalu untuk apa aku di sini? Melihat Kath bermesraan dengan kekasihnya? Lagipula, apa dia tak ingatsoal aku yang bercerita kalau Jackson dan teman-temannya tampaknya tak menyukai kehadiranku dan cenderung menghindar saat aku berada di dekat mereka.
“Kita bertemu lagi…Karina?”
Aku terkejut ketika suara bariton lelaki terdengar dari pintu samping kemudi. Ternyata ituadalah suara lelaki yang selalu kutemui di pesta. Axton. “Karen, by the way,” jawabku membenarkan namaku yang salah dipanggilnya.
Lelaki itu membukakan pintu mobil dan membantuku keluar, seolah ingin membuatku terkesan. Oke, meskipun aku dikucilkan di sekolah, aku tahu dan paham betul bagaimana sikap seorang lelaki jika sedang menggoda. Nah, contohnya seperti Axton ini. Ia tersenyum tipis kemudian berdiri di sampingku. Wow, ini hal yang baru. Dia berdiri berdekatan denganku. Maksudku, bukankah ia tidak menyukai bauku dan bahkan memilih menghindar seperti Jackson dan teman-temannya.
“Maaf, aku lupa sepertinya. Katherine mengajakmu kemari?”
Aku mengangguk sambil mengikuti arah jalannya yang mulai memasuki mansion mewah yang bahkan tak kuketahui milik siapa. Tak seharusnya kan aku masuk ke gedung orang tanpa permisi?
“Oh ya, hidungmu sudah sembuh?”
“Apa?” tanyanya. Aku menggosok hidungku untuk memberi kode soal Axton yang tak menyukai bauku. “Oh itu? Entahlah. Hari ini kau tecium lez, maksudku sangat wangi.”
“Apa tuh,” kataku sambil tertawa. Selain tampan, dan suka tebar pesona, ia juga suka membuat lelucon aneh. Aku yakin Axton adalah player andal.
“Hehehe, tunggu sini, akan kuambilkan lemon. Terlalu sore untuk mabuk kan?”katanya sembari pergi meninggalkanku. Pesta lagi? Oke,kurasa Kath memang ratu pesta hingga kupikir di setiap pesta pasti akan ada Kath. Oh dan Axton pasti raja pesta karena di setiap pesta yang kuhadiri, pasti ada Axton di sana.
Beberapa orang tampak melihatku yang berdiri sendirian di pojok pesta sedangkan yang lain tampaknya asik berjoget di atas lantai dansa dengan iringan music seru yang tak terlalu memekakan telinga. Oh mungkin karena ini masih sore.
“Hei Sweety. Kau sendirian?”
Seorang lelaki mendekatiku dan langsung bicara begitu dekat dengan telingaku. Aku yang tak terbiasa langsung menjauh darinya dan memilih untuk tak menjawabnya sama sekali.”Hm,siswi SMA. Kau pasti datang bersama dengan gadis yang dibawa Jackson kan?”
Meskipun takut setengah mati, aku berusaha untuk tetap teguh dan menatap lelaki yang mendekatiku ini. Ia terlihat sangat tampan. Matanya hazel, dengan rambut hitam kelam dan kulit seputih s**u. Ia memakai jaket kulit hitam dengan jeans hitam yang melekat sangat pas di tubuhnya. “Mau minum bersama”
“Sory Yohanes. Dia bersamaku.”
Axton! Ia datang sambil membawa segelas limun yang kuasumsikan untukku. Lelaki hot yang dipanggil Yohanes tadi langsung mengangkat lengannya ke atas sambil mengangguk dan bilang, “Oke, aku akan cari yang lain,” ujarnya.
Aku memandang ragu ke arah kepergian Yohanes lalu ke Axton. “Siapa dia?” tanyaku.
“Oh dia pemilik mansion ini. Jangan terlalu takut. Dia baik. Dan sebaiknya jangan terlalu jauh dariku jika tak ingin menjadi mangsa bagi predator lain.”
Aku mengangguk sambil berpikir kalau ucapan Axton ada benarnya juga. Lebih baik aku tetap bersamanya sampai Kath mencariku dan meminta pulang. “Kau tahu kan ini pesta apa?” tanya Axton lagi.
Aku hanya bisa menggeleng dengan bingung. Dibawanya aku ke pesta ini saja sudah merupakan hal yang tak kuketahui, apalagi untuk tahu pesta macam apa yang digelar di sini. Tidak mungkin kan pesta seggs?
Aku menatap Axton tak percaya sambil berharap apa yang kupikirkan adalah hal yang tidak benar. Namun anggukan dari Axton membuyarkan harapanku. Tunggu. Kenapa Kath mengajakku ke pesta macam ini sih? Dia mau aku untuk berbuat apa di sini?
“Karena itu aku terkejut melihatmu di sini.”
“A-aku sebaiknya aku pulang kan?” tanyaku.
Axton menahan tanganku, dan lagi-lagi aku merasakan sensasi dingin kulitnya di kulitku. “Pulang dan membiarkan temanmu habis di sini?”
Habis dalam artian digilir? Oh tidak. Aku tak mau Katherine merasakan hal yang hampir terjadi padaku. “Apa sebaiknya aku menarik Katherine pergi?”
Aneh, aku malah balik bertanya padahal Axton tak ada sangkut pautnya dengan ini dan bahkan tak seharusnya peduli soal keselamatanku dan Kath.Tapi Kath bersama Jackson kan? Masa iya Jackson tega membiarkan pacarnya diperlakukan begitu. Tidak mungkin kan?
“Aku ke toilet sebentar.” Usai meminta izin, aku pergi untuk mencari keberadaan Kath. Meskipun bersama Jackson, aku masih tak yakin soal keselamatan Kath. Belum lagi kebiasaan mabuk Kath yang kadang sampai tidak sadarkan diri. Bagaimana kalau Kath benar-benar dibuat bergilir oleh Jackson dan teman-temannya?
Usai beberapa kali membuka pintu kamar, dan yang kutemukan hanyalah kamar kosong, akhirnya aku mencoba mencari Kath di kamar mandi, dan benar saja.
Kath benar-benar berada di sana, bersama Jackson. Aku bisa melihat bibir Jackson yang sedang menyesap leher Katherine, dan tak lama setelah itu, aku melihat Jackson membuka mulutnya lebar dan tiba-tiba muncul taring dari mulutnya.
Aku yang terkejut menutup mulutku sambil berjalan mundur. Dari jauh aku masih bisa melihat Jackson yang menyedot darah Katherine di lehernya. Dan aku yang masih ketakutan terus berjalan mundur sampai akhirnya aku menabrak sesuatu.
Aku membalikkan badan dan menemukan Axton berdiri di belakangku dan menatap aku yang baru saja melihat Jackson menyedot darah Kath. “Kau melihatnya ya?” kata Axton.
Kali ini nada suaranya tak terdengar ramah dan manis sama sekali, melainkan penuh dengan irama kematian. Aku belum sempat menggosok lenganku sama sekali ketika Axton mendekat dan tiba-tiba aku tak melihat apapun lagi.
Sepertinya ini akhir dari hidupku.