Aku tak pernah merasa diistimewakan seumur hidupku.
Aku hidup mandiri sejak kecil; membesarkan adikku, merawat rumah, tidak menangis saat ada yang mengangguku. Intinya, aku selalu bersikap lebih dewasa dari umurku yang bukan seharusnya. Sungguh hal yang seharusnya bukan dilakukan oleh anak seusiaku, dimana biasanya anak seusiaku masih asik main dengan teman, atau ke pesta setiap hari―seperti Kath―atau bermain terus dengan ponsel sambil menunggu crush mereka menghubungi, tapi aku malah seperti orang dewasa yang bahkan khawatir, nanti malam mau masak apa untuk makan malam.
Aku baru merasakannya saat ini. Merasa diistimewakan, dan demi tuhan, aku merasa menjadi gadis paling beruntung sekarang, dan itu semua berkat Caldwell. Lelaki itu, ajaib! Aku tak tahu sejak kapan, tapi bersamanya aku menjadi nyaman meskipun seringkali ia meledek dan menggoda, aku tahu ia hanya ingin membuatku tersenyum.
Aku baru keluar dari kamarku, dan menemukan Caldwell berada di hadapan kamarku sambil menyungingkan senyumannya. "Hai Karen, bagaimana dengan tidurmu?" tanya Caldwell. Aku memang baru saja bangun dari tidur dan kebetulan hari ini libur―tanggal merah―jadi aku sengaja bangun siang dan memang sejak malam berencana baru akan membuat sarapan usai aku bangun siang.
"Nyenyak," jawabku sambil meregangkan lenganku ke atas, dan tiba-tiba Caldwell menarik pinggangku hingga kami berpelukan. Ia kemudian mencium bibirku, mengisap bibir atas, bibir bawah, memasukkan lidahnya ke dalam mulutku, sambil meremas bokongku. Oh astaga! Terlalu panas untuk pagi hari, dan Ya Tuhan, kenapa dia sangat ahli sih?
"Bagus. Dan ... aku memang ahli dalam hal apapun. Kau seksi pagi ini," bisiknya. Ia kemudian kabur setelah mengucapkan kata itu. Aku memegang kedua pipiku yang mulai menghangat. Meskipun mes*m, aku tahu ia hanya melakukannya padaku. Sudah kubilang kan aku merasa seperti diistimewakan olehnya?
"Aku masih bisa mendengarmu, Karen!" teriak Caldwell dari arah ruang keluarga. Aku hanya terkekeh kecil, kemudian akan kembali memasuki kamar kalau saja aku tidak melihat Ken berada di depan kamarnya, sambil melipat kedua lengan di atas d**a, menggelengkan kepala menatapku dengan mata 'angry bird'-nya.
"M-morning, Ken?" sapaku kaku. Ken kembali menggeleng, kemudian menghampiriku, dan ia mendekat ke arah telingaku.
"Aku suka Caldwell. Jangan putus dengannya," bisiknya. Aku menatapnya tak percaya, kemudian berniat menjewernya, yang membuatnya sontak kabur sebelum aku menjewer telinganya. Jangan putus ya? Memangnya kami pacaran sungguhan?
Ah entahlah! Aku akan mandi, kemudian kami bertiga akan bersenang-senang di luar rumah hari ini! Party time.
***
Ken, aku, dan Caldwell memutuskan pergi ke taman bermain, hari ini.
Setelah membayar tiket masuk, Ken langsung memisahkan diri dari kami, dan menghampiri beberapa kawanan orang yang kuasumsikan sebagai temannya. Kini, tinggal aku berdua dengan Caldwell, berdiri di hadapan taman besar yang luas, dengan banyak wahana permainan di sini. Oh tidak, apa ini semacam kencan? Mengapa aku menjadi gugup begini huh?
Caldwell mengenggam tanganku, dan membawanya bersamanya. Aku hanya mengikutinya saja. Apa ia pura-pura tidak mendengarku? Oh itu bagus. Setidaknya teruslah pura-pura tidak mendengarku agar aku tidak terlalu malu.”Jangan terlalu banyak berpikir.Cukup bersenang-senang saja hari ini,” ujarnya. Tangannya yang menggandeng tanganku mengusap jariku lembut.
“Uhm,” jawabku sambil mengangguk.
Caldwell membawaku ke antrian wahana kora-kora, dimana ada perahu besar yang terpasang alat dan jalannya hanya terayun-ayun maju mundur. Ayolah kalian tahu kan maksudku?
Caldwell terus menggenggam tanganku sementara tanganku mulai berkeringat karena gugup. Tak berapa lama―karena antrian juga tidak terlalu ramai―aku dan Caldwell akhirnya masuk ke wahana kora-kora dan duduk di kursi paling ujung. Sesungguhnya, ini kali pertamaku bermain di taman bermain. Selama aku hidup, ini pertama kalinya aku naik wahana kora-kora, apalagi naik bersama seorang lelaki yang cukup spesial. Rasanya gugup dan … menegangkan.
Kalian pasti paham maksudku. Gadis yang sama sekali belum pernah pacaran, dan bermain di taman bermain berdua—bertiga dengan Ken—seolah berkencan. Dan dia selalu memegang tanganku seolah aku akan pergi atau terbang. Hatiku tak sanggup untuk ini.
Untung saja aku selalu punya cara sendiri untuk menutupi kecanggunganku. Aku tidak peduli Cald akan menganggapku aneh atau apa, tapi kulihat Cald malah tertawa, ketika aku menggosok tanganku seolah ada kotoran di sana. Ya. Dude. Kalian tak salah baca. Aku menggosok tanganku karena gugup.
Cara ini cukup ampuh untukku, mengingat genggaman tangan Cald tak juga lepas dariku, dan justru berkat ini aku malah merasa nyaman. Cald sendiri tertawa—mungkin karena mendengar isi kepalaku—dan akhirnya aku menghentikkan gosokkan di tanganku.
"Kenapa harus gugup? Kau menyukaiku?"
glup
Pertanyaan bodoh. Hampir aku tak bisa menelan ludahku sendiri. Akhirnya aku tak menghiraukan pertanyaannya.
Sebelum wahana dimulai, Caldwell semakin memegang tanganku dengan erat. Ia tersenyum padaku dengan manis, dan tiba-tiba perahu ini bergerak. Awalnya gerakan perahu memang lambat, tapi beberapa detik selanjutnya, tiba-tiba saja gerakannya menjadi begitu cepat hingga aku dan Caldwell yang duduk di ujung atas, merasa hampir terbang saat ayunan perahu mengarah ke atas.
Aku berteriak sejadinya, begitu pula dengan pengunjung lain yang ada. Rasanya sangat menyenangan, ditambah angin semilir dan adrenalin yang berpacu karena gerakan perahu. Genggaman tangan Caldwell juga menguatkanku. Beberapa menit perahu terayun, akhirnya wahana ini berhenti dan Caldwell membantuku turun dari wahana.
Aku masih tertawa meskipun sudah turun dari wahana, karena rasanya sangat menyenangkan. Aku pasti kampungan sekali ya? Tapi sungguh, baru kali ini aku merasa sesemangat ini.
Kali ini, bukan Caldwell yang megajak, tapi aku yang menariknya pergi menuju wahana selanjutnya. Pilihanku jatuh ke wahana roller coaster. Kali ini antrian menjadi lumayan panjang. Mungkin karena wahana ini adalah wahana terasik yang ada, hehe.
Serius. Mungkin roller coaster jadi wahana terasik yang ada karena tidak seperti kora-kora yang jalannya hanya maju mundur, roller coaster menyajikan tantangan yang lebih seru. Sensasi menaiki kereta yang berjalan secepat kilat, dan berjalan naik turun bahkan memutar seolah gravitasi sedang diejek olehnya. Ah, haruskah mulai saat ini wahana roller coaster berganti nama menjadi No Gravity? Hahahaha.
"Thunder fast. Aku lebih suka menamainya itu," ujar Caldwell.
Aku hanya mendengus karena lagi-lagi ia mencuri dengar pikiranku.
Kami hampir ikut mengantri, namun tangan Caldwell menahanku. Ia tampak menengok kanan kiri seolah mencari sesuatu lalu setelah itu ia berkata, “Antriannya Panjang, sebaiknya kita beli minum dan camilan dulu.”
Oh. Rupanya ia mencari kedai camilan. Aku mengangguk setuju. Bagaimana tidak? Camilan dan minuman di taman bermain adalah hal yang wajib! Berdasarkan artikel yang k****a tadi pagi, orang-orang suka makanan kedai camilan di dalam taman bermain karena rasanya enak dan membuat rindu taman bermain. Mungkin maksudnya, makanan taman bermain akan membuat orang-orang jadi ingat kenangan saat di taman bermain dan jadi ingin main lagi ke taman bermain.
Caldwell membawaku ke kedai kecil yang menjual ayam pop potong dan juga minuman segar. Aku memesan stroberi latte dan ayam pop rasa rumput laut, sedangkan Caldwell tidak memesan apapun. “Kenapa kau tidak pesan?” tanyaku.
“Energiku masih banyak. Belum lagi jika kau kekenyangan.Siapa yang akan menghabiskan makanan dan minumanmu sebelum kita naik wahana?”
Wah, Caldwell memikirkannya sampai segitunya ya. “Yuk mengantri,” lanjutnya. Tak lupa ia masih menggenggam tanganku. Ia tak tahu apa kalau tanganku berkeringat karena terus-terusan digenggam olehnya. “Jangan rewel. Hari ini aku tak akan melepaskanmu.”
Blush.
Padahal aku tak akan kabur kemanapun kan?
***
Usai menaiki roller coaster yang sangat-sangat seru, kami berhenti di depan wahana 'Rumah Sakit Hantu' dimana Caldwell yang menarikku kesini. Caldwell tampak antusias menunggu antrian, sedangkan aku—wait! Apa tadi aku bilang wahana 'Rumah Sakit Hantu'? Apa Caldwell gila? Mana berani aku masuk wahana ini!
"Karena ini aku terus mengenggam tanganmu, aku akan membuatmu berani," bisik Caldwell lembut. Ia mencium pipi kananku, sebelum menjauhkan kepalanya dariku.
"Hm ... akan kucoba,"kataku selanjutnya.
Sekarang, giliran kami. Di sebuah perahu, kami hanya berada berdua di atasnya, dan suara-suara mengerikan mulai merasuki telingaku. Baiklah Karen! don’t be afraid! Masa hantu bohongan kau takut, sedangkan Caldwell yang merupakan makhluk antah berantah, kau berani!
"What? Makhluk antah berantah?" kata Caldwell tidak terima. Aku terkekeh, kemudian aku seperti melihat bayangan melintas dari belakang Caldwell.
"Hihihihi."
"Aaaaaahhhhh!"
Suara tertawa tadi, mengagetkanku hingga aku langsung menarik Caldwell ke dalam pelukanku. Oke, sesungguhnya aku tak tahu mengapa aku memeluknya ketika seperti ini. Mungkin karena hanya ada kita berdua di sini. Caldwell membalas pelukanku, lalu melepasnya.
Tangan kanannya mendekat ke arah mataku, dan menutupnya, kemudian aku merasakan hembusan napasnya mulai menerpa wajahku, dan bibirnya yang kenyal dan basah telah berada di atas bibirku.
Ia mengisapnya, memagutnya, dan aku terbawa oleh ciuman itu.
Perasaan hangat, berwarna pink, dengan taburan bunga sakura, mengelilingiku saat ini. Di atas perahu ini, tiba-tiba aku melihat beberapa boneka teddy bear yang menggemaskan melambaikan tangan padaku, dan kubalas lambaiannya.
Caldwell melepas ciumannya, kemudian mencium dahiku, hingga wahana yang telah Caldwell rubah menjadi wahana menyenangkan ini, selesai.
Apa Caldwell menciumku hanya untuk menghipnotis mataku?
**
Hari sudah semakin sore, usai berciuman di wahana hantu tadi, aku dan Caldwell tak lagi berpegangan tangan karena canggung. Namun, kami masih mengantri untuk menaiki wahana terakhir di taman bermain, yaitu bianglala.
Baik antrian depan, dan belakang, penuh terisi oleh pasangan muda-mudi yang ingin menaiki wahana ini juga, namun setelah kuteliti ternyata ada juga keluarga kecil yang ikut mengantri. Aku melihatke arah Caldwell dan ternyata Caldwell juga sedang memerhatikanku. Ia mengeluarkan jurus mautnya―senyum simpul yang indah―dan tentu saja aku langsung ikut tertawa mengikutinya.
Apa dia tak sadar bahwa senyumnya terlalu menawan? atau sebetulnya ia sadar dan memang sengaja menebar pesonanya ke setiap orang karena senyumnya itu?
"Oh Karen. Jangan cemburu begitu. Aku hanya tersenyum untukmu."
Aku memutar bola mata mengiyakan meskipun diam-diam aku senang dengan jawabannya.
Saat tiba giliran kami naik, Caldwell membantuku masuk ke dalam ruangan bianglalanya. Lalu kami duduk berdua di dalam bianglala yang tak begitu luas ini. Kupikir aku takut ketinggian, tapi setelah dari siang menaiki wahana yang ekstrim, seketika aku tersadar kalau aku tidak takut ketinggian. Aku hanya membiarkan imajinasi burukku menguasai pikiran hingga membuatku takut soal ketinggian.
Maksudku, lihatlah pemandangan dari atas sini.Cahaya sore yang kekuningan ditambah angin semilir yang menyejukkan.Apa yang harus ditakutkan kan dari ini? Aku bisa melihat seluruh wahana dari atas bianglala. Sambil melihat-lihat, aku juga mencari Ken yang tentu saja tak akan ketemu karena terlalu kecil, hehe. “Karen, kau senang?” tanya Caldwell yang sejak tadi memang hanya memerhatikanku tanpa mengalihkan pandangan.
“Iya, sangat senang,” ujarku.
“Kau paling cantik saat sedang bahagia.”
Hm, mulai lagi. Bukankah sudah kubilang dadaku terus berdegupan kencang karena hal ini? Rasanya aku akan gila kalau tak mengatakanya, jadi dengan terpaksa aku berkata, "Caldwell, aku rasa kau harus berhenti sekarang. Aku takut aku sudah jatuh cinta padamu."
***
Usai makan malam yang terasa tak begitu baik—karena hanya diisi keheningan—aku membereskan sisa-sisa makanan yang aku, Ken dan Caldwell makan. Karena pulang terlalu larut, akhirnya kami mampir ke restoran cepat saji untuk membeli makanan dan dibawa pulang.
Ken dan Caldwell sudah pergi ke kamar mereka masing-masing, sedangkan aku duduk sendiri di depan TV yang menyala sambil memikirkan kejadian sore tadi di bianglala.
Aku, dengan bodohnya menyatakan cintaku dimana seharusnya itu tak boleh terjadi.
Memang Karen itu bodoh sekali. Bagaimana bisa aku yang seorang wanita mengatakan soal perasaanku secara terus terang dan langsung begitu? Mau ditaruh dimana wajahku huh? Tapi...ada hal lain yang mengangguku.
Pernyataan cinta, bukankah itu hal biasa? Maksudku, tak ada yang salah kan dari itu? Tapi aku merasa Caldwell tak sesenang itu dengan pernyataan cintaku. Aku dapat merasakan raut wajahnya yang berubah saat aku mengatakan aku jatuh cinta padanya. Dan kau tahu? Rasanya sakit melihatnya membeku, tak bereaksi apapun soal perkataanku.
Hey! Apa salahnya? coba kupikir lagi.
Tak ada. Hanya Caldwell yang aneh. Apa maksudnya selama ini terus menggodaku kalau ia tak menyukaiku? Apa maksudnya memeluk, dan bahkan menciumku dengan lembut jika ia tak memiliki perasaan apapun untukku?
Caldwell membuatku pusing.
Sumpah. Aku jadi tak tahu sebenarnya dia ini maunya apa?
Apa aku harus berpura-pura lupa soal pernyataanku tadi sore? Jika hal ini dapat membuat raut wajah Caldwell kembali, maka aku akan segera melakukannya. Tapi, apakah hal ini terasa benar?
Apa yang terucap tak bisa ditarik kembali bukan?
Dan jika aku jatuh cinta kepada Caldwell, apakah tuhan benar-benar akan menghukumku?
***
"Morning Ken!"
Aku menyapa Ken yang baru saja keluar dari kamarnya, mengenakan seragam sekolahnya dan juga membawa skater di tangan. "Kau mau bawa itu ke sekolah?" lanjutku.
"Kau tak tahu kalau skater dapat menyelamatkan kehidupan sekolah anak SMP zaman sekarang huh?" katanya berapi-api.
"Huh? Coba jelaskah dengan bahasa manusia," keluhku.
"Dasar bodoh. Nih dengar. Manusia rata-rata memiliki kecepatan 10 km per jam. Itu pun jika kau berjalan cepat. Belum lagi keringat dan juga energi yang harus dikerahkan saat berjalan kaki. Sangat tidak ergonomis. Nah, skater menjadi penyelamat. Harganya tidak semahal kendaraan bermotor, tapi tidak membuat manusia terlalu lelah, dan manusia bisa hadir tepat waktu karena jalannya yang cepat. Sekarang kau paham bagaimana skater bisa menyelamatkanku?"
Aku memandang Ken yang berbicara cepat sambil mempromosikan skaternya yang baru saja ia beli seminggu yang lalu. Itu pun karena hasil menabung dimana ia hampir tidak jajan dua minggu demi skateboard yang dipeluknya itu. Aku kaget bahwa ternyata anak ini bisa juga bicara panjang lebar begitu. "Kau paham tidak?" tanyanya sekali lagi.
"Ish bicara apa sih kau?" ujarku dengan nada meledek. Aku pergi lebih dulu untuk pergi ke dapur dan ternyata di sana sudah ada Caldwell dengan sarapan yang sudah tertata rapih di meja.
Oh. Dia memasakkan sarapan untuk kami hari ini.
"Selamat makan. Aku akan pergi sampai siang ini. Have a nice day."
Belum sama sekali sempat aku membuka mulutku untuk bertanya menu sarapan yang Caldwell buat hari ini. Lelaki itu langsung pamit dan pergi ke kamarnya tanpa menatapku sama sekali. Ia benar-benar menghindariku.
"Ken, menurutmu dia sedang menghindariku tidak?" tanyaku pada Ken yang langsung menyantap sarapan yang ada di meja. Mulutnya masih penuh dengan roti panggang yang dioleskan selai stroberi, sedangkan sebelah tangannya lagi memegang segelas s**u.
Ken lalu memandangku seolah aku aneh. "Kau tak dengar? Ia akan pergi sampai siang. Menghindarimu dari mananya sih? Dia bahkan membuatkan sarapan. Dasar tidak tahu diri."
Aku menoyor kepala Ken dan membuatnya keaduhan namun terus memakan sarapannya. "Tapi, apa kau sedang bertengkar dengan Cald?"
Aku terkejut karena Ken bertanya tentang hal itu. "Kenapa?" jawabku yang sama sekali tak berniat menjawab pertanyaannya.
"Dia tampak terlalu tenang sejak saat kita pulang dari taman bermain. Kupikir ia kelelahan. Tapi ternyata berlanjut sampai pagi ini."
"Kau berpikir begitu?"
"Tidak sih. Aku yakin ia lelah karena memiliki pacar sepertimu. Suka bangun siang. Malas cuci piring. Jarang mandi. Bawel. Suka marah-marah tidak jelas. Dan—"
Aku memelototi Ken sementara ia terus berkata buruk soal kebiasaanku yang sebenarnya memang fakta—aku takkan mengelak soal itu—hingga ia kemudian berhenti bicara dan tersenyum cengengesan sambil menatapku. "Dan apa?"
"Dan baik hati juga cantik dong!" ujarnya. Aku tersenyum tipis dan menepuk-nepuk kepalanya.
"Good boy...."
"Ah. Memangnya aku anjing apa?"
Aku mengeluarkan uang jajan milik Ken. Ia melihatnya dan kemudian ia segera menarik tanganku dan menepuk-nepukkan tanganku ke atas kepalanya. "Hehehe I'm a good boy," ujarnya sendiri.
Aku memberikan uang tersebut kepadanya, dan sementara Ken berangkat pergi ke sekolah, aku memandang ke lantai atas tempat dimana terakhir Cald berjalan. Sebetulnya apa yang harus aku lakukan padanya?