Sekarang aku benar-benar menyesal soal pergi ke pesta. Jika saja waktu pertama kali, aku langsung menolak ajakan Katherine. Pasti hal seperti ini tak akan pernah terjadi padaku, dan aku tak akan pernah punya memori menyebalkan ini.
Atau jika aku tak menolak, setidaknya aku ingin mengiyakan permintaan Caldwell untuk ikut denganku ke pesta itu. Aku menyesali semuanya sekarang. Dan aku agak marah dengan Katherine yang sama sekali tak menjagaku. Bagaimana bisa ia tak menyadari aku yang dibawa pergi oleh para berandalan itu tanpa ia melihat.
Tapi, hah lagi-lai aku merasa ini salahku lagi. Ini karena aku yang sembarangan menerima pemberian orang. Padahal aku sendiri tahu, betapa nakal dan jahatnya teman-teman Veronica. Tapi aku masih berpikir bahwa mereka sesungguhnya baik. Kepercayaan yang penuh omong kosong. Aku tak akan melakukannya lagi.
“Sudah lengkap kan?” tanya Cald sambil memasukkan sawi dan bawang bombay ke keranjang belanjaan kami.
Aku tersadar dari lamunanku dan mengecek catatan kecil yang kusiapkan usai bangun tidur tadi. Hari ini adalah hari minggu, jadi aku biasa berbelanja mingguan untuk memasak selama seminggu. Kebetulan juga, uang rumah tangga beserta uang saku aku dan Ken sudah masuk ke rekeningku tadi pagi dari orangtua kami, jadi hari ini akum au melepas stress dengan berbelanja dan bersenang-senang.
“Seperti berkencan denganku ya kan?” ledek Cald. Ia menyentuh tanganku untuk melihat isi daftar belanjaan kami. Dadaku beredegupan kencang, namun aku berusaha menyembunyikannya dan berusaha untuk tak berpikir apapun soal itu. Huh. Tidak ada kebebasan bicara dalam hati jika sedang berada di dekat Cald.
“Hm, tinggal minyak wijen rupanya. Ayo, sepertinya ada di sana,” ujar Caldwell sambil menarik sebelah tanganku sementara sebelah tangannya lagi mendorong keranjang belanjaan kami. “Mau yang ukuran berapa?” tanyanya.
Otakku bekerja dengan sangat lambat ketika Caldwell bertanya padaku. Sialnya, aku hanya terpaku pada bibirnya yang tipis. Belum lagi aku mendengar orang-orang di sekelilingku yang mengatakan kami pasangan pengantin baru. Ah jadi malu sendiri aku.
“Chill, Karen. Jangan lupa aku masih di sini.”
“Kau merusak imajinasiku,” ujarku. Lebih tepatnya malu karena sempat senang bahwa orang-orang menganggap kami pengantin baru.
“Jadi yang mana? Yang besar atau kecil?”
“Kecil saja. Cukup kok.”
Caldwell mengambil minyak wijen yang kecil lalu kembali berjalan menuju antrian bayar yang lumayan Panjang. Uh, apa karena hari ini hari minggu ya? Jadi supermarket sangat ramai.
“Kau keluar saja lebih dulu. Aku yang akan membayar,” ujar Caldwell.
Aku menyunggingkan senyum meledek. “Uang darimana?”
“Thumbelina tak pernah memberi tahu rahasia mereka,” bisiknya di kupingku. Rasa geli menggelitikku, dan bulu kudukku berdiri dikarenakannya. Aduh, bisa-bisa aku kena serangan jantung jika begini terus.
“Terserah deh!”
***
Sudah hampir 6 bulan orangtuaku belum juga pulang. Saat baru pergi, mereka bilang akan pulang dalam 2 bulan. Lalu 4 bulan lalu, saat harusnya itu adalah saatmereka pulang, mereka malah beralasan dan bilang akan pulang dua bulan berikutnya. Lalu 2 bulan lalu, mereka bilang mereka tertinggal penerbangan dan memutuskan untuk menetap 2 bulan lagi karena ada pekerjaan penting.
Aku tahu, mereka bekerja untuk aku dan Ken. Untuk masa depan kami. Tapi apakah setidaknya mereka bisa meluangkan waktu untuk melakukan panggilan video sehari sekali atau seminggu sekali? Aku khawatir mereka akan sakit karena terlalu keras bekerja.
“Anak yang baik,” ujar Caldwell. Ia langsung duduk di sampingku di kasur saat melewati kamarku. Tak lama ia merebahkan dirinya di atas kasurku dan menyuruhku untuk tidur di lengannya. “Tidurlah. Aku ingin memelukmu,” ujarnya.
Aku menatapnya ragu dengan pandangan tak percaya. “Aku tak akan melakukan appaun. Janji. Hanya ingin memelukmu.”
Akhirnya dengan keraguan yang sedikit membaik, aku memberanikan diri untuk tiduran di sampingnya dan menjadikan lengan Caldwell sebagai bantal. Aku suka setiap kehangatan yang Caldwell berikan padaku saat ia memelukku. Rasanya seperti aku adalah gadis paling beruntung di dunia karena memiliki Caldwell di sisiku. “Kau memang gadis paling beruntung, Karen.”
“Cantik, cerdas, pintar memasak. Seksi,” bisiknya menekankan kata seksi di akhir kalimat.
Aku memukul Pundak Caldwell pelan membuatnya terkekeh lalu kembali memelukku dan mengusap-usap kepalaku. “Serius, kau seksi.”
“Berisik!” ujarku ketus.
“Hehehehe.”
“Menurutmu aku cantik?” tanyaku iseng.
“Loh kok tanya lagi?” Caldwell melepas pelukannya dan menarik kepalaku ke atas, membuatku menatap wajahnya tepat di depan, tanpa sekat dan hanya berjarak beberapa centi saja. “Kau berharap aku mengatakan wajahmu buruk saat wajahmu yang cantik ini terus menggodaku untuk menciummu?”
DEG DEG
Aku tak berharap ia akan menjawab itu atau menggodaku begini. Aku hanya senang Caldwell menganggap aku cantik. Demi Tuhan, aku sangat Bahagia. “Aku sangat menyukai jalan pikirmu Karen. Jujur saja, aku takkan tertarik jika sikapmu seperti Veronica, gadis yang menyebalkan itu. Tapi kau tidak. Kau sangat baik hati, dan polos. Bagaimana bisa aku tidak menyukai―” Aku?
“jalan pikirmu.”
“Oh, hahaha. Begitu ya?”
Aku menundukkan wajah, berharap Caldwell tidak melihat perubahan di wajahku. Kecewa? Untuk apa? Sejak awal aku tahu kalau aku tidak boleh jatuh cinta padanya.
Tapi ini rasanya menyakitkan.
***
Caldwell yang datang dari dapur, langsung duduk di sofa, tepatnya di sampingku, kemudian menaruh kepalanya ke atas pundakku. Padahal banyak space kosong di belahan sofa lain. Tapi ia malah duduk di sampingku dan malah menaruh kepalanya di atas pundakku? Dasar manja.
"Jadi, kau lebih suka aku mengaktifkan mode perve*t, huh?"
Aku sontak merutuki diriku yang lagi-lagi lupa soal yang satu ini. Soal Caldwell yang bisa membaca pikiran. Sepertinya aku harus dengan pintar berhenti memikirkan hal soal dirinya.
"Oh, jadi kau selalu memikirkanku, ya?" Caldwell membingkai wajahku, kemudian menatapku lurus sambil menyunggingkan senyum—setan—nya.
Sesungguhnya, aku tidak tahu mengapa dadaku menjadi berdetak tidak beraturan seperti sekarang, saat dekat dengan Caldwell. Dulu, saat aku memiliki crush, detak jantungku tidak berdetak seperti ini. Mungkin benar, masih ada rasa berdesir, dan lain-lain. Tapi, detak jantung tak beraturan, itu hal yang baru kurasakan. Ah, mungkin inti kataku adalah, apa ini artinya aku mulai menyukai Caldwell?
"Baiklah, yang satu tadi, aku akan berpura-pura tidak mendengarnya."
Huh? Apa maksudnya.
Caldwell melepas bingkaian tangannya, kemudian memutuskan untuk tiduran, dengan pahaku sebagai bantal empuknya. Apa barusan aku sudah bilang kalau aku hanya memakai hotpants? Oh tidak, rambut Caldwell terasa geli mengenai kulit pahaku saat ini.
"Caldwell, apa kau sengaja?" ocehku. Caldwell menatapku lekat-lekat, kemudian mengulurkan tangannya, dan menarik wajahku ke arah wajahnya.
"Kalau ya, bagaimana?"
Aku terkejut ketika ia langsung menyerbu bibir bawahku, dan mengisapnya dengan membabi buta. Tangan Caldwell semakin menarik diriku ke arahnya, hingga ciuman kami semakin dalam.
"Karen, mengapa kau sangat membuatku bernafsu sih?" katanya, ketika ia melepas ciumanku sambil terengah-engah. Aku balik menatapnya, kemudian menaikkan kedua pundakku sebagai tanda jawabanku.
"Kau pikir aku mau menjadi seperti itu, huh?"
"Diamlah, aku sedang menahan diriku, kau tahu? Aku bisa saja memakanmu saat ini juga."
Ha? Caldwell memakan manusia?
"Karen, please deh. Maksudku adalah itu," kata Caldwell. Lelaki itu serta merta duduk dari posisinya, dan kembali menciumku dengan b*******h.
Aku mencoba melepas ciumannya yang satu ini, karena tangannya dengan lincah mulai nakal membuka baju hangatku. "Astaga, Caldwell. Berhentilah," kataku.
Ia melepaskan tangannya, juga isapannya di leherku—yang aku tidak tahu kapan ia telah berada di sana—kemudian mengecup bibirku sekilas. "Baiklah, Nona Muda. As your wish," sunggutnya.
Oke, aku memang belum pernah berciuman dengan siapapun. Sesungguhnya aku hanya ... malu pada Caldwell karena mendapat pemilik jelek sepertiku.
"Tapi, akan kupastikan. Ciuman selanjutnya akan lebih panas dari hari ini."
Lagipula, apa dewa tidak marah? Jika aku mulai jatuh cinta pada Caldwell?
***
Seperti biasa, setiap pagi usai menyiapkan sarapan, aku pasti pergi keluar rumah untuk berolahraga. Sedikit jogging dan melemaskan tubuh untuk kesehatan. Usai jogging kecil, alku pulang untuk bersiap pergi ke sekolah.
Karena aku lumayan berkeringat, kuputuskan untuk mengganti pakaianku saat ini. Aku menutup pintu kamarku, lalu kulepas seluruh pakaianku. Menaruhnya di keranjang baju kotor. Kaca besar seukuran diriku, terpampang di hadapanku, hingga aku menikmati pantulan diriku sendiri yang hanya mengenakan bra dan celana dalam, ada di sana.
Tubuhku cukup ramping ya. Aku suka setiap lekukan di daerah pinggangku, sangat indah. Dadaku juga mulai membesar. Hahaha rupanya aku benar-benar sudah pubertas!
"Untuk seusiamu, itu terlalu kecil!"
deg deg
Oh sh*t! Maaf aku menyumpah. Tapi, bukankah itu suara Caldwell?
"Memangnya siapa lagi yang memiliki suara indah sepertiku?"
Aku berbalik, dan menemukan Caldwell duduk di atas kasurku, sambil memangku lengan, dan menatap—menilai tubuhku dengan matanya.
"Hei! Keluar, tidak! Aku belum berpakaian, bodoh!" cercahku kesal sambil menutupi diriku dengan horden terdekat di samping kaca.
Aku semakin menutup diriku dengan horden saat Caldwell mendekat ke arahku, lalu tersenyum simpul yang kuasumsikan sebagai senyum setannya. Ia lalu membelai pipiku, dan menciumnya dengan lembut membuat darahku berdesir-desir, dan dadaku berdegup dengan kencang tak beraturan.
"Jika kau butuh kehangatan, panggil saja aku," bisiknya dengan lembut membuatku kembali terbuai dan menutup mataku.
Saat aku membuka mataku, Caldwell telah menghilang dari hadapanku. Gila! Apa barusan aku hampir basah hanya karena perlakuannya?
***
Sampai di sekolah, aku menemukan Porsche pink Kath terparkir di parkiran khusus mobil. Kulihat gadis itu keluar dari mobilnya dan berjalan ke arahku. Aku menyapanya dan ia langsung memelukku dengan erat. “Oh Karen, maafkan aku. Sumpah aku tak tahu kalau mereka membawamu. Apa kau baik-baik saja?”
Aku menatapnya bingung. Bagaimana Kath tahu kalau mereka membawaku? Soalnya kan Caldwell menghapus ingatan mereka. “Mereka? Kau tahu darimana?”
“A-Aku berasumsi. Kau tahu berita portal sekolah sedang ramai karena ulah mereka? Kudengar saat ini mereka sedang disidang dan keputusan akhirnya adalah dikeluarkan dari sekolah.”
“Syukurlah. Aku senang akhirnya ada yang akan menghukum perilaku mereka. Aku memaafkanmu Kath. Tapi lain kali tolong jangan lupakan aku.”
Kath memelukku dan mengusap pundakku. “Iya. Maaf ya. Tak akan lagi kok.”
“Jadi, serius mereka sedang disidang?” tanyaku.
Kath mengangguk-angguk sambil menceritakan detail yang dia tahu. “Ternyata mereka suka meniduri gadis-gadis yang mabuk dan membuat video dari situ. Lalu mereka membuat kontennya dan dijual di situs dewasa. Memikirkannya saja aku sudah jijik. Bagaimana bisa manusia melakukan itu sih?
“Untung saja kau bukan salah satu korbannya, Karen.”
Benar. Thanks to Caldwell, my life saver.
“Oh iya, kau kenal Axton ya? Kemarin ia menanyakanmu.”
“Axton?”
“Teman Jackson. Yang blonde dan matanya biru.”
Oh iya namanya Axton ya. Cowok yang tangannya sedingin es. “Sepertinya ia tertarik padamu. Mau kukenalkan lebih lanjut? Kau tahu, just in case kau bosan atau apa dengan kekasihmu yang tak pernah kau ceritakan padaku itu.”
“Ohok.” Aku terbatuk mendengar ucapan Kath barusan. Bukan soal aku yang belum menceritakan soal Cald padanya―dimana aku pun tak akan menceritakannya―tapi lebih kepada kalimat pertamanya soal Axton yang…tertarik padaku? Itu aneh kan? Maksudku, ia sempat menyinggungku karena menutup hidung saat mendekat kepadaku.
Meskipun kemarin ia bilang hidungnya sedang bermasalah saat itu, tapi tetap saja kan aneh kalau Kath bilang ia tertarik padaku? “Oh ayolah Karen. Aku tadi sedang sarkas tahu.”
Aku menatap Kath bingung. Sedangkan gadis itu memutar bola mata ke atas dan hanya mengamit lenganku untuk berjalan masuk ke dalam sekolah. “Sudahlah lupakan saja,” ujarnya.
***
Aku menatap Caldwell yang saat ini sedang menatapi jam tangannya. Kami sedang berada di halte bus sekolah, menunggu bus tujuan rumah kami, untuk pulang. Sejak tadi, halte ini ramai, hingga aku merasa sedikit pengap karena para gadis-gadis sekolahku berebut untuk berdekatan dengan Caldwell. Hah, dasar para gadis.
"Karen, ayo, busnya datang."Caldwell menarik tanganku, dan kami berdua naik ke atas bus. Oh iya, aku yang menyuruh Caldwell untuk tidak memakai mobilnya untuk ke sekolah, karena aku lebih menyukai menaiki bus umum.
Bus tidak terlalu penuh, namun hanya tersisa satu tempat duduk di dalamnya. Caldwell menyuruhku duduk di tempat itu, dan Caldwell berdiri di sampingku. Jadi inikah rasanya memiliki seseorang yang akan selalu melindungimu? Mengapa jantungku berdegup tidak beraturan saat ini?
"Kau lupakan kemampuanku? Aku bisa mendengarmu," bisik Caldwell padaku.
Oh God!
Aku merutuki diriku sendiri. Tidak bisakah Caldwell men-turn off notifikasi pikiranku, agar ia tak bisa mengetahuinya?
"Maaf, Dear. Tapi tidak bisa," kata Caldwell sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Harus kuakui, Caldwell. Kau tampan, jadi jangan tersenyum sambil mengedipkan mata begitu, padaku.
Caldwell tertawa. "Baiklah, aku suka sarkasmemu, Karen."
"Oh ya? Terima kasih, Mr. Clifford!"
Kami berdua tertawa bersama. Entah mengapa, aku sudah terbiasa dengannya. Itulah mengapa aku mulai menggantungkan diriku padanya.
***
Perjalanan dari halte bus ke rumah memakan waktu hampir 10 menit. Caldwell tampaknya juga memang lebih senang berjalan kaki dibanding naik mobil, jadi aku merasa keputusanku melarangnya naik mobil, cukup bagus juga. Belum lagi daerah rumahku memang asri dan banyak pepohonan. Caldwell tampak sangat menyukai pohon-pohon dan bunga.
“Iya, karena membuatku ingat rumah,” katanya.
Aku mengangguk-angguk. “Kupikir rumahmu adalah rumah ajaib yang ada di kamarku?” tanyaku penasaran. Caldwell terkekeh mendengar pertanyaanku.
“Kau akan tahu nanti,” ujarnya yang memilih tak menjelaskan apapun. Huh, curang. Ia tahu apapun soal aku. Tapi aku tak diizinkan mengetahui apapun soal dirinya. “Bukan begitu, Karen. Saat ini belum waktunya.”
Entah mengapa nada suara Caldwell tidak seperti biasanya. Ia terdengar berwibawa dan … kharismatik. Huh, aku hanya tahu selama ini ia suka bersikap jahil dan menggodaku. Kali ini aku melihat sosok Caldwell yang lain. Orang yang bijaksana dan kharismatik.
“Kubilang aku bisa mendengar pikiranmu kan?”
Kecuali jika ia sudah mendengar pikiranku.
“Oh ayolah Karen. Ini bukan salahku kalau aku bisa mendengar pikiran siapapun, yak an?”
“Iya, aku paham. Tapi aku merasa sama sekali tak memiliki privasi.”
“Privasi untuk apa? Bukankah taka da hal buruk yang kau lakukan?” Caldwell berhenti berjalan dam memandangku. Mulanya wajahnya biasa saja sampai kemudian wajah menyebalkannya muncul.
Salah satu tanda kalau Caldwell akan meledek atau menggodaku adalah kemunculan wajah menyebalkannya itu. Tuh kan, aku sudah hapal kebiasaannya. “Kau, takut ketahuan kalau sedang memikirkan hal jorok tentangku ya?”
Aku memutar bola mata ke atas sambil berlari mengejar Caldwell yang langsung kabur usai meledekku. Tuh kan benar, pasti ia meledekku. “Cald! Jangan lari. Kemari kau!” teriakku. Namun tentu saja ia tak mendengarkan sama sekali.
Karena ingin mengerjainya balik, dan mumpung aku ada di jarak aman dimana ia tak bisa mendengar pikiranku, aku berpura-pura jatuh dan mengaduh kesakitan. Aku menginpit sedikit dari balik rambutku yang tergerai dan tak beraturan karena aksi menjatuhkan diriku barusan.
Ternyata berhasil. Caldwell kembali kepadaku sambil berlari dengan raut wajah khawatir. “Karen, sory. You okay?”
“Gotcha!”
Aku menarik jas seragam Caldwell, berharap dengan begitu ia tak akan bisa kabur dariku. Namun yang terjadi justri di luar ekspetasiku. Memang benar Caldwell tak bisa kabur dariku, tapi berkat tarikan tanganku tadi, aku juga menarik tubuh Caldwell ke arahku dan membuat tubuhnya menubruk tubuhku hingga kami berdua jatuh ke tanah lagi.
Aku takt ahu apa yang terjadi karena terlalu cepat, tapi saat membuka mata, aku melihat mata biru Caldwell yang benar-benar indah. Semakin aku melihatnya, semakin aku terhanyut ke dalam buaian mata indahnya. Seolah-olah matanya adalah hal yang meneduhkan hati.
Kulihat Caldwell tersenyum tipis lalu mendekatkan wajahnya padaku. Aku reflex memejamkan mata. Degupan jantungku semakin tak beraturan. Jiwaku meronta karena aku berpikir bahwa Cald akan menciumku. Tapi, semua angan itu menghilang saat bibir Caldwell malah terasa di dahiku.
“Ayo pulang,” ujarnya, menarikku ke atas dan membersihkan rokku yang kotor karena terjatuh.
Aku hanya bisa berjalan sambil mengikutinya. Dadaku yang berdegupan kencang masih terasa hingga sekarang. Aku tak pernah merasa seberdebar ini karena ciuman. Dan anehnya ciuman ini jatuhnya di dahi. Caldwell membuatku gila.