Suara dentingan notifikasi pesan online, masuk ke dalam ponselku saat aku baru saja usai mandi. Sambil masih menggosok-gosok handuk di kepalaku yang basah, aku membuka ponselku dan melihat ada pesan yang rupanya berasal dari Kath di sana.
Katty♥
Karen, sedang apa? Ada pesta lagi. Temani aku ya? Hehehe
Usai membaca pesan dari Kath, aku menatap diriku sendiri ke depan cermin. Tubuh yang semampai, meskipun tidak terlalu body goals, tapi tubuhku bagus. Wajahku juga tidak jelek amat. Tiba-tiba aku ingin membandingkan diriku dengan Katherine. Rasanya seperti tidak mungkin anak sepopuler Kath menjadi temanku.
“Karen, mau pergi lagi?”
Aku terkejut ketika Cald tiba-tiba muncul dari balik daun pintu kamarku meskipun tubuhku hanya tertutup handuk. “Bisa tidak sih ketuk pintu dulu sebelum masuk. Untung aku masih pakai handuk!” keluhku pada sikap Cald.
Lelaki satu itu hampir selalu membuka pintu kamarku tanpa permisi. Bahkan ketika aku sedang mencabuti bulu ketiakku yang padahal waktu-waktu tersebut sangat sakral dan privasi.
“Oh ayolah karen. Jangan bandingkan dirimu dengannya. Kau paling cantik dan tidak ada duanya!” serunya, “dan tubuhmu itu, woah,”―ia mengeleng sambil memerhatikan tubuhku dari atas sampai bawah―“tak ada yang bisa menyaingi keindahan tubuhmu,” lan jutnya.
Aku mengambil bantal dari kasur dan melemparkannya pada Cald yang membuat lelaki itu tertawa dan pergi. “Bagaimana aku bisa tahan dengan sikap jahilnya sih?” keluhku. Ta[I entah mengapa aku tersenyum meskipun sedang mengeluh.
***
“Ini rumah yang kemarin? Kok tidak seberisik kemarin?” tanyaku saat aku dan Kath sampai di tempat pesta yang kath minta aku temani.
“Oh iya, kali ini Sammy hanya mengundang beberapa orang saja ke pesta kecilnya. Aku mengajakmu karena kupikir ini hal yang bagus untuk mengenalkanmu pada teman-temanku.”
Aku senang mendengarnya. Rupanya Katherine ingin mengenalkanku pada teman-temannya. Rasanya sangat menyenangkan sampai aku tidak menyangka hal seperti ini dapat terjadi juga padaku.
“Babe,” panggil seorang lelaki dari balik pintu. Rambutnya hitam, dengan gaya mullet. Kulitnya sangat putih, dan sangat tampan.
“Jackson!” seru Katherine menghampiri lelaki itu dan mereka berciuman di depanku. Ewh. Bagaimana bisa mereka melakukannya di depan orang lain tanpa malu?
Tapi dipikir-pikir, rasanya aku tahu wajahnya. Bertemu dimana ya?
“Jackson, ini Karen.”
Kath menyuruhku untuk maju mendekat, namun baru beberapa langkah, kekasih Katherine langsung mundur ke belakang sambil mengalihkan wajah. “Uh, maaf aku masuk duluan,” katanya sambil menjauh dari kami.
Setelah kepergian Jackson, akhirnya aku ingat siapa dia. Rupanya dia adalah teman lelaki bernama Axton yang menarik lelaki itu di tempat minuman. Aku ingat karena perilaku mereka agak mirip-mirip. Maksudku, mereka menjauh ketika aku mendekat. Apa aku sebau itu ya?
“Ada apa dengan lelaki satu itu,” kata Katherine kebingungan. “Maaf ya tapi biasanya dia tak seperti itu kok.”
“Tak apa, Kath. Tapi memangnya aku bau ya?”
“Hm? Bau apa? Kau pakai parfume baru?” Kath membauiku dan mengangguk-angguk. “Enak kok wanginya. Kau harus beri tahu kau beli parfume apa. Oke?”
Ugh…aneh. Padahal Kath saja bilang aku tidak bau.
***
Aku harus diam tak berkutik ketika aku melihat Veronica ada di pesta ini juga b ersama para berandalan yang rupanya satu pertemanan dengan Sammy, kenalan Katherine. Terlebih lagi teman-teman Jackson, kekasih Kath tampak menjauhiku dan sengaja menghindar. Contohnya saja seperti tadi, ketika aku ingin mengambil cola di meja, salah satu teman Jackson yang ingin mengambil minuman, tiba-tiba saja juga berjalan memutar dibanding melewatiku. Seolah-olah aku adalah kotoran yang harus dijauhi.
Setelah 10 menit aku hanya duduk saja di pantry dapur, seorang lelaki tiba-tiba masuk ke dapur dan oh, ternyata lelaki bernama Axton. “Hai?” sapaku duluan.
“Oh, kau yang kemarin?” ujarnya. Ia juga tampak menjaga jarak dariku dan duduk di seberangku. “Kau teman Katty?” tanyanya.
“Iya. Aku teman satu sekolahnya. Seperti Veronica juga.”
“Oh, gadis yang memakai lipstick merah itu?”
Aku terkejut ketika lelaki ini menyebutkan soal lipstick Veronica yang tak ada hubungannya dengan pembicaraan kami. “Oh, maaf maksudku lipstick merahnya benar-benar kampungan. Bukan menghina, tapi aku risih.”
Hampir aku tertawa mendengar ucapannya barusan. Ternyata ada juga orang di dunia ini yang tak menyukai Veronica. Bukan aku, aku menyukai V, karena dulu kami pernah berteman. Hanya saja, ah sudahlah. Tak penting membahas masa lalu.
“Omong-omong aku Axton. Panggil saja Ax.”
“Oh, aku Karen.”
Aku mengangkat tanganku dan menyodorkannya padanya. Axton tampak ragu namun akhirnya ia menjabat tanganku.
Aneh. Tangannya benar-benar terasa dingin. Perasaan, ruangan ini tidak sedingin itu. “Jangan khawatir. Kulitku memang cenderung dingin, mungkin grogi karena bersentuhan dengan wanita cantik sepertimu.”
Uh apa itu. Gombalan?
“Hahaha. Nice try, Axton.”
“Iya kan?” ujarnya sambil ikut tertawa.
“Kurasa hidungmu sensitif ya?” tanyaku, mencoba mengungkit soal Axton, Jackson dan teman mereka yang lain yang tampak menjauhiku.
"Oh. Waktu itu penciumanku memang sedang terganggu. Oh by the way, aku ke ruang tengah dulu ya," katanya. Sangat kentara kalau ia ingin kabur dari pertanyaanku. Yah. Aku sih tak masalah. Toh kami juga tak akan saling mengenal selain di pesta ini.
Tak berapa lama usai kepergian Axton, seorang lelaki masuk ke dapur. Aku mengenalinya sebagai salah satu teman Veronica. Lelaki itu duduk di hadapanku dan menunjuk ke arah kepergian Axton. "Kau kenal dia?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Jangan terlalu percaya dengannya dan teman-temannya. Mereka agak aneh."
Aku hampir tertawa mendengarnya. "Eh aku serius," ujarnya lagi melihat aku yang tertawa soal yang ia katakan. Habis, ia tak sadar bahwa dirinya lebih aneh daripada Axton dan teman-temannya? Di sekolah selalu memandangku rendah tapi di sini tiba-tiba bicara seolah aku ini teman dekat yang sudah lama bicara dengannya.
"Omong-omong, apa kau minum?" tanyanya.
Aku menggeleng. Malas meladeni ucapannya lebih jauh. Aku muak. Orang yang berpura-pura baik benar-benar membuatku kesal. Contohnya seperti dia ini. "Oh kupikir kau minum," katanya. Ia mengeluarkan, sebotol kecil minuman yang kuyakini alkohol, dan jus jeruk dari kantung celana jogernya.
"Nih, untukmu kalau begitu," ujarnya lagi. Ia memberikan jus jeruknya padaku. Karena malas lama-lama berurusan dengannya, aku mengambilnya dan menusukkan sedotan ke jusnya.
Lagipula sejak tadi juga aku belum minum sama sekali karena ternyata tidak ada sama sekali cola di dapur ini. Rumah apa yang isinya alkohol semua sih? Orangtua Sammy pasti terlalu membebaskan anaknya sampai-sampai hampir setiap hari membuat pesta begini di rumahnya.
Aku menyesap jus jeruk yang diberikannya sedikit demi sedikit. Merasa agak segar karena vitamin C yang kental dari jus, namun agaknya aku merasa mengantuk. Padahal jam baru menunjukkan pukul 10. Tidak biasanya aku mengantuk di jam segini.
Berulang kali aku menguap sambil menatap teman Veronica yang menyesap alkoholnya sambil menatapku. Uh. Aku mengantuk sekali. Bagaimana ini? Apa Katherine tahu kalau aku ketiduran di sini nanti? Entahlah. Aku hanya ingin tidur. Sepertinya tidur sebentar tak masalah.
Tanpa sadar aku sudah menaruh kepalaku ke atas pantry dapur, dan pandanganku sudah gelap. Aku benar-benar ingin tidur sekarang.
***
Suara samar-samar dari sampingku, membangunkanku. Aku tak tahu mengapa tubuhku terasa sangat lemas dan lemah. Untuk mengangkat mata saja aku merasa tak mampu. Suara samar-samar itu juga tak kunjung jelas.
Apa yang terjadi? Apa aku sudah di rumah? Mengapa rasa kasurnya berbeda dengan kasurku?
Akhirnya dengan beberapa kali percobaan, aku bisa membuka mataku sedikit demi sedikit. Aku hampir terkejut ketika aku melihat di sekelilingku, berandalan teman Veronica ada di sana. Termasuk lelaki yang tadi memberikanku minuman. Ia tampak sedang mengobrol sesuatu dengan temannya dan yang lain seolah menunggu mereka mengobrol.
Perlahan, aku pun dapat mendengar apa yang mereka ucapkan.
"Karena aku yang memberinya obat, jadi lebih baik aku lebih dulu."
"Waktunya bodoh. Kami tahu kau tidak bisa hanya 10-15 menit."
"Ya tunggu saja. Kan bergilir."
Huh? Apa yang mereka katakan. Bergilir?
Gila. Aku harus bangun. Aku merasa ingin menangis. Apa yang terjadi? Mengapa aku bisa berada di kamar aneh ini. Mengapa aku bisa dibawa pergi oleh mereka dan kemana Katherine?
Ken. Aku butuh Ken. Ah sial, pasti mereka sudah menyembunyikan ponselku kan? Bagaimana ini? Sepertinya hidupku akan berakhir di sini.
Tanpa sadar air mata turun dari mataku. Sambil memejamkan mata, tiba-tiba wajah Cald muncul di bayanganku. Aku ingat dengan gelang yang ia berikan padaku. Dengan sekuat tenaga, meskipun rasa lemas hampir meracuni seluruh tubuhku, akhirnya aku bisa menggosok gelang dari Cald yang ada di tanganku.
Aku terus menggosoknya dengan sekuat tenaga dan berusaha untuk kondusif, takut-takut mereka akan sadar bahwa aku sudah bangun dari obat yang mereka berikan padaku.
Cald. Kumohon. Datanglah. Aku butuh kau sekarang. Aku ketakutan setengah mati.
"Eh, dia sudah bangun!" kata salah satu orang yang berada di kamar ini. Aku terkejut karena ia sadar bahwa aku terus menggosok gelangku meskipun aku melakukannya dengan pelan.
"Akhirnya putri tidur bangun. Bagaimana? Kau sudah siap?" kata lelaki yang memberikanku minuman, memandangku dengan tatapan haus dan aku memandangnya dengan jijik.
"Kenapa? Kenapa kalian melakukan ini padaku?"
"Loh. Kenapa? Kan kau sendiri yang meminum minumannya. Ini bukan paksaan loh," jawabnya seolah-olah apa yang mereka lakukan adalah pembenaran dari hal yang kulakukan sebelumnya.
"Minum lagi ya?" katanya. Kali ini ia membawa segelas kecil minuman dan meskipun lemas, aku mencoba untuk menahannya untuk tidak meminumankannya padaku.
Namun tentu saja kekuatanku sama sekali tak sepadan dengannya. Ia berhasil memasukkan minuman itu ke dalam mulutku dan mencubit hidungku hingga aku akhirnya menelannya. Lagi-lagi rasa kantuk hadir dalam diriku. Kali ini tak berlangsung lama. Semuanya langsung menjadi gelap dan aku tak sadarkan diri.
***
Mobil Caldwell berjalan bak mobil pembalap di jalanan New York yang lenggang karena malam hari. Sesekali ia melihat ke arah GPS yang ada di mobilnya, dan langsung turun dari mobil saat sampai di sebuah gedung tak terurus yang berada tak terlalu jauh dari tempatnya. Butuh waktu 30 menit untuk sampai dengan kecepatan biasa. Tapi Caldwell hanya butuh waktu 5 menit dengan kecepatan ajaibnya.
Caldwell berlari ke dalam gedung yang tak terurus itu dan langsung menemukan satu ruangan yang lampunya menyala. Berhasil mendobrak, ia melihat Karen yang terlelap dan seorang lelaki berada di atasnya, membuka kancing baju Karen satu persatu. Mereka semua terdiam ketika Caldwell berhasil masuk meskipun pintu yang menutup ruangan terbuat dari baja yang biasanya sulit untuk didobrak.
Caldwell melihat seisi ruangan yang ada di sana. Di pojok kanan, ia bisa melihat ada kamera yang sedang menyala menyorot ke arah wajah Karen yang terlelap. "Bajing*n!" desisnya.
Tanpa menunggu lagi, Caldwell langsung menghajar orang-orang yang ada di sana. Memukuli wajah, perut, dan juga rahang mereka.
Sekitar 5 menit, akhirnya semuanya berhasil Caldwell lumpuhkan sampai pingsan. Lelaki itu langsung menghampiri Karen yang masih terlelap dalam tidurnya. Ia menutupi baju Karen yang sudah hampir terbuka, dan kemudian membawa Karen pergi ke mobilnya.
Usai memastikan Karen aman di mobil, lelaki itu masuk kembali ke dalam gedung itu, dan melihat kembali seisi ruangan yang seolah sudah dipersiapkan itu. "Gila. Mereka akan bertindak sejauh apa pada Karenku," ujarnya.
Caldwell kemudian mengambil kamera yang masih aktif di pojok ruangan, dan menghapus rekaman dimana ia menghajar semua orang dan juga rekaman Karen di sana. Saat membuka video-video yang ada di sana, Caldwell benar-benar tak bisa berkata apapun.
Ternyata memang benar. Manusia itu adalah makhluk bej*t. Tak berperikemanusiaan sama sekali. Caldwell melihat banyak video tidak senonoh yang dilakukan di ruangan itu, dan kebanyakan korbannya adalah para gadis yang sedang mabuk.
Di dalam video tersebut, wajah para pelaku benar-benar terlihat. Cald mengambil kartu memori dari kameranya dan memutuskan untuk kembali ke mobil.
Memutuskan untuk menghapus ingatan Karen dan para lelaki tadi soal apa yang akan mereka lakukan pada Karen, lalu mengendarai mobil pulang ke rumah untuk memulangkan Karen.
***
Saat suara gemerisik mulai mengusik, akhirnya mataku terbuka dan tubuhku refleks terbangun dari tidur.
Tunggu. Jam berapa ini?
Aku menengok ke jam di atas nakas, dan ternyata sudah jam 10. Wow. Kenapa aku bisa tidur selama ini? Semalam aku tidur jam berapa ya? Kenapa aku tak bisa ingat semalam aku melakukan apa?
Oke, Karen. Coba ingat-ingat dulu. Semalam aku habis mandi. Caldwell menjahiliku. Katherine mengajakku ke pesta. Bertemu lagi dengan Axton. Lalu....
Lalu apa ya? Bagaimana caraku pulang? Apa aku mabuk? Tidak. Aku bahkan tidak minum alkohol di sana. Apa yang terjadi padaku?
Meskipun agak lemas, aku akhirnya berhasil menemukan ponselku yang tergeletak tak jauh dari nakas, tepatnya di meja belajarku. Dengan segera aku membukanya dan melihat beberapa pesan dari Kath yang menanyakan posisiku dimana.
Wait a minute. Jadi semalam aku tak pulang dengan Kath?
Lalu aku pulang dengan siapa??
Asik berpikir dan mengingat kejadian semalam, tiba-tiba kepalaku terasa sakit dan pening. Entah ini hanya halusinasi atau bukan, tapi aku dapat mendengar dengungan yang memekakan sampai aku harus memegangi kepalaku karena terasa sakit.
"Bergilir."
DEG
Ah, aku ingat semuanya sekarang. Tanpa sadar air mataku bercucuran. Apa yang terjadi? Apakah Caldwell datang dan menyelamatkanku?
Kenapa semua orang jahat padaku? Aku salah apa? Aku dosa apa?
"Karen?"
Suara lantang Ken terdengar dari balik pintu. "Sudah bangun belum?" tanya Ken lagi.
Aku buru-buru menghapus air mataku dan kemudian membuka pintu, mendapati Ken membawakan sepiring roti bakar dengan olesan selai coklat kacang, dan s**u. "Caldwell menyuruhku untuk memberimu sarapan. Tapi kau tak kunjung bangun."
"Kemana dia?"
"Pagi buta ia membangunkanku dan pamit pergi entah kemana."
Mengapa ia pergi saat aku membutuhkannya?
"Apa dia bilang akan kembali?"
"Kan kau pacarnya! Kenapa tanya aku?"
Aku mengambil roti dan susunya lalu menyuruh Ken pergi, dan menutup pintu. Ken tidak boleh tahu soal apa yang hampir terjadi padaku. Bisa-bisa ia datang untuk menghajar orang-orang yang hampir memperko**ku. Aku tak ingin Ken tersakiti juga. Lebih baik aku menyimpannya sendiri. Itu lebih baik.
Belum lama aku menutup pintu, suara Ken terdengar lagi. Kali ini dengan heboh ia mengetuk pintu kamarku. "Karen, buka Karen.Cepat!"
Dengan malas aku membuka pintu dan melihat Ken menunjukkan ponselnya padaku. "Ini bukannya nama sekolahmu ya? Kau kenal mereka?" tanya Ken.
Aku mengernyitkan dahi, membaca tajuk artikel yang Ken tunjukkan padaku. "PELAKU SMA G****** YANG MERESAHKAN WANITA"
Eh?
Kuambil ponsel Ken dan scrolling artikel online tersebut dan menemukan foto-foto para berandalan yang kemarin ada di sana. Tapi masalahnya, ini bukan foto biasa. Aku hampir tertawa melihatnya. Sumpah.
Sejak kapan mereka hanya memakai rok maid dengan tubuh shirtless dan bando kucing, juga berfoto dengan gaya menjijikan begitu? Hahaha sumpah. Tapi kok aku seperti kenal dengan tempatnya ya?
Ini, bukannya tempat yang semalam ya? Jangan-jangan Caldwell yang membuat mereka begini?
Tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Di akhir artikel, ada kalimat lain. "Untuk kalian yang merasa pernah menjadi korban mereka, disarankan untuk lapor diri karena barang bukti sudah diserahkan kepada polisi, namun butuh minimal 1 korban untuk mengkonfirmasi pelaku. Thx."
Aku melihat komentar yang membludak pada artikel tersebut. Banyak di antara mereka yang mengaku pernah tahu dan mengenal para berandalan ini dan mencemoohnya karena beritanya benar.
Ada juga yang membela mereka dan bilang semua itu tak benar. Ya paling teman-temannya Veronica. Siapa lagi yang akan membela orang yang salah kan?
"Syukurlah kau sudah bangun."
Aku terkejut ketika mendengar suara Caldwell dari balik Ken. Ia mengenakan kemeja putih dan celana jeans biru, cocok sekali dengan warna matanya. "Maaf aku pergi terlalu lama ya?"
Aku mengembalikan ponsel Ken dan langsung memeluk Caldwell, tak peduli dengan pandangan Ken yang tampak geli. Caldwell balas memelukku dengan mengusap kepala. Aku merasakan kehangatan dan perasaan menggebu saat memeluknya. Aku bisa apa tanpa Caldwell?
"Dan aku bisa apa tanpamu, Karen?" bisik Cald kecil. Aku tersenyum sambil menghirup harum Caldwell. Sepertinya aku sudah benar-benar terjerat.