Disana ada hati yang terpaut
Merekah penuh gempita
Mengedarkan semerbak wangi merasuk
Agar luka itu samar tak terbayang lagi
Perjalanan hampir satu hari dari Samarinda membuat tulang seakan remuk redam. Seperti itulah yang kini dirasakan Ana dengan perjalanan kurang lebih delapan jam dengan tiga kali berganti kendaraan. Semalam setelah mengepak barangnya, ia menerima telepon dari Wira sambil tertidur lelap. Pukul tiga dini hari ia dikejutkan oleh teriakan Rima yang menyuruhnya segera bangun hanya untuk membantunya memilih baju yang pas.
Dengan mata masih sedikit terpejam, Ana hanya memberi pendapat dengan gerakan mengangguk atau menggeleng saja melihat Mama nya sibuk memilih baju yang akan dibawanya. Sebenarnya Rima sudah mempersiapkan semua keperluanya didalam koper namun begitu Hendra tahu jika koper yang dibawa istrinya terlalu berlebihan, alhasil dengan sedikit kesal Rima membongkar kembali isi kopernya dan memilah kembali mana yang akan ditinggalkan.
Ini masih acara lamaran, belum acara nikahan dan Rima yang terlalu gembira akan bertemu calon menantu dan calon besan sudah sangat repot.
Dan selama tiga jam perjalanan dari Samarinda menuju Balikpapan, Ana tidur tanpa terbangun barang sedetikpun. Hanya saat di bandara dan didalam pesawat saja ia membuka matanya karena Wira terus mengajaknya mengobrol dan bercanda. Hubungan keduanya semakin akrab.
Baik Ana maupun Wira sudah terbiasa menceritakan kegiatan, keluh kesah ataupun kejadian lucu hari itu. Mereka tertawa layaknya seorang teman yang berbagi kebahagiaan. Ana senang mengobrol lama dengan Wira yang sering menghiburnya dengan cerita lucu maupun tebakan konyol. Dan Ana membalasnya dengan tak kalah membuat Wira terpingkal-pingkal. Secara sifat, keduanya terlihat cocok. Untuk masalah kesibukan, Ana hanya bercerita sedang menyelesaikan skripsinya sedangkan Wira juga tengah menyelesaikan tesis nya.
"Saat kita bertemu nanti, aku sarankan membawa serta bantal,tongkat atau dokter jantung kalau perlu"
"Kenapa harus serepot saat bertemu Presiden?"
"Aku takut kamu akan sangat kaget hingga pingsan dan jantungmu mungkin akan beedebar sangat kencang melebihi selesai maraton saat melihat wujudku"
"Memangnya kamu punya wujud lain?"
"Ada, wujud malaikat yang tampan"
"Ish.. sok tahu malaikat itu laki apa perempuan" dan suara tawa membahana di hati keduanya.
Wira, sosok itu sudah mulai merasuki kehidupan Ana yang belum pernah sedekat dan seterbuka pada lawan jenis. Ia akan mudah menunjukan apa yang ia sukai dan apa yang tidak ia sukai pada Wira begitupun sebaliknya. Hal yang tidak ia lakukan pada laki-laki lain yang memang selama ini ia begitu menjaga perasaanya untuk tetap teguh pada petuah orang tuanya yang sekarang ia tahu alasan petuah itu dituturkan berkali-kali.
Pengalaman kakanya yang membuat seluruh keluarga terpukul serta perlakuan keluarga Reksa hanya karena ia dekat dengan anaknya sudah cukup membuktikan bahwa keputusanya tidak mudah jatuh dalam mulut manis makhluk berjakun memang pilihan yang tepat.
"Eh udah dateng, ayo masuk" Sambut Ani begitu melihat kedua orang tuanya dan adik tercinta memasuki rumah.
Dari arah dapur Nenek yang masih sibuk dengan adonan kue bergegas meninggalkan kegiatanya dan sedikit berlari menemui anak , menantu serta cucunya.
Rima menghambur ke pelukan wanita yang melahirkanya begitupun Ana yang sudah lama tidak bertemu dengan Neneknya. Hendra sekedar memberi salam dan menanyakan kabar selebihnya ia duduk di sofa ruang tamu.
"Gimana perjalananya?" Tanya Nenek pada anaknya yang duduk disamping suaminya sambil bersandar.
"Lancar Bu tidak sampai delay seperti lebaran kemaren" jawab Hendra sambil mengingat saat sekeluarga mudik lebaran tahun lalu mereka mengalami delay hampir empat jam.
"Ya sudah istirahat dulu sana habis itu makan. Tadi Ani sudah bikin sambal tumpang kesukaan kalian". Rasa lelah menguap begitu saja saat makanan khas yang menjadi favorit Hendra dan Rima disebut. Tanpa mengganti pakaian, keduanya menuju dapur meninggalkan barang-barang bawaan teronggok begitu saja di ruang tamu.
Makanan khas berbahan dasar tempe kedelai yang hampir busuk buatan Ani memang persis dengan buatan Neneknya. Selain karena mereka tinggal bersama dan mengetahui takaran yang pas untuk membuat bumbu tersebut, pun karena Ani juga gemar memasak sehingga usaha catering nya patut diperhitungkan.
Sementara orang tuanya menikmati santap siang menjelang sore, Ana sudah membaringkan tubuhnya di ranjang kamar mereka.
"Mandi dulu Dek baru istirahat" saran Ani yang hanya dijawab deheman. Kamar Ana dan Ani memang hanya satu karena dulu mereka tinggal bersama saat kecil. Saat Ani sekolah di Surabaya, kamar tersebut ditempati Ana. Dan saat ini ketika Ana berada jauh di pulau seberang, kamar tersebut ditempati Ani. Sebenarnya ada kamar kosong lagi yang dipersiapkan jika adiknya datang saat mudik lebaran namun tetap saja Ana memilih tidur berdua dengan kakaknya. Dan kamar tersebut hanya dimanfaatkan untuk menyimpan beberapa alat memasak milik Ani.
*************************
"Mau pakai baju yang mana Mbak?" Tanya Ana begitu melihat deretan baju yang tergantung rapi di lemari kakaknya.
"Tuh yang batik merah" tunjuk Ani dari jauh karena ia sedang merapikan beberapa contoh undangan yang dibawakan oleh salah satu karyawanya untuk rekomendasi undangan pernikahan nanti.
"Sepasang ni Mbak ntar?" Tanya Ana sambil mengamati sebuah dress batik kombinasi satin dengan hiasan kain sifon polos dibagian pinggang. Panjangnya tepat dibawah lutut dengan lengan pendek berkerah rendah.
"Iyalah" jawab Ani singkat.
Acara diadakan pukul sepuluh pagi, sehari setelah kedatangan orang tua Ani. Acara lamaran dihadiri rombongan pihak Fabyan sebanyak tiga mobil sambil membawa bermacam-macam seserahan.
Setelah tukar cincin, ditetapkan tanggal dan bulan menikah tanpa menghitung hari lahir seperti kebanyakan orang yang masih mempercayai adat. Bukan tidak menghormati tradisi, hanya saja antara Ani dan Faby ternyata sudah menentukan sendiri yakni tanggal dimana pertama kali keduanya bertemu untuk saling berbicara. Hari saat Faby putus asa dan syok atas rencana pernikahan bos dan mantan pacarnya. Hari dimana Ani melihat betapa hancurnya seorang laki-laki yang selalu mengeluarkan umpatan kasar pada hasil kerjanya. Dan hari dimana keduanya saling berbagi kisah sedih dengan saling menghibur. Kemudian hari itulah nanti yang akan ia kenang sebagai hari dimana janji suci dihadapan Tuhan diikrarkan. Janji seumur hidup untuk memulai mengarungi bahtera rumah tangga yang sakinah, mawaddah warohmah.
Selesai acara, kedua keluaraga menikmati acara ramah tamah sambil bercakap santai. Dan disinilah Ana, berkenalan dengan calon kakak iparnya.
"Mas, masih ingat aku gak?" Tanya Ana sedikit canggung memulai percakapan karena Faby terlihat pendiam.
"Pernah lihat fotonya saja dan baru sekarang ketemu orangnya. Ana kan?" Tebak Faby yang langsung diangguki Ana.
"Maaf ya Mas waktu itu aku yang angkat telepon Mbak Ani" Faby mengingat saat teleponya dulu diangkat oleh Ana dan tanpa ia tahu begitu saja ia memanggilnya 'sayang' yang membuatnya sedikit malu.
"Gak papa" jawab Faby sambil tersenyum kemudian mengetikan pesan kepada kekasihnya karena sedari tadi ia tidak tampak menemaninya.
Ana dipanggil Rima untuk menyuguhkan potongan buah didalam piring saji untuk tamu yang berada di luar rumah. Ia segera beranjak pergi meninggalkan Faby setelah berpamitan.
Selagi Ana menyajikan piring -piring berisi potongan buah dan makan kecil lain bolak-balik dari depan masuk ke belakang, Ani tengah berbincang dengan seseorang disamping rumah.
"Selamat buat pertunanganya calon kakak ipar" ucap lelaki itu sedikit menggoda dengan kerlingan pada sudut matanya.
" Kirain gak bisa dateng Ir" Wira mengangkat bahu acuh.
"Bukan untukmu Rin, aku hanya ingin sedikit mengintip istriku" Dipukulnya lengan Wira dengan sedikit kesal. "Masih calon, belum tentu juga dia mau sama kamu" Wira hanya terkekeh pelan melihat reaksi sahabat sekaligus calon kakak iparnya itu.
"Aku hanya berharap dia akan menerima alasanku melakukan ini. Bukan untuk mempermainkanya, hanya ingin lebih dekat dengan cara yang aku bisa"
"Semoga berhasil adik ipar. Selagi kamu tidak membuatnya nangis darah, aku masih rela mengakuimu sebagai adik iparku" keduanya terkekeh.
Ani dan Wira memang bersahabat sampai-sampai karena dekatnya, mereka memiliki nama panggilan khusus. Ani akan memanggil Wira dengan sebutan Ir, dan Wira akan memanggil Ani dengan nama tengahnya, Rin.
*************************
Ana membantu kakaknya membuka seserahan dari keluarga Faby. Seserahan yang amat beragam dari mulai alat make up, perlengkapan mandi, tas, baju dan kain batik, serta perhiasan dan sebagian lagi yang berupa makanan dan buah-buah an sudah diletakan di dapur karena akan dibagikan kepada suadara yang hadir atau tetangga sekitar.
"Nanti kalau nikah pakai seserahan lagi Mbak?"
"Iya malah lebih banyak dari ini"
" Mau nikah aja ribet amat" keluh Ana sambik mengamati kamar yang penuh sesak dengan seserahan. Bahkan ranjang yang ingin ia gunakan untuk berbaring tak luput dari tempat meletakan seserahan.
" Mbak"
" Hem.."
"Mas Faby tahu tentang kejadian yang..."Ana melirik kearah kakaknya takut jika tersinggung atau merasa sedih kembali.
"Tahu. Dan dia mau menerima bagaimanapun masa lalu Mbak yang kelam seperti itu"? Ada senyum kelegaan saat Ani mengatakan itu.
Jika kita sudah siap menjadikan seseorang masa depan, harus siap pula menerima masa lalunya. Bagaimanapun juga masa lalu tak bisa diubah dengan cara apapun. Hanya perlu meninggalkanya tetap menjadi masa lalu tanpa menjadikan bayangan untuk masa depan kelak.
" Mbak tidur dulu Dek, kalau kamu mau tidur juga jangan lupa matikan lampu" Ana mengangguk. Matanya belum ingun dipejamkan padahal seharian ini ia juga lelah.
Melihat deretan buku yang tertata rapi diatas meja kakaknya, Ana menghampiri dan mencari bacaan yang mungkin bisa dinikmatatinya. Pandanganya terpaku pada sebuah album foto ukuran postcard. Diraihnya dan segera dibuka halaman demi halaman. Semuanya adalah foto kakaknya bersama teman-temanya saat masih mengenakan seragam abu-abu. Hingga pada halaman terakhir matanya menyipit memperhatikan satu foto dua orang yang dikenalnya.
Ani, kakaknya tengah memakai jaket dengan kantung dibelakang menutupi sebagian kepalanya sedang berangkulan dengan laki-laki yang dikenalnya juga. Memicingkan matanya sekali lagi memastikan bahwa pandanganya tidak salah. Lelaki yang tengah merangkul pundak Ani adalah...... Radit.
-------------------------------------------