Sudah dua jam lebih Ana terpekur di kamarnya mengingat kembali percakapan dengan kakaknya siang tadi, awal kejadian hari ini bermula.
"Mbak, apa foto orang itu masih disimpan?"
"Masih, kenapa?"
"Dimana menyimpanya?"
"Kenapa sih emangya kepo amat! Yang jelas di tempat yang rapat tidak bisa dilihat orang lain"
"Tidak Mbak, hanya saja aku ingin memastikan sesuatu"
Begitu sambungan terputus, Ana berpikir kembali, jika kakaknya menyimpan di tempat yang rapat, itu artinya hanya dia yang tahu dan bukan di tempat yang mudah untuk dijamah orang lain. Jadi album foto yang jelas-jelas ada di atas meja tidak termasuk dalam tempat yang rapat dan tidak diketahui orang lain. Oke, Ana mulai mengendurkan prasangka buruknya begitu melihat Radit dan Mira yang sibuk memilih deretan baju yang tergantung didepan matanya.
Jelas bukan dia, dan demi mengupas rasa penasaranya, Ana nekat datang langsung ke rumah Radit sorenya setelah ia bertanya sana-sini kepada para sopir ojek yang diyakini Ana adalah teman seprofesi Radit. Karena jujur ia lupa arah jalan menuju rumah laki-laki itu.
Dan gara-gara kenekatanya datang ke rumah Radit, berimbas pada situasi yang tidak diprediksinya selama ini. Pernyataan cinta yang begitu mendadak dan tak terduga.
Dan dengarlah jantungnya masih saja berdegup tak karuan. Wajahnya memanas dan hatinya sedikit bersorak mendengar pengakuan tersebut. Jika harus bertanya pada hatinya yang paling dalam, sepertinya rasa itu juga ada meski kadarnya belum dapat dipastikan. Terlalu samar untuk dilihat dan terlalu dini untuk menyimpulkan.
Semua serasa tidak pasti. Radit mengenal keluarganya dengan baik, bisa dipastikan bahwa Radit adalah orang yang baik pula.
Namun bagaimana dengan Wira? Bagaimana reaksi orang tuanya jika tahu bahwa ada laki-laki lain yang terang-terangan menyatakan perasaanya disaat harapan dari berbagai pihak tergantung padanya.
Jika menuruti ego untuk menerima Radit, ia akan mengecewakan kedua orang tuanya, Wira dan keluarga terutama pada perjanjian itu.
Memikirkan semua itu membuat Ana pusing. Diraihnya ponsel pintar diatas meja. Mencari nama seseorang dan menghubunginya, sebuah suara di seberang menyapanya.
"Hallo Dek" sapa seseorang di seberang.
"Sibuk?"
"Tidak juga, aku baru sampai rumah. Ada apa Dek?" Tanya Wira yang memegang ponselnya sambil melepas kancing kemejanya.
"Kapan kita bisa bertemu secara langsung?" Tanya Ana langsung.
"Ada apa memangnya ?"
"Apa selamanya kita akan berkomunikasi seperti ini? Aku selalu mencoba membuka hati padamu. Apa salahnya kita bertemu sesekali sebelum keputusan melanjutkan hubungan ini terjadi?"
"Apakah kurang nyaman cara kita berhubungan selama ini?"
"Tidak juga tapi..."
"Jika rupa membuat penasaran, apakah jika aku tidak seperti bayanganmu selama ini, adakah kemungkinan untuk mundur?" Sela Wira cepat. Ana bungkam, bukan itu yang ia harapkan. Bolehkan ia sedikit licik membandingkan dua orang yang menjadi pertimbanganya?
"Tidak, tidak begitu Wir. Aku bukan mencari tampang sebagai patokan rasa nyaman dan perasaan hatiku" sanggah Ana tidka ingin Wira berpikir salah paham tentang maksudnya. Ia hanya ingin merasakan bertemu,dekat atau sekedar menghabiskan satu hari saja bersama Wira. Agar ia tahu, debaran mana yang lebih terasa. Detak pada siapa yang lebih laju?
"Aku tahu Dek. Baiklah jika itu keinginanmu. Bagaimana jika setelah kamu selesai ujian akhir bulan ini kita bertemu" Ana begitu girang mendengar keputusan Wira. Dengan cepat Ana menyebutkan sebuah alamat.
"Dek..."
"Ya?"
"Bolehkah aku berharap memiliki hatimu meskipun setelah pertemuan nanti kamu memutuskan mundur?" Ada nada pilu yang tertangkap dalam indra pendengaran Ana.
"Boleh" lirihnya seakan tidak pasti, apakah semua akan berbeda jika mereka bertemu, Ana tak bia memperkirakan semuanya. Yang jelas ia hanya ingin tetap memberinya harapan.
"Meskipun ada orang lain yang mungkin akan bersaing denganku nanti, yakinlah aku tidak akan pernah mundur" meyakinkan diri sendiri bahwa ia mampu memenangkan hati Ana.
"Memangnya kamu berharap punya saingan?"
"Tidak Dek, tapi nantinya kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Meskipun kita masih dalam tahap saling mencoba mengenal, kemungkinan apapun bisa saja terjadi"
"Wir?"
"Hem"
"Apa kau mencintaiku?" Tanya Ana ragu.
"Sejak dulu sayangnya, iya"
Ana tak mampu bertanya apapun lagi. Kenapa memilih itu sangat sulit? Mengapa hidup selalu dihadapkan pada pilihan yang entah mengapa pilihan yang dihadapinya kali ini terasa sangat sulit. Banyak hal yang harus ia pertimbangakan, banyak alasan yang harus ia punyai dan banyak pihak yang mungkin saja akan terkena imbasnya.
**************************
Sudah dua minggu lebih Ana disibukan dengan tugas akhirnya. Dan selama itu pula sejak terakhir kali bertemu Radit, laki-laki itu tidak pernah tampak di tempat ia biasa menunggu penumpang. Ana pernah bertanya pada beberapa orang yang tengah berada di pangkalan namun tidak ada yang tahu kemana perginya Radit.
Pesan singkat dalam bentuk aplikasi apapun tidak pernah ditanggapi bahkan seakan diabaikan. Telepon, ah Ana baru sadar jika selama mengenal Radit, tidak sekalipun ia pernah melakukan percakapan via telepon. Mungkin karena selama ini selain keperluan dengan Radit hanya sebatas memberitahu jadwal berangkat dan pulang atau memberi tahu posisi dan selebihnya langsung bertemu.
Akhirnya selesai sudah tugas skripsi Ana. Dua minggu yang tersisa akan ia manfaatkan untuk mempersiapkan ujianya. Hari ini setelah selesai memperbaiki semua revisian dan mencari beberapa buku untuk referensi ujianya nanti. Segera ia mencari motornya agar segera sampai ke Rumah Sakit karena Dini tadi menelponya mengajak berbelanja baju untuk dipakai dalam acara pernikahan salah satu Dokter di tempatnya bekerja yang diselenggarakan disalah satu hotel ternama sehingga para tamu undangan harus memakai dress code.
Sebenarnya ia akan mengambil formulir pendaftaran namun ternyata pendaftaran baru dibuka besok. Padahal ia berharap hari ini terakhir ia datang ke kampus.
Sembari menunggu lampu merah yang tak kunjung berganti, ponsel Ana berdering. Mengintip sedikit melalui celah resleting karena ia meletakan ponselnya di saku depan. Dilihatnya nama yang tertera pada layar pnsel tersebut, dan nama itu lagi. Sepulang dari lamaran kakaknya, nomor itu terus saja menghubungi. Dan berkali pun Ana mengabaikan, tetap saja tak pernah lelah dan menyerah berusaha menghubungi. Ribuan pesan text sudah ia terima dan tanpa membaca terlebih dulu ia langsung menghapusnya.
Rasa sakit itu masih membekas. Kata-kata itu masih menggores harga dirinya. Dan sekarang sebentar lagi ia bahkan akan menuju tempat orang itu bekerja. Doanya sepanjang jalan hanya jangan sampai bertemu denganya.
***********************
Ana memarkirkan sepeda motornya kemudian berjalan menuju pos satpam. Ada dua buah kursi disamping pos tersebut yang biasa ia tempati saat menunggu Dini keluar. Dibukanya ponsel miliknya dan segera menelpon memberitahu jika dirinya sudah sampai dan menunggu di tempat biasanya.
Begitu sambunganya diputus kembali ia masukan ponselnya. Dan dering itupun kembali mengusik telinganya. Buru-buru ia geser tanda merah agar suara tersebut segera berakhir. Seakan-akan penelpon tak ingin menyerah, diulanginya lagi panggilan itu hingga kekesalan Ana tak bisa lagi ditahan. Dimatikan ponsel tersebut dan dimasukan kedalam saku tas nya.
Setidaknya ia sedikit bernafas lega, meskipun hanya sedikit karena saat ini bisa dibilang ia berada di tempat yang rawan bertemu denganya.
Mencona menyibukan diri dengan menggesek-gesekan kakinya di tanah membentuk pola garis lurus atau menyilang. Gesekan sepatu kets dan lantai menimbulkan suara yang mencuri perhatian seseorang sejak tadi, sejak dirinya tiba dengan motor yang memasuki area parkir Rumah Sakit.
Dihampirinya si gadis yang terlihat bosan dan kesal. Bosan karena Dini tak kunjung datang dan kesal karena ia amat kebosanan.
"Aku minta maaf" mendengar suara itu, Ana mendongkaan kepala seketika. Pandanganya bertabrakan dengan mata penuh luka Reksa. Dan kilatan marah dari manik mata Ana seketika muncul mengingat sosok yang dihindari ternyata sudah berdiri dihadapanya.
"Kamu tidak salah, aku yang harusnya minta maaf sudah berani mendekat sebagai temanmu" ujar Ana dingin dan mengalihkan pandanganya pada ujung sepatu.
"Na, aku benar-benar tidak tahu jika Mama akan menyakitimu seperti itu. Kumohon Na, maafkan aku" iba Reksa yang kini duduk berjongkok disamping Ana.
"Sudahlah Dok, anda orang terhormat tidak perlu melakukan hal rendah seperti ini" diliriknya sekilas Reksa yang tengah berjongkok. Kemudian Reksa bangkit dan duduk disamping Ana.
"Berkenalan denganmu itu tulus kulakukan Na, menyukaimu memang tidak seperti dugaanku pada awalnya, tapi membalas dendam karena kamu mirip dengan masa laluku itu salah. Yang kamu dengar dari Mama itu salah Na, itu hanya agar Mama membuatmu menjauh dariku". Ana masih tetap memalingkan wajah ketika Reksa menjelaskan semuanya.
" Selama ini aku tidak pernah memiliki teman, karena semua orang yang pantas berada di dekatku harus sesuai keinginan Mama. Seperti inilah kehidupanku, menjadi anak tunggal yang di setir kehidupanya. Hingga kamu datang, membuatku memiliki teman dan menghabiskan sedikit waktu bersama. Aku sangat senang Na, dan entah kenapa rasa tertarik itu muncul. Tiba-tiba saja aku menyukaimu lebih dari seorang teman. Semua terlepas dari bayangan siapa masa laluku, jujur Na" lanjut Reksa. Ana masih tetap terlihat acuh. Diraihnya tangan Ana yang menggenggam tali tasnya. Ana terkesiap kaget dengan gerakan tangan Reksa hingga ia pun menoleh menatap tak suka dengan sentuhah pada tanganya. Ia ingin menarik lepas namun tangan Reksa lebih kuat menggengam erat.
"Kalau mau curhat gak usah disini, bikin sakit telingaku aja" ketus Ana seakan terganggu dengan suara Reksa yang mencoba menjelaskan semuanya sejak tadi. Reksa tersenyum miris.
" Aku minta maaf atas segala perlakuan Mama padamu. Tapi Na, tolong beri aku kesempatan. Aku hanya ingin berteman denganmu, tidak lebih" Ana mendesah berat, sedari tadi ia ingin pergi dari Reksa, entah kenapa kakinya sulit digerakan. Dan sekarang saat tanganya digenggam olehnya dengan permintaan maaf yang menyayat batin, dilihatnya lagi tatapan itu penuh kesedihan, kesepian, ketulusan dan permohonan.
Ditariknya tangan yang digenggam Reksa dengan mudah sekarang. Dimiringkan sedikit posisi duduknya agar menghadap Reksa.
"Beri aku alasan kenapa aku harus memaafkan anda Dok!" Ditatapnya Reksa tajam sambil melipat kedua tangan di depan d**a. Reksa langsung berbinar,setidaknya jika ia memberi alasan yang bagus, kesempatan Ana untuk memaafkan akan terbuka lebar.
----------------------------------