"Tidak ada alasan yang bisa kugunakan untuk memaksamu memaafkanku Na, tapi aku hanya memohon satu kesempatan saja uuntuk membuktikan bahwa aku benar-benar tulus denganmu, masih bisakah kita berteman seperti dulu?"Ujar Reksa penuh harap.
"Buat apa kita berteman? Aku tidak yakin bisa bertahan dengan status 'teman' yang akan kita jalani nanti"
"Apa maksudnya Na?"
"Maaf bukanya aku terlalu percaya diri, hanya untuk mawas diri saja. Bukankah Dokter bilang menyukaiku sampai-sampai Tante Monica sangat membenci bahkan menghinaku. Lalu apakah jika kita berteman seperti harapan Dokter, tidak ada kemungkinan aku akan dihina seperti sebelumnya?"
"Sungguh aku minta maaf Na untuk perlakuan Mama ku. Jujur aku tidak tahu menahu jika tujuan Mama memintamu datang adalah untuk membuatmu terhina. Aku dari awal hanya ingin memperkenalkanmu sebagai temanku, bukan menyerahkanmu untuk dihakimi. Papa menahanku di ruang kerjanya hampir satu jam dengan berkas kerja sama yang sebenarnya bisa dibicarakan kapan saja. Aku baru sadar itu bagian dari rencana ketika aku turun dan yang tersisa di meja hanya dua cangkir teh yang tidak berkurang seteguk pun."
Ana tidak menjawab. Matanya lurus ke arah gerbang rumah sakit, tempat sebuah ambulans masuk pelan tanpa membunyikan sirene. Petugas satpam di dalam pos berdiri, mengangkat portal, lalu duduk kembali. Semua berjalan biasa saja, seolah dunia tidak peduli bahwa di dua kursi plastik di bawah pohon ketapang itu sedang ada seseorang yang meminta dimaafkan.
"Dokter tahu bagian mana yang paling sakit?" tanya Ana akhirnya. Suaranya datar, tidak bergetar sama sekali, dan justru itu yang membuat Reksa menunduk. "Bukan waktu Tante Monica bilang aku perempuan gembel. Aku sudah siap dihina soal itu sejak melihat pagar rumah Dokter. Yang sakit itu waktu aku keluar dari rumah. Aku sempat berdiri lama di depan gerbang, menunggu ada yang menyusul dan bilang bahwa yang barusan itu salah. Tidak ada."
"Na..."
"Aku pulang naik taksi dengan uang pas-pasan, dan sepanjang jalan aku cuma memikirkan satu hal. Ternyata seorang teman bisa hilang secepat itu justru waktu dibutuhkan." Ana menoleh, kali ini menatap tepat ke mata laki-laki di sampingnya. "Jadi kalau sekarang Dokter minta kita berteman seperti dulu, jawabanku tetap tidak bisa. Bukan karena aku dendam. Karena yang namanya seperti dulu itu sudah tidak ada."
Reksa menelan ludah. Ia terbiasa menghadapi keluarga pasien yang berteriak, memaki, bahkan menuduhnya lalai. Semua itu bisa ia jawab dengan data, dengan hasil laboratorium, dengan kalimat yang sudah ia hafal sejak masa koas. Tetapi kalimat Ana barusan tidak ada bandingannya di buku mana pun.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanyanya lirih.
"Boleh berteman," jawab Ana, membuat kepala Reksa terangkat cepat, "tapi yang berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
Ana meluruskan punggungnya, membetulkan tali tas selempang yang melintang di bahunya, lalu mulai menghitung dengan jari.
"Satu. Tidak ada lagi jemput-jemputan pakai mobil di depan bank, di depan kampus, atau di mana pun. Aku punya motor dan aku bisa naik taksi. Dua. Kalau kita bertemu di rumah sakit, Dokter tetap dokter dan aku tetap tamu. Jangan digandeng, jangan ditepuk kepalaku, jangan ditenangkan di depan orang banyak seperti waktu itu. Tiga hari aku jadi bahan omongan perawat satu gedung gara-gara kejadian itu."
"Tiga?" Reksa mencoba tersenyum, meski senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Tiga. Jangan pernah lagi membawaku ke hadapan siapa pun untuk membuktikan sesuatu. Aku bukan surat pernyataan yang Dokter sodorkan ke Mama supaya Dokter menang berdebat." Ana menarik napas. "Dan yang terakhir, jangan menyimpan harapan apa pun dari pertemanan ini. Karena kalau Dokter menyimpan harapan, satu hari nanti Dokter akan marah sendiri waktu harapan itu tidak terbayar. Aku sudah cukup capek jadi orang yang harus membayar harapan orang lain."
Kalimat terakhir itu keluar tanpa ia rencanakan, dan begitu selesai diucapkan Ana sendiri terkejut mendengarnya. Sebab yang terbayang justru bukan Reksa, melainkan wajah Mamanya yang berbinar tiap kali menyebut nama Wira, dan wajah Papanya yang mengangguk-angguk puas ketika menceritakan perjanjian itu di meja makan.
Reksa diam cukup lama. Angin sore membawa bau obat dari dalam gedung dan bau gorengan dari warung seberang jalan, bercampur jadi satu.
"Aku terima semuanya," katanya kemudian. "Tapi ada satu yang tidak bisa aku janjikan."
"Yang mana?"
"Yang terakhir." Reksa menatapnya lurus, tanpa senyum, tanpa nada bercanda yang biasa ia pakai untuk menutupi apa pun. "Aku bisa berhenti menjemputmu, bisa berhenti menyentuhmu, bisa berhenti membawamu ke hadapan Mama. Itu semua urusan kaki dan tangan, gampang diatur. Tapi berhenti berharap, aku tidak mau berbohong di depanmu untuk yang kedua kali."
Ana membuang muka. Entah kenapa telinganya terasa panas.
"Terserah," gumamnya. "Asal Dokter tidak pernah menagihnya padaku."
"Tidak akan," jawab Reksa cepat. "Aku janji."
Sunyi lagi. Ana melirik jam di layar ponselnya. Dini sudah terlambat empat puluh menit dan belum ada satu pesan pun masuk. Tanpa sadar jempolnya bergeser ke daftar percakapan lain, ke satu nama yang sudah dua minggu ini tidak pernah berubah keadaannya. Pesan terakhirnya masih dua centang abu-abu. Radit.
Sudah belasan kali ia melewati pangkalan di simpang itu dan tidak sekali pun melihat jaket hitam yang ujung lengannya sobek kecil itu. Para sopir hanya menggeleng, menyuruhnya sabar, bilang mungkin Radit sedang pulang kampung, padahal semua orang di sana tahu Radit tidak punya kampung selain rumah kakaknya. Aneh sekali, pikir Ana. Orang yang paling terang-terangan mengatakan perasaannya justru yang paling cepat menghilang, sedangkan orang yang paling dilarang mendekatinya malah sedang duduk di sampingnya sekarang.
"Naaa! Sorry banget!"
Suara melengking itu memotong lamunannya. Dini setengah berlari dari arah lobi dengan ransel di satu bahu dan jaket yang belum sempat dikancingkan menutupi seragam perawatnya. Langkahnya melambat begitu ia menyadari siapa yang duduk di kursi sebelah sahabatnya.
"Eh." Dini berhenti dua langkah di depan mereka. Senyumnya melebar, terlalu cepat dan terlalu lebar. "Dokter Reksa. Kok bisa ada di sini?"
"Kebetulan lewat," jawab Reksa sambil berdiri.
"Kebetulan lewat sampai duduk empat puluh menit?" Dini terkekeh, matanya menyapu wajah Ana lalu kembali ke Reksa. "Untung yang lihat cuma satpam. Kalau perawat lantai tiga yang lewat, besok pagi sudah jadi berita satu rumah sakit."
Ana bangkit, menepuk-nepuk celananya. "Jadi belanja tidak? Tokonya tutup jam sembilan, Din."
"Jadi dong! Aku cuma ketahan operan sama pasien rewel." Dini menggandeng lengan Ana, lalu menoleh ke belakang dengan nada yang dibuat seringan mungkin. "Dokter mau ikut? Kita cuma cari dress buat kondangan minggu depan. Sekalian minta pendapat, biar tidak salah kostum."
Ana menoleh tajam. Dini balas mengedip, seolah tidak ada yang salah dengan ajakan itu.
"Kalau tidak merepotkan," jawab Reksa.
"Repot apanya, orang mobilnya juga kosong," sahut Dini cepat, sudah setengah menyeret sahabatnya ke arah parkiran. "Na, motormu titip satpam saja ya. Nanti pulang kita ambil."
Dan begitulah Ana berakhir di kursi belakang sebuah mobil yang dua minggu lalu ia bersumpah tidak akan pernah ia naiki lagi, sementara Dini duduk di depan, sibuk mengatur pendingin udara seolah tempat itu memang miliknya sejak dulu.
Di pusat perbelanjaan, Dini berubah menjadi orang lain. Ia menyerbu deretan gantungan baju, menempelkan satu demi satu di depan tubuh Ana, lalu menggeleng-geleng seperti juri.
"Yang ini warnanya bikin kamu kelihatan pucat. Yang ini bahannya murahan. Nah, ini!" Ia menyodorkan sepotong gaun berpayet yang harganya membuat Ana refleks membalik label itu sekali lagi.
"Din, ini buat kondangan atau buat dilelang?"
"Sekali-sekali dong, Na. Kamu itu cantik, cuma kamunya sendiri yang tidak mau kelihatan cantik."
Ana akhirnya memilih gaun sederhana berwarna biru tua, potongan lurus, panjangnya di bawah lutut, tanpa satu payet pun. Ketika ia keluar dari kamar pas untuk berkaca, ia menangkap pantulan Reksa di cermin besar itu. Laki-laki tersebut duduk di kursi tunggu, ponsel di tangan, tetapi layarnya sudah gelap sejak tadi.
Dan Ana melihat sesuatu yang membuatnya buru-buru masuk kembali ke kamar pas. Tatapan itu memang berbeda, persis seperti yang dulu pernah dikatakan Dini tentang senyum Reksa. Hanya saja kali ini Ana tidak lagi bisa berpura-pura tidak paham artinya.
Ia menutup tirai, memandangi bayangannya sendiri, lalu berbisik pelan kepada perempuan di dalam cermin itu.
"Jangan macam-macam, Na. Kamu sudah punya janji yang harus dijaga."
Selesai membayar, Dini kembali menghilang ke deretan sepatu sambil berteriak minta ditunggu sebentar. Reksa mengulurkan tangan hendak mengambil kantong belanjaan dari genggaman Ana, dan Ana menariknya menjauh.
"Nomor satu, Dok," katanya mengingatkan.
"Yang nomor satu tadi soal mobil."
"Turunannya sama saja." Ana memindahkan kantong itu ke tangan kiri. "Kalau Dokter membawakan belanjaan saya, besok Dini sudah punya cerita baru untuk dibagi ke satu bangsal."
Reksa menurunkan tangannya, menyerah. Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor yang mulai sepi, melewati toko-toko yang sudah menurunkan setengah rolling door.
"Dok," panggil Ana tiba-tiba, matanya tetap lurus ke depan. "Ada yang belum saya bilang, dan saya lebih suka Dokter dengar dari saya daripada dari mulut orang lain."
"Apa?"
"Saya sedang dalam proses perjodohan. Kedua orang tua saya sudah sepakat dengan keluarganya. Ada perjanjian lama di antara dua keluarga, dan sekarang giliran saya yang menjalaninya." Ana berhenti, menoleh sebentar untuk memastikan lelaki itu benar-benar mendengar. "Namanya Wira. Kami belum pernah bertemu, dan kami akan bertemu setelah ujian saya selesai."
Langkah Reksa tertahan setengah detik, hanya setengah detik, sebelum ia melanjutkan berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa kamu memberitahuku?"
"Supaya jelas," jawab Ana. "Supaya nanti kalau Dokter kecewa, Dokter tahu bahwa saya tidak pernah menyembunyikannya."
Mereka menutup malam di sebuah kedai kopi di lantai dasar, tiga kursi mengelilingi satu meja bundar yang terlalu kecil untuk tiga kantong belanjaan. Dini bercerita panjang lebar tentang dokter mana yang menikahi siapa, siapa yang batal bertunangan, siapa yang katanya sudah tiga kali ganti pacar dalam setahun. Reksa menanggapi seperlunya. Ana lebih banyak mengaduk minumannya yang esnya sudah mencair.
Sudah beberapa hari Wira tidak menghubunginya. Biasanya sesibuk apa pun laki-laki itu, minimal ada satu pesan konyol yang masuk menjelang tengah malam, tebakan garing atau keluhan tentang dosen pembimbingnya. Ana sudah berkali-kali membuka ruang obrolan mereka lalu menutupnya lagi tanpa mengetik apa pun, gengsi mengakui bahwa dirinya sedang menunggu.
Lalu ponsel di atas meja itu bergetar, berputar sedikit, dan menyala.
Satu nama muncul di layar.
Ana meraihnya dengan gerakan yang terlalu cepat sampai sedotan di gelasnya ikut terguling.
"Halo?" sapanya, dan tanpa ia sadari sudut bibirnya sudah naik lebih dulu sebelum suara di seberang sempat menjawab.