Ana menutup teleponya dengan senyum cerah pasalnya Wira, menelponya kembali setelah beberapa hari tanpa kabar. Sejak hari dimana dirinya meminta waktu untuk saling bertemu dan Reksa menjanjikan setelah ujian Ana selesai, baru sekarang ia mendengar suara Wira yang tentu saja dengan gaya bicara keduanya yang saling melempar gurauan.
Tanpa Ana sadari disampingnya, Reksa tengah menahan gemuruh harapan dalam hati yang telah pupus dan Dini yang tertawa penuh kemenangan di dalam batinya. Tiga perasaan berbeda dalam satu waktu yang terpancar lewat tatapan mata masing-masing, dalam diam.
"Dari Wira ya Na?" celetuk Dini bertanya sambil melirik kearah Reksa yang jelas terlihat nada kesal, cemburu dan hal itu dimanfaatkan Dini untuk semakin memperkeruh hati Reksa.
"Iya, akhirnya tuh orang nelpon juga," jawab Ana ringan sambil meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. "Katanya tesisnya lagi berantakan, dosen pembimbingnya susah ditemui."
"Ciyee. Sampai senyumnya begitu." Dini menopang dagu, matanya melirik ke samping, memastikan bahwa lelaki di kursi seberang ikut mendengar. "Dok, Dokter tahu tidak, Ana ini sebentar lagi mau ketemu calon suaminya lho."
Sendok kecil di tangan Reksa berhenti di tengah gelas.
"Din," tegur Ana pelan.
"Lah memang kenyataannya begitu, kan?" Dini tertawa, suaranya terlalu renyah untuk ruangan sekecil itu. "Namanya Wira. Dijodohin sejak lama sama orang tua Ana. Katanya sih pinter, sekarang lagi menyelesaikan tesisnya. Enak ya, ada yang tinggal dipilihkan, tidak usah capek-capek cari sendiri."
"Din, cukup."
"Aku kan cuma cerita." Dini menyeruput minumannya, lalu menyandarkan punggung dengan wajah paling polos di dunia. "Iya kan, Dok? Namanya juga rezeki."
Reksa mengangkat wajahnya dan tersenyum. Senyum yang rapi, yang biasa ia pakai untuk memberi tahu keluarga pasien bahwa operasi berjalan lancar padahal hatinya belum selesai berdebar.
"Iya," katanya. "Rezeki."
Hanya satu kata, tetapi Ana yang duduk di sebelahnya mendadak merasa kedai kopi itu terlalu dingin.
"Nanti kalau jadi tunangan, undang kami ya, Na," sambung Dini lagi, jarinya mengetuk-ngetuk badan gelas. "Aku mau lihat sendiri orangnya seperti apa. Siapa tahu ternyata lebih ganteng dari dokter-dokter di rumah sakit kita."
Kali ini Ana tidak menegur. Ia hanya menatap sahabatnya lama, dan untuk pertama kalinya sejak mereka berkenalan di masa ospek dulu, ia merasa sedang berhadapan dengan orang yang tidak sepenuhnya ia kenal.
Ia meraih kantong belanjaannya dan berdiri.
"Sudah malam. Motorku masih di rumah sakit."
Perjalanan pulang berlangsung nyaris tanpa suara. Dini yang biasanya cerewet justru sibuk dengan ponselnya, jempolnya bergerak cepat, layarnya berkali-kali menyala dan padam. Ana memandangi jalan dari kaca belakang, memperhatikan lampu-lampu ruko yang satu per satu mulai dipadamkan.
Mobil berhenti di depan pos satpam. Ana turun lebih dulu, mengucapkan terima kasih seperlunya, dan langsung berjalan ke arah motornya yang sudah dingin karena diparkir sejak sore.
"Na."
Ia menoleh. Reksa berdiri di samping pintu mobil yang masih terbuka, dan cahaya lampu jalan membuat wajahnya setengah gelap.
"Tadi kamu bilang supaya semuanya jelas," ucap lelaki itu. "Sekarang giliranku, supaya sama-sama jelas juga."
Ana menunggu, satu tangan sudah memegang setang motor.
"Aku tidak akan mengganggu perjodohanmu. Aku tidak akan menelepon orang tuamu, tidak akan datang ke rumahmu tanpa diundang, dan tidak akan bilang apa-apa yang membuatmu susah." Reksa menarik napas. "Tapi kalau suatu hari kamu sendiri yang berhenti, kalau kamu sendiri yang bilang tidak sanggup meneruskan, aku ingin jadi orang pertama yang kamu telepon. Cuma itu yang aku minta."
"Dokter tahu itu permintaan yang tidak masuk akal?"
"Aku dokter, Na, bukan orang suci." Ia tersenyum tipis. "Aku tahu."
Ana menghidupkan mesin motornya, memakai helm, dan pergi tanpa menjawab. Di sepanjang jalan pulang, kalimat itu terus terulang di kepalanya, bersaing dengan kalimat Wira di telepon tadi, bersaing pula dengan wajah Radit yang entah ada di mana.
Di simpang menjelang jembatan, Ana memperlambat laju motornya tanpa sadar. Pangkalan itu masih ada, masih dengan spanduk yang sudah pudar dan deretan motor yang diparkir menyerong. Tiga orang duduk di bangku panjang, satu di antaranya mengangkat tangan begitu mengenali motornya.
Ana menepi.
"Belum ada kabar, Dek," kata bapak itu, mendahului pertanyaan yang sudah ia hafal. "Kemarin ada yang lihat motornya di rumah kakaknya, tapi orangnya tidak keluar-keluar."
"Motornya ada di rumah?" ulang Ana, jantungnya berdetak lebih cepat.
"Katanya begitu. Coba saja Adek ke sana."
Ana mengucapkan terima kasih, lalu melanjutkan perjalanan dengan kepala yang bertambah penuh. Motornya ada di rumah. Artinya Radit tidak pergi ke mana-mana. Artinya laki-laki itu memang sengaja tidak mau ditemui, dan bukan tidak bisa.
Entah kenapa kenyataan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada kalau Radit benar-benar menghilang.
Sementara itu, di dalam mobil yang masih terparkir di halaman rumah sakit, Dini belum turun.
"Aku bisa pulang sendiri, Dok, kontrakanku dekat," katanya sambil tetap duduk. "Tapi kalau Dokter mau, aku bisa temani sebentar. Kelihatannya Dokter tidak baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja."
"Dokter tahu tidak," Dini memutar cincin di jarinya, "Ana itu sahabatku dari semester satu. Aku sayang sekali sama dia. Justru karena itu aku tidak tega melihat ada orang yang menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang."
Reksa menoleh, dan sesuatu di matanya membuat Dini spontan mengatupkan bibir.
"Terima kasih perhatiannya," ujar Reksa datar. "Sudah malam. Sebaiknya kamu pulang."
Dini turun dengan senyum yang dipaksakan, menutup pintu mobil sedikit lebih keras dari yang seharusnya, lalu berjalan cepat menuju gang di seberang jalan. Sampai di dalam kamar kontrakannya, ia melempar tas ke atas kasur dan menatap layar ponselnya yang masih menyala.
Ada satu foto di sana. Diambil diam-diam sore tadi dari sudut toko, saat Ana keluar dari kamar pas dengan gaun biru tua dan Reksa memandangnya dari kursi tunggu.
Jempolnya bergerak, mengetik pesan di bawah foto itu.
Tante, ternyata mereka masih sering ketemu. Hari ini sampai belanja bareng. Padahal Ana sudah mau ditunangkan sama pilihan orang tuanya sendiri.
Pesan terkirim. Dini menekap mulutnya sendiri, menahan tawa yang berbahaya di tengah malam, lalu merebahkan tubuh sambil menatap langit-langit.
Merebut. Kata itu terdengar jahat kalau diucapkan keras-keras, tetapi Dini sudah lama berhenti peduli. Ia tidak merebut apa pun, begitu pembelaannya pada diri sendiri. Ia hanya sedang membereskan sesuatu yang sejak awal memang salah tempat.
Di kota seberang, ponsel Monica menyala di atas meja rias. Perempuan itu memperbesar foto tersebut, memandanginya lama, lalu menekan satu nomor.
"Siapkan lagi berkas kerja sama dengan rumah sakit di luar kota itu," ucapnya begitu sambungan tersambung. "Besok saya mau bicara dengan Papanya Reksa."
Sementara di rumah bercat krem di kawasan yang lain, Ana baru saja meletakkan helmnya di atas rak sepatu ketika suara Mamanya terdengar dari ruang tengah.
"Dari mana saja jam segini?"
"Nemenin Dini cari baju kondangan, Ma."
Rima muncul dengan daster dan rambut yang sudah digulung, memeriksa kantong belanjaan di tangan putrinya seperti petugas bea cukai. "Beli baju juga? Bagus, buat apa?"
"Buat kondangan juga."
"Buat ketemu Wira kan?" tebak Rima dengan mata berbinar, dan Ana langsung mengerang.
"Ma..."
"Mama cuma nanya." Perempuan itu tertawa, mengikuti anaknya sampai ke dapur, memanaskan sayur sisa makan malam tanpa diminta. "Tadi sore keluarga Wira menghubungi Papamu, nanya kapan kamu ujian. Katanya kalau kamu sudah selesai, mereka mau ke sini sekalian silaturahmi."
Ana yang sedang menuang air ke gelas berhenti sebentar.
"Secepat itu?"
"Namanya juga orang tua, senang kalau anaknya ada yang menemani." Rima meletakkan piring di depan putrinya, lalu duduk di kursi seberang. "Na, Mama tidak memaksa kamu. Tapi Mama juga tidak mau kamu bermain-main. Kalau memang nanti setelah bertemu kamu tidak sreg, bilang. Jangan digantung. Mama pernah lihat sendiri bagaimana hancurnya Mbakmu waktu ditinggal pergi begitu saja, dan Mama tidak mau hal seperti itu menimpa kamu."
Ana mengangguk pelan. Nasi di piringnya tiba-tiba terasa sulit ditelan.
Hendra keluar dari kamar dengan kacamata bacanya masih bertengger, membawa segelas kopi yang sudah dingin sejak sore.
"Sudah pulang, Na?" Lelaki itu duduk di kursi paling ujung, membuka koran lama yang sudah dua kali ia baca. "Berkas ujianmu sudah beres semua?"
"Sudah, Pa. Tinggal menunggu jadwal."
"Bagus." Hendra membalik satu halaman. "Papa cuma mau bilang satu hal, dan sesudah ini tidak akan Papa ulang lagi. Perjanjian itu urusan Papa dengan orang tuanya, bukan utang yang harus kamu bayar. Yang menjalani hidup nanti kamu, bukan Papa."
Ana mengangkat wajahnya, sedikit terkejut.
"Tapi Papa yang bikin janji."
"Iya. Dan Papa juga yang akan menanggung malunya kalau nanti harus dibatalkan." Hendra menurunkan korannya, menatap putrinya di balik kacamata. "Jadi jangan pernah bilang iya cuma karena kasihan sama Papa. Itu paling parah."
Ana tidak menjawab. Ia hanya menunduk, mengaduk sisa nasi di piringnya, dan tanpa alasan yang jelas matanya terasa panas.
Malam itu ia naik ke kamarnya, menggantung gaun biru tua di balik pintu lemari, lalu duduk di depan meja belajar yang penuh tumpukan berkas. Draf skripsi yang sudah dijilid rapi tergeletak di sisi kanan, lengkap dengan tanda tangan pembimbing yang ia perjuangkan hampir setengah tahun.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari grup angkatan.
Jadwal ujian gelombang pertama sudah keluar. Cek papan pengumuman atau lampiran ya.
Ana membuka berkas lampiran itu dengan jantung berdebar, menggeser layar ke bawah, mencari namanya di antara deretan nama yang tidak seberapa panjang. Gelombang pertama memang selalu sepi peminat, sebab kebanyakan mahasiswa memilih menunda sampai gelombang kedua dengan alasan persiapan.
Dan di sana namanya tercetak. Urutan kedua dari empat orang yang dijadwalkan hari itu.
Ia menatap layar itu lama sekali. Empat orang, satu ruangan, tiga penguji. Semua yang ia kerjakan selama ini akan diringkas menjadi kurang dari satu jam di dalam ruangan ber-AC yang selalu terasa lebih dingin dari seharusnya.
Ana mematikan layar, menyandarkan kepala ke punggung kursi, dan memejamkan mata.
Ada tiga laki-laki yang belakangan ini membuat kepalanya tidak pernah benar-benar sepi. Yang satu menghilang tanpa pamit. Yang satu berjanji tidak akan mundur meski belum pernah ia lihat wajahnya. Dan yang satu lagi baru saja meminta izin untuk tetap berharap.
Tetapi malam ini, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, tidak satu pun dari mereka yang ia pikirkan lebih dulu.
Ia menarik draf skripsinya, membuka halaman pertama, dan mulai membaca ulang dari awal.