Hari ini Ana akan menghadapi ujianya. Karena ikut pada gelombang pertama, otomatis peserta tidak begitu banyak. Ia mendapat giliran kedua dari empat orang yang dijadwalkan mengikuti ujian pada hari ini.
Sejak semalam ia sudah mempersiapkan dengan matang untuk menghadapi ujian kali ini bahkan ia mendapat dukungan dari kedua orang tuanya yang memberinya gizi maksimal saat sarapan pagi ini. Meski terlihat tidak berselera karena kegugupan yang melanda, namun melihat Mamanya menyiapkan menu sarapan yang mirip dengan bekal piknik tersebut sejak subuh, membuatnya tidak tega jika menolak. Dan dengan mengambil sedikit demi sedikit setiap menu yang tersaji agar semuanya mendapar giliran dicicipi, ia meneguk segelas s**u coklat untuk mengakhiri sarapanya.
Semalam Wira juga menelponya untuk memberikan semangat. Bukan dengan kalimat besar yang berbunga-bunga, melainkan dengan cara yang khas dirinya.
"Dek, besok jangan lupa sarapan. Orang lapar itu gampang panik, dan orang panik biasanya menjawab pertanyaan yang tidak ditanyakan."
"Kok kamu tahu?"
"Karena aku pernah begitu. Waktu seminar proposal dulu aku ditanya soal metode, aku malah cerita panjang lebar soal latar belakang. Penguji sampai menutup bolpoinnya."
Ana tertawa sampai harus menekap mulutnya sendiri supaya tidak terdengar sampai ke kamar orang tuanya. Rasa tegang yang sejak sore menggumpal di perutnya berkurang beberapa lapis hanya karena cerita konyol itu.
"Wir."
"Hem."
"Habis ini kita ketemu ya. Beneran, jangan ditunda-tunda lagi."
Ada jeda yang cukup panjang di seberang sana sebelum suara itu terdengar lagi, lebih pelan dari sebelumnya.
"Iya. Habis ini kita ketemu."
Dan sekarang, sambil duduk di kursi tunggu di depan ruang ujian yang pintunya masih tertutup rapat, Ana mengulang kalimat itu di kepalanya seperti mantra. Map berisi tiga eksemplar skripsi ada di pangkuannya. Blazer hitam yang semalam disetrika Mamanya terasa satu ukuran terlalu kaku di bahunya.
Peserta pertama sudah masuk sejak dua puluh menit yang lalu. Dari balik pintu terdengar suara samar, kadang suara laki-laki bertanya, kadang jeda panjang yang justru lebih menakutkan daripada pertanyaannya sendiri.
Dua orang lain yang mendapat giliran ketiga dan keempat duduk agak jauh, satu sibuk membolak-balik catatan kecil, satu lagi menggerak-gerakkan kaki tanpa henti sampai kursinya ikut bergetar.
Ana tidak sanggup duduk lebih lama. Ia berdiri, memberi tahu bahwa ia mau cari angin sebentar, lalu keluar ke taman kecil di samping gedung. Taman itu sebenarnya cuma sepetak rumput dengan dua bangku semen dan beberapa perdu yang jarang dipangkas, tetapi pagi ini tempat itu jadi satu-satunya ruangan di dunia yang tidak berbau kertas dan pengharum ruangan.
Ia duduk, meletakkan mapnya, lalu menarik napas dalam-dalam.
Dan saat itulah ia melihatnya.
Seekor ulat hijau, gemuk, dengan garis-garis kuning di sepanjang punggungnya, sedang merayap pelan di tulang daun perdu tepat di samping bangku. Gerakannya lambat sekali, seperti tidak punya urusan apa pun di dunia ini. Sebagian daun di sekitarnya sudah bolong-bolong, jelas hasil kerjanya berhari-hari.
Refleks pertama Ana adalah menjauhkan tangannya. Ia memang tidak pernah akrab dengan makhluk seperti itu. Waktu kecil, ia pernah menangis setengah jam hanya karena seekor ulat jatuh dari pohon mangga tepat di lengannya, dan sejak itu Ani selalu memakai ancaman ulat untuk membuat adiknya menurut.
Tetapi pagi ini ia tidak beranjak. Ia justru memandanginya lama.
Makhluk itu buruk rupa, lamban, dan pekerjaannya hanya menghabiskan daun orang. Tidak ada yang memuji ulat. Tidak ada yang memotretnya. Semua orang menunggu bentuk terakhirnya, dan tidak ada satu pun yang mau menemaninya selama masa yang paling jelek.
Ana tersenyum kecil, merasa konyol karena bisa-bisanya ia berfilsafat di depan seekor ulat sepuluh menit sebelum sidang.
"Kamu juga lagi nunggu giliran ya," gumamnya pelan.
Dan seperti dipanggil oleh kata itu sendiri, muncul satu suara di kepalanya. Suara yang selalu mengejeknya tiap kali ia terlalu larut memikirkan sesuatu.
Tuh mulai lagi sinetronnya.
Ana menggeleng cepat, berusaha mengusir bayangan wajah yang menyertainya. Bukan sekarang. Hari ini bukan hari untuk memikirkan orang yang memilih menghilang. Hari ini hari untuk masuk ke ruangan itu, menjawab apa pun yang ditanyakan, dan keluar dengan kepala tegak.
Ia mengusap telapak tangannya yang berkeringat ke rok, lalu menghitung dalam hati sampai sepuluh, cara lama yang diajarkan Mamanya sejak ia masih ikut lomba cerdas cermat di sekolah dasar.
"Ana!"
Panggilan dari arah pintu membuatnya buru-buru bangkit. Petugas jurusan melambaikan tangan, memberi isyarat bahwa peserta pertama sudah keluar dan sekarang gilirannya.
Ana meraih mapnya, menepuk-nepuk rok bagian belakang, lalu berjalan cepat. Sebelum masuk, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah perdu itu. Ulat hijau tadi sudah pindah ke daun yang lain, masih dengan kecepatan yang sama sekali tidak berubah.
Ruangan itu benar-benar sedingin yang ia bayangkan.
Tiga penguji duduk berjajar di balik meja panjang, masing-masing sudah memegang eksemplar skripsi yang penuh tempelan kertas warna-warni di pinggirnya. Ana meletakkan mapnya, menyalakan proyektor dengan tangan yang sedikit bergetar, lalu memulai presentasinya.
Lima belas menit pertama berjalan lancar. Ia hafal alurnya di luar kepala, karena semalam ia sudah membaca ulang seluruh naskahnya dari halaman pertama sampai lampiran terakhir.
Baru pada sesi tanya jawab, tanahnya mulai bergoyang.
"Saudari Ariana," penguji yang duduk paling kanan menurunkan kacamatanya. "Saya lihat jumlah responden Anda cukup banyak untuk ukuran skripsi. Pertanyaan saya sederhana. Kalau besok saya datang ke perusahaan itu dan bertanya kepada mereka satu per satu, apakah jawaban mereka akan sama dengan yang tertulis di tabel Anda?"
Hening.
Pertanyaan itu bukan soal teori, bukan soal rumus, bukan soal daftar pustaka. Pertanyaan itu soal kejujuran.
Ana teringat malam-malam ketika ia hampir menyerah, ketika kuesioner yang kembali baru separuh dan waktu bimbingan makin mepet. Ia teringat betapa gampangnya waktu itu ia bisa mengisi sendiri sisanya, dan betapa tidak akan ada seorang pun yang tahu.
Tetapi ia tidak melakukannya. Ia malah datang lagi ke kantor itu tiga hari berturut-turut, menunggu di ruang tunggu sampai jam istirahat, dan pulang dengan lima belas lembar tambahan.
"Sama, Pak," jawabnya, dan suaranya sendiri terdengar lebih mantap dari yang ia duga. "Semua kuesioner saya sebar langsung, tidak lewat perantara. Tanggal, jam, dan nama bagiannya semua saya catat di lampiran. Kalau Bapak mau, nomor kontak bagian personalianya juga saya cantumkan di sana."
Penguji itu menaikkan kembali kacamatanya, membuka lampiran yang disebutkan, membacanya sebentar, lalu mengangguk sekali.
Hanya satu anggukan. Tetapi bagi Ana, anggukan itu terasa seperti seseorang yang menahan pintu agar tidak menutup tepat sebelum ia sempat masuk.
Sisanya berjalan lebih ringan. Penguji kedua mempersoalkan pemilihan teori, penguji ketiga menyoroti kesimpulan yang menurut beliau masih terlalu berhati-hati. Ana mencatat semuanya di kertas kecil, sesekali membela pendapatnya, sesekali mengakui bahwa memang ada bagian yang perlu diperbaiki.
Ketika ia diminta menunggu di luar, kakinya hampir tidak terasa saat melangkah keluar ruangan.
Lima menit yang paling panjang seumur hidupnya.
Lalu pintu terbuka lagi.
"Selamat, Saudari Ariana. Anda dinyatakan lulus dengan revisi. Revisinya dikumpulkan paling lambat dua minggu."
Ana menyalami ketiga penguji satu per satu, mengucapkan terima kasih sebanyak tiga kali, dan baru setelah pintu ruangan itu tertutup di belakangnya ia mengizinkan dirinya bersandar ke dinding koridor sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Selesai.
Semua malam yang habis di depan layar, tumpukan kertas revisi yang tingginya sudah melebihi kamus, semua warung kopi yang jadi saksi, semuanya berhenti di satu kalimat pendek barusan.
Ia menghubungi rumah lebih dulu. Suara Rima langsung pecah di seberang, memanggil-manggil suaminya sambil setengah menjerit, dan Ana harus menjauhkan ponsel dari telinganya. Hendra hanya bilang satu kalimat, "Bagus, Na," tetapi Ana tahu betul bahwa dari lelaki itu, dua kata tersebut sudah setara dengan pelukan.
Lalu ia mengetik pesan untuk Wira. Belum sampai selesai, panggilan dari nomor itu sudah masuk lebih dulu, dan Ana tertawa sambil mengusap sudut matanya yang basah.
"Kok tahu?"
"Aku hitung sendiri jamnya dari semalam," jawab Wira. "Sudah aku bilang kan, sarapan itu penting."
Mereka bicara hampir sepuluh menit, sampai Ana lupa bahwa ia masih berdiri di koridor dengan blazer kaku dan map yang sudah berkerut di tangan.
Belum sempat ponsel itu ia masukkan ke dalam tas, layarnya sudah menyala lagi. Dini.
"Naaaa! Gimana? Lulus kan? Lulus kan?"
"Lulus, Din. Revisi dua minggu."
Jeritan di seberang membuat dua mahasiswa yang lewat menoleh ke arahnya. Dini berjanji akan mentraktir, memaksa Ana menentukan hari, menyebut tiga nama tempat makan sekaligus, dan menutup teleponnya dengan kalimat yang diucapkan dengan nada paling manis yang pernah Ana dengar.
"Aku bangga banget sama kamu, Na. Serius."
Ana menatap layar yang sudah kembali gelap itu beberapa saat. Dulu kalimat seperti itu akan membuat matanya berair. Sekarang ada sesuatu yang mengganjal, tipis sekali, seperti kerikil di dalam sepatu yang belum ketahuan di sebelah mana.
Lalu satu pesan lagi masuk, kali ini dari nama yang tersimpan.
Dini bilang hari ini kamu ujian. Semoga lancar. Aku tidak akan menelepon, sesuai kesepakatan.
Ana membaca pesan Reksa itu sampai habis, lalu menutup layarnya tanpa membalas. Bukan karena marah. Justru karena laki-laki itu menepati janjinya persis seperti yang ia minta, dan entah kenapa hal itu membuatnya merasa lebih tidak enak daripada kalau janji tersebut dilanggar.
Setelah itu, ia berjalan pelan menuju parkiran. Matahari sudah tinggi, halaman kampus mulai ramai oleh mahasiswa tingkat bawah yang berebut kursi kantin.
Ana melewati taman kecil itu sekali lagi dan tanpa sengaja melirik ke arah perdu di samping bangku semen.
Ulat hijau tadi sudah tidak ada.
Yang tertinggal hanya daun-daun bolong dan satu helai benang tipis yang menggantung, berkilau sedikit ketika kena cahaya.
Ana berdiri agak lama di situ. Ternyata begitu caranya. Makhluk itu pergi tanpa pamit, membungkus dirinya di suatu tempat yang tidak diketahui siapa pun, dan tidak seorang pun berhak menuntutnya keluar sebelum waktunya.
Pikiran itu membawanya, entah bagaimana, kepada seseorang yang motornya terparkir di rumah kakaknya tetapi orangnya tidak pernah mau keluar.
Ponsel di tangannya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan.
Selamat ya, Sarjana. Aku tahu kamu pasti bisa.
Ana berhenti berjalan di tengah parkiran. Ia membaca pesan itu berulang-ulang, lalu mengetik dengan jari yang mendadak dingin.
Ini siapa?
Pesan itu terkirim. Dua centang abu-abu.
Dan sampai ia menghidupkan mesin motornya, sampai ia keluar dari gerbang kampus, sampai lampu merah pertama yang membuatnya berhenti terlalu lama, dua centang itu tidak juga berubah warna.