Suasana di pantai yang dikunjungi oleh Aksa, Ningrum, dan Tiara terlihat ramai sekali. Mungkin karena, hari ini adalah hari Minggu. Hari di mana, mereka bertiga terbiasa menghabiskan waktu bertiga. Yang rencananya, mereka akan menginap diliburan kali ini hingga hari selasa, sesuai ijin cuti yang Tiara ajukan kepada atasannya.
Saat ini, pilihan wisata tempat berlibur mereka adalah pantai.Pantai indah yang sudah lengkap dengan bermacam-macam Resort yang unik, karena terbuat atau dibangun dari bambu-bambu kuning. Ada pula wahana bermain untuk anak-anak. Dan ada juga beberapa rumah makan yang dibuat lesehan di dipan yang terbuat dari bambu juga.
Aksa memilih satu buah penginapan mini yang lebih dekat dengan pantai, agar ke-dua istrinya lebih leluasa bermain air nantinya tanpa berdesakan dengan pengunjung lain.
"Ra. Aku mau ke resto sebelah, mau pesan makanan buat kita, mau ikut? " tanya Ningrum ke Tiara, yang saat itu sedang duduk di tepian jendela yang langsung melihat pemandangan pantai.
"Mba aja ya. Aku capek. Bawaannya malas terus dari kemarin. " jawab Tiara, setelah berbicara pada Ningrum, ia kembali mefokuskan pandangannya ke pantai. Bulir-bulir ombak pantai seakan dapat membuatnya relaksasi. Sebelum cuti ia mengejar menyelesaikan laporan-laporan yang dibutuhkan oleh atasannya, yang membuat ia sangat terasa capek.
"Oke. Kamu mau makan apa? " tanya Ningrum sambil membuka tas kecilnya lalu mengambil dompet miliknya.
"Hmm... Aku pengin makan udang segar disambal hijau tapi yang pedas. "
Ningrum mengernyitkan dahinya, "bukannya kamu nggak suka udang ya Ra? " tanya Ningrum pelan. Mengenal adek madunya itu selama tujuh bulan pernikahan Aksa dan Tiara, sedikit banyak Ningrum menjadi tahu apa makanan kesukaan dan apa yang tidak disukai oleh adek madunya itu.
"Nggak tahu sih mba. Aku ngerasa pengin aja sekarang. " jawab Tiara santai. Pandangan matanya sesekali bergantian ke arah Ningrum atau ke lautan lepas sana.
"Sama apa? "
"Cuma pengin itu aja. " jawab Tiara singkat, lalu berjalan ke arah sofa bambu namun sudah berlapis dengan busa tebal. Lalu merebahkan tubuhnya di sana.
"Kamu kelihatannya capek juga pucat Ra. Nggak pa-pa nih aku tinggal cari makan dulu? " tanya Ningrum sambil berjalan mendekat ke arah Tiara, yang sudah meletakkan lengan kanannya untuk menutupi kedua kelopak matanya.
"Nggak tahu mba, sedikit pusing juga ini, mabuk darat barangkali. "
"Mas Aksa juga ke mana sih ini? Lama banget markirkan mobilnya. "
"Biarin aja mba. Mba pergi aja, aku mau bobo bentar siapa tahu hilang pusingku. "
"Oke kalau gitu. Aku nggak jauh kok cari makannya, cuma ke sebelah situ. " setelah dapat balasan isyarat dari Tiara, Ningrum segera berlalu keluar dari penginapan resort tersebut.
Di halaman mungil penginapan itu, Ningrum bertemu dengan Aksa yang akan masuk ke pekarangan itu juga. "Mau ke mana Rum? "
"Aku cari makanan dulu ya mas. Ara pengin makan udang sambal hijau pedas katanya. " jelas Ningrum menghentikan langkahnya.
Seperti reaksi Ningrum tadi, Aksa juga mengernyitkan dahinya. "Udang? Nggak salah kah Rum. Ara musuhan banget kan sama kelompok jenis udang? Bahkan kalau mas pulang ke rumah mama, udah jarang tuh ada makanan itu tersedia di meja, padahal itu makanan kesukaan mas. Kata mama, menghormati Ara yang nggak suka sama udang. " Aksa juga ikut menjelaskan keterkejutannya pada istri tua-nya itu.
"Pengin banget katanya mas. Ya udah sih, nggak pa-pa, jadi kita pesan itu aja ya buat makan kita siang ini. "
Aksa nampak merapikan kerudung Ningrum yang sedikit berantakan karena tertiup angin pantai. "Oke. Dah lama juga mas nggak makan udang. "
"Baiklah. "
"Ara mana? Kok nggak ikut kamu, Rum? "
"Ara ngeluh capek, malas, juga pusing mas. Ngakunya sih mungkin sedang mabuk perjalanan. Tapi aku lihat dia ada pucatnya juga sih. "
"Mabuk? Nggak biasanya kan? " guman Aksa berbisik pada dirinya sendiri, namun Ningrum jelas mendengarnya.
Ningrum menyentuh dahi Aksa yang masih berkerut, tanda masih ada yang dipikirkannya. "Mas mikir apa? Ini kok awet berkerut-kerut, cepat tua loh entar. " canda Ningrum untuk suaminya. Yang dibalas kekehan Aksa.
"Apa kamu juga mikir sama tentang Tiara, Rum? " tanya Aksa masih penasaran. Yang disambut senyuman manis oleh Ningrum.
"Iya. Tadi aku juga mikir gitu mas. Tapi kita perlu memastikannya dulu kan? Nanti sambil aku tanya-tanya orang sini, ada dokter jaga nggak? Tapi juga jangan sekarang kayanya, Ara lagi mode sensitif itu. "
"Biar mas yang tanganin. " ucap Aksa sambil mengecup kening Ningrum dengan lembut, "mas masuk ya? Hati-hati jalannya. "
"Iya. "
Aksa membuka pintu penginapan itu dengan pelan. Sedikit kepalanya menyembul ke dalam, di sana ia melihat, Tiara sedang tidur di sofa bambu beralas busa tebal.
Elusan lembut jari Aksa di pipi ranumnya, membuat Tiara sedikit membuka matanya. "Bang? " sapa Tiara sedikit serak.
"Hmm... Masih pusing? " tanya Aksa lembut. Tiara hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Pindah ke kamar ya? Mas sengaja pesan penginapan dengan dua kamar , biar adek nyaman nantinya. "
"Di sini aja dulu. Aku capek banget bang. " sahut Tiara dengan suara serak. Dan tak dapat dipungkiri, suara itu yang membuat Aksa mabuk kepayang ingin segera 'menghabisi' Tiara saat ini juga, karena suara serak itu biasanya hanya bisa Aksa dengar, saat di atas ranjang berdua dengan Tiara.
Sedikit memaksa ego-nya, Aksa bermaksud mencium bibir milik Tiara, tanpa meminta ijin terlebih dahulu ke empunya, dikarenakan Tiara kembali melelapkan matanya.
Namun saat bibir Aksa baru saja sedikit menyentuh bibir Tiara, spontan yang bersangkutan terlonjak lalu memuntahkan semua isi perutnya. Dan sangat beruntung, Aksa sudah menghindar karena terlalu kaget juga akan respons istri mudanya itu.
Aksa dengan sabar mengurut pelan tengkuk Tiara, agar muntahnya bisa segera selesai.
Sampai cairan terakhir berwarna kuning, Tiara baru kembali merebahkan tubuhnya kembali di sofa itu, namun dengan kepala ia sandarkan di sandaran sofa. Aksa mengambil tissu basah, lalu dengan sabar membersihkan bibir dan pipi Tiara.
"Pindah kamar aja ya dek. Biar adek nggak mual lagi. Abang bersihkan dulu yang di sini. " ucap Aksa dengan lembut, ia merasa kasihan melihat istri kecilnya itu terlihat lemas dan pucat sekali.
Tiara hanya merespons dengan anggukan kepala. Dengan sigap, Aksa mengangkat tubuh Tiara, lalu membawanya ke kamar penginapan itu.
"Bajunya diganti ya dek? "
"Terserah abang. " jawab Tiara sedikit malas. Aksa bahkan sempat heran, Tiara yang biasa energik dan gesit, sekarang terlihat malas gerak. Dugaannya dalam hati dan pikiran semakin kuat, ditambah Tiara muntah-muntah tadi.
Dengan cekatan Aksa mengambil baju santai milik Tiara yang ada di koper miliknya, lalu melepas kerudung dan baju yang dipakai Tiara.
Hampir setengah jam, Aksa mengurusi Tiara, dari membasuh lengan dan leher Tiara dengan air hangat, yang ia dapat dari tabung dispenser.
"Loh mas, Ara mana? " tanya Ningrum, ketika meletakkan bungkusan makanan yang ia bawa di meja makan, berbarengan Aksa keluar dari kamar Tiara.
"Di kamar Rum. Habis mas ganti bajunya. " jelas Aksa sambil mengambil kain pel dan ember kecil berisi air.
"Makin parah kah sakitnya? " tanya Ningrum, sambil tangannya masih sibuk memindahkan lauk pauk tersebut di mangkok dan piring yang sudah tersedia di lemari kaca mini dapur itu.
"Habis muntah-muntah dia Rum. Nggak biasanya juga dia kalau sakit selemas dan semalas ini... " ucap Aksa sambil membersihkan bekas muntahan istri mudanya.
"Tadi, aku dah tanya sama penjaga resto mas... "
"Terus? "
"Di sini ada klinik lengkap dokter sama perawatnya. Nah, kalau pasien nggak kuat jalan, bisa nanti dokternya kita panggil. "
"Baiklah. Biar mas yang ke sana. "
"Biar aku saja mas, kamu lanjutin aja bersihin lantainya. Aku mandi dulu ya? "
"Iya. Tolong lihatkan dulu Ara, Rum... Siapa tahu dia ada butuh sesuatu. "
"Oke, mas. "
"Rum? "
"Iya mas. "
"Lebih sabar lagi ya, menghadapi Ara. Mas tahu kamu juga kadang tertekan dengan sifat ceplas ceplosnya itu. " ucap Aksa memberi pengertian kepada istri pertamanya itu.
"Ara juga istri kamu, mas... Asal mas bahagia dan senang, aku juga begitu. " jawab Ningrum lembut, namun ada kesenduan di manik matanya. Dan Aksa, bisa melihat hal itu.
Setalah mencuci tangannya, dan membereskan peralatannya tadi, Aksa menghampiri Ningrum, yang sedang membuka kopernya, mengambil handuk dan peralatan mandi.
"Maaf ya? " bisik Aksa tepat di telinga milik Ningrum, lalu mendekap tubuh mungil itu dari belakang. "Mas, harus bawa kamu ke kehidupan yang seperti ini. Maafkan mas, yang egois, yang memaksa hati untuk berbagi. Maaf ya? " ucap Aksa pelan sambil meletakkan kepalanya di bahu istri pertamanya itu.
"Nggak pa-pa mas, mas adalah pahlawanku, sampai kapan pun. Mas yang menemukanku dalam keadaan hancur, mas juga yang merawat dan mengembalikan kepercayaanku kembali. Mas berhak menggapai bahagia milik mas, asal mas jangan pernah meninggalkan aku, seperti Tommy dan Cintya. " balas Ningrum pelan dan tergugu. Munafik, bila dia tidak merasa pedih atau cemburu pada adek madunya itu. Tetapi, pengorbanan Aksa untuknya selalu menyadarkan dirinya, bagaimana posisi dia di dalam hati Aksa.
Aksa semakin mengeratkan dekapannya. " Tak akan pernah aku tinggalkan kamu Rum, selamanya kamu akan tetap menjadi bagian dari hidupku. Begitu juga Ara, hatiku tak pernah bohong, ada cinta yang besar untuknya dari pertama aku melihatnya. " ucap Aksa pelan, seolah mereka sedang menyelami pikiran mereka masing-masing.
"Aku tahu mas. Aku tahu. " balas Ningrum parau. Bagaimana orang menilai suaminya adalah jahat, namun baginya Aksa adalah pelindungnya yang kokoh dan sabar. Soal cemburu, biar hatinya mengurusnya sendiri.
"Iya. Karena kamu juga, aku bisa menikahi Tiara. Kamu adalah belahan jiwaku. Kamu harus tahu itu. "
"Iya. Aku percaya mas. "
Ketika, Ningrum ingin melepaskan diri dari dekapan Aksa, "sebentar lagi Rum. Aku masih ingin begini dulu. " bisik Aksa sambil memejamkan mata, menikmati bau spesial tubuh istrinya itu.
Dan seperti biasa, Ningrum yang selalu menurut apa yang dikatakan dan diminta oleh sang suami, memberikan waktu sejenak untuk Aksa bersandar di bahu ringkihnya.
Namun, mereka tidak tahu, di balik pintu kamar Ningrum, ada Tiara yang ingin ke dapur karena kehausan, nyatanya malah fokus mencuri dengar pembicaraan manis mereka. Ada ngilu membentur dinding hati Tiara. Ngilu yang tak kasat mata. Pelan ia menyentuh dadanya, yang sekejap merasakan sakit.
"Ternyata, yang berat itu bukan hanya rindu bang, tapi ikhlas dan cemburu juga. Kenapa Cintamu membuatku sakit, bang. Sangat sakit. " bisik Tiara pilu untuk dirinya sendiri.
.
Bersambung...