Tiga bulan telah berlalu, semenjak aksi cemburu dan tutup mulut Tiara kepada Aksa, suaminya itu. Kehidupan mereka kembali normal. Tiara sudah mau belajar untuk lebih menerima lagi dan legowo atas perlakuan manis dan mesra Aksa untuk kakak madunya, Ningrum. Walaupun terkadang masih ada raut juteknya yang terlihat.
Hal itupun tidak lepas dari nasehat dan teguran Murni, ibunya Tiara. Waktu itu, saat Tiara memilih pulang ke orangtuanya setelah beradu pendapat dengan suaminya, daripada menemani Aksa, yang waktu itu juga pulang dan tidur di rumah mamanya.
"Ara, sakit hati bu. " adu Tiara setelah selesai menceritakan pertengkarannya kala itu dengan sang suami, Aksa.
Sang ibu pun tersenyum bijak, mendengar pengaduan dari Tiara. Putrinya ini masih cukup labil dan sensitif akan masalah hati dan perasaan.
"Ra. Segala sesuatu yang kita dapat itu, tidak selalu sama dengan apa kemauan kita. Dalam hal ini, seperti Ara yang akhirnya harus menikah dengan Aksa, yang sebenarnya sudah beristri. " ucap Murni lembut. "Menjadi istri tidak hanya tentang perkara 'aku cemburu, aku tidak suka', kalau yang Ara cemburui itu wanita lain, itu mungkin tidak jadi masalah. Tapi ini Ningrum nak, Ningrum punya hak yang sama atas Aksa, Ra, seperti kamu. Sekarang ibu tanya? Untuk sementara ini, kamu pernah nggak dikasarin atau dimaki-maki sama Aksa? " tanya Murni lembut.
Tiara menatap arah lain selain wajah ibunya itu, namun perlahan kepalanya menggeleng tanda jawaban. "Ara hanya nggak ngerti bu. Kalau mba Rum udah cukup membuat abang nyaman, kenapa harus mengambil Ara juga. Dasar laki-laki serakah. " dengus Tiara masih kesal.
"Ssttt... Nggak boleh bicara begitu Ra. Pamali. Begitu juga Aksa imam kamu dunia akhirat nak. " nasehat Murni bijak sambil mengelus kepala sang anak dengan lembut. Murni sangat jelas tidak mau membela salah satunya, apalagi harus condong berat ke Tiara, anaknya sudah menjadi istri orang lain, ia hanya bisa memberi petunjuk buat sang anak, agar lebih berhati-hati dalam memerankan isi hatinya.
"Ara hanya ingin tahu bu, kenapa? Satu istri kan sudah cukup, tanpa harus ada Tiara di antara mereka. Dengan begini, seolah Ara yang jahat dan buruk. Sedangkan mereka di sana seolah menjadi pihak yang paling tersakiti. Padahal di sini, hati Ara lebih sakit bu. Apa mereka paham itu?! " bela Tiara akan pendapatnya sendiri. Ini masalah hati, siapa yang akan paham? Gerutu Tiara juga dalam hatinya.
"Mereka akan paham nak. Kalau Ara mau jujur akan hati Ara pada mereka. "
"Bu, jika ibu di posisi Ara, apa ibu mau? Mempunyai madu, membagi ayah dengan wanita lain? "
Murni nampak terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Curang. Lalu kenapa anak ibu sendiri dibiarkan dijadikan istri muda sama orang lain? " tanya Tiara sangat gemas dan kesal.
"Yang menerima ayah kamu nak. Tapi, karena Aksa masih kerabat kita juga. Ayah dan ibu mengenal Aksa dan keluarganya dari sebelum ada kalian lahir. Aksa itu, tidak seburuk yang kamu pikir nak. Selain itu, ada pertimbangan lain, mengapa ayah menerima Aksa sebagai menantunya, karena Ningrum yang meminta pertama kalinya, meminta Ara agar diijinkan menjadi saudara madunya. Ningrum yang awalnya mengajukan permohonan itu nak... " jelas Murni panjang lebar.
"Berarti, abang jelas tak mencintai Ara bu. Mereka pasti ada sesuatu yang kurang, makanya meminta Ara menjadi anggota mereka, " potong Tiara dengan argumentasi-nya sendiri. Mendengar itu, Murni langsung menyentil kening Tiara pelan.
"Ini loh yang jadi hati kamu sakit Ra. Berpikir negatif duluan. Asal Ara tahu. Aksa cinta sama Ara sebelum Ningrum datang ke rumah ini. Aksa cinta kamu, tapi dia tidak berniat melukai hati istrinya dengan cara main belakang... "
"Kalau dia ngajak main belakang waktu itu, Ara juga nggak akan mau bu. Nggak ada cita-cita Ara merebut suami orang. "
"Makanya itu. Ara sudah paham kan? Walau secinta apa Aksa pada Ara, dia tetap melalui jalan yang benar. Itu point pentingnya. Jadi, Ara mulai sekarang, belajar jadi istri yang nurut ya nak, jadilah istri yang bisa membuat nyaman hati dan diri suami Ara. Mulai sekarang, Ara jangan memberi pilihan lagi buat Aksa, kalau Aksa tetap memilih kalian berdua, Tiara yang harus belajar mengerti. Jalani dengan ikhlas nak... "
"Enak sekali jadi dia. " sahut Tiara masih mode jutek.
"Hust. Kalau Ara ikhlas, Ara juga akan enak pada akhirnya. " ucap Murni sambil menggoda sang anak.
"Ibu nggak akan paham. Karena ibu istri tunggal. " sambar Tiara masih mematahkan nasehat ibunya.
"Oke. Kita lihat ke depan nak. Kalau Aksa kasar main tangan dan tidak adil padamu, pulang lah ke rumah. Ibu yang akan membela kamu paling depan. "
"Janji bu. "
"Iya. Ibu janji. Asal setelah ini Ara harus berubah ya? Jangan cemburu buta seperti itu... Layani suami Ara dengan baik, tanpa ada niat buruk buat menguasainya sendirian. Ningrum dan Aksa orang baik nak, baik-baik juga ya sama mereka. "
"Akan Ara usahakan. Tapi untuk malam ini, biar Ara tidur di sini ya? Ara belum siap ketemu abang lagi. "
"Malam ini ayah ijinkan, tapi besok pagi ayah sudah minta Aksa buat jemput kamu kembali, Ra. " potong Pak Ridwan setelah muncul dari balik pintu. Yang ternyata dari awal Tiara bercerita, sang ayah sudah ikut mendengarkannya dari balik pintu kamar sang anak.
Sebenarnya dalam hati pak Ridwan ada perasaan bersalah, karena sudah memaksa sang anak, untuk menikah dengan pria pilihannya, yang notabene sudah beristri juga. Tetapi, di lain sisi, pak Ridwan yakin, tetap ingin menyerahkan Tiara pada lelaki yang tepat dan saleh.
Tiara menghembuskan nafas pelan. Menurut mungkin adalah jalan terbaik untuknya. "Baik ayah. Maaf Ara udah merepotkan kalian lagi. "
"Sejak kapan putri ayah merepotkan. Kamu tetap putri ayah yang terbaik. " ucap pak Ridwan sambil membawa Tiara dalam pelukannya. Memang benar, ayah adalah super hero buat anak-anaknya, khususnya anak perempuan.
"Melamunkan apa sayang? Hmm... "
Seketika, Tiara tersadar dari lamunan panjangnya. Dan tidak sadar, Aksa sudah memeluknya dengan erat dan mesra dari belakang, yang saat itu posisi Tiara sedang duduk di depan meja riasnya.
"Cepat sekali mandinya bang? Kok udah selesai aja. " tanya Tiara balik, sambil menyisir rambut halus dan panjangnya.
"Bukan mandi abang yang cepat dek. Tapi acara melamun adek yang kepanjangan... " timpal Aksa sambil terkekeh. "Abang, masih kangen dek. " ucap Aksa parau, sambil menghidu bau wangi dan lembut leher sang istri mudanya itu. Dan tentu saja, hal itu membuat Tiara meremang.
"Bang? Kita baru aja selesai mandi loh ini? " ucap Tiara namun tetap tidak mampu menahan gejolak serangan fajar dari sang suami. Aksa adalah pemain ulung, Tiara paham akan hal itu. Dan tentu saja, ia tak akan bisa menolaknya.
"Abang masih mau dek. Lagi ya? " rayu Aksa terdengar menggemaskan di telinga Tiara.
"Ini dah dekat subuh bang. Bukannya kita tahajud dulu. Malah minta nambah... " sungut Tiara namun berpura-pura.
"Ini juga ibadah dek. Lagi ya? Please... " mohon Aksa sangat memohon. Saat Tiara memperhatikan manik mata hitam itu, memang ada sorot keinginan yang kuat di sana. "Masih jam tiga pagi juga ini dek, masih panjang waktunya buat berlayar lagi. "
"Berlayar? Di kira aku kapal apa? "
"Iya, adek kapal cintaku. Yang akan selalu abang nakhodai di lautan asmara abang ini. " jawab Aksa sambil mengangkat tubuh sang istri dengan gaya bridal style.
"Abang! Jangan bikin kaget kenapa? " pekik Tiara saat merasakan tubuhnya melayang di udara.
"Abang mau sarapan dulu. Adek nurut aja ya? Cukup keluarin suara serak dan desah adek aja, selebihnya abang yang kerja. " bisik Aksa tepat di telinga Tiara, saat berhasil merebahkan tubuh indah milik Tiara di kasur king size mereka.
Setelah itu, Aksa meniup pelan telinganya, lalu menciumnya dengan lembut, karena Aksa sangat paham sekali, itu adalah wilayah kelemahan istri ke-dua-nya.
"Banggg... " suara serak dan parau Tiara terdengar menuntut, itu adalah tanda bila sang istri telah memberi ijin lampu hijau.
"Abang selalu suka dengar suara sexy kamu dek. " bisik Aksa dengan senyum seringai nya.
***
"Ra, jadikan nanti ikut mba ke panti asuhan? "
"Iya mba, aku udah ijin masuk setengah hari kok, sama atasan. "
"Baiklah. Nanti mba jemput kamu ke kantor. "
"Abang nggak ikut? "
"Katanya siang sampai sore ada barang datang dari supplier baru Ra. Mungkin dia mau awasin langsung. Kita berdua aja ya? Nggak pa-pa kan? "
"Iya. Tanpa dia malah lebih bagus. Nggak perlu lihat sikap alay nya itu. "
"Kamu masih marah Ra? Mba udah minta maaf kan, mba cukup shock waktu kejadian itu. Mas Aksa nggak mungkin lupain kamu. Karena kamu belahan hati dia. "
"Aku nggak marah mba. Lebih baik emang kita jalan berdua aja. Kalau bertiga, belum tentu abang bisa adil. Menurut aku begitu. "
"Baiklah Ra. Senyaman kamu aja... Yang penting jangan bikin mas Aksa galau lagi ya? Mas bisa menjadi mayat hidup, kalau kamu cuekkin. "
"Hmm... Aku tutup ya Mba. Aku selesaikan dulu kerjaan aku, sebelum jam istirahat. "
"Iya. Nanti mba jemput, kita pakai motor aja ya, biar lebih cepat. "
"Oke. "
Suasana panti asuhan 'Cahaya Hati' sangat ramai oleh anak-anak, yang usianya berkisar dari bayi satu tahun hingga lima belas tahun. Anggota panti tersebut sekitar lima puluh anak dan lima orang pengasuh.
Ningrum nampak menimang bayi mungil di pangkuannya. Terlihat wajahnya sangat bahagia.
'Andai engkau ada nak, kamu pasti sudah bisa berlari dan bersekolah. ' bisik hati kecil Ningrum.
"Bu Rum. Biar saya pindahkan, bayi Cinta ke box. "
"Biar saja dulu mba Mawar. Saya masih ingin ngobrol sama Cinta. Makin hari makin montok saja dia. " ucap Ningrum sambil mengelus pipi gembil milik bayi itu.
"Cinta lengket kalau udah sama mba Rum ya. Nggak mau rewel juga. "
"Apa, hari biasa dia rewel mba? "
"Iya mba. Cinta di sini baru empat hari, salah satu warga sini menemukan dia di semak-semak dekat sekolah SD sana, terus sama mereka dibawa kemari. "
"Sungguh malang nasib kamu nak, " sahut Ningrum sedih.
"Kami sedang menunggu mba, kata ibu panti, siapa tahu ada pihak keluarga yang mencarinya. "
"Tapi, dilihat dari kronologi ditemukan bayi ini, udah kelihatan mba, kalau dia emang udah dibuang sama orangtuanya. "
"Mungkin juga sih mba Rum... "
"Kalau aku nggak sakit-sakitan begini, ingin juga Cinta ini aku bawa pulang. " bisik Ningrum pelan. Ia kembali mencium pipi gembil itu.
"Kenapa mba? " tanya Mawar memastikan sesuatu.
"Apanya mba Mawar? " tanya Ningrum balik.
"Tadi mba Rum ada ngomong, tapi pas saya nya nggak dengar, gitu. "
"Oh, bukan apa-apa... "
"Eh mba, cewek yang datang sama mba tadi siapa? " tanya Mawar sambil mengarahkan pandangan ke arah Tiara, yang saat itu sedang bermain dengan beberapa anak-anak kecil, terlihat sangat luwes pembawaannya.
Ningrum ikut mengarahkan pandangannya ke arah adek madunya itu.
"Tiara? " tanya Ningrum ke Mawar.
"Oh Tiara, namanya? Siapa mba? Saudara atau teman? "
"Tiara saudara aku mba. Lebih tepatnya adek maduku. Dia istri mudanya mas Aksa. "
"Oh. Pelakor! " seru Mawar tertahan. Spontan Ningrum memukul lengan Mawar bahkan sampai melotot bola matanya.
"Jangan ngomong aneh-aneh mba. Aku yang lamar dia buat mas Aksa. Jangan sampai omongan itu terucap lagi ya mba? "
"Maaf mba Rum. Kelepasan. Habis lagi musimnya begitu. " ucap Mawar pelan.
"Pindah ke box bayi aja Cintanya mba. Aku mau bertemu ibu panti dulu. " kata Ningrum sambil menyerahkan bayi Cinta yang sudah tidur pulas itu ke dekapan Mawar.
"Baik mba Rum. "
Sore itu, angin sepoi-sepoi, dan cuaca pun sangat cerah.
Ningrum dan Tiara sedang duduk di bangku kayu panjang, yang ada di bawah pohon lindung di pelataran rumah panti itu. Mereka sedang berbincang santai.
"Mba, sering berkunjung ke sini? "
"Enggak sering juga sih Ra. Semenjak kamu dan mas Aksa menikah, ini pertamanya aku ke sini. "
"Kalau ke sini, sendiri atau ditemani? "
"Kadang sendiri, tapi lebih sering diantar mas Aksa. Mas Aksa juga tipe cowok yang suka anak kecil. Makanya, dia suka banget datang ke panti ini. "
"Harusnya hari ini sama dia kan mba? "
"Enggak juga Ra. Emang dari lama, aku pengin ajak kamu ke sini. Biar mereka juga bisa kenal kamu juga Ra. "
"Emang, mba bilang gitu ke mereka kalau aku istri abang juga? "
"Iya Ra. Mas Aksa waktu itu juga undang ibu panti kok. Cuma bersamaan dengan urusan ibu panti dengan yayasan panti ini, jadi mereka nggak bisa hadir. "
"Pantas aja... "
"Kenapa Ra? "
"Ada salah satu pengurus di sini yang menatap aku jutek. Disangka aku perebut suami orang, mungkin. Menyebalkan. " dengus Tiara kesal.
"Jangan dianggap dan dimasukkan ke hati ya Ra. Mereka nggak paham jadi begitu. "
"Bullshit. Aku juga yang kelihatan buruk mba. " ucap Tiara datar tapi menusuk. "Besok-besok, kalian saja yang ke sini. Telinga aku nggak cukup kuat sama gosip mereka. " tandas Tiara kembali.
Membuat Ningrum menjadi serba salah. Dia paling takut kalau Tiara marah, sangat mempengaruhi mood dia ke suami mereka.
"Ra. Jangan mikir gitu ya. Aku nggak maksud begitu. "
"Loh. Aku juga nggak maksud nuduh ke mba Rum. Aku hanya ngomongin salah satu pengasuh di sini. Aku nggak nyaman, jadi wajar kan kalau aku malas ke sini lagi. "
"Oke. Tapi kamu jangan marah ke mba ya. "
"Aku nggak seburuk itu juga mba... Siapa aku, berhak marah ke mba Rum. "
"Nanti aku akan bicara ke ibu panti, agar menegur bawahannya Ra. "
"Terserah mba saja. Tapi itu bisa aja bikin mereka makin nggak suka sama aku. "
"Coba mba pikirkan nanti, ya? "
Terlihat dari balik pintu gerbang, mobil Aksa berhenti di sana. Lalu, sosoknya keluar dari dalam mobil sana.
"Mas Aksa ada kabarin kamu kah Ra? Kalau mau ke sini juga? " tanya Ningrum.
"Enggak ada. "
Ketika Aksa sudah ada di hadapan mereka.
"Mas, kemari nggak ada bilang? "
"Sengaja, tadi kerjaan dah kelar lebih cepat. Jadi mas susul kalian ke sini. "
"Kami bawa motor. " potong Tiara sewot.
"Motornya biar di sini dulu. Biar besok pagi diambil sama anak buat abang, dek. "
"Nggak usah. Biar aku aja yang bawa. "
"Ra. Kita pulang bertiga ya? "
"Aku naik motor aja mba. Silahkan kalian pakai mobil. " ucap Tiara sambil mengeluarkan kontak motor milik Ningrum, lalu segara beranjak dari duduknya. "Lain kali, kalian saja yang ke sini. Orang-orang sini tahu nya kalian yang suami istri. "
Sebelum Aksa mencerna maksud pembicaraan istri mudanya itu, Tiara sudah setengah berlari ke parkiran motor.
"Dek! " seru Aksa bingung. Saat akan mengejar Tiara, Ningrum sudah duluan menarik lengan kanan Aksa.
"Biarkan dia tenang dulu mas. Nanti di mobil aku ceritain. " ucap Ningrum lembut.
"Apa dia sedang marah? " tanya Aksa menyelidik.
"Iya. Nanti di mobil aku cerita semuanya. Sekarang kita pamit ibu panti dulu mas. "
Aksa hanya bisa menuruti perkataan Ningrum, mengikuti langkahnya dari belakang. Tetapi, sesekali kepalanya menengok ke arah Tiara yang sudah melajukan motornya keluar dari halaman panti asuhan tersebut.
"Kamu kenapa lagi sih dek? " guman Aksa bingung dan sedih.
.
Bersambung...