"Wah, yang pengantin baru udah masuk aja ini? " sapa seorang perempuan sambil menyambar sepotong kue risoles mayo dari wadah makanan milik temannya itu, sesaat setelah dia memasuki ruangan kerja mereka.
Masih terlihat sepi, karena waktu juga belum menunjukkan jam masuk kerja. Tiara yang sudah datang duluan ternyata sedang membuka bekal yang dibuat oleh mertuanya, dikarenakan Tiara tidak sempat sarapan di rumah.
"Aku ambil cuti cuma empat hari, Karin... Kasian diriku sama kamu, kalau kelamaan cuti. " dengus Tiara sambil memperbaiki kerudung yang dipakainya.
"Wiihhh... Terharu daku mendengarnya Ra. By the way yaaa... Tumben bawa bekal beginian, masak kamu? "
"Makan dulu. Anak gadis makan sambil ngoceh. Itu mertua aku yang buat, " ujar Tiara sambil merapikan lembaran kertas pekerjaannya dalam map warna hijau. Setelah itu nampak ia menyalakan komputer dan perangkat lainnya.
"Yang udah lepas segel, ngomongnya begitu ya? Tapi mantap juga ini, mertua sayang menantu, mau bawakan bekal buat kamu juga ya? " oceh Karina sambil tidak henti mengunyah kue milik Tiara. Karina adalah type cewek yang selalu memakan makanan yang menganggur dan siap di hadapannya, namun begitu tidak membuat badannya berkembang ke kiri dan kanan.
Tiara cuma menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Terus mau aku panggil apa? Kamu memang masih gadis kan? Sebenarnya bukan cuma buat aku sih, buat anaknya juga itu, sibungsu kan masih kuliah, " jelas Tiara sambil mulai mengetik berkas yang ada di sebelah kiri keyboard-nya.
"Iya. Dan kata 'gadis'nya itu nggak perlu diperjelas ya nyonya Aksa. " jawab Karina cepat, dengan menekankan kata gadis dan sambil mengerucutkan bibir seksi-nya. "eh, ngomong-ngomong nih, gimana malam pertama, sukses? Enak gak? " tanya Karina penasaran. Seketika tubuhnya iya condongkan ke hadapan Tiara, sahabatnya dari bangku kuliah.
"Kenapa kepo Karin? Mau? " jawab Tiara cepat, namun tak mengalihkan pandangan matanya dari layar komputer.
"Iya kalau enak, aku mau lah nyusul juga... " ucap Karina gemas dan sebal.
"Iya selayaknya pengantin baru lah Rin... Masa aku mesti jelasin sejelas-jelasnya? Entar kamu ingin kan bahaya, belum ada musuhnya... " sahut Tiara sambil tertawa geli.
"Namanya juga gadis Ra, rasa keponya pasti tinggi. Kan belum ngalamin. Sambil belajar dari kamu tak apa juga kan? " ucap Karina sambil mengedipkan sebelah satu matanya.
"Nanti aja, rasain sendiri. " sahut Tiara sedikit bercanda.
"Hhmm... Terus gimana, hubunganmu dengan kakak madu-mu? " tanya Karina masih penasaran.
"Baik aja. Kan dari awal memang baik Rin. Kalau aku dinikahi cuma mau dimusuhi buat apa? Aku pasti udah nolak lah. Kamu juga aneh nanyanya. Ada gitu, cita-cita aku jadi istri ke-dua! " jelas Tiara berubah ketus. Tiara memang lumayan sensitif jika berbicara yang menyinggung tentang posisi dan kedudukannya sebagai istri muda.
"Iya percaya. Santai aja buu... Kok nge-gas ya. Pengantin baru dilarang marah-marah. Luntur nanti berkahnya. " canda Karina untuk mengahalau kemarahan sahabatnya itu.
"Cepat sana cuci tangan, jangan banyak lisan, sebentar lagi pasti rame Rin... Aku mau nyelesaiin invoice note aku dulu... Biar bos datang aku tinggal minta tanda tangan beliau. Kamu handle kerjaan aku juga setengah-setengah, " ucap Tiara kemudian.
"Itu juga udah bagus loh Ra, udah ikhlas aku kerjain. Tak bersyukur kamu nih jadi teman. " sungut Karina.
Karina bukannya mengikuti omongan Tiara untuk cuci tangan. Diambilnya tissu basah yang ada di dalam tas-nya. Sedangkan Tiara sudah fokus kembali mengerjakan sisa pekerjaannya yang kemarin.
"Ssttt... Ra. " Karina berulah kembali.
"Hmmm. " Tiara hanya ber-dehem namun pandangan matanya masih setia ke arah komputer dan berkas yang ada di tangannya. Sepertinya ia sedang menyocokkan angka-angka invoice.
"Ra. Lihat dulu aku ngomong. " rajuk Karina.
Mau tidak mau Tiara mengalihkan tatapannya pada Karina, "iya, apa sih Rin? Aku sibuk ini. Nanti keburu atasan datang, nggak enak lah. " kata Tiara sambil mendengkus sebal.
"Eh, kemarin pak Bos datang nggak ke acara nikahan kalian?" bisik Karina ke arah sahabatnya itu.
"Enggak ada. Bukannya beliau sedang perjalanan dinas ke luar kota, ada sih dia ninggalin pesan, sehari sebelum aku akad nikah, kalau dia nggak bisa hadir dikarenakan pak direktur kasih perintah ke dia, buat ke luar kota. " jelas Tiara sambil kembali fokus ke pekerjaannya.
"Ah, aku berani bertaruh, dia itu bukan perjalanan dinas ya. Pasti patah hati dia tuh. Sehari setelah pernikahanmu dia ada kok di kantor ini. Apa iya sehari semalam dia udah balik lagi? " gosip Karina mulai dibuka. Dan itu cukup membuat Tiara merasa risih.
"Ya mungkin emang udah pulang Rin. Lagian kamu suka banget ya gibahin bos-nya sendiri. " ucap Tiara sambil menggelengkan kepala tanda malas menanggapi gosip sahabatnya itu.
"Eh bukan gibah ya. Kamu tuh nggak tahu atau pura-pura nggak tahu sih Ra. " tanya Karina gemas. Bahkan wajahnya terlihat kesal. Merasa sahabatnya tak menanggapi ocehannya.
"Tahu apa? "
"Dengar baik-baik ya... Pak bos kita itu suka sama kamu, Ra. "
"Ngaco. " bantah Tiara ikut-ikutan gemas, mengapa sahabatnya itu keu-keuh dengan pendapatnya.
"Kamunya aja yang ngaco. Orang suka kok nggak ada peka-pekanya ya. " sambar Karina menaikkan satu kali oktaf-nya, bahkan kedua lengan tangannya sudah pindah ke pinggang, style berkacak-pinggang.
"Eheemmm! " terdengar suara deheman dari arah belakang Karina berdiri.
Sedangkan Tiara menganggukkan kepalanya pada seseorang yang baru saja datang itu. Lalu kembali menyibukkan diri dengan kertas-kertas dan komputernya. Suasana pun menjadi sedikit canggung.
"Eh. Ada pak Bos. " kata Karina sedikit malu dan was-was, apakah si Bos ada mendengar pembicaraannya tadi. Wajahnya terlihat malu-malu ke 'gap'.
"Siapa yang ngaco Rin. " tanya laki-laki itu yang dipanggil pak Bos oleh Karina dengan nada datar.
"Tiara pak. "
Mendengar namanya disebut, Tiara langsung mendongakkan kepala ke arah dua sumber suara tersebut.
"Kok aku Rin? Bukannya kamu yang bergosip duluan tadi? " sungut Tiara gemas.
"Tapi topik utama pembicaraan kan ada pada kamu Ra. " sahut Karina tak mau kalah.
Pak Bos pun hanya bisa menggelengkan kepala, "Ra. Bisa ikut saya ke ruangan saya? "
"Baik pak. " Tiara segera merapikan kertas-kertas yang ia kerjakan tadi, lalu mengumpulkannya menjadi satu dengan binder clip.
Kemudian beranjak dari kursinya mengikuti Pak Bos-nya.
"Sssttt... Hati-hati... " bisik Karina di telinga Tiara.
"Lanjutkan pekerjaanmu Rin. Dan kurangi kebiasaan gosip kamu. " potong Pak Bos tiba-tiba.
Tanpa melihat bagaimana wajah sahabatnya, Tiara segera mengikuti langkah Rangga, nama Pak Bos atau atasan mereka itu.
"Silahkan duduk. " setelah mempersilakan Tiara duduk, Rangga sang atasan pun ikut duduk juga di kursi kebesarannya.
"Mau minum? " tawar Rangga pada Tiara.
"Enggak pak. Makasih. " sahut Tiara sopan.
"Ini... " Rangga mengangsurkan satu kotak yang terbungkus kertas kado ke arah Tiara.
"Apa ini pak? " tanya Tiara bingung, namun tanpa ragu ia terima kado dari atasannya itu.
"Maaf, saya terlambat kasih kadonya. Dan selamat ya... Atas pernikahan kalian. "
"Oh.. Makasih pak. " jawab Tiara tanpa lupa menyuguhkan senyum sopan.
"Apa ada yang lain pak? Tugas yang minggu lalu akan segera saya selesaikan. "
"Tak usah buru-buru. Ada yang ingin saya tanyakan. Sebenarnya dari kemarin hal ini ingin saya tanyakan, karena kamu baru masuk sekarang, jadi sekarang saja. "
"Silahkan pak. " ucap Tiara tanpa beban.
"Apa benar berita yang saya dengar. Kalau suami kamu sudah beristri? " tanya Rangga tanpa basa-basi. Bahkan pandangan matanya terlihat tajam dan menelisik, membuat Tiara merasa tidak nyaman.
"Iya pak. " jawab Tiara jujur.
Dan jawaban Tiara membuat Rangga terkejut, itu terlihat dari ekspresi wajah tampannya. Walau berita itu sudah duluan ia dengar, tetap saja itu membuatnya kaget saat mendengar langsung dari Tiara sendiri.
"Kenapa? " tanya Rangga lirih.
"Eh, kenapa apanya pak? " ucap Tiara dengan nada tak mengerti.
"Kenapa kamu bisa mencintai suami orang? " tanya Rangga jelas dan tegas.
Di sini Tiara sedikit segan, atas pertanyaan atasannya itu. Mengapa hal tersebut harus dipertanyakan? Batin Tiara serba salah.
"Ehem. Kenapa bapak mempertanyakan hal itu? "
"Kenapa pertanyaan saya kamu jawab dengan pertanyaan juga Ra? "
Sesaat Tiara terdiam sejenak. Rasanya walaupun dia seorang atasan baginya, apakah pantas mempertanyakan hal pribadi pegawainya. Bagi Tiara itu tak patut. Tetapi karena Rangga atasannya, dia mencoba bersikap sesopan dan sebaik mungkin, agar tidak mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan Rangga.
"Saya dijodohkan pak. Sebelum bapak berpikir negatif sama saya, baiklah saya jawab pertanyaan bapak tersebut. Selain saya dijodohkan, istri pertama suami saya juga yang melamar saya untuk suaminya. Dan kedua belah pihak keluarga menyetujui hal tersebut... " jawab Tiara secara gamblang, bahkan lebih berani membalas pandangan mata atasannya itu.
Dan tentu saja jawaban Tiara tersebut, membuat Rangga semakin tergugu. Ada riak kecewa di wajah tampannya.
Setelah menghela nafas berat, "lalu? Apa kamu mencintai suami kamu yang juga suami orang itu? "
"Iya, setelah suami saya mengucapkan janjinya di depan ayah saya tentunya... " jawab Tiara pasti, "baiklah pak, jika tak ada tugas tambahan buat saya, saya undur diri mengerjakan tugas yang lain. "
Tanpa menunggu jawaban Rangga, Tiara segera berlalu dari ruangan atasannya itu. Namun, sebelum berhasil terbuka pintu ruangan itu, sebait kalimat membuat Tiara menghentikan langkahnya.
"Aku cinta kamu, Ra. " suara Rangga sangat jelas terdengar di gelandang telinganya.
Tiara menghela nafas trenyuh. Ternyata apa yang dikatakan Karina selama ini benar. Gosip itu benar adanya. Bahkan kata sapaan 'saya' oleh Rangga sudah berubah menjadi 'aku'.
"Sejak kapan? " tanya Tiara sambil menenggokkan kepala ke arah Rangga. Namun, objek yang dipandang hanya menundukkan kepalanya.
"Pak? "
Saat netra itu mengembalikan pandangannya ke arah Tiara, ada segumpal kekecewaan yang dalam terpatri di sana, dan itu membuat Tiara merasa bersalah.
"Sudah lama, dari semenjak kamu dipindah ke divisi-ku. " sejenak Rangga kembali menghela nafas, "tapi tak ada artinya untuk sekarang... "
"Apakah itu salah saya pak? Bahkan saya baru tahu sekarang? " bela Tiara untuk dirinya sendiri.
"Karena kamu nggak peka Ra. Kamu seperti menutup diri dan hatimu. Bahkan sahabatmu pun lebih paham dengan perasaanku padamu. " jelas Rangga.
"Entah, saya tidak tahu tujuan bapak apa mengatakan ini semua, namun yang jelas saya sudah bersuami, rasanya berdosa jika saya lama-lama di ruangan ini. "
Tanpa basa-basi Tiara segera membuka handle pintu, dan berlalu tanpa menengok kembali ke arah Rangga.
"Salahkah hatiku Ra. Tanpa aku minta jatuh cinta padamu. " bisik Rangga dengan tatapan nanar di mana terakhir Tiara berdiri. Cintanya harus berakhir sebelum ia memulainya.
*****
Langit senja mulai sedikit menampakkan wajahnya. Semburat mega seperti sudah menduduki start-nya agar dapat mengawali malam yang beberapa saat akan hadir menggantikan siang.
Tiara berjalan ke arah gerbang kantornya, sedangkan Karina sudah tak nampak di sebelahnya.
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Tiara, seketika senyumnya mengembang ketika kaca jendela kiri mobil itu diturunkan. Terlihat sosok sang suami dengan senyum khas-nya.
"Masuk dek... Lihatin abangnya sambil duduk kan lebih nyaman. " goda Aksa kepada Tiara.
Tiara nampak salah tingkah, dan entah kenapa hatinya pun ikut berdebar. Dan Tiara semakin mengerti, ia telah mencintai suaminya dengan sangat dalam.
"Kok abang ada di sini? Bukannya harusnya hari ini abang ke rumah mba Ningrum ya? " tanya Tiara setelah berhasil memasang sabuk pengaman. Sedangkan Aksa kembali menginjak pedal gas membawa sang istri pulang.
"Tadi mba kamu telpon, kalau minta dijemput di rumah bude-nya jam tujuh malam nanti. Ada acara kecil di sana. Makanya abang luangkan waktu menjemput adek dulu. Selain itu abang juga kangen sama istri kecil abang ini... " jawab Aksa sambil mengelus pucuk kepala Tiara yang tertutup dengan kerudungnya. Entah kenapa, bersama Tiara, seakan Aksa kembali muda kembali.
Kata kangen yang terucap dari bibir Aksa, seketika membuat semburat malu nampak di pipi Tiara. Ia hanya mampu mengulum senyum simpul.
"Gombal. " kata Tiara lirih, namun masih terdengar di telinga suaminya.
"Adek tahu tidak? "
"Apa? "
"Kata gombal atau rayuan itu sangat wajar di dalam pernikahan. Mungkin terlihat sepele, tapi itu bisa membuat pasangan makin mesra. Kita akan jauh dari sikap canggung, karena kita juga bisa seperti sahabat dekat. "
"Iya. Tapi, abang tahu nggak? Kalau sikap manis abang ini bisa bikin aku menjadi egois? " tanya Tiara menyelidik, bahkan tatapan matanya tak lepas menatap sang suami.
Pernyataan Tiara hanya ditanggapi dengan senyum simpul oleh Aksa.
"Egois kenapa dek? " tanya Aksa kembali mengusap kepala Tiara.
"Kalau aku nantinya menginginkan abang hanya untuk aku saja gimana? Kalau aku menjadi egois tidak mau berbagi lagi gimana? " tantang Tiara. Ia hanya ingij tahu, bagaimana tanggapan suaminya itu.
"Itu tandanya adek udah jatuh cinta pada abang. " jawab Aksa santai. Jawaban yang jauh dari ekspetasi Tiara.
"Iya. Dan jatuh cinta itu bisa membuat manusia berlaku menguasai seseorang yang dicintainya. " tegas Tiara tak mau kalah.
"Abang paham dek... Kuasai abang semampu kalian. Adek dan Ningrum adalah belahan hati abang, di antara kalian tak akan ada yang abang lepaskan. Itu janji abang juga di hadapan Ningrum. Dari awal kita sudah sepakat kan sayang... " jawab Aksa sangat lembut.
Aksa meraih telapak tangan kanan Tiara dengan telapak tangan kirinya. Lalu mengecup mesra, tanpa mengalihkan fokusnya ke depan jalan yang sedikit ramai sore itu.
"Abang menyayangi kalian. Di antara kalian tak ada yang abang pilih salah satu. Oke, abang memang terlihat serakah. Tapi abang sudah meminta kalian dengan jalan yang benar bukan? Abang tidak mencuri apalagi berselingkuh bersamamu. Abang juga tidak berbohong pada Ningrum agar bisa memilikimu... " sambung Aksa.
"Tapi hati tak bisa bohong bang. Di mulut bilang ikhlas, belum tentu hati juga begitu. " sepertinya Tiara masih ingin beradu argumentasi dengan suaminya.
Dengan sabar Aksa berusaha menenangkan hati dan perasaan istri kecilnya itu. Aksa sangat paham, diumur yang masih tergolong muda, jiwa dan hati Tiara masih terasa labil. Hal wajar bila Tiara berusaha mengambil perhatian dan hati Aksa untuk dirinya seorang. Tugas Aksa sebagai suami yang beristri dua, untuk berusaha memberikan pengertian dan penjelasan untuk mereka.
"Belajar dari sekarang ya dek, untuk tidak memendam apapun sendirian. Ada abang, ada mba Ningrum. Jika ada ganjalan di hati keluarkan, kami tak akan membiarkan adek sendirian. Inilah kenapa Ningrum ingin kita serumah bertiga, walaupun bagaimana kita masih tetap bersama-sama, hanya malamnya saja abang harus tetap berbagi. "
Tiara spontan menggelengkan kepala.
"Aku belum siap, melihat secara langsung, abang memasuki kamar yang lain, sedangkan aku ada juga di situ. " dengus Tiara sedikit sebal. Dan dibalas tawa ringan oleh Aksa.
"Baiklah... Kalau itu mau adek. Gimana? Masih ada yang mengganjal di hati? "
"Akan aku usahakan, menerima. " jawab Tiara dengan menekan kata 'menerima' agar lebih terdengar sangat jelas.
Aksa kembali tertawa saat mendengar itu, dan kembali mengecup punggung telapak tangan kiri milik Tiara.
"Kita belajar bersama ya? Kita bertiga akan Abang usahakan berhasil berlayar, walau dengan satu kapal... Doa dan ketulusan kalian yang abang harapkan. "
Ketika Tiara akan menanggapi pernyataan suaminya, terdengar nada panggil dari ponsel Tiara.
"Bentar bang, boleh aku angkat? " ijin Tiara pada Aksa.
"Iya. Di buka ya speaker- nya, abang mau ikut dengar. " jawab Aksa lembut.
"Oke. "
Setelah dilihat, ternyata panggilan dari atasannya Tiara, Rangga Permana. "siapa? " tanya Aksa.
"Bos aku. "
"Angkatlah. Siapa tahu penting. "
Tiara segera menerima panggilan tersebut dan tidak lupa membuka speaker.
"Hallo... " sapa Tiara sopan.
"Assalamualaikum Ra. Kado dariku kenapa kamu tinggal Ra? "
"Oh waalaikum salam, pak. Iya maaf lupa tadi pak. "
"Biar aku antar ke rumah kamu ya? "
"Tidak usah pak. Saya sekarang tinggal di rumah mertua saya. "
"Tak apa. Share aja lokasi alamatnya. "
"Enggak usah pak. Simpan saja di locker meja kerja saya. Besok saya ambil. Sudah ya pak, saya sedang di jalan. "
"Ra. Yang aku katakan tadi pagi itu kenyataan. Aku cinta kamu. Maafkan aku kalau tak bisa menghapus rasa ini, walau kamu sudah bersuami. "
Seketika ponsel yang ada di tangan Tiara berpindah ke tangan Aksa.
"Maaf, ini saya, suami Tiara. Bila berkenan, tolong jangan ganggu istri saya lagi dengan kata-kata seperti itu lagi. Assalamualaikum. " tanpa menunggu jawaban Rangga, Aksa segera memutuskan sambungan telepon tersebut.
Dengan pelan, Aksa menepikan mobil yang mereka tumpangi ke tepi bawah badan jalan. Lalu mematikan mesin mobil tersebut.
"Apakah adek lupa dengan pernyataan bos adek tadi? Hingga adek juga lupa untuk cerita ke abang? " tanya Aksa pelan, setelah berusaha menetralkan detak jantung emosinya.
"Aku lupa bang. Karena aku nggak anggap pernyataan dia pagi tadi. " jawab Tiara pelan, agar Aksa tak tersulut untuk marah padanya.
"Terus, kenapa nggak kasih tahu abang dari pagi tadi? " cecar Aksa tajam.
Tiara menghela nafas pelan . Berdebar takut juga, apakah suaminya akan marah kepadanya? Terlihat sangat cemburu yang terbaca di manik matanya tajamnya.
.
Bersambung...