"Abang marah? "
Ada semburat kesal terlihat di wajah Tiara. Bahkan untuk menatap Aksa untuk sementara waktu, dia tak mau. Membuang muka ke arah jendela pintu mobil.
Aksa menghela nafas lelah. Tiara bukan Ningrum, yang akan berusaha merespon teguran Aksa dengan cepat, bahkan Ningrum akan segera meminta maaf jika suara Aksa sudah mulai naik intonasinya walau itu sedikit, sebelum menjadi kemarahan Aksa yang sesungguhnya. Tiara berbeda dengan Ningrum, batin Aksa gemas. Dan ia sadar, ke-dua istrinya pun berbeda, bahkan cara mendidiknya pun tidak akan sama.
Aksa meraih jemari tangan kanan Tiara, lalu mengelus lembut punggung jari-jari itu. "apa abang sebagai suami kamu ini, nggak boleh marah dek? " tanya Aksa lembut. Pandangan matanya pun sudah. kembali teduh.
"Entah. Apa isi dalam hati abang saja, aku juga nggak tahu. " jawab Tiara masih sambil memalingkan wajah ke kiri. Bahkan masih terdengar ketus.
"Abang bukan marah pada adek. Abang tidak suka, kalau istri kecil abang ini diganggu oleh orang lain. " ucap Aksa sambil mengelus pipi Tiara. "makanya, abang menyesal dan kecewa kalau ada sesuatu hal, adek nggak mau cerita langsung ke abang. Jika ada yang mengganggu adek, segeralah lapor ke abang. Biar abang yang menyelesaikan semuanya. Karena adek tanggung-jawab abang sekarang... Adek paham? " ucap Aksa dengan lirih dan dekat, bahkan hembusan nafasnya terasa di sebagian wajah Tiara.
"Adek masih mau ngambek? Heemmm? " tanya Aksa sedikit gemas. Inikah resikonya jika menikahi gadis yang belum terlalu dewasa? Ucap Aksa dalam hati. Kesabarannya benar-benar diuji.
Tiara membalas hanya dengan gelengan kepalanya. Tetapi mulut masih mengatup rapat.
"Terus? Kenapa masih diem? " cecar Aksa.
"Nggak pa-pa bang... Aku ini sedikit lelah. Keluar kantor tadi sebenarnya aku ingin cepat-cepat sampai rumah, lalu istirahat. Terus abang datang, tahu-tahu, marah-marah nggak jelas begitu... Orang lain loh yang suka, kenapa aku yang disalahkan? Aku juga nggak tahu sejak kapan pak Rangga itu suka sama aku, selama ini juga biasa-biasa aja kok. Dia nya juga nggak pernah aneh-aneh. Lagian ya bang, adek nggak anggap omongan pak Rangga itu serius, makanya aku langsung lupa gitu aja saat kembali kerja, abang cemburu boleh , tapi lihat-lihat dulu dong, " cerocos Tiara panjang lebar, membuat Aksa menyunggingkan senyum manisnya. Lega ia rasakan, istri kecilnya mulai mau menanggapi perkataannya. Walau Tiara cerewetnya mulai terlihat, tetapi Aksa suka mendengarnya, mencintai itu begitu aneh, dan itu yang telah terjadi pada diri dan hati Aksa. Kebiasaan menghadapi istri pertamanya yang penurut dan tak banyak menuntut, jiwa Aksa mungkin merasa tertantang ketika istri ke-dua nya cerewet dan suka beradu argument.
"Terus? Abang nggak boleh cemburu nih? " tanya Aksa sedikit menggoda.
"Ya boleh! Tapi tanya dulu baik-baik, pelan-pelan, " sahut Tiara cepat. Membuat Aksa tergelak senang.
"Oke, abang minta maaf ya? Maaf udah sempat curiga sama adek. Tapi, mulai sekarang adek harus bisa belajar jujur sama abang, tentang apapun... Masalah bos adek itu, biar abang nanti yang handle. " sambung Aksa lembut.
Tiara memalingkan wajah ke arah suaminya, lalu menghela nafas pelan. Ada sedikit gurat menyesal di sana.
"Iya. Maaf juga bang, kalau aku sempat kasar tadi sama abang. Itu disebabkan, aku nggak suka dituduh atau ditekan begitu. " jelas Tiara pelan. Walau bagaimana pun dia sudah menjadi seorang istri, wajar bila sang suami menuntut penjelasan darinya, karena itu termasuk harga diri seorang suami.
"Oke. Tak apa, abang maklum kok. Kita pulang? " jawab Aksa tak kalah lembut sekaligus bertanya pada Tiara.
"Pulang aja. Aku lelah, pengin segera mandi... " sahut Tiara sambil mengembalikan posisi duduknya agar kembali nyaman.
"Baiklah tuan putri. " sahut Aksa sedikit genit, dan itu cukup membuat Tiara bersemburat malu. Bagaimana ia tak akan selalu jatuh cinta, jika suaminya selalu bersikap manis begitu.
Sesampai di rumah orang-tua Aksa, Tiara segera pamit masuk ke kamar milik Aksa, suaminya. Kegiatan mandi akan membuatnya segar kembali setelah rutinitas seharian ia bekerja.
"Baru sampai Sa? " tanya papa Aksa saat mereka bertemu di ruang makan, saat itu Aksa sedang membuka lemari pendingin untuk mengambil air dingin. Rasa haus di kerongkongannya sudah tak tertahan lagi.
"Iya pa. " setelah menjawab sang papa, Aksa segera meminum air yang sudah berpindah ke dalam gelas.
"Bukannya sekarang kamu harus pulang ke Ningrum? " tanya papa Aksa menyelidik, "jangan mulai dzolim tentang hak para istri Sa, papa memberi kamu ijin poligami, bukan untuk condong ke salah-satunya, " tegas papanya Aksa kembali.
"Iya pa. Aksa paham. Ningrum masih di rumah bude -nya, dia minta jemput setelah acaranya selesai. Makanya itu, sekalian Aksa jemput Ara dari tempat kerjanya. " jelas Aksa kepada sang papa.
"Baiklah, kalau begitu. Papa ke kamar dulu, "
"Mama ke mana? " tanya Aksa sambil menengok kiri-kanan, ketika tidak melihat keberadaan sang mama.
"Ada di kamar, setrika baju. " jawab sang papa sambil berlalu dari hadapan anak sulungnya. "kamu susul aja Sa, kalau mau ketemu mama. "
"Oke, pa. "
Ketika Aksa masuk ke kamarnya, di situ Tiara sudah selesai mandi, sedang duduk di depan meja rias, menyisir rambut dan membersihkan wajahnya. Tiara adalah type perempuan yang tidak bisa lama-lama di dalam kamar mandi.
"Abang mau mandi sekalian di sini? " tanya Tiara saat melihat suaminya masuk dan menutup pintu kamar.
"Iya. Gerah. "
"Aku siapkan baju gantinya, handuk aku ada di dalam kamar mandi kalau abang mau pakai."
"Iya dek. " lanjut Aksa sambil melangkahkan kaki ke kamar mandi.
*****
"Jemput sekarang kah Rum? "
"Iya mas, acara udah selesai. Masih ada tamu sih, cuma Rum dah capek, mau istirahat aja di rumah kita. Oh ya, mas di rumah papa ya? "
"Oke. Iya, mas ada di rumah papa, tadi sekalian jemput Ara. "
"Oh. Jemput sekarang ya mas. Oh ya, titip salam ya buat Ara. "
"Iya, nanti mas sampaikan. Kamu siap-siap aja, mas berangkat ke rumah bude setelah ini, "
"Baiklah mas. Tapi mas udah makan kan? "
"Sudah sayang, mas udah makan sebelum adzan tadi, "
"Syukurlah kalau gitu. Aku tunggu ya. Hati-hati di jalan mas. "
"Oke, tunggu ya, mas berangkat sekarang, Assalamualaikum... "
"Waalaikum salam. "
Setelah salat isya berdua dengan Tiara, Aksa nampak menerima telepon dari istri pertamanya. Setelah itu, lalu melipat sajadah miliknya dan milik Tiara, sedangkan Tiara sendiri sedang melipat mukena yang sedang dipakainya.
"Mba Ningrum bang? "
"Iya dek. Minta jemput, " jawab Aksa sambil memakai jaket kulit yang telah disiapkan oleh Tiara.
"Setelah ini, apa kita nggak akan bertemu selama tiga hari bang? " tanya Tiara lirih, ada nada tidak rela di sana.
Aksa yang akan menutup resleting jaketnya segera menghampiri Tiara, memegang kedua bahu istri mudanya dengan lembut, di situ ia lihat titik pandangan mata sang istri, ada selaksa cemburu yang terlihat.
"Abang akan usahakan istirahat kerja nanti, kita bertemu. Jam kerja abang kan tidak sedisiplin tempat kerja adek. Saat pulang juga, akan abang usahakan meluangkan waktu menjemput adek nanti. " jelas Aksa selembut mungkin. Aksa paham, istri mudanya sedang menunjukkan rasa kepemilikannya.
"Apakah mba tahu? "
"Iya, dia tahu dek... Ningrum juga yang mengusulkan agar abang mengantar dan menjemput adek pulang kerja. Biar abang juga bisa memastikan adek baik-baik saja. "
"Baiklah. " jawab Tiara pasrah. Tidak menutup rasa bahwa ia mulai merasakan cemburu dan tak rela melepas sang suami untuk berpindah kewajiban ke istri yang lainnya.
"Kenapa, heemm? " tanya Aksa sambil mengelus pipi manis istrinya.
"Nggak pa-pa kok, " jawab Tiara segan.
"Ikut abang pindah ke rumah kita ya dek? " rayu Aksa kembali.
Tiara menggelengkan kepalanya cepat.
"Kalau kita bertiga kumpul, abang bisa lebih gampang menemani kalian, kita juga akan bertemu setiap hari. Abang dan Ningrum pun tak akan cemas memikirkan adek di sini, karena kita berjauhan. " terang Aksa dengan sabar.
"Aku belum bisa bang, belum bisa melihat abang masuk ke kamar istri yang lain dengan nyata di depan mataku. " tolak Tiara sedikit kesal.
Aksa menghela nafas pelan. Beginilah yang akan dia rasakan dan terima bila mengambil tindakan poligami, setiap istri pasti memiliki cara cemburunya masing-masing. Seberapa pun usahanya ia bersikap adil, pasti ada yang merasa kurang akan hal itu. Karena adil menurut suami, belum tentu adil buat para istrinya.
"Abang tak akan memaksa adek lagi. Kalau adek berubah pikiran bilang pada kami, kami akan jemput adek segera. "
"Iya bang. " jawab Tiara sambil memeluk erat suaminya. "apa aku masih bisa menelpon abang, kalau abang sedang ada di sana? "
"Boleh, adek juga istri abang, tapi kalau malam-malam abang nggak langsung menjawab panggilan adek, jangan marah ya? Abang pasti udah tidur. "
"Kalau nggak, abang pasti sedang bercinta dengan mba. " sela Tiara sedikit sewot.
"Sstttt... Jangan bilang begitu. Ningrum juga punya hak menerima sentuhan abang. Jaga hati adek ya, jangan terlalu dipikir, dan yang jelas, jangan membayangkan yang enggak-enggak saat abang bersama Ningrum. Kalian sama di mata abang. " pelukan Tiara makin erat pada tubuh kekar Aksa. Seakan enggan untuk melepaskannya.
"Ingin rasanya aku egois." bisik Tiara dalam dekapan Aksa, namun masih terdengar ke telinga sang suami.
Aksa tak menjawab pernyataan istri kecilnya. Ia paham, Tiara sedang dalam mode cemburu. Aksa hanya mengelus-elus rambut Tiara, untuk memberi ketenangan.
"Poligami ternyata seberat ini, " desah Tiara lagi. "kedepannya apakah aku akan sanggup bang? " lanjut Tiara kemudian.
"Karena adek sudah jatuh cinta pada abang. Belajar ikhlas ya dek. Diantara kalian tak akan ada yang akan abang lepaskan. " sahut Aksa lirih. "cintai abang semampu adek, jika mulai lelah segera bicara pada abang atau Ningrum, kami tak akan meninggalkan adek sendirian. Kita pecahkan bersama-sama masalah yang adek rasakan. "
"Aku tak sekuat mba Ningrum bang, "
"Iya. Pelan-pelan saja, yang penting adek selalu jujur pada kami. "
"Kalian juga harus janji, akan selalu jujur padaku. "
"Iya. Abang pulang ke Ningrum dulu ya. Besok pagi abang jemput berangkat kerjanya. " kata Aksa sambil melepas pelukan sang istri, lalu mengusap lembut puncak kepala Tiara. "baik-baik di sini. "
Tiara hanya mau mengangguk lemah.
Sebelum pergi,
Aksa segera melabuhkan ciuman hangatnya di bibir indah milik Tiara. Tiara pun dengan cepat menyambut hal itu, seakan rindu itu telah ia rasakan sebelum perpisahan sementara dengan sang suami terjadi. Cinta itu begitu egois.
"Abang mencintamu. Jaga hati dan diri adek ya. " setelah mengatakan hal tersebut, Aksa mengecup dalam kening Tiara.
"Too you bang. "
*****
Aksa membukakan pintu mobilnya sebelah kiri untuk sang istri pertamanya, Ningrum, sambil mengelus puncak kepalanya yang tertutup kerudung warna cream.
Budhe Yuni, tante dari Ningrum, ikut mengantar mereka sampai ke mobil. Yuni adalah orang yang paling anti tentang pernikahan ke-dua menantu keponakannya itu.
"Langsung pulang ke rumah kan Sa? "
"Iya budhe... Ningrum juga udah nagntuk itu. " sahut Aksa masih sambil menunggu sang istri memperbaiki letak duduknya agar nyaman.
"Kalian loh pasangan serasi dan mesra gini. Kok ya kamu masih milih nikah lagi to Sa. Budhe masih nggak ngerti sama keputusan kalian itu. " sungut Yuni masih kecewa. Setelah orang-tua Ningrum meninggal, Yuni-lah yang melanjutkan mengasuh Ningrum hingga menikah.
"Budhe... Udah lah, jangan bahas itu terus. Ini keputusan Ning sama mas Aksa. Tiara adalah keluarga kami sekarang. Jadi, budhe harus legowo ya. " sambung Ningrum cepat, sebelum Aksa yang membalas ucapan tantenya itu.
"Ya udah lah terserah kalian, tapi, biar gimanapun, kamu jangan sampai nyakitin hati Ning loh Sa. Apalagi sampai nelantarin Ning, budhe nanti yang bakal nuntut balas sama kamu. " ancam Yuni lengkap dengan ketus-nya.
Aksa hanya bisa tersenyum santai. Sudah hafal dengan sikap tante mertuanya itu.
"Akan Aksa usahakan budhe. Aksa menyayangi kedua istri Aksa. Baiklah, kami pamit dulu. " pamit Aksa setelah menutup pintu mobil sebelah Ningrum.
"Iya. Hati-hati. Kasih kabar ya Ning, kalau dah sampai rumah. Itu jangan lupa dipanasin langsung lauk dan sayurnya biar nggak basi. " ucap Yuni ketika Ningrum menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Iya budhe, Assalamualaikum... "
"Waalaikum salam. "
Sekitar setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah.
Setelah Ningrum melangkah turun untuk membuka pintu rumah mereka, Aksa menjalankan kembali mobil tersebut agar masuk ke garasi -nya.
"Mas, mau makan lagi? Kalau iya biar aku panaskan lauknya buat mas. " tanya Ningrum, ketika melihat sang suami memasuki kamar mereka.
"Masih kenyang Rum... Mas bersih-bersih dulu ya, " pamit Aksa berlalu ke kamar mandi pribadi mereka. Sedangkan Ningrum segera memindahkan segala lauk sayur yang dibawa dari rumah tantenya, lalu memanaskan sebentar.
Setelah selesai, Ningrum ikut masuk ke kamar lalu membersihkan wajahnya dari sisa-sisa make-up. Lalu menyisir rambut halusnya.
Beranjak dari kursi rias, Ningrum meraih sebuah remot TV. Kemudian ia duduk di sofa double sambil menunggu sang suami keluar dari kamar mandi.
Ketika asyik memilih chanel televisi, terdengar suara nada panggil dari ponsel milik Aksa yang teronggok di meja kecil samping sofa tersebut.
Ningrum melongokkan kepala, melihat siapa yang telah memanggil suaminya melalui ponsel itu.
My little wife
Tanpa bertanya pun, Ningrum sudah paham siapa yang dimaksud pada kontak nama itu. Tiara, batin Ningrum kemudian.
Bertepatan Aksa keluar dari kamar mandi.
"Loh, kok nggak diangkat sayang..?" tanya Aksa sambil menggosok rambutnya yang agak basah dengan handuk kecil.
"Tiara mas. Mungkin dia mau tanya dah sampai belum. " sahut Ningrum sambil menyerahkan ponsel tersebut ke tangan suaminya.
"Kan bisa kamu angkat sekalian, siapa tahu penting, "
"Enggak ah mas, itu kan privasi antara mas dan Tiara. Nggak sopan kalau aku langsung nyelonong aja. " jawab Ningrum sambil tertawa mengejek. "cepat diangkat, kasian itu Ara-nya. "
Aksa segera mengangkat panggilan dari Tiara, sambil mendudukkan dirinya di samping Ningrum berada, dengan mengangkat salah-satu kaki kirinya lalu ia tumpangkan di atas kaki kanannya. Sedangkan lengan kanan kirinya merangkul bahu mungil milik istrinya. Sebagai kode, Ningrum meletakkan kepalanya bersandar ke bahu kiri suaminya.
"Iya sayang. Ada apa? "
"Abang udah sampai rumah? "
"Sudah, baru aja ini kami udah masuk kamar. Ada apa, hheemmm? "
"Kangen. "
Sampai di situ, Aksa tertawa lirih, membuat Ningrum menengokkan kepalanya sedikit ke arah Aksa. Karena peka Aksa langsung mengelus lembut rambut milik Ningrum, sambil mengedipkan salah-satu matanya sebagai godaan.
"Ganjen. " sahut Ningrum sangat lirih.
Yang dibalas kecupan mesra di pucuk kepala Ningrum.
"Bener nih kangen? " sahut Aksa melanjutkan obrolannya dengan istri ke-dua-nya. Tetapi, tangannya masih sibuk mengelus rambut ataupun pundak sang istri pertamanya.
"Ya udah kalau nggak percaya. Selamat malam... "
"Eeehhhh... Jangan ngambek gitu sayang. Kan tadi udah abang ajak pindah ke sini, tapi adek menolak lagi kan? Terus gimana? Apa perlu abang membelah diri abang macam amuba? " kata Aksa sambil bercanda. Tidak menolak atau mau munafik, Aksa sangat bangga dicemburui bahkan ada yang secara terus-terang bilang kangen padanya.
"Ish. Malah becanda. Ya sudah lah aku mau tidur. Selamat bersenang-senang di situ. " sahut Tiara ketus.
Aksa menghela nafas pelan, mendengar perkataan istri kecilnya itu. Cemburunya begitu terlihat secara kasat mata, padahal mereka sedang berjauhan dan saling tak melihat.
"Langsung tidur ya dek. Besok abang jemput. " ucap Aksa lembut.
"Assalamualaikum. "
"Waalaikumsalam. "
Aksa segera meletakkan ponsel ke tempat sebelumnya.
Melihat sang suami sudah meletakkan ponselnya kembali, Ningrum lalu non aktifkan televisi-nya.
"Kenapa dimatikan? " tanya Aksa sambil memandang wajah istrinya dengan manja.
Semenjak menikahi Tiara, Aksa memang terlihat sangat berbeda. Aksa semakin mesra dan perhatian serta sayang kepada Ningrum. Perlakuannya pun selalu berhasil membuat Ningrum terpesona dan jatuh hati berkali-kali. Sebagai wanita, Ningrum bukan tidak pernah cemburu, namun demi sekeping hati sang suami yang telah jatuh cinta pada seorang gadis, Ningrum berusaha mulai menikmati perannya sebagai istri tertua. Toh, sang suami tak pernah lupa ataupun menelantarkannya.
"Mas pasti capek kan? Seharian tadi mengurus market dan cafe kita. Biar aku ambilkan air mineral dulu... "
"Ssttt... Duduk dulu sini. Emang kamu nggak kangen sama mas? Mau pergi aja? Tiga malam tanpa mas nggak buat kamu kangen? " dan perkataan Aksa sukses membuat Ningrum merona malu.
"Kangen. Tapi mas kan capek. Masih ada waktu dua malam lagi sebelum mas pindah lain istri lagi. " ucap Ningrum lembut.
"Kalau aku mau kamu sekarang , gimana? Apa kamu nolak? " tanya Aksa semakin menggoda.
"Aku tak akan pernah berani menolakmu mas. Mas pasti tahu itu, " jawab Ningrum lembut. Mata indahnya menatap Aksa dengan sayu, terlihat jelas kerinduan di kedua bola matanya. Rindu dan cinta menjadi satu.
"Iya. Mas tahu. Bantu mas melepaskan rasa ini ya. Mas kangen kamu. " bisik Aksa di telinga Ningrum. Yang otomatis membuat Ningrum merinding malu. "mas ingin menjadikan kamu, ratu malam ini. "
Ningrum pun hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan. Bibirnya sudah kelu dengan perlakuan manis suaminya. Bahkan detak jantungnya serasa tidak normal ia rasakan. Bertahun-tahun menjadi istri Aksa, tak membuat Ningrum bisa membuang sikap malu-malu meong-nya.
Setelah mendapat kode balasan dari sang istri, Aksa segera mengangkat tubuh Ningrum dengan membopongnya di depan dan membawanya ke kasur king size mereka.
"Aku menyayangimu Rum... Selamanya. " bisik Aksa lembut.
Setelah itu, biarkan bintang-bintang yang mengintip ibadah mereka.
Menjadi saksi kisah kasih mereka sebagai pasangan yang halal.
.
Bersambung....