Suasana cafe milik Aksa begitu ramai siang itu. Yang datang pun, bisa dari kalangan pekerja kantor, pelajar, ataupun umum. Disaat jam istirahat seperti itu, akan menjadi tugas tambahan buat karyawan cafe agar lebih giat dan semangat melayani para pelanggan dan pembeli.
Nampak Ningrum duduk di kursi putar dekat pantry. Para karyawan paham, istri dari atasan mereka memang sangat suka duduk di sana ketika datang berkunjung.
"Dah lama Rum? " sapa seorang wanita yang seumuran dengan Ningrum, setelah itu ikut duduk di sebelahnya.
Ningrum yang disebut namanya hanya melirik sekilas ke arah wanita itu,
"Baru juga, " jawab Ningrum santai sambil memainkan sedotan dalam gelas jus buahnya. "mau minum apa Mel? Bilang aja langsung ke Bima, biar dibuatin. " lanjut Ningrum.
Wanita yang bernama Melda itupun menganggukkan kepala setelah menaruh tas slempangnya di atas meja bar. "naik apa kemari Rum. Kok aku nggak lihat motor kesayangan kamu di tempat parkir sana? "
"Oh. Aku diantar mas Aksa tadi, sekalian dia mau ke tempat kerjanya Tiara... "
"Weesss... Enak bener itu si bapak Aksa ya, saat beristri dua. " tukas Melda setengah julid.
"Jangan gitu ah Mel... Itu suamiku loh kalau kamu lupa. " ucap Ningrum, namun sangat jelas tercetak senyum simpulnya.
"Iya deh... Maaf. Mulutku suka hilang sensor kalau ada tema poligami. " elak Melda sedikit cuek.
"Udah. Lebih baik kamu pesan gih sama Bima. Biar mulut kamu nggak panasan gitu. " lanjut Ningrum menghentikan kejulidan Melda.
Melda hanya menganggukkan kepala tanda setuju ucapan Ningrum.
"Bim! Jus buah naga satu ya, sama bikinkan banana cokelat. " seru Melda pada Bima, pegawai Aksa bagian dapur.
"Siap kak. " jawab Bima setengah berseru. "nggak pakai lama ya?! " seru Melda kembali, yang dibalas acungan jempol kanan Bima.
"Eh, ada apa nih senyum-senyum sendiri dari aku datang tadi... Aku perhatikan loh, ada yang berbeda yang buat kamu senang hati ya Rum? " tanya sahabat Ningrum itu. Sifat yang ingin tahu dari Melda sudah tidak asing bagi Ningrum.
Ningrum yang kepergok sedang berbunga hatinya langsung mengusap wajahnya karena malu. Dan buru-buru menyesap jus miliknya. Percintaannya semalam bersama sang suami masih membekas dalam di hatinya.
"Aku kan lagi bahagia Mel... Kamu kepo juga ya? Merusak fantasi-ku saja. " jawab Ningrum kembali santai. Tetapi, terdengar dari suaranya, ia begitu berusaha menyamarkan groginya.
Melda langsung mencondongkan kepalanya ke arah Ningrum, "apa, apa? Bagi tahu dong... Sumpah loh wajah kamu terlihat berseri-seri begitu? Seperti pengantin baru saja loh? Padahal ya, baru aja kemarin kamu sah punya seorang madu. "
"Salah satu ya itu, karena aku punya madu Mel... Makanya kebahagiaanku semakin nyata dan bertambah, " jawab Ningrum ambigu.
"Ada apa nih? Cerita dong, kamu dah bikin aku kepo nih... Bisikin aja sini, kalau kamu malu. " ucap Melda sambil menggoda. Semakin merayu Ningrum untuk segera buka mulut. Sedangkan Ningrum semakin merona malu.
Ningrum kembali menyesap minuman yang ada di depannya, setelah itu pandangannya beralih ke arah sahabatnya, sahabat baru yang ia kenal setahun yang lalu. Mereka sama-sama yatim piatu. Tetapi, Ningrum lebih beruntung, karena walau pun yatim-piatu, Ningrum masih sempat diasuh oleh budhe-nya. Ningrum juga telah mempunyai suami yang pengertian dan perhatian serta sayang terhadap istrinya. "bener ingin tahu? " tanya Ningrum kemudian.
Melda mengangguk dengan antusias sebagai jawaban.
"Mas Aksa makin buat aku jatuh cinta berkali-kali Mel... " awali cerita Ningrum yang seakan tidak pernah ingin melepas senyum bahagianya. "semalam saat dia pulang ke rumah, dia berubah banyak, mas Aksa begitu mendamba diriku seakan aku ratunya malam itu... Aku sampai kehilangan kata-kata karena terlalu takjub akan perlakuannya, Mel " jelas Ningrum dengan rona bahagia di wajah cantiknya. Sungguh itupun juga terlihat dari pijar binar di kedua bola matanya. Binar kebahagiaan yang tulus.
Melda semakin yakin, kalau sang sahabat benar-benar sedang bahagia lahir-batin.
"Bukankah dari dulu, mas Aksa emang begitu lembut dan perhatian padamu? "
"Iya, itu memang benar, tapi dulu-dulu dan kemarin-kemarin mas Aksa saat ingin menyentuhku , aku merasa karena itu bagian tanggung-jawab dia dalam hal nafkah batinku. Selesai, ya kelar begitu saja. Tapi semalam itu sangat berbeda dan terasa luar biasa sekali buat aku Mel... Aku bukan munafik, aku sangat tahu kalau mas Aksa menikahi Tiara itu memang mas Aksa mencintainya. Aku sempat takut saat mengokohkan hatiku menerima Tiara sebagai maduku. Apakah mas Aksa akan berubah dingin padaku. Apakah Tiara akan benar-benar membuat mas Aksa berubah padaku. Semalam... Saat kami melakukan itu, hatiku sempat takut, aku takut kalau mas Aksa akan salah menyebut namaku. Tapi kamu tahu nggak Mel... Selain mas Aksa sangat mempesona tadi malam, dia berulang-ulang kali menyebut namaku dengan sadar dan bahagia. Aku sangat merasakannya itu... "
"Serius Rum? Waahhh uuwuuuu banget sih. Jiwa jomblo aku ikut panas dingin loh dengar ceritamu ini. Eh, tapi, ini baru tapi ya? Bukan mau ngomporin kamu. Mas Aksa berubah manis begitu bukan karena menutupi kesalahannya karena ber-poligami , kan Rum? "
"Mas Aksa nggak salah Mel. Dari awal mas Aksa memang udah jujur padaku, ada seseorang yang membuat dia tak bisa tidur atau tak enak makan. Bahkan Tiara juga nggak tau tentang perasaan mas Aksa itu. Kami yang telah memaksa Tiara masuk pada kehidupan kami. Setahun aku meminta waktu pada mas Aksa untuk melapangkan hati dan menerima Tiara sebagai madu-ku. Mas Aksa begitu menghormati aku Mel, dalam penantian menunggu ijin dariku dia tak pernah berubah atau marah dendam padaku, kau tahu Mel? Itu yang membuat aku rela membagi kasih-sayang suamiku dengan perempuan lain yang dicintainya. Jadi, bagiku, suamiku tak bersalah, bahkan setelah pernikahan ke-duanya, mas Aksa semakin bersemangat menjerat hatiku. Mas Aksa akui, kalau ia akan membuat kedua istrinya selalu jatuh cinta padanya, agar kami para istri tak pernah berpikir atau berniat meninggalkan dia nantinya... " jelas Ningrum panjang-lebar, sedangkan Melda hanya mampu mengangguk-anggukkan kepalanya tanda kagum akan sahabatnya itu.
"Kenapa kamu nggak cerita dari awal ke aku yang masalah suamimu jatuh cinta sama perempuan lain? "
Ningrum tersenyum santai, mengerti apa yang dimaksudkan oleh Melda, "itu rahasia suamiku Mel, yang belum bertemu dengan jalannya. Nggak mungkin aku umbar-umbar ke kamu kan? Sekarang aku jelaskan begini, karena apa? Karena aku nggak mau kamu berpikiran buruk terus pada suami aku. Dan lagian, saat itu kita baru saja kenal dan dekat kan? Nggak etis kalau aku buka kartu suamiku. " jawab Ningrum bijak.
"Ya maaf, kalau aku udah sempat julid tadi. Aku kan belum berpengalaman... " ucap Melda setengah mengeles.
"Iya. Aku ngerti kok... " saat Ningrum berbicara, suara ponselnya memecah perbincangan mereka.
"Siapa? " tanya Melda.
"Mas Aksa. " jawab Ningrum singkat, namun sangat jelas senyum bahagianya kembali muncul. Sangat kentara di wajah cantiknya itu.
"Kamu seperti orang yang sedang jatuh cinta saja Rum. " goda Melda kepada sahabatnya itu.
"Sssttt... Pangeran aku manggil nih... Kamu silent dulu ya. " ucap Ningrum, yang dibalas anggukan dan kode jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf O.
"Assalamualaikum mas, "
"Waalaikum salam sayang... Udah makan siang? "
Sungguh sangat receh hati Ningrum, ditanya hal seperti itu sudah membuat hatinya semakin melayang-layang. Begitu pandainya seorang Aksa membuatnya berdebar selalu.
"Belum mas, masih ngobrol sama Melda. "
"Jangan ditunda-tunda makannya Rum. Ingat, kamu punya masalah sama lambung loh, "
"Iya mas. Aku ingat kok. Mas jangan khawatir. "
"Apa perlu mas balik ke cafe? Biar kamu selera makan? "
"Eh. Nggak perlu mas, mas lanjutkan aja makan siang sama Tiara, mas udah janji kan sama dia. "
"Udah mas selesaikan kok, janji mas sama istri kecil mas itu, Tiara juga udah mas antar ke kantornya lagi. "
"Ya udah kalau gitu. "
"Udah apanya? Mas belum ngapa-ngapain loh. "
Seketika pipi Ningrum merona malu karena digoda oleh suaminya seperti itu.
"Mas sengaja ya godain? "
"Enggak. Serius ini. Emang sayang lagi mikir apa tentang mas? "
"Eh. Nggak mikir apa-apa kok. " elak Ningrum cepat. Tetapi wajah malu nya begitu nyata terlihat. Dan diujung sana, Aksa tersenyum simpul mengetahuinya. Aksa sangat paham akan ekspresi malu-malu istri pertamanya itu.
"Oke, mas susul ke cafe. "
"Loh, ngapain mas mau ke sini? "
"Kangen. "
Singkat jawaban Aksa dan bertepatan ia tutup panggilan teleponnya.
"Ceileehhh... Yang lagi puber ke-dua. Senyum terooossss... " goda Melda, setelah Ningrum meletakkan ponsel di meja bar.
"Kamu nggak suka lihat teman kamu bahagia Mel? " tanya Ningrum membalas godaan sahabatnya itu.
"Suka Rum. Aduh, bahagia tapi bisa sensitif juga kamu ini. Eh, apa kata mas Aksa, sampai buat kamu senyum malu-malu nggak jelas begitu. "
"Mas Aksa mau ke sini katanya. " jawab Ningrum singkat.
"Mau ngapain. Bukan mau mesra-mesraan kan. Ada aku loh di sini, " sahut Melda kembali.
"Kangen, katanya. " jawab Ningrum lirih bercampur malu.
"Fix, kalian sedang jatuh cinta. "
Dan itu cukup membuat Ningrum tak berhenti tersenyum bahagia, bahkan ketika Aksa belum sampai di hadapannya, Ningrum sudah salah tingkah dan gugup.
"Udah. Kaya perawan aja ah... Slow baby... Eh, lagian kan ya, kalian loh bisa saling mencintai sedalam ini, itu kenapa mas Aksa pakai kawin lagi sih..? "
"Kamu nggak tahu apa yang aku rasa selama ini... Mas Aksa bukan hanya pahlawan bagiku diawal aku yang sempat hilang akal dengan perlakuan si Tommy dulu. Mas Aksa juga menjadi teman hidup yang sangat mengerti dengan keadaanku yang saat itu seperti orang gila. Aku tahu, dulu dia menikahi karena ingin menyelamatkan aku. Jika sekarang, dengan menikah lagi bisa membuatnya makin sayang padaku, aku bahkan berniat akan berterimakasih secara tulus pada adek maduku itu... Mencintai memang rumit Mel... Banyak jalan yang setiap insan lalui dan dapat. Mungkin sudah begini takdirku, mendapatkan secara utuh cinta kasih sayang suamiku, setelah aku ikhlas berbagi pada wanita yang ia cintai. Kamu tak akan mengerti, karena kamu tak di posisi kami. Bagiku adalah, cinta itu keikhlasan. " ungkap Ningrum panjang kali lebar.
"Dan ku mohon sebagai sahabat aku, kamu jangan memperolok-olok lagi suamiku, dia itu imamku dan panutanku. Sejelek apapun orang lain menilainya, aku akan tetap melihatnya sebagai super hero-ku. " tambah Ningrum kemudian.
"Oke, oke... Maaf sekali lagi yaaa, hah, mulutku sungguh nyinyir sekali ini. " sahut Melda sambil menepuk-nepuk mulutnya.
"It's oke Mel... " ucap Ningrum kembali tersenyum mengerti.
"Dan satu lagi, aku nggak mau serakah dalam hidup aku Mel, sudah cukup aku menerima segala perhatian dan kasih sayang mas Aksa... Kenapa aku mesti meminta lebih dengan cara menguasai dirinya seutuhnya... " lanjut Ningrum bijak dan anggun.
*****
Malam di kota tempat Aksa, Ningrum dan Tiara tinggal, sedang cerah dan sejuk. Bintang-bintang pun ingin berebut keluar dari peraduannya, agar bisa ikut menghiasi langit malam. Sedangkan bulan masih segaris alis nampak terlihat, menandakan masih di tanggal muda kalender.
Sepasang suami istri sedang berada di dalam mobil dan mobil itupun membelah jalanan kota itu. Berjalan dengan santai.
Tangan Aksa sesekali mengelus puncak kepala Ningrum. Rona-rona bahagia menyelimuti mereka berdua.
"Kenapa mas? Ada yang miring ya bentuk kerudung aku? " tanya Ningrum penasaran, karena terlihat sesekali sang suami melihat ke arahnya dan tersenyum nakal.
"Cantik. "
"Siapa? "
"Kamu dong sayang... " jawab Aksa gemas, lalu mengambil telapak tangan kanan Ningrum lalu secepat kilat ia kecup telapak tangan yang berjari lentik lembut itu, "cantik dan wangi. " sambung Aksa lagi.
"Gombal. " sahut Ningrum malu.
"Apa kamu dan Tiara janjian? "
"Hah, janjian apa mas? "
"Setiap aku sebagai suami kalian ingin romantis, kalian selalu bilang mas gombal. "
"Ya karena mas jago gombal. Nggak nyadar? " sahut Ningrum sambil melirik suaminya dengan tatapan menggoda.
"Oh begitu. Jadi, kalian tak suka mas romantis? "
"Eh. Suka. " sahut Ningrum cepat bahkan tanpa malu lagi, namun setelah itu ia buru-buru menutup mulutnya dengan semburat malu di pipinya.
Karena gemas, Aksa spontan mengacak-acak lembut kepala Ningrum yang terbalut kerudung warna tosca.
Mobil Aksa sudah memasuki pekarangan rumah orangtua-nya. Setelah berhasil menarik hand rem mobilnya, Aksa membuka pintu mobil, "kamu ikut turun atau ikut masuk Rum? " tanya Aksa sesaat kaki kanannya ia turunkan ke tanah.
"Di sini aja ya mas, oh ya aku pindah duduk belakang ya? "
"Kenapa? "
"Nggak pa-pa, biar Tiara yang di depan dengan mas. " jelas Ningrum santai.
"Senyaman kamu aja sayang, mas ke dalam lihat Tiara dulu dah siap apa belum ya? " pamit Aksa ke Ningrum untuk masuk ke dalam rumah, yang dibalas anggukan ringan oleh Ningrum.
"Assalamualaikum. " salam Aksa setengah berseru.
Aksa melihat papa-mama nya sedang berduaan di ruang keluarga sambil menonton TV. Di usia senja , mereka masih nampak mesra dan romantis.
"Waalaikum salam, Sa. " jawab Hendra, papanya Aksa.
"Loh, sendiri Sa? Bukannya mau bareng Ningrum juga? " tanya Vina, mamanya Aksa sesaat melihat anaknya akan berlalu ke kamarnya.
"Ada ma. Di mobil. Kami nggak lama mampir. Ini mau jemput Tiara dulu. " jawab Aksa sambil segera berlalu ke arah kamarnya Tiara yang juga kamar miliknya.
"Oh... Pa, mama samperin menantu mama dulu ya? "
"Oke ma. Salam papa buat Rum. " sahut Hendra kemudian.
Aksa membuka pintu kamarnya sangat pelan, saat melihat ke dalam, Tiara sedang menyapukan bedak di pipinya.
"Ehemm! "
Spontan Tiara menengokkan kepala ke arah suara deheman tersebut.
"Abang! " seru Tiara senang, dan langsung menghambur ke arah sang suami. Lalu memeluknya dengan sangat erat. Seolah-olah sudah lama tak berjumpa.
Aksa pun dengan senang hati membalas pelukan istri kecilnya itu. Mengusap-usap lembut punggung ramping milik sang istri.
"Kangen. " ucap Tiara manja dan lucu.
Aksa menanggapi ucapan Tiara sambil tertawa renyah. Apapun itu, kehadiran Tiara memang membuat hatinya berbunga dan bahagia. Tiara yang selalu langsung bisa melepaskan ekspresi yang sedang ia rasakan. Berbeda dengan Ningrum yang selalu malu-malu untuk mengakui isi hatinya.
"Baru sore tadi ketemu kan dek? Udah kangen aja, hemm? "
"Iya, kangen, pake banget. " sahut Tiara semakin mengeratkan pelukannya.
"Iya. Abang percaya. Nah, sekarang, kita keluar ya, udah siap kan? " tanya Aksa yang dibalas anggukan kepala Tiara .
"Kalau gitu kita keluar. Mba Rum udah nunggu di mobil. "
"Kok nggak masuk? "
"Biar kita bisa langsung berangkat. Kalau pakai masuk dulu pasti lama-lama bakal ditanya-tanya sama papa mama. "
"Oh. "
Aksa meraih jari jemari tangan kiri Tiara, lalu membawa istri kecilnya keluar dari kamar.
Mereka bertiga berencana pergi ke undangan pesta resepsi pernikahan teman kuliah Aksa, karena di undangan tertera namanya plus istri, maka Aksa berinisiatif membawa serta ke-dua istrinya.
Acara pesta pernikahan yang sedang digelar tersebut sangat mewah dan meriah. Acara itu dilaksanakan di sebuah hotel berbintang lima.
Dengan santai dan berwibawa, Aksa nampak menggandeng ke-dua istrinya, di kiri dan kanannya. Layaknya raja dan ratu-ratunya.
"Kenapa orang-orang melihat ke arah kita ya bang, " tanya Tiara seperti merasa tidak nyaman. Merasa risih karena setiap pasang mata seolah menatap mereka bertiga.
"Mereka sedang kagum sama kita bertiga, dek. " jawab Aksa santai.
"Kamu nggak nyaman kah Ra. Kita di belakang mas Aksa saja kah? " sahut Ningrum bertanya pada Tiara, namun disahut langsung oleh sang suami.
"Tetap seperti ini saja. Kalian berdua istri aku, jadi harus terus pegang tangan abang ya. "
"Ish, kalau mau makan masa harus digandeng? " sahut Tiara cepat.
"Ya kan kalian bisa bergantian nyuapin suami kalian ini, " jawab Aksa menggoda ke-dua istrinya.
"Hadeh, itu mah maunya mas. "
"Iya bener, mba. Itu mah abang yang memang sukanya modus. " sungut Tiara sedikit sebal dan kesal.
Yang pada akhirnya disambut tawa renyah oleh Aksa. Ternyata bersama mereka berdua jiwa Aksa seakan muda dan strong kembali. Sungguh naif dan berwibawa dalam waktu yang bersamaan. Tidak pernah menyangka dalam hidup Aksa bisa merasakan kedamaian dan ketenangan beristrikan dia wanita.
Tetapi kemudian, ada suara asing dan tak mengenakkan masuk ke gendang telinga mereka bertiga. Bahkan mungkin, pada sebagian telinga para tamu undangan yang ada dekat di sekitar mereka itu.
"Wah! Wah! Wah! Yang dulu sok -sokkan jadi pahlawan kesiangan, sekarang udah jadi pengoleksi selakangan juga ya?! "
.
Bersambung,