Seketika itu, gerak langkah Aksa, Ningrum, dan Tiara pun terhenti setelah mendengar ucapan seseorang yang ada di belakang mereka.
Aksa spontan membalikkan badan ke arah suara yang secara terang-terangan menghina dan memberi fitnah kepadanya.
Sedangkan Ningrum dan Tiara otomatis berpindah posisi di belakang badan Aksa, Ningrum dengan erat menggenggam telapak tangan kanan Tiara. Bahkan sekarang terlihat memucat pasi di wajahnya. Sedangkan Tiara masih bingung dengan apa yang baru saja ia dengar. Sosok yang ada di hadapan mereka itu, belum pernah sama sekali ia lihat.
Aksa memandang seseorang itu dengan tatapan kurang bersahabat. "Masih saja ya, kau sungguh naif dari dulu, tak mau berubah. Omonganmu seperti bukan orang yang berpendidikan. " kata Aksa santai namun berusaha meredam emosinya. Terlihat dua sisi telapak tangannya mengepal erat tanda ada kemarahan yang ingin ia salurkan.
"Berani juga kamu menampakkan wajah di hadapan Ningrum dan kami lagi. Kalau aku seperti pahlawan kesiangan, maka kamu adalah pecundangnya. " lanjut Aksa setengah mencemooh. Mantan sahabatnya ini sejak dahulu tidak pernah mau berubah. Selalu ingin menang sendiri dan suka berbuat sesuka hati.
"Kenapa diam Tommy? Sepertinya mengungkit masa-lalu yang sudah kami lupakan itu tidak etis kan? Sedangkan kamu tahu, sumber penyakit dan masalah itu siapa? " lanjut Aksa dengan formal, ia berusaha tidak menampakkan hatinya yang sudah tersulut emosi.
Ningrum pun menarik lengan suaminya, mengelus lengan kekar itu dengan lembut. "Udah mas, jangan diladenin. Nggak enak dilihatin tamu lain. " bisik Ningrum pada Aksa.
"Wanita yang sok bijak dan sok suci. Dulu kamu menentang hubunganku dengan Cintya. Sekarang? Wah wah wah... Bahkan dengan suka hati ya kamu jalan dengan madu kamu ini. " ucap Tommy seolah meremehkan Ningrum yang ternyata mantan istri pertamanya.
Nampak Ningrum memejamkan mata sejenak. Bayangan kelam masa lalunya seakan berputar-putar kembali di ingatannya. Bayangan yang sudah berhasil ia lupakan, namun harus teringat kembali karena kehadiran mantannya itu.
"Rum. Jangan dipikir lagi. Ingat, perjuangan kamu dulu melupakan si berengsek ini. " desis Aksa, sambil meraih kepala Ningrum, lalu mengecup lembut puncak kepalanya.
"Mba, bang... Sebaiknya kita ke pelaminan. " ucap Tiara menengahi, karena mereka sudah menjadi bahan tontonan para undangan yang ada di dekat mereka itu.
Aksa yang mendengar ucapan Tiara pun tersadar, meraih jemari Tiara juga, lalu membawa mereka ke arah pelaminan, di sana ada mempelai laki-laki yang menjadi sahabat Aksa.
"Maaf Lex. Ada insiden kecil. Aku dan Ningrum nggak nyangka aja, Tommy ada di undangan ini juga. " ucap Aksa saat sudah memberi ucapan selamat pada sahabatnya itu.
Alex hanya bisa mengusap bahu Aksa sahabatnya, untuk memberi dukungan.
"Aku yang harusnya minta maaf Sa. Aku udah undang dia ke acara pernikahan kami ini. Yang sebenarnya, Cintya ternyata teman istri aku juga. Mereka kenal di tempat kerja istriku. " balas Alex merasa tidak enak hati kepada sahabatnya itu, "maaf juga ya Rum. Undangan itu sebenarnya kami tujukan buat Cintya, aku pun belum paham, kalau Cintya yang istriku maksud, adalah Cintya yang kita kenal. "
"Nggak pa-pa mas Alex. Aku juga udah bisa ngendaliin perasaanku. Dan lagi pula, kejadian itu udah lama banget. Aku cuma shock aja bisa ketemu mereka berdua di sini. "
"Kami turun ya Lex... Nggak enak sama tamu lain. "
"Oke Sa. Makasih ya kalian udah datang. Mba Tiara, makasih juga ya... Dicicipi loh hidangannya. "
Tiara hanya menganggukkan kepala sedikit dan tersenyum canggung. Ia belum terlalu akrab dengan semua sahabat-sahabat suaminya tersebut.
"Mas, kita langsung pulang aja ya. Aku dah nggak nyaman di sini. " ucap Ningrum kala kaki mereka akan melangkah ke arah meja-meja prasmanan.
Aksa menghentikan langkahnya, membuat ke-dua istrinya pun ikut berhenti juga.
Aksa menunggu sampai Ningrum berbicara kembali, namun yang ditunggu hanya menundukkan kepalanya.
"Rum? Hei? " tegur Aksa sambil mengangkat dagu runcing istri pertamanya itu. "Kenapa? Hmm... Kamu masih takut sama mereka? "
Ningrum menggigit bibirnya, seperti menahan sesuatu. Bahkan ke-dua mata indahnya sudah berkaca - kaca. "Sssttt... Oke, kita pulang ya, maaf kalau mas nggak cepat respon kamu. Kalau bisa, mas pengin ledakkin kepala si berengsek itu. " dengus Aksa menahan kesal dan amarah.
"Bang, udah kita balik aja ke mobil. Kasian ini mba Rum, sampai gemetar begini. " potong Tiara sambil memeluk separuh badan kakak madu- nya itu, sedangkan tangan yang lainnya menggenggam telapak tangan Ningrum yang mulai dingin dan gemetar.
"Baiklah. " Aksa ikut menggamit sebelah badan Ningrum. "Atur nafas kamu Rum. Udah jangan dipikir atau diingat. Mereka bukan siapa-siapa kamu. " ucap Aksa lembut, dan mereka pun melangkah keluar dari gedung acara resepsi itu.
"Tapi, gara-gara mereka, calon anakku pergi mas. Mereka merenggut hartaku, hatiku dan cinta yang ku punya. Mereka keterlaluan. " desis Ningrum mulai bersuara serak. Menahan isakkan tangis mungkin sangat menyesakkan dadanya.
Ketika mereka sama-sama akan masuk ke mobil, yang posisi sudah berubah, Tiara yang duduk di kursi penumpang bagian belakang, sedangkan Ningrum ada di jok bagian depan sebelah Aksa, seseorang menarik tangan kiri Ningrum.
Spontan Ningrum menjerit terkejut. Aksa yang belum sempat masuk pun kaget, lalu berlari ke arah istri pertamanya itu.
Buggg!
"b*****t lo,Tommy! Berani kamu sentuh istri gue! " maki Aksa, ketika berhasil membuat laki-laki itu tersungkur.
Tommy nampak mengusap sedikit dadanya yang terkena pukulan Aksa. Lalu berusaha berdiri kembali. Sorot mata yang selalu terlihat meremehkan.
"Munafik kamu Rum. Saat bersamaku kamu menolak aku untuk menjadikan Cintya istriku juga. Sekarang, apa bedanya aku dan suami kamu itu? " ucap Tommy sambil menatap lurus ke arah Ningrum, bahkan ia tidak menghiraukan Aksa, suami sah Ningrum.
Ningrum berusaha menguatkan diri dan hatinya, untuk bisa melawan cemoohan mantan suami pertamanya itu.
Ningrum nampak mendekat ke arah Tommy, "Rum, nggak usah kamu ladenin manusia berengsek ini. Ingat kesehatan kamu Rum. " bisik Aksa ke telinga Ningrum, ketika melihat istrinya itu akan melangkahkan kaki ke arah Tommy.
"Tom. Aku udah ikhlas dan move on dari kamu jauh-jauh hari. Tentang sekarang aku yang mempunyai madu itu, itu bukan urusan kamu. Mas Aksa berbeda dengan kamu. Suamiku tak pernah mencuri kesempatan dariku, dia menikah kembali karena baik memintanya dariku. Bukan seperti kamu. Kamu dan Cintya berkhianat di belakang aku. Kamu pun jahat dan kasar padaku. Asal kamu tahu, aku benci padamu. " ucap Ningrum panjang lebar dengan suara yang berapi-api. Walau suaranya terdengar serak dan patah, Ningrum ternyata cukup kuat melawan Tommy.
"Pergilah Tom. Aku dan Ningrum sudah tak ada urusan lagi denganmu! " sergah Aksa ketika melihat Tommy ingin membalas ucapan istrinya itu.
"Tommy! Ngapain kamu di situ! " suara yang cukup nyaring menginstrupsi mereka. Tiara yang tidak tahu menahu apa yang telah terjadi, hanya bisa menonton pertikaian mereka dari dalam mobil. Bukan tidak ada respek untuk madu-nya, namun kehadirannya pun tak akan ada gunanya. Sudah ada Aksa yang siaga menjaga Ningrum.
"Aku tinggal sebentar kamu ke toilet, ternyata kamu di sini. " semprot istri Tommy dengan suara judes, untungnya mereka ada di lahan parkir mobil, jadi tidak terlalu mengundang kecurigaan orang lain.
Saat Cintya meraih tangan Tommy, suaminya itu bahkan menepisnya.
"Kamu kenapa sih Tom? Nggak ada gunanya kamu ngurusin mantan kamu itu. " dengus Cintya kesal. "Dan kamu Rum. Nggak usah kegeeran, kalau suamiku mendekati kamu lagi. Tommy hanya penasaran sama kamu. "
"Jaga ucapan kamu. Mulutmu nggak ada hak mencerca istriku. Bawa suami kamu pergi dari sini. Perebut dan pecundang cocok kalau bersatu. " maki Aksa dengan tatapan bengis. "Dan kamu Tom. Ajari istri kamu sopan, kalau nggak gue yang kasih hadiah tamparan buat dia. "
"Cuihhh. Nggak usah sok suci lo. Lihat kelakuan lo juga sama. Bangga kali punya istri dua. " tantang Cintya meremehkan.
"Stop! Lo berucap sekali lagi, gue robek mulut lo Cin! Pergi nggak. Gue neg lihat muka kalian berdua. Jangan sama-samain suami gue sama suami lo. Mereka jelas berbeda. Pergi! Kalian! " jerit Ningrum kalap. Bahkan Aksa sampai menariknya ke pelukan. "Suruh mereka pergi, Mas. Aku nggak mau lihat lagi. Mereka kejam mas " ucap Ningrum sambil terisak-isak. Runtuh sudah benteng pertahanannya.
Entah, karena sudah puas atau tidak nyaman melihat Ningrum menangis di pelukan suaminya, yang juga mantan sahabatnya itu, Tommy menarik lengan Cintya untuk segera berlalu dari hadapan mereka. "Awas ya kalau kamu berani dekatin dia lagi. "
"Apa sih. Nggak usah bawel deh. " samar-samar masih terdengar suara Tommy dan Cintya masih berdebat.
"Udah. Mereka udah pergi Rum. Ada aku, kamu jangan takut. Oke? Kamu jangan pedulikan lagi ocehan mereka. " ucap Aksa sambil mengusap-usap punggung Ningrum.
"Kita pulang ya? Biar kamu bisa segera istirahat. " lanjut Aksa mencoba membuat tenang Ningrum.
"Mas, kalau Tommy ganggu aku lagi gimana? " tanya Ningrum serak dan masih agak gemetar.
"Ada aku. Aku tetap hero kamu. Selamanya. "
"Janji? "
"Janji. " jawab Aksa yakin, lalu mengecup mesra kening Ningrum. "Tahu nggak kamu keren tadi. Bisa membalas kata sampah milik mereka. "
"Tapi aku nggak mau ketemu mereka lagi mas. "
"Iya. Aku usahakan, kita tak akan bertemu mereka lagi. "
Ningrum yang masih dalam keadaan ketakutan pun memeluk erat tubuh Aksa, suami dan pahlawannya di masa lampau. Aksa pun membalas pelukan istri pertamanya itu, dan sejenak mereka lupa, masih ada Tiara di antara mereka berdua.
Ada rasa pedih di hati Tiara. Melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Mereka, Aksa dan Ningrum begitu dekat dan erat bahkan tak akan terpisahkan. Mereka bagaikan pintu dan kuncinya.
Tiara bisa melihat itu semua. Bila cinta di hatinya belum tumbuh, mungkin ia akan meminta pada mereka untuk melepaskannya. Tapi, hatinya sudah terisi satu nama suaminya.
Tetapi, sekarang sangat nyata ia melihat.
Terlihat sekali, jika suaminya itu begitu menjaga, melindungi, dan mencintai Ningrum, kakak madu- nya. Lalu mengapa? Dan untuk apa mereka menjadikan aku istri ke-dua? Batin Tiara pedih. Cemburu? Itu pasti. Karena sejatinya, tidak ada satu wanita pun, yang berkenan berbagi cinta ataupun suami. Kalaupun itu terjadi, pasti ada hati yang belajar untuk menerima hal tersebut.