Wulan datang ke sasana hari Kamis, setelah tiga hari menyangkal pada dirinya bahwa ia akan datang. Ia bilang pada dirinya sendiri ia datang untuk satu alasan praktis: kalau lelaki tua itu benar bahwa tubuhnya bisa melakukan sesuatu yang berharga, mungkin suatu hari sesuatu itu bisa diubah jadi uang. Atlet dapat bonus kalau menang, kan. Ia pernah dengar itu. Ia tidak datang karena mimpi. Ia datang karena hitungan.
Maman tidak terkejut melihatnya muncul di ambang pintu. Ia cuma mengangguk, seolah sudah tahu sejak awal Wulan akan datang, dan itu sedikit menjengkelkan.
"Lepas sepatu," kata Maman. "Di panggung pakai kaki kaus atau telanjang. Kamu perlu rasain lantai."
Wulan menurut. Papan kayu itu dingin dan kokoh di bawah telapaknya. Maman mengambil sebuah barbel dari rak — batang besi panjang dengan dua piringan kecil di ujungnya — dan meletakkannya di tengah panggung.
"Ini barbel latihan. Beratnya lima belas kilo, batangnya doang. Yang perempuan biasanya pakai yang lima belas, lebih tipis. Coba kamu angkat ke atas kepala. Caranya terserah kamu dulu."
Wulan hampir tertawa. Lima belas kilo. Ia mengangkat tiga kali lipat itu seharian, ratusan kali. Ia melangkah ke barbel, menunduk dengan caranya sendiri — lutut, dada tegak, pantat ke belakang — menggenggam batang yang dingin dan terasa lebih licin dari yang ia kira, dan menariknya.
Dan semuanya kacau.
Barbel itu tidak seperti karung. Karung diam, padat, bisa diremas dan dipeluk. Barbel ini hidup. Begitu ia tarik dari lantai, batang besi itu melengkung sedikit di tengah, dan piringan-piringan di ujung mulai bergoyang, dan tiba-tiba beban yang seharusnya ringan itu bergerak ke segala arah sekaligus. Ia menariknya ke dada dengan kasar, lalu mencoba mendorongnya ke atas kepala dengan tenaga lengan, dan barbel itu melayang ke depan, menariknya hilang keseimbangan, dan ia harus melangkah maju dua langkah untuk tidak jatuh sebelum membantingnya kembali ke panggung. Bunyinya keras dan memalukan.
Wulan berdiri dengan napas memburu, wajah panas, dan tidak berani menoleh ke Maman. Lima belas kilo. Ia, yang mengangkat lima puluh kilo sambil bercanda, baru saja dipermalukan oleh besi yang beratnya seperempat karung.
"Bagus," kata Maman.
"Bagus apanya," sahut Wulan tajam, gengsinya terbakar. "Saya kayak orang bodoh."
"Bagus, karena sekarang kamu ngerti." Maman berjalan ke panggung, mengambil barbel dengan satu gerakan halus yang membuat besi itu seketika jinak di tangannya. "Karung itu mati. Bisa kamu kasari, bisa kamu peluk, mau miring juga nggak masalah. Barbel itu hidup. Dia bergerak. Kalau kamu lawan dia pakai tenaga, dia menang, walau cuma lima belas kilo. Angkat besi itu bukan adu kuat sama besi. Itu adu pintar sama besi."
Ia menempatkan barbel di lantai, dan kakinya selebar pinggul, ujung kaki sedikit membuka. "Ada dua nomor yang dipertandingkan. Yang pertama snatch." Ia menunduk, menggenggam batang dengan tangan lebar, dan dalam satu gerakan yang begitu cepat dan begitu mulus sampai Wulan hampir tidak melihat di mana satu bagian berakhir dan bagian lain dimulai, barbel itu terangkat dari lantai, melesat ke atas, dan Maman turun ke bawahnya — lutut menekuk dalam, badan turun — dan menerima besi itu lurus di atas kepala dengan lengan terkunci. Satu gerakan. Lantai ke atas kepala, langsung, tanpa berhenti.
Wulan menahan napas. Lelaki tua dengan pinggang jebol dan tongkat itu, di atas panggung, sejenak bukan lelaki tua. Lalu Maman menurunkan barbel pelan, dan meringis kecil, dan tangannya turun ke pinggangnya. Sihir itu lewat.
"Itu snatch," katanya, napasnya sedikit terganggu. "Satu gerakan, lantai ke atas kepala. Yang kedua namanya clean and jerk. Itu dua bagian. Pertama barbel diangkat ke bahu — itu yang kamu lakukan tiap hari sama karung. Itu clean. Lalu dari bahu didorong ke atas kepala sambil kaki nyepak ke depan-belakang. Itu jerk. Beban di clean and jerk biasanya jauh lebih berat dari snatch, karena kamu nggak perlu langsung sampai atas."
Wulan menyerap kata-kata itu seperti menyerap angka tagihan: hati-hati, karena salah dengar bisa mahal. Snatch. Clean and jerk. Satu gerakan dan dua gerakan.
"Yang tadi kamu lakukan sama karung," Maman melanjutkan, "itu setengah dari clean. Bagian narik dan masuk ke bawahnya udah ada di tubuh kamu. Tapi cuma setengah. Karena karung berhenti di bahu. Barbel nggak boleh berhenti." Ia menatap Wulan lurus. "Dan snatch — nomor pertama tadi — itu sama sekali nggak ada di tubuh kamu. Itu yang bakal paling susah buat kamu. Bukan karena kamu kurang kuat. Justru karena kamu terlalu kuat. Orang kuat selalu pengen pakai tenaga. Snatch nggak butuh tenaga kamu. Dia butuh kamu berani."
"Berani gimana?"
Maman tidak menjawab langsung. Ia meletakkan barbel kembali ke tangan Wulan. "Coba lagi. Tapi kali ini, jangan dorong dia ke atas. Tarik dia, terus kamu yang turun ke bawah dia. Kamu yang pindah, bukan barbelnya."
Wulan mencoba. Ia menarik, dan pada saat barbel naik setinggi dada, tubuhnya yang seharusnya turun ke bawah malah berhenti. Sesuatu di dalam dirinya mengunci. Kakinya menolak menekuk, menolak menjatuhkan diri ke bawah besi yang melayang itu. Ia berakhir berdiri tegak dengan barbel mentok di depan dada, kekuatan terbuang, dan ia tahu — bahkan sebelum Maman berkata apa-apa — bahwa ia baru saja menyentuh sesuatu di dirinya yang lebih dalam dari otot. Ia bisa menarik apa saja dari lantai. Tapi ia tidak bisa membuat dirinya jatuh ke bawah beban.
Ia hampir mengambil sepatunya dan pulang. Tapi Maman cuma berkata, "Sudah saya duga," dengan suara yang sama sekali tidak mengejek, dan entah kenapa kalimat itu membuat Wulan tinggal.