"Masalah kamu bukan di tangan," kata Maman keesokan sorenya. "Masalah kamu di sini." Ia mengetuk dadanya sendiri, lalu menggeleng, dan mengetuk pelipisnya. "Dan di sini."
Wulan sudah berdiri di panggung dengan barbel kosong. Hari ini Maman tidak menyuruhnya menarik. Ia menyuruhnya berjongkok.
"Pegang barbelnya di atas kepala. Lengan lurus, kunci siku. Bagus. Sekarang jongkok. Pelan. Sambil barbelnya tetap di atas."
Gerakan itu punya nama, kata Maman: overhead squat. Terdengar sederhana. Tidak. Begitu Wulan mulai turun, seluruh tubuhnya memberontak. Barbel di atas kepala terasa ingin jatuh ke depan, dan untuk menahannya ia harus membuka dada, menahan bahu, dan turun lurus ke bawah dengan tumit menempel lantai — dan tubuhnya, yang sudah bertahun-tahun belajar membungkuk ke depan untuk mengangkat, tidak tahu cara turun lurus seperti ini. Ia goyah. Lututnya gemetar. Barbel kosong itu terasa seperti memikul atap.
"Pinggul kaku," Maman mengamati. "Pergelangan kaki kaku. Bahu kaku. Tubuh kamu kuat tapi nggak lentur. Kamu kayak besi yang nggak bisa ditekuk — kuat, tapi gampang patah." Ia berjalan mengelilingi Wulan. "Kelenturan itu separuh dari angkat besi. Orang kira yang penting kuat. Yang kuat banyak. Yang bisa turun ke bawah dalam-dalam sambil nahan beban di atas kepala, itu sedikit."
Mereka menghabiskan sore itu hanya untuk turun dan naik. Tanpa beban tambahan, hanya barbel kosong, kadang hanya tongkat sapu. Maman membuatnya menahan posisi jongkok terdalam sampai pahanya terbakar, membuatnya meregang pergelangan kaki di tepi panggung sampai betisnya menjerit. Wulan tidak mengeluh — mengeluh bukan kebiasaannya — tapi ia tidak mengerti. Ini bukan mengangkat. Ini seperti senam ibu-ibu.
"Kapan saya ngangkat yang berat?" tanyanya akhirnya.
"Nggak akan pernah, kalau kamu nggak bisa turun ke bawah," jawab Maman. "Coba kamu pikir. Snatch, kamu narik barbel dari lantai. Berapa tinggi kamu bisa narik dia? Setinggi dada, mungkin sedikit lebih. Tapi barbelnya harus berakhir di atas kepala. Ada jarak yang nggak ketutup. Siapa yang nutup jarak itu?"
Wulan diam, memikirkannya. "...Saya yang turun."
"Betul. Barbel naik separuh, kamu turun separuh. Kalian ketemu di tengah, di atas kepala kamu, dengan kamu jongkok dalam. Itu sebabnya orang pendek kayak kamu malah bagus buat angkat besi. Jarak yang harus kamu naikin barbel lebih pendek. Tubuh padat, kaki kuat, pendek — itu badan lifter. Bukan kekurangan. Itu modal."
Wulan tidak pernah mendengar tubuhnya disebut modal. Sepanjang hidupnya, tubuhnya disebut hal lain — terlalu pendek, terlalu padat, terlalu seperti laki-laki, kasihan kamu nak susah dapat jodoh nanti. Mendengar Maman menyebut hal-hal yang sama itu sebagai keuntungan terasa aneh, seperti melihat angka utang berubah jadi angka tabungan.
Lalu Maman menyuruhnya mencoba sesuatu yang baru. "Sekarang, dari atas, kamu jatuhin badan ke bawah. Cepat. Aku mau lihat kamu turun ke posisi jongkok secepat mungkin sambil barbelnya tetap di atas kepala. Bukan turun pelan-pelan. Jatuh. Tubuh kamu harus belajar jatuh ke bawah beban, bukan menghindar."
Kata jatuh membuat sesuatu di perut Wulan mengencang. Ia menarik barbel kosong ke atas kepala, mengunci lengan, dan mencoba membuat dirinya jatuh ke posisi rendah. Tapi pada detik terakhir, tubuhnya menolak. Lututnya menekuk setengah, lalu mengunci, lalu kakinya melangkah mundur untuk mencari keseimbangan, dan barbel kosong itu terlepas ke belakang. Wulan ikut terjengkang, jatuh dengan pantat lebih dulu menghantam panggung, kaki terangkat ke udara, dan barbel berdentang ke lantai di sampingnya.
Untuk sesaat hening. Lalu, dari sudut panggung, terdengar suara tawa kecil yang ditahan.
Wulan menoleh tajam. Seorang perempuan muda, mungkin dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun, bersandar di rak barbel dengan tangan menutup mulut. Tubuhnya jelas tubuh lifter — bahu bulat, paha tebal, postur tegak — dengan kaus singlet yang sudah pudar.
"Maaf, maaf," kata perempuan itu, masih menahan geli, tapi tidak jahat. "Aku nggak nyangka ada yang baru. Aku Rina. Aku latihan di sini juga, kalau lagi sempat." Ada sesuatu di kalimat terakhir itu, jeda kecil di kata sempat, yang Wulan tidak mengerti dulu tapi akan ia mengerti nanti.
Wulan bangkit, mengusap pantatnya yang nyeri, gengsinya untuk kesekian kali terbakar. Tapi Maman justru terdengar puas. "Nah, itu dia," katanya. "Kamu jatuh karena kamu takut. Tubuh kamu nahan diri di detik terakhir, makanya keseimbangan kamu hilang. Kalau kamu berani jatuh sepenuh hati, kamu malah nggak akan jatuh kayak tadi. Yang bikin kamu jatuh bukan keberanian. Yang bikin kamu jatuh justru rasa takutnya."
Wulan berdiri di tengah panggung, dada naik turun, dan untuk pertama kalinya merasa benar-benar dilihat sampai ke dalam. Ia berani mengangkat lima puluh kilo di depan orang banyak tanpa berkedip. Tapi disuruh menjatuhkan dirinya sendiri ke bawah besi kosong, dan ada sesuatu di dalam dadanya yang menarik rem sekuat tenaga. Ia tidak tahu kenapa. Ia cuma tahu bahwa rasa takut itu nyata, dan bahwa Maman, lelaki tua menyebalkan itu, sudah melihatnya jauh sebelum Wulan sendiri mengakuinya.