"Sebelum kamu mikir mau ngangkat berapa," kata Maman seminggu kemudian, "kamu harus tahu kamu main di kelas berapa."
Ia membawa sebuah timbangan tua ke tengah sasana, jenis yang berdiri dengan jarum yang berputar. "Angkat besi itu dibagi per kelas berat badan. Biar adil. Orang lima puluh kilo nggak dilawanin sama orang seratus kilo. Yang putri," ia menyebut deretan angka, "ada kelas empat puluh lima kilo ke bawah, terus naik — empat puluh sembilan, lima puluh lima, lima puluh sembilan, enam puluh empat, dan seterusnya sampai yang berat. Kamu main di satu kelas, lawan kamu semua di kelas yang sama. Yang ngangkat total paling banyak, menang."
"Total?"
"Total itu angkatan snatch terbaik kamu ditambah clean and jerk terbaik kamu. Itu yang dilombakan. Bukan satu angkatan doang. Dua nomor, digabung." Maman menunjuk timbangan. "Naik. Kita lihat kamu di mana."
Wulan naik. Jarum bergoyang, lalu berhenti. Lima puluh tiga koma lima. Ia menatap angka itu, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, berat badannya bukan sekadar angka — itu sebuah keputusan.
"Kamu di perbatasan," kata Maman, mengusap dagu. "Lima puluh tiga setengah. Kamu bisa turun ke kelas empat puluh sembilan kalau kamu mau, tapi itu berat, kamu harus buang empat setengah kilo dan jaga ketat. Atau kamu main di kelas lima puluh lima — naik sedikit, makan lebih bebas, tapi lawan-lawanmu lebih besar dan biasanya lebih kuat karena badannya lebih berat." Ia menatapnya. "Ini keputusan strategi pertama yang harus kamu ngerti. Kelas yang lebih ringan, lawan lebih kecil, tapi kamu tersiksa jaga berat. Kelas yang lebih berat, hidup lebih enak, tapi kamu jadi yang paling kecil di antara yang besar."
Wulan berpikir keras, dan otaknya — otak yang menghitung segalanya — langsung bekerja. "Kalau saya di lima puluh lima, saya bisa makan normal?"
"Lebih normal. Kamu nggak perlu buang berat. Tapi kamu harus naikin total angkatan kamu lebih tinggi buat ngalahin yang badannya udah lima puluh lima dari sananya."
Di situlah hitungan ekonomi dan hitungan olahraga bertemu untuk pertama kalinya di kepala Wulan, dan keduanya menyatu jadi satu beban. Karena masalahnya bukan cuma boleh makan bebas atau tidak. Masalahnya adalah apakah ada yang bisa dimakan sama sekali.
Malam itu ia mampir ke warung nasi Bu Tati di pojok pasar dalam perjalanan pulang, bukan untuk makan, tapi untuk berhitung. Ia menatap deretan lauk di etalase kaca berembun. Telur balado, dua ribu lima ratus. Ayam, delapan ribu. Tempe, seribu. Nasi, empat ribu. Otaknya menjumlah otomatis. Kalau ia mau makan cukup untuk latihan — Maman bilang otot butuh protein, butuh nasi yang banyak, butuh telur, butuh daging sesekali — ia harus makan setidaknya tiga kali sehari dengan lauk yang benar. Itu, kalau dihitung sebulan, jadi angka yang lebih besar dari setengah gajinya.
Dan gaji itu sudah punya tujuan: obat ibu, listrik, buku Bagas, makan untuk tiga orang. Tidak ada baris di dalam anggaran itu yang bertuliskan makan untuk otot Wulan.
Ia membeli satu bungkus nasi dengan tempe dan sayur — enam ribu — dan berjalan pulang sambil mengunyah pelan, membuat satu bungkus terasa seperti dua. Inilah yang tidak pernah ditunjukkan di televisi tentang atlet, pikirnya. Mereka menunjukkan medali, podium, lagu kebangsaan. Mereka tidak pernah menunjukkan seorang gadis berdiri di depan warung nasi, menghitung berapa gram protein yang mampu ia beli dengan uang yang seharusnya untuk obat ibunya. Tubuh seorang lifter dibangun dari makanan. Dan makanan adalah uang. Dan uang adalah hal yang paling tidak ia punya.
Di rumah, ibunya sudah menunggu, duduk di ranjang dengan lampu temaram. "Wulan," katanya, dan ada nada yang membuat Wulan langsung waspada. "Tiga hari ini kamu pulang malam. Bibimu nyuruh lembur?"
Wulan berhenti di ambang pintu. Ia tidak bisa berbohong langsung pada ibunya — itu satu garis yang belum pernah ia lewati. Tapi ia juga belum siap menjelaskan. Bagaimana ia menjelaskan bahwa ia menghabiskan dua jam setiap sore menjatuhkan dirinya ke bawah barbel kosong di belakang gudang, untuk olahraga yang tidak menghasilkan uang, yang mungkin tidak akan pernah menghasilkan uang, yang membuat tubuhnya — tubuh yang sudah cukup sering dikomentari orang — semakin tidak seperti yang mereka harapkan dari seorang gadis?
"Ada... kerjaan tambahan, Bu," katanya akhirnya, setengah benar. Bukankah latihan juga semacam kerja? "Bantu-bantu di gudang olahraga."
Ibunya menatapnya lama, dengan tatapan ibu yang tahu lebih banyak dari yang diucapkan. "Jaga kesehatan kamu, nak. Jangan sampai sakit kayak ibu. Kita nggak punya uang buat dua orang sakit."
Kalimat itu menempel di Wulan sepanjang malam. Kita nggak punya uang buat dua orang sakit. Latihan, ia tahu, menambah risiko itu. Punggung, pergelangan, semua bisa cedera, dan cedera berarti tidak bisa kerja, dan tidak bisa kerja berarti tidak ada beras, tidak ada obat. Maman sendiri buktinya. Pinggang jebol, dana habis, dan dua puluh tahun kemudian masih menjaga sasana kecil di belakang gudang dengan tongkat di tangan.
Wulan membentangkan tikar dan berbaring menatap langit-langit. Lima puluh tiga koma lima. Kelas empat puluh sembilan atau lima puluh lima. Telur dua ribu lima ratus. Obat ibu. Setiap angka bertumpuk di atas angka yang lain, dan ia, yang bisa mengangkat lima puluh kilo tanpa berkedip, untuk pertama kalinya merasa ada beban yang tidak bisa ia angkat dengan kaki dan punggung saja.