Rahasia itu pecah pada hari Selasa, di saat yang paling tidak diinginkan, seperti semua hal buruk.
Wulan sampai di toko terlambat lima belas menit karena pagi itu ibunya sesak napas dan ia harus menunggu napasnya kembali teratur sebelum berani meninggalkannya. Tapi Bibi Marni tidak tahu itu dan tidak mau tahu. Yang Bibi tahu cuma bahwa truk dari penggilingan sudah datang, ada empat puluh karung yang harus diturunkan, dan keponakannya yang biasanya sudah siap di tempat malah baru muncul dengan napas terengah.
"Dari mana kamu?" Bibi tidak menunggu jawaban. "Aku dengar dari Bu Tati kamu tiap sore ke gudang olahraga. Ngapain? Pacaran?"
"Nggak, Bi. Latihan."
"Latihan apa?" Bibi menyilangkan tangan. "Kamu kerja di sini, Wulan. Aku bayar kamu. Kalau sore kamu capek main-main di gudang, paginya kamu lemot kayak gini, siapa yang rugi? Aku."
"Saya nggak pernah telat sebelumnya, Bi. Hari ini ibu—"
"Alasan." Bibi memotong dengan satu kata yang sudah ia siapkan sebelum Wulan selesai bicara. "Dengar, aku kasih kamu kerjaan ini karena kamu keponakanku, karena bapakmu — almarhum — adikku. Bukan karena kamu hebat. Banyak yang mau kerja di sini. Kalau kamu mulai macam-macam sama urusan gudang olahraga itu, kamu pilih. Kerja, atau main besi."
Wulan menelan kalimat itu seperti menelan ludah pahit. Pilih. Seolah itu pilihan. Seolah ia punya kemewahan untuk memilih. Ia menunduk dan berkata, "Iya, Bi," dan mulai menurunkan karung, dan tidak mengeluarkan satu kata pun lagi sampai keempat puluh karung pindah dari truk ke gudang.
Tapi di dalam dadanya, sesuatu sudah bergeser. Bukan karena marah pada Bibi — Bibi cuma menjaga tokonya, dan toko itu yang memberi mereka beras. Yang membuat dadanya berat adalah cara Bibi menyebut latihan itu seperti main-main, seperti kebodohan, seperti kemewahan anak yang tidak tahu diri. Dan bagian terburuknya: sebagian dari Wulan setuju.
Sorenya ia tetap datang ke sasana. Ia tidak tahu kenapa. Mungkin justru karena Bibi melarangnya. Tapi ia tidak menceritakan apa pun pada Maman. Ia hanya berlatih lebih keras, menjatuhkan dirinya ke bawah barbel kosong lagi dan lagi, masih gagal, masih mengunci di detik terakhir, tapi dengan kemarahan baru yang membuat keringatnya lebih deras.
Rina ada di sana, melakukan pemanasan di sudut. Hari ini ia tidak tertawa. Ia mengamati Wulan dengan tatapan yang lebih tua, dan setelah Maman pergi sebentar membeli rokok, ia menghampiri.
"Kamu sembunyiin ini dari keluarga kamu, ya," kata Rina. Bukan pertanyaan.
Wulan tidak menjawab, yang sama saja dengan mengiyakan.
"Aku dulu juga gitu," Rina duduk di tepi panggung, mengelap pergelangan tangannya dengan handuk kecil. "Ibuku bilang angkat besi bikin badan perempuan jadi kotak. Kayak laki-laki. Susah dapat jodoh. Bahu lebar, paha gede, leher pendek." Ia tersenyum tipis, getir. "Lucunya, semua yang dia takutin itu justru yang bikin aku bisa ngangkat. Tapi waktu itu aku ngerasa malu juga. Aku pakai jaket di mana-mana, nutupin bahu. Aku mikir, ngapain aku rusak badan sendiri buat olahraga yang nggak ada yang nonton, nggak ada yang ngerti."
"Sekarang?" tanya Wulan pelan.
Rina diam sebentar. "Sekarang aku dua puluh tiga. Aku pernah ikut kejurprov, dapat perunggu sekali. Nggak ada yang inget. Aku kerja di pabrik kerupuk pagi sampai siang, latihan kalau lagi sempat. Tahun lalu aku hampir berhenti karena nggak ada biaya transport ke kejuaraan. Maman yang bayarin dari uangnya sendiri." Ia menatap barbel di rak. "Aku masih di sini. Tapi kadang aku nggak tahu buat apa. Aku udah lewat umur buat naik tinggi. Aku tetap latihan karena... entahlah. Karena di atas panggung itu satu-satunya tempat yang nggak nanya aku kapan nikah, kenapa badanku begitu, kenapa aku miskin. Di atas panggung yang ditanya cuma satu: kamu bisa angkat ini, atau nggak."
Wulan menatap perempuan di depannya, dan untuk satu saat yang membekukan, ia merasa sedang melihat bayangan dirinya beberapa tahun ke depan. Atlet daerah yang nyaris menyerah. Kerja pagi, latihan sore, perunggu yang tidak diingat siapa pun, transport yang dibayari mentor dari kantong sendiri. Bakat yang digiling pelan-pelan oleh kemiskinan sampai yang tersisa hanya kebiasaan datang ke sasana karena tidak tahu harus ke mana lagi.
Apakah ini yang menungguku, pikir Wulan. Apakah aku akan jadi Rina yang lain. Atau Maman yang lain.
"Kenapa kamu nggak berhenti aja?" tanya Wulan, lebih kasar dari yang ia maksud, karena pertanyaan itu sebenarnya untuk dirinya sendiri.
Rina tidak tersinggung. Ia berpikir lama. "Karena waktu aku berhasil ngangkat sesuatu yang minggu lalu nggak bisa, ada rasa yang nggak bisa aku dapat di tempat lain. Bukan menang. Cuma... bukti bahwa aku berubah. Bahwa aku jadi lebih dari aku yang kemarin. Di hidup kayak punya kita, Wulan, yang lain-lain semua bilang kita nggak bisa berubah. Miskin ya miskin. Tapi di sini, angkanya jujur. Kalau kemarin lima puluh dan hari ini lima puluh dua, berarti aku beneran lebih kuat. Nggak ada yang bisa bohongin angka di barbel."
Maman kembali dengan rokoknya, dan percakapan itu berhenti. Tapi kata-kata Rina tinggal. Nggak ada yang bisa bohongin angka di barbel. Wulan, yang seluruh hidupnya menghitung beban — utang, obat, beras, gaji yang dipotong dua puluh ribu — merasa untuk pertama kalinya menemukan satu jenis angka yang tidak menipu dan tidak menumpuk jadi utang. Angka yang naik kalau ia berusaha. Angka yang jujur padanya, ketika semua angka lain dalam hidupnya hanya membawa kabar buruk.
Malam itu ia menatap bahunya sendiri di pantulan kaca jendela yang gelap. Sudah mulai lebih bulat dari sebulan lalu. Bibi akan bilang kotak. Ibu mungkin akan diam tapi khawatir. Tapi Wulan, untuk pertama kalinya, tidak merasa malu. Ia merasa kuat. Dan ia mulai curiga bahwa malu yang selama ini ia rasakan bukan miliknya — itu titipan orang lain yang ia simpan terlalu lama.