Maman membawa buku itu pada sore yang gerimis, ketika hujan menabuh seng berkarat dan sasana terasa lebih kecil dan lebih hangat dari biasanya.
Buku itu sampul kerasnya sudah lepas di satu sisi, halamannya menguning, dan beberapa di antaranya menempel karena lembap bertahun-tahun. Maman membukanya di panggung, di bawah cahaya lampu neon yang berkedip, dan Wulan duduk di sampingnya.
"Ini catatan saya dulu," kata Maman. "Dari tahun delapan puluh sembilan sampai sembilan empat. Lima tahun. Sebelum pinggang saya jebol."
Halaman-halaman itu penuh angka. Bukan kata-kata — hampir tidak ada kalimat. Hanya tanggal, lalu deretan: snatch, lalu angka-angka dengan tanda. Clean and jerk, lalu angka-angka lain. Wulan mengamati, dan perlahan otaknya yang terlatih menghitung mulai membaca pola.
"Yang ada centangnya ini berhasil," tebaknya, menunjuk. "Yang ada silangnya gagal."
"Pintar." Maman tersenyum. "Tiap hari saya catat. Beban berapa, berapa kali, berhasil atau nggak. Bukan buat gaya. Buat tahu saya di mana. Angkat besi itu olahraga yang paling jujur sama angka, Wulan. Lari bisa dipengaruhi angin. Bola bisa dipengaruhi wasit. Tapi barbel — entah kamu bisa angkat lima puluh kilo, atau nggak. Nggak ada di tengah. Nggak ada hampir."
Ia membalik ke halaman tertentu, dan menunjuk satu angka yang dilingkari. "Ini total terbaik saya. Snatch sekian, clean and jerk sekian, total sekian. Di PON kedua. Itu angka yang saya kejar lima tahun. Saya inget tiap kilonya." Suaranya melembut. "Orang inget medali. Saya inget angka. Karena medali itu cuma hadiah. Angka itu siapa saya."
Wulan menatap angka yang dilingkari itu, dan untuk pertama kalinya ia mengerti sesuatu tentang Maman yang sebelumnya tidak ia mengerti. Lelaki tua ini bukan menjaga sasana karena tidak punya tempat lain. Ia menjaganya karena angka di buku ini, angka yang sudah dua puluh tahun lewat, masih hidup di dalamnya. Itulah dirinya. Dan ia ingin Wulan punya angkanya sendiri.
"Mulai sekarang," kata Maman, mengeluarkan sebuah buku tulis baru yang murah dari tasnya, sampulnya bergambar bunga, jelas dibeli di warung. "Ini punya kamu. Tiap latihan, kamu catat. Beban, berapa kali, berhasil atau nggak. Berat badan kamu tiap minggu. Jangan bohong sama buku ini. Kalau kamu bohong, kamu cuma bohongin diri sendiri."
Wulan menerima buku itu. Sampul bunganya terasa tidak cocok dengan tangannya yang kapalan. Tapi ia membukanya, dan di halaman pertama, dengan tulisan yang kaku, ia menulis tanggal dan tubuhnya sendiri: 53 kg. Lalu Maman menyuruhnya berlatih, dan hari ini ia tidak berlatih jongkok kosong lagi.
"Snatch," kata Maman. "Beneran. Tapi pelan, dipecah. Kita nggak akan langsung dari lantai ke atas. Kita mulai dari atas."
Ia mengajari Wulan sesuatu yang ia sebut hang snatch dari posisi tinggi, lalu menurunkannya sedikit demi sedikit. Idenya, kata Maman, adalah menipu rasa takut. Kalau jarak jatuhnya pendek, otak tidak terlalu panik. "Kamu nggak akan langsung berani jatuh dari posisi penuh," katanya. "Jadi kita curi sedikit-sedikit. Hari ini kamu jatuh sepuluh senti. Minggu depan dua puluh. Tubuh kamu nggak akan sadar kapan dia mulai berani."
Dan untuk pertama kalinya, trik itu bekerja. Dengan barbel kosong, dari posisi tinggi, Wulan menarik dan menjatuhkan dirinya — hanya sedikit, hanya beberapa senti, tapi ia menjatuhkan dirinya ke bawah besi alih-alih mengunci. Barbel itu mendarat di atas kepalanya, lengannya terkunci, dan untuk satu detik penuh ia menahannya di sana, di posisi yang sedikit lebih rendah dari sebelumnya.
"Itu!" Maman menepuk tangannya satu kali, keras. "Itu dia. Kamu masuk. Kamu nggak ngunci. Kamu rasain bedanya?"
Wulan merasakannya. Bukan kemenangan besar — barbelnya kosong, jatuhnya cuma beberapa senti. Tapi ada sesuatu di tubuhnya yang baru saja melewati garis yang selama berminggu-minggu ia tidak bisa lewati. Rem yang selama ini menahannya di detik terakhir, untuk sekejap, longgar. Ia menurunkan barbel, dan menyadari tangannya gemetar — bukan karena lelah, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang dekat dengan harapan, perasaan yang sudah lama tidak ia izinkan masuk.
Ia mengambil buku bersampul bunga itu dan menulis: hang snatch, masuk ke bawah, 15 kg, berhasil 3x. Tulisannya masih kaku. Tapi ketika ia menatap baris itu, ia merasakan apa yang Maman maksud. Angka itu bukan utang. Angka itu bukan kabar buruk. Angka itu adalah bukti bahwa Wulan hari ini sudah berbeda dari Wulan kemarin.
Di luar, hujan mulai reda. Maman menutup buku tuanya dan menatap keluar ke gerimis yang menipis. "Saya nggak akan bisa balik ke angka saya yang dulu," katanya pelan, lebih pada diri sendiri daripada pada Wulan. "Pinggang saya udah selesai. Tapi angka kamu, Wulan, itu masih kosong. Masih bisa diisi setinggi yang kamu berani." Ia menoleh padanya. "Pertanyaannya cuma satu. Seberapa berani kamu."
Wulan menatap buku bersampul bunga di tangannya. Satu baris terisi. Ratusan baris kosong menunggu. Dan untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, sejak hidup berubah jadi deretan angka yang harus dibayar, ia memandang halaman kosong bukan sebagai utang yang menanti, melainkan sebagai ruang yang bisa ia isi sendiri.