Kabar tentang kejuaraan itu datang lewat selebaran fotokopi yang ditempel di papan pengumuman gudang olahraga, kertasnya sudah keriting kena lembap. Kejuaraan Angkat Besi Tingkat Kabupaten. Tanggalnya tiga minggu lagi.
"Kamu ikut," kata Maman, tanpa nada bertanya.
"Saya?" Wulan menatapnya seolah ia gila. "Saya baru bisa snatch barbel kosong, Pak. Itu pun masih sering gagal."
"Saya nggak nyuruh kamu menang. Saya nyuruh kamu naik panggung." Maman duduk di tepi panggung kayu, tongkatnya menyandar di lutut. "Latihan sama pertandingan itu dua dunia beda, Wulan. Di sini, di sasana, kamu tenang. Nggak ada yang nonton, nggak ada wasit, nggak ada batas waktu. Kalau gagal, kamu coba lagi. Di pertandingan, ada lampu. Ada orang. Ada cuma tiga kesempatan. Tangan kamu basah keringat dingin, dada kamu deg-degan, dan barbel yang di sasana terasa ringan tiba-tiba terasa dua kali lebih berat. Itu cuma bisa dipelajari dengan ngerasain sendiri. Saya mau kamu ngerasain platform sekarang, mumpung taruhannya kecil. Bukan nanti, waktu taruhannya besar."
Masuk akal, dan itu menjengkelkan karena masuk akal. Tapi ada satu kata di selebaran itu yang langsung menarik perhatian Wulan, satu kata yang lebih besar dari rasa takutnya pada panggung. Di bagian bawah: Biaya pendaftaran per atlet — angkanya membuat perutnya turun. Itu hampir dua hari gaji. Untuk sesuatu yang Maman sendiri bilang bukan untuk menang.
"Pak," katanya pelan, gengsinya berusaha menahan kata-katanya, tapi kenyataan lebih kuat dari gengsi. "Biaya daftarnya..."
Maman mengangguk pelan, seolah sudah menduga ini akan jadi penghalang. "Saya tahu. Itu masalah. Itu selalu masalah." Ia menatap jauh. "Ini yang nggak ada di televisi, Wulan. Orang kira atlet itu cuma soal latihan dan bakat. Yang nggak diceritain, tiap langkah ke atas itu ada karcisnya. Pendaftaran, transport, penginapan, perlengkapan. Atlet kaya bisa fokus latihan. Atlet kayak kamu, kayak Rina, kayak saya dulu — separuh tenaga kita habis cuma buat mikir gimana bayar karcis biar bisa ikut."
Wulan tidak akan membiarkan Maman membayarinya — ia sudah dengar dari Rina bahwa Maman menanggung transport Rina dari uangnya sendiri, dan ia tidak akan menambah beban lelaki tua yang menjaga sasana dari kantong sendiri itu. Gengsinya tidak akan membiarkannya. Maka ia melakukan hal yang ia tahu cara melakukannya: ia bekerja lebih banyak. Ia menawarkan diri pada Bibi untuk lembur akhir pekan, untuk pengantaran ekstra, untuk pekerjaan apa pun yang menambah beberapa ribu. Ia tidak memberi tahu untuk apa. Ia hanya mengumpulkan, koin demi koin, lembar demi lembar, menyembunyikannya dalam kaleng bekas biskuit di bawah tikar.
Seminggu sebelum kejuaraan, Maman mengajaknya ke GOR kabupaten untuk melihat tempatnya, dan di sana, untuk pertama kalinya, Wulan bertemu wajah dari hal yang selama ini ia kira abstrak.
Pembina daerah itu bernama Pak Darto, lelaki berperut bulat dengan kemeja berkerah dan peluit yang tergantung di leher meski tidak ada yang perlu dipeluit. Ia sedang mengawasi beberapa atlet binaannya berlatih di GOR yang fasilitasnya jauh lebih baik dari sasana — barbel mengilap, platform resmi, AC. Ketika Maman menyapanya, Pak Darto menjawab dengan senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Maman, masih sehat?" katanya, pandangannya turun sekilas ke tongkat Maman, lalu naik lagi. "Bawa anak baru?"
"Wulan. Dia ikut kejurkab."
Pak Darto menatap Wulan dari atas ke bawah, penilaian cepat seorang yang merasa berhak menilai. "Dari sasana belakang gudang itu, ya? Yang barbelnya karet retak?" Ia tersenyum tipis. "Bagus, bagus. Ramai-ramaiin acara. Tapi jangan terlalu berharap, ya, Nak. Yang serius itu yang dari binaan resmi, yang terprogram. Anak titipan sasana kecil biasanya cuma nambah nomor peserta."
Kata-kata itu diucapkan dengan ramah, dan justru itu yang membuatnya lebih tajam. Wulan tidak menjawab. Tapi ia melihat ke arah yang ditunjuk dagu Pak Darto, ke salah satu atlet binaannya — seorang gadis seumurannya, tubuhnya jelas tubuh lifter terlatih, gerakannya bersih dan percaya diri, dengan singlet seragam yang ada lambang resminya. Gadis itu menyelesaikan satu snatch dengan ringan, menurunkannya, dan menerima tepukan dari Pak Darto seolah ia anak emas. Belakangan Wulan tahu namanya: Selvi. Selvi main di kelas lima puluh lima — kelas yang sama yang sedang Wulan pertimbangkan.
Di perjalanan pulang, Maman diam lama, lalu berkata, "Kamu lihat tadi? Itu yang lebih berat dari barbel mana pun, Wulan. Bukan bebannya. Tapi orang-orang yang udah mutusin kamu kalah sebelum kamu naik panggung. Darto bukan orang jahat. Dia cuma main angka — dananya terbatas, jadi dia taruh di anak yang dia yakin menang, biar dia kelihatan bagus di atas. Anak titipan kayak kamu nggak masuk hitungannya."
"Terus kenapa saya harus ikut?" tanya Wulan, kemarahan menggumpal di dadanya.
Maman menoleh padanya, dan untuk pertama kalinya ada api kecil di mata tuanya. "Justru karena itu. Karena satu-satunya jawaban buat orang yang mutusin kamu kalah, bukan ngomong. Itu angka di barbel. Itu satu-satunya bahasa yang Darto nggak bisa bantah. Dia bisa remehin kamu sepuasnya. Tapi kalau total angkatan kamu lebih tinggi dari anak emasnya, nggak ada peluit yang bisa ngubah itu." Ia menatap jalan di depan. "Saya nggak nyuruh kamu menang minggu depan. Kamu belum siap. Tapi saya mau kamu inget wajah tadi. Simpan. Suatu hari kamu yang bakal kasih dia jawaban."
Malam itu Wulan menghitung isi kaleng biskuitnya. Cukup. Pas-pasan, tapi cukup, untuk membayar pendaftaran sendiri. Ia menutup kaleng itu, dan menyadari bahwa untuk pertama kalinya ia menabung bukan untuk obat, bukan untuk listrik, bukan untuk menambal lubang. Ia menabung untuk dirinya sendiri, untuk hak naik ke panggung dan bicara dalam bahasa yang tidak bisa diremehkan Pak Darto. Rasanya asing. Dan, diam-diam, rasanya seperti pemberontakan kecil yang pertama dalam hidupnya.