GOR kabupaten pada hari kejuaraan berbau berbeda dari hari latihan — bau magnesium yang lebih pekat, keringat dingin yang lebih banyak, dan sesuatu di udara yang membuat lambung Wulan terasa naik ke tenggorokan sejak ia melangkah masuk.
Ia mendaftar di meja, menyerahkan uang dari kaleng biskuit dengan tangan yang berusaha tidak gemetar, dan ditimbang di ruang penimbangan. Lima puluh empat koma dua. Maman sudah memutuskan minggu lalu: kelas lima puluh lima. Tidak perlu menyiksa diri turun ke empat puluh sembilan untuk kejuaraan pertama. Cukup naik panggung dan merasakannya.
"Sekarang dengar baik-baik aturannya," kata Maman di ruang pemanasan, suaranya rendah dan tenang, menariknya menjauh dari hiruk pikuk. "Saya jelasin sekali, kamu harus paham, karena di atas panggung nanti kamu nggak bisa nanya."
Wulan mengangguk, jantungnya berdebar.
"Hari ini kamu tanding dua nomor. Snatch dulu, semua atlet, baru clean and jerk. Di tiap nomor, kamu dapat tiga kali angkatan. Tiga. Itu aja. Nggak ada keempat." Maman mengangkat tiga jari. "Sebelum mulai, kamu setor ke panitia mau buka di beban berapa. Sekali kamu sebut angka, beban di barbel nggak boleh turun lagi. Cuma boleh naik. Naiknya minimal satu kilo tiap kali. Jadi kalau attempt pertama kamu pilih empat puluh, attempt kedua minimal empat puluh satu, dan seterusnya. Nggak bisa mundur."
"Kenapa nggak boleh turun?" tanya Wulan.
"Biar adil dan biar ada strategi. Ini yang bikin angkat besi kayak catur. Kalau kamu buka terlalu ringan, kamu aman tapi total kamu kecil, gampang kalah. Kalau kamu buka terlalu berat, gagal tiga kali, kamu dapat nol — namanya bom out, gugur, total kamu nggak kehitung sama sekali walau clean and jerk kamu nanti hebat. Jadi tiap attempt itu taruhan. Berani tapi jangan nekat. Aman tapi jangan pengecut." Maman menatapnya tajam. "Tiga kesempatan tanpa ampun. Itu yang bikin olahraga ini kejam dan jujur."
Wulan menyerap setiap kata. Snatch best ditambah clean and jerk best sama dengan total. Tiga attempt. Beban tak boleh turun, naik minimal satu kilo. Bom out berarti nol. Otaknya yang terlatih menghitung mengunci semua angka ini seperti mengunci harga lauk di warung.
Waktu pemanasan, ia melihat Selvi di sisi lain ruangan, dikelilingi Pak Darto dan dua orang pembantunya, dengan barbel pemanasan yang sudah disiapkan untuknya. Selvi tampak tenang, gerakannya halus. Ia menangkap tatapan Wulan, dan tersenyum kecil — bukan senyum bermusuhan, lebih senyum kasihan, yang justru lebih membakar. Anak titipan sasana belakang gudang. Wulan memalingkan muka dan kembali ke barbelnya sendiri.
Maman memutuskan attempt pembuka Wulan: tiga puluh dua kilo untuk snatch. "Ringan," kata Maman. "Di latihan kamu udah bisa lebih. Tapi ini panggung pertama. Saya mau attempt pertama kamu sah, biar kamu nggak nol. Aman dulu. Kita berani di attempt kedua dan ketiga."
Lalu namanya dipanggil.
Wulan melangkah ke panggung, dan dunia menyempit. Lampu di atas terasa lebih panas dari yang ia kira. Penonton — tidak banyak, sebagian besar pelatih dan keluarga atlet lain — terdiam menjadi gumaman yang jauh. Di depannya, barbel dengan piringan mengilap, tiga puluh dua kilo, menunggu di tengah platform kayu yang lebih halus dari panggung sasananya. Di sisi, tiga juri duduk di belakang meja kecil, masing-masing dengan dua tombol di tangan: putih untuk sah, merah untuk gagal. Dua dari tiga lampu putih berarti angkatan sah.
Tangannya, persis seperti yang Maman katakan, basah oleh keringat dingin. Tiga puluh dua kilo yang di sasana terasa ringan, kini terasa seperti menatap sesuatu yang asing.
Ia mengapur tangannya di ember magnesium, menepuknya sampai berdebu putih, dan melangkah ke barbel. Ia menunduk, mengatur kaki, menggenggam batang dengan tangan lebar. Tarik napas. Di kepalanya, suara Maman: kamu yang turun ke bawah, bukan barbelnya.
Ia menarik. Barbel naik, ia menjatuhkan diri — dan ketakutan lama itu datang lagi, tapi attempt ini ringan, dan tubuhnya, yang sudah berminggu-minggu berlatih hang snatch, masuk cukup ke bawah. Barbel mendarat di atas kepala. Ia berdiri. Tiga lampu putih. Sah. Napasnya keluar dalam satu hela panjang yang ia tidak sadar sudah ia tahan.
Attempt kedua, Maman menaikkan ke tiga puluh enam. Wulan melangkah lebih percaya diri kali ini. Ia menarik, menjatuhkan diri — tapi tiga puluh enam lebih berat, dan pada saat besi melayang ke posisi atas kepala, rasa takut lama itu, yang seminggu lalu mulai longgar, kembali mengencangkan remnya di detik terakhir. Ia tidak masuk cukup dalam. Lengannya menerima beban setengah terkunci, barbel melayang ke depan, dan ia harus melepasnya. Besi berdentang ke platform. Tiga lampu merah. Gagal.
Wulan turun dari panggung dengan wajah panas. Di sudut matanya, ia melihat Pak Darto menggeleng kecil pada Selvi, seperti berkata, sudah kubilang.
"Dengar," kata Maman cepat, mencengkeram bahunya, suaranya tegas tapi tidak marah. "Kamu gagal bukan karena kamu kurang kuat. Tiga puluh enam itu di bawah kekuatan kamu. Kamu gagal karena kamu nahan diri di detik terakhir. Rasa takut lama. Itu aja." Ia menatap mata Wulan dalam-dalam. "Sekarang attempt ketiga. Saya kasih kamu pilihan, dan ini pilihan kamu, bukan saya. Kita bisa main aman — saya naikin cuma satu kilo, tiga puluh tujuh, beban yang sama beratnya tapi kamu dapat angka lebih dari attempt pertama. Atau," jeda, "kamu lupakan beban. Kamu naik panggung, dan untuk satu kali ini, kamu jatuhin badan kamu penuh ke bawah barbel. Bukan setengah. Penuh. Kalau kamu berani, beban segini nggak ada apa-apanya. Kalau kamu masih takut, mau satu kilo pun kamu gagal lagi."
Wulan menatap platform. Tiga puluh tujuh kilo. Satu kali angkatan tersisa. Tiga kesempatan, dua sudah lewat, satu menggantung di depannya seperti pintu yang cuma terbuka sekali. Ia bisa main aman dan pulang dengan angka kecil dan rasa takut yang masih utuh. Atau ia bisa, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, di depan orang banyak, di depan Pak Darto yang sudah memutuskan ia kalah, di depan Selvi yang mengasihaninya — menjatuhkan dirinya penuh ke bawah besi.
Ia memikirkan Rina. Nggak ada yang bisa bohongin angka di barbel. Ia memikirkan buku bersampul bunga dengan satu baris berhasil. Ia memikirkan ibunya, dan obat, dan kaleng biskuit yang ia kosongkan untuk berdiri di sini.
"Naikin," katanya, suaranya lebih mantap dari yang ia rasakan. "Tapi bukan satu kilo. Saya nggak mau main aman." Ia menatap Maman. "Saya mau jatuh penuh."