Sepanjang perjalanan pulang dari villa, Adiwijaya tidak banyak bicara. Sopirnya sesekali melirik dari kaca spion, heran melihat majikannya yang biasanya banyak bercerita justru hanya menatap ke luar jendela.
Di kepala Wijaya, wajah gadis penjual bunga itu terus berputar.
‘Mata itu, alisnya, cara dia menunduk waktu bicara ... persis Hapsari. Tapi bentuk dagunya, itu dagu Mas Adi,’ batin Wijaya sembari memijat pelipisnya. ‘Astaga, Wijaya! Kamu sudah mulai gila rupanya. Sudah lima belas tahun. Lima belas tahun!’
Namun semakin ia mencoba menepis, semakin jelas bayangan itu menempel.
Sesampainya di rumah, Wijaya langsung menuju ruang kerjanya. Ia membuka lemari besi tua yang jarang sekali ia sentuh. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah menguning di bagian sudutnya.
Di dalam amplop itu ada beberapa lembar foto. Salah satunya adalah foto Gendis kecil yang tengah duduk di pangkuan Adiwilaga, mengenakan gaun putih dengan pita di kepalanya. Anak itu tersenyum lebar sampai matanya menyipit.
Wijaya menatap foto itu lama sekali.
“Kalau kamu masih hidup, sekarang kamu sudah sebesar gadis itu, Gendis,” gumamnya lirih.
Malam itu Wijaya mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
“Halo, Marchel? Ini Om Wijaya. Maaf mengganggu malam-malam.”
“Eh, Om! Nggak apa-apa, Om. Ada apa?” suara Marchel terdengar di seberang.
“Om mau tanya. Toko bunga yang mengirim lily ke villa Om tadi pagi itu, tokonya di mana? Om mau pesan lagi untuk acara Ibu bulan depan.”
Marchel tertawa kecil. “Wah, Om cocok ternyata sama bunganya? Namanya Toko Bunga Tirai, Om. Pemiliknya namanya Mita. Nanti saya kirimkan alamatnya.”
“Mita ....” Wijaya mengulang nama itu pelan. “Marchel, boleh Om tanya satu hal lagi? Kamu tahu asal usul gadis itu?”
“Setahu saya dari kampung di daerah Bogor, Om. Dia tinggal sama mamanya. Kenapa memangnya, Om?”
Wijaya terdiam beberapa saat.
“Nggak apa-apa. Cuma ... wajahnya mengingatkan Om sama seseorang.”
Setelah sambungan terputus, Marchel justru yang termenung. Ada nada aneh dalam suara Om Wijaya malam itu—nada yang tidak biasa dimiliki oleh orang yang sekadar ingin memesan bunga.
Wijaya kembali memasukkan foto-foto itu ke dalam amplop, namun tangannya berhenti pada satu lembar yang lain. Foto pernikahan Adiwilaga dan Hapsari, dengan dirinya sendiri berdiri di barisan belakang, masih muda dan kurus.
“Mas Adi,” gumamnya, “kalau memang itu Gendis, tolong kasih Wijaya petunjuk. Sekali saja.”
Di tempat lain, di sebuah rumah sederhana di pinggiran Bogor, Mita juga sedang tidak bisa memejamkan mata.
Ia duduk di ruang tengah dengan segelas teh yang sudah dingin. Hapsari keluar dari kamarnya karena mendengar suara kursi bergeser.
“Belum tidur, Ta? Kamu kenapa? Dari pulang tadi kok diam terus?”
Mita menoleh. Ia ragu beberapa detik, sebelum akhirnya memutuskan untuk jujur.
“Ma ... tadi Mita ketemu Om Wijaya.”
Cangkir yang dipegang Hapsari nyaris terjatuh. Perempuan itu buru-buru meletakkannya di atas meja.
“Kamu ... kamu ketemu di mana?”
“Di villa Puncak, Ma. Villa itu ternyata punya kerabat Papanya Pak Marchel, dan Om Wijaya lagi menginap di sana.” Mita menunduk. “Om Wijaya lihat Mita lama banget, Ma. Kayaknya dia curiga.”
“Terus kamu bilang apa?”
“Mita cuma bilang mau mengantar pesanan bunga. Mita nggak bilang apa-apa lagi.” Suara Mita mulai bergetar. “Ma ... Om Wijaya keliatan tua sekali sekarang. Rambutnya sudah banyak yang putih.”
Hapsari duduk di samping putrinya dan mengusap punggung tangan Mita.
“Ma, sampai kapan kita harus begini?” tanya Mita akhirnya. “Sampai kapan Mita harus jadi Mita?”
Hapsari tidak menjawab. Perempuan itu hanya memandang ke arah jendela, ke arah malam yang gelap.
“Ma, Mita capek,” ucap gadis itu akhirnya. “Capek harus mikir dulu setiap kali ada orang tanya nama lengkap Mita. Capek harus ingat cerita mana yang sudah Mita kasih ke siapa.”
“Mama tahu, Nak.”
“Waktu Pak Marchel tanya tentang keluarga Mita, Mita bohong, Ma. Mita bilang Papa Mita meninggal karena sakit.” Mita mengusap matanya kasar. “Padahal Papa memang meninggal karena sakit. Tapi bahkan waktu Mita jujur pun, rasanya tetap seperti bohong.”
Lima belas tahun yang lalu, ketika ia sadarkan diri di rumah Nyai Kosasih dan mendapati bahwa seluruh dunia sudah menganggap dirinya mati, Hapsari memilih untuk membiarkan anggapan itu tetap hidup. Bukan karena ia pengecut. Melainkan karena ia tahu, selama Bramantyo masih menghirup udara yang sama, keselamatan putrinya jauh lebih berharga daripada namanya sendiri.
“Sampai kita punya bukti, Nak,” jawab Hapsari akhirnya. “Sampai Mama bisa membuktikan apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Kalau kita muncul sekarang tanpa bukti apa pun, kita cuma akan jadi dua orang gila yang mengaku-ngaku.”
“Tapi Om Wijaya pasti percaya sama Mama!”
“Om Wijaya percaya. Tapi hukum tidak bekerja dengan kepercayaan, Ta.” Hapsari menghela napas panjang. “Dan Mama tidak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya.”
Malam itu keduanya tidur larut. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Hapsari kembali memimpikan suara air sungai yang menderu.